The Undead Knight

The Undead Knight
Guru dan Murid


__ADS_3

Nampak air berwarna hijau pekat dari cangkir yang terbuat dari keramik diatas meja.


"Minumlah. . . ini hanyalah teh hijau dengan sedikit tambahan herbal untuk melepas rasa lelah dan membantumu lebih rileks."


Kakek itu menjelaskan, lalu mengambil cangkir minumannya.


Gillian mengambil gelasnya dan meminumnya dalam sekali tegukan.


Rainhart terpaku, terdiam sejenak melihat Gillian meminum seperti itu.


Dengan posisi duduk yang tegak, Rainhart lalu mengambil cangkirnya, mengacungkan jari kelingkingnya memegang gagang cangkir minumannya, dan membawa cangkir tehnya kemulut dengan pelan tanpa tertunduk.


Setelah melihat Rainhart meminum sopan ala bangsawan, Kakek itu melirik Gillian diam tanpa ekspresi.


"Ke. .kenapa melihatku seperti itu kakek tua? Ada yang salah denganku?"


Gillian memasang wajah tak bersalah.


"Haa. . . mungkin aku harus melatih sikapmu sebelum melatih yang lain."


Kakek itu memegang dahinya seakan pasrah dengan sikap Gillian.


Dengan sedikit meminum tehnya, ia lalu bertanya ke Rainhart, menatapnya serius.


"Nak Rainhart kenapa kamu tertarik dengan mahluk itu?"


"Bukan apa-apa kakek, saya cuma penasaran."

__ADS_1


Jawabnya sedikit memiringkan tatapannya.


Meskipun merasa ada alasan yang disembunyikan oleh Rainhart, tetapi kakek itu tidak mau menanyakan lebih jauh lagi.


"Jadi kenapa kamu bisa sampai disekitar sini?"


Kakek itu mengulangi pertanyaannya.


Rainhart yang lebih tenang setelah meminum teh herbal buatan kakek, mulai menceritakan kembali ceritanya.


"Setelah agak jauh masuk ke dalam hutan, saya mendengar suara seperti hentakan pedang lalu mengikutinya. Saya kemudian melihat Gillian dari jauh sedang bertarung dengan para Treant (manusia pohon). Saya mengamati pertarungan mereka dan merasa ada yang aneh dengan para pergerakanTreant yang tidak sewajarnya."


Rainhart berhenti bercerita karena melihat Gillian seakan siap menerjang orang tua didepannya.


Gillian menyulutkan kekesalannya ke Kakek Druid karena merasa diremehkan dengan latihannya.


Tawa sombong kakek itu ke Gillian yang kesal didepannya.


"Awas saja kau kakek tua tengik, suatu saat aku akan membuatmu menyesal menarik kata-katamu!"


Gumam Gillian pelan.


Rainhart tertawa pelan menarik perhatian keduanya, dan kemudian melanjutkan ceritanya.


"Saya tidak menyangka jauh didalam hutan akan melihat teknik pedang Tebasan Cahaya Putih walau tak sesempurna teknik pengguna aslinya Sang Mawar Putih."


"Kau kenal dengan ibuku?"

__ADS_1


Tanya Gillian yang mulai tertarik dengan Rainhart.


"Nak Rainhart sebaiknya kamu memperkenalkan dirimu yang sebenarnya sebelum nantinya bocah ini jauh lebih salah paham."


Kakek itu memotong Gillian yang bertanya.


Walau terlihat agak segan, Rainhart terpaksa mengikuti kemauan kakek itu.


"Rainhart Pendragon, anak kedua dari Raja Richart Vermilion dan Ratu Elizabeth, Pangeran sekaligus Wakil Komandan Kesatria Kerajaan Britania."


"Pantas saja aku merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya."


Gillian terlihat biasa-biasa saja meski mengetahui orang disampingnya adalah seorang pangeran.


"Bukan maksudku menyembunyikan kebenaran tentang diriku. Saya cuma merasa gelar pangeran dari lahir tidak cocok untukku. Saya lebih senang belajar seni pedang ketimbang pemerintahan. Bisa dibilang alasanku bergabung dengan pasukan kesatria adalah karena Nyonya Esthelle."


"Ja. . .jadi dulu kamu bergabung dengan kesatria kerajaan karena suka dengan ibuku?"


Gillian bangkit dari kursinya menjauh dari Pangeran Rainhart.


"Bocah bodoh sebaiknya kamu lebih memikirkan ucapanmu."


Kakek itu menceramahi Gillian.


"Hahaha memang benar kecantikan ibuku Ratu Elizabeth tidaklah kalah dengan mendiang ibumu Nyonya Esthelle yang dapat membuat semua orang terpesona melihatnya. Tapi yang membuatku lebih tertarik adalah teknik berpedangnya yang elegan tiada tanding."


Rainhart mencoba menjelaskan salah paham Gillian.

__ADS_1


__ADS_2