The Undead Knight

The Undead Knight
Hutan Mapple Hitam, Bagian 1


__ADS_3

[Sementara itu Gillian. . . . . . . . . .]


Terasa hembusan angin kencang dari arah belakang Gillian, menerpa punggungnya yang mulai keringatan berlari pelan.


Tanpa menoleh ke belakang, Gillian berusaha berlindung dibalik pohon terdekat, sambil memeluk erat botol obat yang dititipkan Kakek Alf padanya.


Bukannya panik dengan angin yang berhembus tiba-tiba, ia malah tertawa memikirkan kakek tua itu mungkin bertengkar lagi dengan Sylph.


Ia bersandar sebentar menunggu angin Sylph berhenti berhembus, Gillian sejenak menatap ke atas langit dari balik bayang-bayang dedaunan yang lebat.


Terdengar suara petir dari awan mendung. . .


"Aku harus cepat!! "


Pikirnya melihat awan diatas kepalanya yang makin menebal. . .


Bukan air hujannya yang membuatnya khawatir, namun karena pandangannya kini semakin terbatas, akibat cahaya matahari yang tertutupi.


Langit sore yang tertutup awan, menyebabkan langkah kakinya tidak secepat biasanya. Dalam Hutan Mapple Hitam ini, bahkan langit cerah sekalipun dapat membuat orang yang tidak terbiasa masuk kedalam hutan rimbun, tersesat dengan mudah.


Ia tidak terlalu panik dengan pandangannya yang terbatas, baginya selama 3 tahun berlatih sendirian dalam Hutan Mapple Hitam, sudah seperti halaman belakang rumahnya.


Hampir tiap 15 meter, ia berhenti mengecek tanda angka di batang pohon yang pernah ditandai olehnya, sebagai bantuan navigasinya.


Dari kejauhan ia kini melihat cahaya samar berwarna merah diam tidak bergerak. . .


Tanpa berhenti mengecek tanda yang lain ia hanya berlari lurus ke cahaya itu.


"Dari sini. . . aku harus menemukan 45 tanda lagi."

__ADS_1


Rasa sunyi membuatnya bicara sendiri.


Ia mengadah sedikit ke atas batang pohon itu yang terdapat semacam lentera kaca. Di dalamnya berisi batu kristal yang mengeluarkan cahaya kemerahan.


Walau hutan ini lebat, tidak banyak monster disekitar sini. Hanya hewan liar, burung, dan rusa yang kadang ia temui.


"Mungkin karena batu kristal di lentera ini."


Katanya lagi, berpikir kalau batu itu tidak disukai para monster rendahan.


"Kalau tidak salah Kakek Alf pernah mengatakan namanya, Batu. . . Batu. . . ah Batu Anti-Mana ! "


Ia mengingat perkataan Kakek itu yang mengatakan dengan sombong kalau hutan ini penuh dengan Batu Anti-Mana buatannya, berfungsi menangkal monster untuk mendekat.


Mungkin karena mengingat kembali penjelasan kakek itu diakhiri tawa sombongnya, membuat perasaan Gillian menjadi tidak enak.


"Apanya yang batu anti monster, batumu ini gagal kakek tua sialan!"


Gillian berpikir batu aneh buatan Kakek Alf seharusnya cuma membuat para monster yang pusing. Manusia ikut pusing juga merupakan suatu kesalahan menurutnya.


Sebenarnya tidak seperti namanya, batu misterius itu tidak menetralkan mana monster yang mendekat, sebaliknya malah menghisap mana disekitarnya. Hanya ras elf yang mampu membuat Batu Anti-Mana.


Dengan teknik alkemia darah elf yang dapat menarik mana alam, dimasukkan dalam kristal mana sebagai katalis untuk meningkatkan kemampuan darah elf di dalamnya. . .


Lalu dengan menambah kata magis ke batu kristal sebelumnya, mengubah sifat darah elf yang awalnya dapat menarik aliran mana dari alam menjadi aliran mana mahluk hidup. . .


Jadi cahaya kemerahan yang memancar dari batu itu adalah kristal mana yang bereaksi dengan darah elf yang sudah berubah sifatnya.


Gillian melupakan penjelasan Kakek Alf pada bagian terakhir yang melarangnya untuk terlalu lama berada disekitar batu tersebut.

__ADS_1


Lentera itu bergetar sendiri. . .


"Ahh?! aku tidak melakukan apa-apa, aku bahkan tidak menyentuhnya!!"


Gillian panik berusaha membenarkan dirinya sendiri.


Firasat Gillian makin tidak enak melihat lentera itu yang bergetar sendiri, nafasnya mulai terasa sesak. Pikirannya berusaha mengatakan untuk menjauhi batu itu,


namun langkah kaki Gillian terasa berat untuk digerakkan.


Hanya dengan tekadnya ia berhasil melangkah menjauh. . .


"Haa. . . . haa. . . apa yang terjadi . . . haa. . ."


Pandangannya kini buram.


Walaupun ia sudah menjauh, lentera itu tetap bergetar hebat. . .


"Oh tidak. . .haa. . . perasaan ini. . . . pe. .ra. . . . .sa . . .an. haa. . . ini. . ."


Gillian makin kehilangan kesadarannya, udara yang dihirupnya terasa mengganjal untuk dikeluarkan, ucapannya menjadi terbata-bata.


Kaca dari lentera itu pecah, meledak dengan keras. . .


Ajaibnya Gillian yang hanya berjarak beberapa meter tidak terkena serpihannya.


Gillian berjalan ke pohon di depannya. Badannya dibiarkan jatuh bersama dengan botol mandragora yang masih dipeluknya erat.


"Ahhh. . . perasaan ini sama seperti kejadian 4 tahun yang lalu. . ."

__ADS_1


Pikirnya mengingat sensasi yang tidak mengenakkan dari kantung celananya.


Sebelum terpaksa menutupkan matanya, ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat. lalu akhirnya kehilangan kesadarannya.


__ADS_2