The Undead Knight

The Undead Knight
Kematian Pertama


__ADS_3

Tiada angin menerpa tubuh namun aku merasa seperti jatuh kedalam jurang gelap tanpa batas.


"Khe. .khahaha. . ahahaha."


Lagi, tawa itu terdengar lagi, sangat angkuh dan merendahkan. Tiap detik tawa itu semakin terasa mendekat. Tidak hanya suara, bau yang terasa familiar ini entah kenapa merupakan sesuatu yang sangat kurindukan.


Badanku mulai memanas, napasku semakin cepat dan sesak, membuat paru-paruku memompa udara lebih kuat dari biasanya. Jari-jariku perlahan dapat kugerakkan jatuh kesebelah pipi. Terasa basah dan hangat.


"Ahh. . . aku ingat."


Mimpi buruk itu, Charlotte yang tidak dapat kuselamatkan. Mengingatnya membuat diriku ingin selamanya bersembunyi ditempat ini.


"Gillian. . ."


Terdengar suara anak perempuan dari jauh.


"Aku tidak akan keluar dari sini, berapa kalipun kamu memanggilku."


Hanya tragedi menanti disepanjang jalanku. Aku tidak mau lagi melihat senyum penuh luka itu.


"Semua salahku, ibu dan Charlotte berakhir seperti itu."


"Gillian. . . Gillian!."


"Biarkan aku sendiri! aku tidak mau melihat neraka itu lagi, tinggalkan aku sendiri!"


Paling tidak jika aku berada disini selamanya, tidak ada lagi yang akan terluka. Liliana juga tidak akan melihat sosok menyedihkan ini.


Setelah memikirkan adiknya, Gillian mengingat percakapan sepintas beberapa hari lalu bersama adiknya dijalanan perkotaan.


Sambil menunjuk salah satu bunga pada toko tanaman, Liliana berkata dengan riangnya.


"Kak, minggu depan saya ingin memberikan bunga itu untuk ibu."


"Bunga Lily, hmm. . . karena bunga itu yang paling disukai ibu, makanya ibu memberikan nama itu untukmu."

__ADS_1


"Benarkah? Ehehehe, jadi minggu depan janji yah kak temani saya membeli bunga itu. Kuharap bunga yang disukai ibu membuatnya senang disana."


"Iya kakak janji."


Sambil menatap punggung adiknya yang berlari kecil didepannya kesenangan.


Seberapapun besarnya Gillian menyalahkan dirinya akan takdir yang telah terjadi sebelumnya, hanya janji dengan adiknya yang mampu memberikan kekuatan untuk berdiri. Sudah berapa kali suara adiknya menyelamatkannya dari kesedihan.


"Janji, Liliana. . . ."


Dengan pergelangan tangannya ia menyapuh pipinya yang basah. Kepalan tangannya menguat bersama dengan keputusannya.


"Dewi Artemis jika kamu memang melihat hambamu ini bantu hamba ini keluar dari sini, meski hanya tragedi yang menantiku, biarkan aku menepati janji itu. Janji dengan Liliana dan janji terakhir dengan ibuku."


Perlahan kabut hitam disekeliling Gillian senyap melemah, lalu memudar.


"Gillian, sadarlah Gillian!"


Suara Sylph yang tidak jauh darinya terdengar putus asa.


Trank#


"Bunyi pedang beradu?"


Walau pandangannya masih buram, Gillian nampak jelas melihat 2 sosok pergerakan manusia tidak jauh didepannya sedang bertarung satu sama lain.


"Pangeran Rainhart? kenapa ia bertarung dengan anggota pasukannya sendiri?"


Rambut kuning telur itu langsung ia kenali dengan mudah.


Penuh tanya, Gillian menoleh kearah sosok lelaki satunya, setelah saling serang mereka berdua saling menjaga jarak seperti menilai satu sama lain. penglihatannya kini kembali normal namun indra yang lainnya masih belum bekerja dengan baik. Ia melihat pedang orang itu penuh darah.


"Khahahahaha."


"Tawa angkuh itu lagi. . . orang itu benar-benar !!"

__ADS_1


Sekali lagi Gillian memperhatikan Rainhart yang bertarung dengannya.


"Tidak ada bekas luka ditubuh Rainhart, bahkan tidak ada cipratan darah dibaju pelindung ataupun pedangnya."


"Wakil Komandan! hentikan omong kosong ini! Biarkan saya menghabisinya!"


Terdengar suara tangis penuh amarah tidak jauh dibelakang Rainhart.


"Hanya sekecil itukah loyalitasmu terhadap atasan dan keluarga kerajaan Isabella Alexander?"


Rainhart tanpa menoleh kebelakang berkata demikian. Terdengar dingin, namun penuh emosi. Genggaman pedangnya menguat, pandangannya tetap fokus kelawan didepannya.


Perhatian Gillian terusik oleh suara gadis berkacamata itu, ia kebingungan menatap mata wanita itu tidak lepas sedetikpun seakan punya niat membunuh terhadapnya. Dipangkuan gadis itu terlihat gadis kecil bertelinga kucing terluka tidak sadarkan diri.


Makin lama tawa yang didengarnya dari tadi kini terdengar jelas. Tubuh Gillian memanas, bau yang dikiranya terasa nyaman, berubah seperti besi karatan. Pipinya basah, menyisakan dingin yang melekat. Seperti ada yang menyangkut dipunggungnya membuat tubuhnya tidak bisa bergerak dari batang pohon maple tempatnya bersandar.


Ia mengedarkan pandangan sekelilingnya. Tidak hanya gadis itu semua pandangan kesatria tertutuju padanya. Walau hanya dari tatapan Gillian sadar semua kesatria disekitarnya dalam keadaan siap siaga, menunggu perintah atasannya. Sylph yang dari tadi cemas terlihat kaku ketakutan.


"Cukup Wakil Komandan, tidak ada lagi yang perlu diteruskan, tidak ada penyesalan dalam tindakanku. Kalian semua turunkan pedangmu."


Lelaki didepan Rainhart, memberikan perintahnya dengan tegas kepada kesatria lainnya dibelakangnya.


"Kalau saja saya lebih peka, tidak harus seperti ini, kenapa harus berakhir seperti ini Ketua Paladin."


Rainhart menutup kedua matanya, ia terpaksa menggigit giginya sendiri, air matanya akhirnya jatuh menoleh kearah Gillian.


Gillian tersadar kalau tawa angkuh yang didengarnya selama ini berasal dari mulutnya.


Pandangannya yang dikira kabur, ternyata berasal dari kepulan asap hitam menutupi sekitarnya.


Ia akhirnya bisa melihat gagang pedang berukiran kepala singa menancap ditubuhnya , tidak ada rasa sakit yang dirasakan, tubuhnya memanas meski bilah pedang itu terasa dingin.


"Apa aku akan berakhir disini? aku masih tidak mengerti apa yang terjadi padaku. Apa ini hukuman dari dosaku? Ataukah ini kelanjutan dari mimpi burukku?"


Beragam macam pertanyaan muncul dipikiran Gillian. 1 hal yang pasti, ia menyesal harus berakhir seperti itu tanpa menepati janjinya.

__ADS_1


__ADS_2