
Mendengar ucapan Yuki, Kakek Alf tertawa kecil menampik.
"Apakah kamu percaya dengan takdir? - Aku tidak percaya dengan takdir."
Sambung Kakek Alf cepat.
Belum sempat bibir tipis Yuki bergerak, Kakek Alf memberikan sendiri pandangannya. Yuki menangkap maksudnya seakan memberikan sindiran langsung untuk tidak memotong ucapannya. Ia terpaksa diam tenang mendengarkan.
Gerimis perlahan mereda, sisa-sisa cahaya matahari memaksa melewati awan hitam. Udara mulai kembali hangat, menyisakan sedikit perasaan dingin yang lembab.
Pantulan cahaya dari sihir di tangan Kakek Alf, menyapuh gelap di wajahnya. Namun kegelapan di mata orang tua tersebut, seakan tidak berkurang sedikitpun. Kini Yuki melihat orang tua itu dari dekat, tidak seperti biasanya yang hanya dari kejauhan dalam bayang-bayang. Perasaan itu membuat Yuki merinding, tidak bisa membayangkan orang tua yang hidup ratusan tahun lamanya menyimpan sesuatu hal yang dikenalinya, kumpulan emosi negatif, menggunung pekat.
Yuki jadi berpikir, menyesal mengatakan hal yang mungkin menyinggung orang tua tersebut. Tetapi ia lebih menyesal perkataannya sama seperti Gillian yang mengatakan sesuatu dalam benaknya tanpa berpikir lebih dulu.
"Hanya dalam seminggu mengawasinya, dan sifatnya sudah seperti sebuah penyakit menular."
Tatapannya jatuh, lalu menghela napas panjang.
"Nak, aku khawatir kamu harus mengejar Gillian sekarang. Percayalah apa yang kau lihat dan pikirkan sekarang, tidak akan menjawab rasa curiga itu terhadapku."
Mengakhiri kalimatnya dengan senyuman.
Yuki berpikir tentu Kakek Alf tahu kondisi Gillian, mustahil dirinya tidak mengetahui efek dari batu itu dengan memberikan langsung padanya.
"Memang benar saya belum tahu apa tujuan Kakek memberikan Batu Miasma itu padanya."
__ADS_1
Menurutnya, alasan untuk memberikan batu itu kepada Ketua Guild di kota hanya alasan semata.
Ia memandang serius ke arah Kakek Alf, dalam diamnya berpikir. Yuki mengingat kembali profil targetnya yang diberikan sebelum melaksanakan perintah dari asosiasinya
"Batu miasma akan bereaksi kepada orang dengan mental labil, terlebih kepada seseorang yang dalam proses penyembuhan dari trauma. Semakin jatuh seseorang maka semakin kuat pula batu itu akan merusak jiwanya. . ."
Tragedi yang merenggut nyawa ibu Gillian, Esthelle Rossweisse membuat pemuda itu mengurung dirinya hampir setahun lamanya.
Dari data itu Yuki langsung menafsirkan kondisi Gillian yang tidak stabil.
"Tapi apa tujuannya ?"
Kakek Alf tahu Yuki dalam posisi kebingungan memutuskan apakah orang tua didepannya merupakan ancaman dalam misinya ataukah kejadian ini merupakan salah satu alasan diberikan misi ini padanya.
Walaupun kebingungan, ekspresinya tidak memperlihatkan tanda itu sama sekali.
Pikir Kakek Alf.
Mungkin karena sifat Yuki yang jujur menjawab pertanyaan yang ia lontarkan sebelumnya tentang isi misi atau pertanyaan konyolnya, membuat dirinya sama sekali tidak ingin mempermainkannya lebih jauh. Keputusan ada padanya, ia merasa sebaiknya Yuki yang memutuskan. Bukan dirinya.
Ia melanjutkan kembali kalimatnya.
"Setiap kejadian yang terjadi, seseorang dapat menyimpulkan dari berbagai sudut pandang namun hasilnya selalu sama. Hanya buruk atau baik. Tetapi. . atas dasar apa ia dapat mengkategorikan 2 hal tersebut? apakah penilaian itu terlahir dari jiwanya, budaya, agama, atukah itu berdasarkan ketetapan para dewa?"
"Kalau semua yang terjadi berdasarkan takdir maka tidak ada pembeda antara buruk dan baik. Semua akan menerima dengan lapang dada. Meski tubuh ini menerima takdir itu, tapi tidak dengan jiwaku."
__ADS_1
Burung berhamburan terbang diatas barrier Kakek Alf, seperti menjauhi sesuatu. Tanpa arah dengan sangat cepat, bahkan beberapa menabrak barrier Kakek Alf.
Keduanya mengadahkan kepalanya terusik oleh warna merah memgalir mengikuti bentuk kubah dari darah hewan-hewan malang itu.
Lalu terdengar ledakan keras dari kejauhan.
Ketakutan, mungkin itu gambaran dari terbangnya para burung diatas.
"Gerbang sudah terbuka. . ."
"Pergilah nak, ingatlah musuhku adalah musuhmu."
Sihir di tangan Kakek Alf berhenti, menyisakan kembali gelap yang hilang.
Sambil membalikkan badan Yuki menjawab dalam hati.
"Itu sama sekali bukan ekspresi ketakutan. Wajah itu. . . seperti wajah yang siap menantang kematian."
Ia melangkah beberapa kaki, lalu berkata.
"Kuharap Kakek Alf tidak akan mengkhianati umat manusia. Terutama mengkhianati kepercayaan anak itu padamu."
Kata terakhirnya lenyap ditelan kegelapan, bersamaan dengan hawanya.
Kakek Alf melangkah kembali kerumah pohonnya. Ia bergumam pelan.
__ADS_1
"Kalau demi dirinya, aku rela menjadi iblis sekalipun. Sylphia. . ."