The Undead Knight

The Undead Knight
Kematian Pertama Bagian 2


__ADS_3

Sekali lagi, kegelapan menyelimuti tubuh dan pikiran Gillian. Tatapannya jatuh ke kakinya, penuh dengan darah dari luka tusuk di dadanya. Suara Sylph terasa semakin jauh, tatapan kesatria perlahan berubah seperti bersimpati.


"Apa yang telah kulakukan selama ini? aku memang orang bodoh."


"Tapi aku tidak tahu betapa bodohnya diriku, lucu. Tanpa mengetahui apapun, akhir dari hidupku seperti ini?! Seseorang katakan padaku apa memang tujuan hidupku hanya membawa derita disekitarku ?"


Kakinya gemetar ketakutan.


Kematian bukan 1 hal yang membuat tubuhnya merespon seperti itu. Ia mengingat mimpi buruk dari mahluk itu didalam tubuhnya yang mengatakan bahwa sejak 4 tahun lamanya Gillian seperti mayat hidup. Hidup tanpa tujuan dan penuh dengan penyesalan.


Sejak 4 tahun dirinya sudah merasa lama mati bersama dengan ibunya.


Teriakan Sylph dan Rainhart membuat Gillian berusaha mengadahkan kepalanya kearah mereka. Dari kondisinya ia sadar waktunya tidak lama lagi, kabut hitam yang menyelimuti tubuhnya tidak membuatnya merasa aneh, ia merasa kabut itu merupakan sesuatu yang memang selama ini ada dari dulu, bahkan sebelum ia terlahir.


Darahnya yang menetes tanpa henti membuat otaknya berteriak meminta oksigen, kepalanya pusing, pandangannya memudar.


"Hei pria tampan, tatapan sedih itu tidak cocok untukmu."


Aneh, entah kenapa Gillian berharap Rainhart mengantarnya dengan senyuman yang selalu dipasangnya.


Ditatapnya roh angin itu yang berusaha menahan tangisnya.


"Sylph kuharap kamu bisa bertahan tanpaku menghadapi kakek tua tengik itu sendirian."


Badan Gillian melemas. Ia dapat merasakan detak jantungnya sendiri berdenyut lemah. Tatapannya kosong, kepalanya terpaksa jatuh hingga dagunya menyentuh sebagian dadanya.


. . .

__ADS_1


Rainhart berteriak berusaha mendekati Gillian namun dihadang oleh bawahannya. Barikade tubuh kesatria dengan segera terbentuk tanpa perintah, menahan Rainhart yang ingin mendekati Gillian.


"Wakil Komandan, kita masih belum tahu mahluk apa yang kita hadapi! Maafkan saya lancang, tapi tolong urungkan niat anda mendekatinya."


Kata salah satu bawahannya yang berusaha mempertahankan posisi berdirinya, dari dorongan Rainhart.


"Bagaimana mungkin saya membiarkan anak dari beliau berakhir seperti itu, saya harus menyelamatkannya."


Rainhart melihat kepala Gillian mengadah kearahnya.


Rainhart tidak dibesarkan dalam ruang lingkup kemewahan, semenjak kakinya menapakkan kejalan kesatria, sudah berapa misi berbahaya yang ia jalani bersama pasukannya.


Baik itu mengamankan wilayah, pemusnahan kamp bandit, goblin ataupun monster berbahaya lainnya. Tidak selalu dirinya pulang tanpa melihat bawahannya terluka, atau bahkan kehilangan nyawanya. Entah sudah berapa kali ia melihat tatapan itu, tatapan kosong dari napas terakhir saudara seperjuangannya. Ia takkan pernah terbiasa, mengantar kepergian para pahlawan britania dipangkuannya, dengan senyuman yang selalu ditampilkannya.


Tatapan Gillian sama seperti mata kesatria terbebas dari misinya. Tatapan jujur penuh kebahagiaan dan penyesalan.


"Masih sempat! kalau saya membawa tubuhnya ke Kakek Alf, saya yakin beliau dapat melakukan sesuatu."


Pandangan Rainhart jatuh kesebelah kanan. Pipinya terasa panas dan sakit. Pikirannya masih memproses kejadian setelah ia menerobos. Dilihatnya Isabella tepat dihadapannya memeluk, berkata sudah terlambat dan meminta maaf berulang kali.


Rainhart melepas pelukan Isabella, lalu berjalan perlahan beberapa meter lalu berhenti dihadapan Gillian. Ia mengamati Gillian yang tertunduk, badannya melemas seperti kehilangan seluruh aliran syarafnya. Tidak ada tenaga tersisa, tubuhnya tidak berusaha lagi memompa udara. Tatapan matanya kehilangan cahayanya, namun beberapa saat kembali mengeluarkan air matanya.


. . .


Gelap, dalam kegelapan ia kembali mendengar suara.


"Gillian a-. .ku"

__ADS_1


"Suara itu. . ."


Suara yang menenangkan terdengar dari dalam kepalanya.


"Ja-. . . . . . -mu . . . .lian. Lin-. . . . -"


"Ibu? kaukah itu ibu?"


"Ibu... maafkan aku ibu. . ."


"Aku minta maaf... semua salahku. . ."


Sosok wanita berambut perak muncul dihadapan Gillian, dengan gaun polos sederhana sama seperti ingatan terakhirnya. Ia penuh kasih memeluk anak laki-lakinya lalu membasuh air matanya. Senyum hangat dari ibunya seakan menjawab rasa penyesalan Gillian. Mungkin ini cuma ilusi yang tercipta dari keinginan terdalamnya. Apapun kebenarannya, ia cuma bisa melampiaskan segenap emosinya ke sosok ibunya yang pergi meninggalkannya.


Ibunya perlahan melepas pelukannya, lalu seperti ditarik kemasa lalu ia melihat sosok ibunya. Bersimbah darah dihadapannya, terbaring menggenggam tangannya.


"Jaga adikmu Gillian, lindungi Liliana dari mahluk itu."


"AHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!"


Segenap emosi meluap, membakar pemandangan disekitar Gillian. Menyisakan sosok mahluk disudut ruangan gelap yang tidak dikenalnya, tersenyum. Seakan menikmati segala hal dari Gillian.


"Tidak aku tidak boleh mati seperti ini. . . ."


"khehehehe. . . putus asalah."


"Aku harus membalas kematian ibuku. . . ."

__ADS_1


"Dendamlah."


"Sampai semua dunia ini hangus terbakar."


__ADS_2