
Gerimis yang mengguyur Hutan Mapple Hitam, membuat udara didalam hutan itu lebih dingin dari biasanya. Walaupun udara begitu dingin sehingga dapat membuat tubuh menggigil, namun keringat mengucur deras dari tubuh Kakek Alf yang menua.
Ia memperhatikan sekelilingnya, sayup-sayup mengepakkan kelopak matanya yang terkena keringat bercampur air hujan, mencari keberadaan ninja wanita itu yang seakan tidak berniat kabur keluar dari area sihirnya.
Matanya kembali tertuju ke salah satu bayangan pohon yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. . .
"Keluarlah aku tahu kamu tidaklah serius menyerangku tadi."
Ia terdiam sejenak menunggu respon dari lawan bicaranya yang hanya diam mengamati.
"Sewaktu kamu menebas dengan kecepatan diluar nalar, aku bisa melihat bilah pisau yang mengenai mana shieldku adalah bagian punggung dari dagger milikmu."
Ia berpikir mungkin ninja itu sekedar ingin mencoba kemampuan Kakek Alf. Sebenarnya walaupun ia mengetahui niat lawannya, sewaktu ninja itu menebasnya dengan pura-pura, ia membalasnya dengan mempermainkannya lewat rapalan sihir yang berlebihan dari sewajarnya.
Kepadatan konsentrasi mana dari rapalan sihir akibat pengendalian mananya yang luar biasa, menyebabkan efek distorsi mana di udara. Distorsi mana itu membuat efek perbedaan waktu yang terasa melambat, sehingga semua gerakan yang tertuju padanya menjadi sangat lambat di matanya. Ia melihat gerakan lawannya seperti sebuah peluru yang ditembakkan kedalam air semakin mendekati Kakek Alf, semakin melambat percepatannya.
Alisnya terangkat merasakan melalui sihirnya, ninja wanita itu mulai bergerak pelan dari gelapnya bayangan hutan.
"Aku tidak tahu siapa yang mengirimmu dan apa tujuanmu datang kemari. Tapi melihatmu melepas hawa keberadaanmu sewaktu kedua pemuda itu bergerak keluar dari sini, membuatku berpikir ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan kepadaku."
Ucapannya terhenti melihat ninja wanita itu sudah berdiri dihadapannya bersama dengan iblis panggilannya.
"Benar. . ."
Ia melepas topeng iblis klannya. Wajahnya oriental dengan warna kulit putih seperti salju, bola matanya yang hitam membuat mata seakan auto fokus ketitik tersebut. "Namaku Yuki Akatsuki" Sambungnya.
Kakek Alf sedikit terkejut dengan tindakan Yuki yang memperlihatkan wajahnya dibalik topeng lalu memberitahukan nama aslinya ketimbang kode nama assassin-nya. Ia tahu kode etik Assassin Guild yang sangat merahasiakan identitas anggotanya.
"Sebaiknya kakek menghentikan dulu zona sihirmu itu."
Yuki menatap Kakek Alf dengan cemas, ia bukannya masih waspada terhadapnya hanya saja ia merasa kakek didepannya terlalu memaksakan dirinya.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu membatalkan iblis panggilan disampingmu itu."
Balas Kakek Alf yang mengacuhkan saran dari Yuki. Sifat egoisnya dan tidak mau kalah membuatnya merasa kalah jika dirinya lebih dulu mengikuti saran Yuki.
Beberapa detik mereka saling menatap satu sama lain. Tidak ada tanda dari keduanya untuk mengikuti saran lawannya. Yuki kemudian menatap langit yang perlahan semakin gelap oleh awan mendung.
Pandangan Yuki teralihkan oleh Kerberos yang tiba-tiba menggeram, merasakan aliran mana dari tangan Kakek Alf yang bergerak, kembali merapalkan sihir.
"Mana Light, Ini hanyalah sihir cahaya, kau tidak perlu waspada begitu."
Ia menggerak-gerakkan bola cahaya di tangannya yang memang sekedar untuk menerangi sekelilingnya, tidak seperti bola cahaya sebelumnya yang menghisap mana disekitarnya.
Yuki merasa waktu dan tempat tidak memihak dirinya yang mulai menggigil kedinginan. Seketika udara menjadi hangat oleh sihir Kakek Alf. Kehangatan itu akhirnya membuat Yuki membatalkan hewan panggilannya.
Yuki pada akhirnya menyadari kemampuan Kakek Alf tidak hanya dipengendalian mana, namun juga pada konsentrasinya yang dapat merapalkan 2 sihir sekaligus.
Kakek Alf tentu tersenyum bahagia merasakan kemenangan meskipun itu pertarungan bualan. Sejenak ia menikmati rasa itu lalu menghentikan zona sihirnya.
"Kamu tentu tahu identitasku kan? Jadi. . . apa Sekte Agama Artemis yang mengutusmu?"
"Tidak, perintah ini datang dari Ratu Elizabeth lewat Ketua Assassin Guild, aku hanya diperintahkan untuk mengawasi pemuda berambut hitam tadi."
Jawabnya lepas, datar tanpa ekspresi yang menutup-nutupi. Kakek Alf jadi mempertanyakan keprofesionalan Yuki dalam menjalankan tugasnya.
"Apa perintah dari ketuamu juga termasuk menjelaskan isi dari perintah itu kepadaku?"
"Tidak, ini inisiatif saya sendiri. Saya merasa tidak sopan untuk tidak menjawab pertanyaan orang yang lebih tua dari saya."
"Apa benar dia anggota dari assassin guild ?"
Kerutan di dahi Kakek Alf terlihat lebih jelas menemukan sisi kontras dari pekerjaan Yuki dengan sifatnya yang bertolak belakang. Ia bahkan lebih terkejut memikirkan Ketua Assassin itu yang menugaskan Yuki dalam misi penting dari Ratu Elizabeth, ketimbang mendengar klient dari misi itu ternyata datang dari ratu sendiri. Ia kemudian berpikir untuk mengetesnya dengan pertanyaan acak.
__ADS_1
"Makanan favoritmu?"
"Pasta dan Sandwich"
"Warna kesukaanmu?"
"Putih terang"
"Barang yang paling kamu suka?"
"Boneka beruang putih"
Tangan kiri Kakek Alf menyentuh mulut lalu turun ke dagunya, melihat ekspresi Yuki yang tidak berubah atau mempertanyakan kembali pertanyaan bodohnya.
Kakek Alf kini tahu Yuki adalah jenis yang langka dari kelasnya, gadis perempuan yang jujur meski pekerjaannya sebagai pembunuh.
"Kakek Alf?"
Yuki memanggilnya pelan, agak ragu melihat orang tua didepannya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu meski diguyur gerimis hujan.
"Ya kamu boleh memanggilku begitu. Aku sebenarnya ingin menyuruhmu masuk ke rumah-"
"Tidak perlu Kakek Alf." Sanggahnya cepat.
"Selama itu tidak mengganggu misiku aku akan menjawab pertanyaanmu Kakek." Balasnya yang sedikit terlambat terhadap pertanyaan diluar topik Kakek Alf barusan.
"Kakek Alf aku merasa matamu sama seperti mataku."
"Mata yang mampu melihat mana? ya. . . aku tahu itu-"
"Bukan. . ." Potongnya lagi. "Maksudku matamu sama sepertiku, dan mata anak berambut hitam itu."
__ADS_1
Yuki menatapnya sendu, menatap jauh kedalam mata Kakek Alf. . .
"Mata itu adalah mata yang telah melihat jurang keputusasaan."