
Antara kagum dan makin kesal, perasaan itu campur aduk di kepala Gillian. Sikutnya menopang kedua tangannya diatas meja, kedua telapak tangannya merapat ke dahinya seakan pasrah dengan kenyataan didepan matanya.
"Jadi selama ini aku dilatih oleh penyihir dalam dongeng itu, hehe..hehe. . .hehehe. . ."
Gumamnya ke dirinya sendiri, Gillian masih merasa tak percaya. Hanya bisa tertawa aneh menelan perasaannya.
Cerita tentang Penyihir Hebat Alf Vanheim bukanlah sekali terdengar di telinganya, sewaktu kecil mendiang ibunya selalu menceritakan kisah-kisah bagaimana Pahlawan didampingi Penyihir Hebat mengalahkan salah satu Ras Naga Terkutuk sekelas Bencana Dunia.
"Jadi bagaimana kabarnya Bibi Adelaine nak Rainhart?"
Setelah bertanya ke Pangeran Rainhart, alis mata Kakek Alf naik satu melihat Gillian. Sedikit ada rasa kemenangan di hatinya melihat reaksi Gillian terteguk tak percaya.
"BIBI??!"
Pengeran Rainhart terkejut heran. Refleks, kata itu keluar dengan nada tinggi.
"Ahh. . .?! apa beliau tidak pernah mengatakan kalau aku adalah keponakannya?"
Ia tersenyum menggodanya.
Disamping ada banyak mata Sekte Agama Artemis yang selalu mengawasi, ia juga memang mengetahui bibinya Adelaine adalah orang yang tertutup tidak akan tertarik menceritakan tentang kehidupannya ataupun keluarganya.
__ADS_1
"Tu. .tunggu dulu Kakek Alf, kasih saya waktu berpikir sebentar. . . ."
Rainhart yang selalu tenang, kehilangan posturnya.
"Tidak hanya kakek ini benar-benar adalah penyihir yang terkenal, lalu cerita dalam buku sejarah tentang bagaimana Naga Hitam yang berhasil ditaklukkan, ternyata masih hidup. . .dan terakhir instruktur sihir Adelaine adalah bibinya?! kok bisa?! Adelaine yang masih terlihat cantik dan muda itu adalah bibinya?!"
Kenyataan terakhir benar-benar membuat Rainhart berpikir 2 kali.
Seperti Gillian, Rainhart hanya bisa pasrah menelan kenyataan dari mulut orang tua itu. Kedua sikutnya menopang tangannya di meja, jari-jari tangannya menjadi liar di kepalanya, membuat rambutnya menjadi berantakan.
Kakek tua itu tertawa puas, kepalanya menghadap ke atas melepas semua beban yang disembunyikannya ke udara.
Wajahnya kini cerah bahagia, melihat perasaan 2 pemuda itu bercampur aduk. Tentu baginya setelah lama hidup sendiri jauh di dalam hutan, tidak ada hiburan yang semenarik seperti ini.
Suara kelelawar mulai terdengar dari luar rumahnya diiringi dengan suara lolongan serigala yang semakin terdengar mendekat,
menyadarkan Kakek Alf untuk segera menjawab semua rasa penasaran Pangeran Rainhart.
"Cerita penyihir dalam buku dongeng anak-anak, tentang Ras Manusia yang mendapat 2 karunia dewa seperti yang ditulis oleh Uskup agama Artemis. tidaklah benar namun juga tidaklah salah nak Rainhart."
Kakek Alf tersenyum tipis. . .
__ADS_1
Ekspresinya yang tidak ada maksud untuk menggoda Gillian atau mempermainkannya, Rainhart menjawabnya dengan sikapnya, menatapnya serius.
Melihat Gillian masih kebingungan, Kakek Alf bertanya ke Pangeran Rainhart sebelum menjelaskan lebih jauh. . .
"Nak Rainhart bisa kamu jelaskan perbedaan antara ras elf dengan ras manusia?"
Matanya dipejamkan beberapa detik, mengingat buku yang pernah dibacanya, dan mulai menjawabnya.
"Perbedaannya terlihat pada intensitas dan kuantitas Mana dalam tubuh kedua ras. . .
dibandingkan dengan 4 ras di dunia, kuantitas atau jumlah mana pada ras manusia merupakan yang paling sedikit, sehingga intensitas atau kekuatannya tidak dapat digunakan oleh manusia. . .
Namun karena adanya pengaruh karunia dewa yang diberikan kepada sejumlah manusia yang terpilih, maka beberapa manusia dapat menggunakan mana yang mengalir dalam tubuhnya. . .
Berbeda dengan ras elf, tubuhnya seakan dicintai oleh mana, bahkan Mana Alam disekitarnya dapat menyatu dengannya. . .
Dengan kata lain tanpa karunia dari dewa sekalipun, ras elf dapat menggunakan mana-nya."
Setiap jeda kalimat Pangeran Rainhart, kakek Alf mengangguk-ngangguk, membenarkan semua jawabannya.
Disisi lain Gillian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya yang mulai pusing mendengar penjelasan yang panjang dan tak ia pahami.
__ADS_1