
Rainhart berjalan mengikuti Sylph yang terbang melayang tidak jauh di depannya.
Bunyi petir menggelegar membuat Sylph berhenti, tubuhnya bergetar ketakutan.
"Roh Angin itu tidak berbeda dengan gadis kecil biasa."
Pikirnya merasa khawatir, Rainhart lalu mempercepat langkahnya ke arah Sylph.
"Sepertinya kamu benar-benar masih mengantuk Sylph."
Tanpa mempedulikan respon Sylph, dengan lembut tangan Rainhart merangkul dari belakang sayap Sylph yang berhenti dikepakkan. Lalu tubuh Sylph perlahan ditaruh di bahu kirinya.
"Haw. . hawawawa."
Kaget dengan sentuhan tiba-tiba di belakang sayapnya, ia mengeluarkan suara yang lucu.
Mata Sylph berputar-putar, rasa takut dan malu bercampur aduk menjadi 1. Dengan posisi duduk di bahunya, ia terpaksa menggenggam rambut lelaki tampan itu, menyembunyikan wajah malunya yang merona merah dari Pangeran Rainhart yang tersenyum meliriknya dari samping.
Mereka lalu melanjutkan langkahnya yang tadi sempat berhenti dengan arahan dari Sylph di bahunya.
Rainhart tanpa ragu mengikuti perintah dari Sylph yang sedikit angkuh.
Beberapa menit berjalan, ia akhirnya berhenti. . .
"Kenapa kamu berhenti?! tinggal lurus kedepan, seperempat perjalanan lagi dan kamu bisa keluar!!"
"Ahahahaha. . . ah maafkan saya . . kamu sangat lucu Sylph. . .
Beberapa saat kamu ketakutan seperti gadis kecil biasa, tapi sekarang. . . pfft!!"
Rainhart terpaksa menutup mulutnya menahan tawanya yang terakhir, firasatnya mengatakan untuk tidak menggoda Sylph lebih jauh lagi.
Rainhart melirik Sylph dengan sebelah mata, ada rasa khawatir Roh Angin itu akan menghempaskannya lagi.
"Aku lucu. . . kata pangeran tampan itu aku lucu. . . hehehe~"
Sylph mematung lagi. Sedikit menunduk, tersenyum sendirian. Wajahnya kembali merona merah. Rasa senangnya dipuji, membuatnya lupa menutupi wajahnya.
Mereka melanjutkan perjalanannya lagi. . .
__ADS_1
"hmm~ hmm~ hmm~. . . hmm~ hmm~ hmm~~"
Suasana mulai gelap, akibat awan mendung di atasnya yang tidak mau bergeser. . .
Namun itu tidak menghentikan dengungan lagu kecil Sylph yang merasa senang.
"nah. . .Sylph."
untuk kesekian kalinya Rainhart berhenti lagi. . . pandangannya mengadah keatas, wajahnya datar seakan pasrah.
"hmm~ hmm~ hmm??"
nadanya kini berubah bertanya.
"Saya tidak ingin mengikuti arahanmu lagi Sylph. . . "
Raut wajahnya berubah sedih.
"Hweee? ke. . kenapa??! apa kamu ingin tersesat lagi?!"
"Saya tidak keberatan tersesat selamanya di hutan ini, asalkan bisa terus bersama denganmu Sylph."
"Haw. . .wawawawa!"
kebingungan dan panik membuatnya tidak dapat merespon proposal dari Pangeran Rainhart.
Entah sudah berapa kali Pangeran Rainhart membuat peri itu malu sendirian.
Mereka berjalan lagi . . .
"Sylph, seperti katamu sudah terlihat dari jauh cahaya Batu Anti-Mana didepan. . ."
Rainhart mengingatkan ke Sylph.
Meski jarak dari Batu Anti-Mana sekitar setengah kilometer lebih dari menara pengawas, Ia khawatir Sylph akan terpengaruh oleh reaksi batu itu kepadanya jika menemaninya sampai keluar hutan.
". . . . . ."
Tidak ada respon dari Sylph.
__ADS_1
Didalam kepala Sylph masih bergema kata Pangeran Rainhart "terus bersama denganmu. . ." mengalir tanpa henti.
"Sylph??"
Rainhart melirik Sylph diatas bahunya masih senyum-senyum sendiri, memegang pipinya sedang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Akhirnya Pangeran Rainhart mengusap lembut rambut peri kecil itu mencoba menyadarkannya.
Melihat Sylph menatap kedua matanya, Rainhart sedikit cemas bertanya kepadanya.
"Sylph. . . apa yang harus kita lakukan dari sini?"
Sylph sedikit merasakan reaksi Batu Anti-Mana Kakek Alf didepan. . .
"Apa yang sedang kamu khawatirkan?? Batu Anti-Mana itu tidak berpengaruh pada Roh Hebat sepertiku. . ."
katanya dengan bangga, sedikit membusungkan dadanya, menaruh tangan di pinggangnya yang langsing.
Bunyi ranting pohon kecil yang patah ditanah, terdengar dari kejauhan. . .
sesuatu bergerak cepat kearah mereka.
Bayangan hitam itu mendekat dengan pasti, seakan tidak tergganggu oleh cahaya yang kurang dari gelapnya hutan dan awan mendung di atas.
Sylph melayang sedikit menjauh dari bahu Pangeran Rainhart. Daun-daun kering yang berguguran di tanah, ikut berputar mengelilingi Sylph yang sedang bersiap-siap menyambut sesuatu yang mendekat.
Tanpa mengurangi kecepatan bergeraknya sesuatu itu semakin mendekat. . .
"Hei Sylph tenanglah. . ."
Kata Rainhart tersenyum menenangkannya.
Melihat tidak ada kekhawatiran di wajah Pangeran Rainhart, ia memutuskan untuk mengikuti maunya. Ia menghentikan sihir anginnya lalu kembali terbang melayang ke bahunya.
Rainhart tersenyum, ada rasa bahagia di hatinya melihat Roh Angin Sylph mulai mempercayainya.
Pandangan Rainhart tidak waspada. Ia berpikir hanya seorang dalam pasukannya yang dapat bergerak seperti itu di kegelapan. . .
Ras Hewan Buas, Sera. . .
__ADS_1
Anak perempuan dari Komandan Gerald.