
Meski Liliana Hensberg sifatnya lebih penakut dan pemalu, Liliana termasuk anak yang cerdas dan pandai mempelajari situasi dibandingkan dengan anak seumurannya.
Liliana tahu selama ini ayahnya terkadang menutupi kesedihannya dengan candaan atau tingkah konyolnya, selalu tampak tegar dan ceria dihadapannya.
Liliana juga tidak pernah sedikitpun memperlihatkan kesepiannya akan sosok ibu yang ia rindukan.
Tiap candaan Walikota Hensberg, perhatian Gillian dan Claudia, membantunya melepas kerinduan terhadap ibunya. Liliana selalu membalasnya dengan memperlihatkan tawa dan senyuman lebarnya.
Karena trauma dan usianya waktu itu yang baru menginjak genap 2 tahun, Liliana hanya bisa mengingat samar-samar tentang kejadian 4 tahun lalu yang merenggut nyawa ibunya.
Setiap kali Liliana mencoba mengingat kejadian tersebut, hanya gambaran punggung kakaknya Gillian berdiri jauh didepannya dengan pemandangan langit senja sore terbentang luas dan gerimis hujan yang bisa Liliana ingat.
Jika tiba waktu tidur ayah Liliana selalu menemaninya dan terkadang menceritakan kisah-kisah hebat tentang ibunya atau petualangannya.
Setiap kali ayahnya menceritakan tentang ibunya, sekilas ekspresi wajah ayahnya terlihat lebih ceria dari biasanya.
Liliana yang hanya bisa mengingat ibunya hanya dari cerita dan ingatan samarnya seperti ada semacam lubang hampa dihatinya.
__ADS_1
Liliana tidak bisa membayangkan rasa sakit ayahnya kehilangan orang terkasihnya. Bagi Liliana ekspresi ceria ayahnya adalah bentuk kesedihan mendalamnya.
Kini dihadapan Liliana, ia melihat Claudia yang sehari-hari sifatnya tenang, tiba-tiba meneteskan air mata dan ayahnya yang selalu tampak tegar dan ceria terhadapnya, memeluk dirinya erat penuh kesedihan.
Liliana yang sempat kebingungan mencerna situasinya, menjatuhkan boneka besarnya ke lantai lalu memeluk balik ayahnya.
Setelah ayahnya memberikan dan memberitahukan bahwa jepit rambut itu adalah jepit rambut yang biasa dipakai oleh ibunya sebagai hadiah ulang tahun untuknya waktu itu, dinding batu bata yang Liliana bangun sendiri 4 tahun lamanya untuk menutupi ruang kosong dihatinya, satu persatu mulai runtuh dibanjiri kepingan-kepingan ingatan tentang dirinya bersama ibu yang sangat ia cintai.
Liliana yang menggenggam hadiah terakhir dari ibunya mulai menangis haru tak terbendung dalam pelukan hangat ayahnya.
"Selamat ulang tahun putriku. . ."
Seperti suara bisikan angin ke telinga Liliana mengantarnya terlelap dalam kesedihan.
Komandan Gerald yang tadinya cuma diam menatap sedih kearah Walikota Hensberg dan Liliana, dengan kedua tangannya mulai mengusap air matanya.
Walikota Hensberg menatap dengan senyum ke Claudia yang berdiri disampingnya tanpa sepatah kata.
__ADS_1
Claudia yang mengerti maksud tuannya mendekat ke Walikota Hensberg untuk mengambil Liliana yang terlelap.
Pipi mungil Liliana yang basah dibasuh dengan sapu tangan Claudia dari sakunya.
Claudia yang selama ini merawat Liliana seperti anaknya sendiri, sejenak terdiam memeluk Liliana lalu mengusap rambutnya dalam gendongannya.
Boneka beruang besar Liliana di lantai tidak lupa dibawanya bersama putri majikannya ke tempat tidur Liliana di kamar Walikota Hensberg.
Dengan perlahan Claudia menurunkan Liliana dari pelukannya, pipi Liliana yang memerah dibelainya, lalu mencium keningnya.
Claudia kemudian menaruh boneka beruang besar Liliana disampingnya. Refleks, Liliana memeluk boneka tersebut melepas hadiah peninggalan ibunya.
Claudia kemudian tertawa pelan melihat Liliana yang kesulitan memeluk boneka besar dari Komandan Gerald.
Dalam derasnya suara hujan, dikeheningan malam Claudia menatap keluar jendela lalu berkata dalam senyuman,
"Harusnya kamu memberikan saja hadiah seperti Tuan Gerald, majikanku yang bodoh."
__ADS_1