The Undead Knight

The Undead Knight
Rumahku Idamanku


__ADS_3

Gillian yang menurunkan pedangnya, membuat pemuda itu menghela napasnya dari rasa tegang.


Dengan sikap sopan membungkukkan badan pemuda tersebut lalu memperkenalkan dirinya.


"Perkenalkan namaku Rainhart Pendragon, anggota Pasukan Kerajaan Britania."


Gillian mengkerutkan dahinya, dia berpikir pernah mendengar nama itu tapi entah dimana.


Kakek itu yang beranjak dari tempatnya ingin memberitahukan ke Gillian, namun berhenti ditengah jalan saat melihat Rainhart mengedipkan satu mata kepadanya.


Dari kejauhan kakek tua itu mulai bertanya.


"Jadi bisa kamu ceritakan apa yang terjadi sehingga membuatmu tersesat sampai kesini?"


"Maafkan ketidaksopananku sebelumnya yang bersembunyi dibalik semak. Saya bersembunyi hanya mencoba mencermati situasi dari dekat, tidak ada maksud lain, saya hanya benar-benar tersesat."


Rainhart berhenti sejenak menatap serius ke arah Gillian, lalu melanjutkan ceritanya.


"Awalnya saya masuk ke hutan karena penasaran ingin menyelidiki suatu mahluk yang pernah muncul beberapa tahun lalu disekitar hutan ini."


Wajah Rainhart sedikit tertunduk rendah yang sekilas nampak sedih.


Gillian menggigit bibir bawahnya mencoba menahan amarahnya mendengar perkataan Rainhart tentang mahluk yang ingin ia selidiki.


Peri-Peri Hutan yang masih beterbangan disekitar Rainhart, tiba-tiba berhamburan masuk ke dalam hutan lalu menghilang ditelan bayang-bayang pepohonan seolah merasakan sesuatu yang berbahaya dari arah Gillian.

__ADS_1


Tanpa merubah ekspresinya, Rainhart memandangi Gillian dengan raut wajah sedihnya namun tersenyum tipis bersimpati kepadanya.


Kakek tua itu berjalan kearah mereka yang kini berada tepat dibelakang Gillian.


"Suatu saat amarahmu benar-benar bisa membunuhmu, seperti ini!"


#Tukkkk#


Suara hentakan ujung kepala tongkat kayunya kebelakang kepala Gillian.


"Kakek sialan kenapa kepalaku dipukul?!"


Gillian yang tidak menyadari langkah kakek itu, lantas kaget berbalik dan menggaruk-garuk kepalanya yang kesakitan.


"Kupikir selama sebulan ini, tadinya kamu sudah berubah setelah bisa mengalahkan Manusia Pohon itu. Bocah, kamu masih perlu berlatih mengontrol emosimu."


"Mau sampai kapan kalian berdiri disitu?"


Kakek yang membuka pintu mengisyaratkan kepada mereka untuk masuk kerumahnya.


"Menakjubkan. . ."


Kata itu refleks keluar dari mulut Rainhart yang melihat isi rumah kakek tersebut penuh dengan lemari disetiap sudut dinding rumahnya, gelas-gelas botol yang berisi tanaman obat, buku-buku tua, tanaman yang dikeringkan digantung dilangit-langit, bebatuan kristal yang menumpuk disalah satu sudut ruangan, dan kertas-kertas yang berhamburan diatas meja kayunya.


"Duduklah, tapi jangan sentuh kertas-kertas ini."

__ADS_1


Kakek itu menyuruh mereka berdua duduk pada kursi-kursi kayu didekatnya. Ia lalu naik tangga menuju ke lantai diatasnya.


Hening, hanya suara serangga jangkrik dan langkah tongkat kakek yang terdengar.


"Ughh. . setiap kali aku mencoba menatapnya serius, dia hanya terlihat tenang dan tersenyum kepadaku. Lelaki tampan yang selalu memasang wajah seperti itu, aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya."


Pikir Gillian dalam benaknya yang terlihat canggung kebingungan untuk memulai percakapan.


"Kakek tua sialan, jangan tinggalkan aku dengan laki-laki seperti ini !"


Mata Rainhart yang menjelajahi isi ruangan kakek itu, kemudian terfokus pada salah satu lemari yang diantaranya berisi tanaman ginseng.


"Aku kagum melihat anak muda yang tahu nilai dari tanaman dibotol itu, tidak seperti bocah yang duduk kebingungan disana."


Kakek yang sedang turun dari tangga, menatap mengejek ke Gillian.


"Kakek tua siapa yang kamu maksud dengan bocah yang "disana"? grrrrrrr....."


Gillian menggeram kesal menyadari kakek tua seakan menjawab dengan tatapan kearahnya.


Kakek itu lalu duduk pada kursinya yang lebih besar dari tempat duduk Gillian dan Rainhart. Ia menggeser kertas-kertasnya yang berhamburan agak kepinggir meja,


lalu menarik semacam untaian tali yang lurus memanjang jatuh tidak jauh dari tempat duduknya.


Terdengar semacam bunyi mekanisme mesin bergerigi dari lantai 2 diatasnya.

__ADS_1


Rainhart sedikit terkejut, sedangkan Gillian menaruh pipi kanannya ke meja dengan ekspresi datar.


Tak berapa lama kemudian dari langit-langit yang terdapat semacam 2 pintu kecil, mulai terbuka dan terlihat benda seperti sangkar burung berbentuk tabung perlahan-lahan turun layaknya sebuah elevator kecil membawa 3 cangkir minuman yang telah disiapkan sebelumnya oleh kakek tersebut.


__ADS_2