The Undead Knight

The Undead Knight
Ingatan dan Penyesalan


__ADS_3

Cahaya senja memaksa menembus lubang penutup jendela tua yang sayup terhulai angin. Cahaya itu sepintas berubah kemerahan seakan menggambarkan hati pemuda yang meratapi ketidakmampuannya.


"Maaf mengecewakanmu Pangeran Rainhart dengan memperlihatkan teknik pedang ibuku yang menakjubkan, tapi kulakukan dengan cara menyedihkan."


Gillian memandang jatuh, terpaksa mengepalkan tangannya, mengakui ketidakmampuan tubuhnya tanpa aliran mana.


"Saya tidak bermaksud begitu Gillian. . . .


saya hanya. . . . . ."


Rainhart diam terhenti, menyadari hal yang akan diucapkannya hanya akan menambah luka hati lelaki disampingnya.


Nampak kilau gemerlap baju pelindungnya memantulkan warna rambut kuning telur pangeran itu yang tertunduk.


Lolongan jauh serigala hutan, menambah ricuh suasana hati Gillian.


Angin hutan yang berhembus masuk ke ruang tamu kecil, menusuk punggung leher pangeran itu, menyadarkannya.


"Saya tidak tahu betapa dalamnya jurang kesedihan bagi seorang anak kehilangan ibunya. Beberapa ingatan mungkin ikut jatuh bersama kepergiannya. . ."


Rainhart tetap tertunduk paku mencoba menata rapi kata demi kata tanpa menyakiti perasaan Gillian.


"5 tahun yang lalu, itu pertama kalinya kita bertemu juga adik perempuanmu Liliana, dengan jari kecilnya menggenggam erat tangan ibumu."

__ADS_1


Seperti kunci yang membuka pintu ruangan tertutup di musim panas, nama adiknya Liliana menyejukkan suasana hati Gillian.


"Liliana. . . "


Nampak nama adiknya lembut keluar dari bibir Gillian yang mulai mengering.


Tatapannya kini memancarkan cahaya senja, lekungan mata atasnya sedikit gelap tertutup bayangan alisnya yang jatuh.


Rainhart kini menatap Gillian dengan senyuman tulusnya. Lalu bagai seorang pengelana walau tanpa gitar kecil menemani (Bard) melanjutkan potongan kenangannya, nadanya rendah namun tak lemah.


"Saat itu langit cerah, secerah tawa anak perempuan itu, hembusan angin yang sejuk sesejuk senyuman ibunya, mereka duduk berdua berdampingan di atas kursi kayu di bawah pohon rindang yang tumbuh sepi sendirian, mereka memandangi lapangan tandus tempat dimana pria ditempa menjadi kesatria. . .


Seorang anak berambut ombak berwarna hitam lemah, berlari masuk dalam jangkauan pandangan keduanya seakan menarik semua cahaya terik matahari membuat semua mata tertuju padanya, satu kepalan tangannya lantang dipinggangnya, dan yang satunya menunjuk kearah anak berambut kuning yang seumuran dengannya berkeringat ditengah lapangan tanpa letih mengayunkan bilah pedang ke boneka latihan. . .


Rainhart tidak dapat melanjutkannya.


"Aku. . . "


Gillian merasa hangat di dadanya, rasa hangat itu kemudian memanas memberontak. Meluapkan kepulan emosi dan perasaan.


Matanya yang tadinya bercahaya kini memantulkan cahaya. berkaca-kaca, menjatuhkan semua perasaannya yang dulu hilang bersama ibunya.


Dalam tangisan penyesalannya Gillian melanjutkan potongan akhir cerita Pangeran Rainhart.

__ADS_1


"A. . .aku. . . a. .kan menjadi kesatria terkuat . . .lebih dari siapapun. . . dan akan. . . melindungi. . . . ibu. . . dan a. .dikku."


"Maafkan aku ibu. . . . maafkan aku."


Sejak sepeninggalan ibunya, hanya kalimat itu yang terlintas, tidak ada yang lain.


Hari demi hari Gillian lalui dengan api penyesalan yang tak kunjung padam. membesar membakar menyisakan abu.


Hatinya hitam pekat, tak teraih.


Membuat dirinya yang jatuh tidak tertolong.


Hari dimana ibunya pergi, karena ketidakmampuannya.


Hari dimana Liliana terluka, karena ketidakberdayaannya.


Hari itu dingin namun hangat, seperti sisa bara api yang diterpa gerimis hujan dihatinya yang kering.


Ingatan yang Gillian lupakan karena terpukul selama ini, kini hijau oleh benih yang mulai tumbuh dari balik puing-puing bara api.


"Sebenarnya ada banyak yang ingin kukatakan padamu Gillian, tapi kurasa tidak sekarang."


Rainhart memandangi tajam kakek tua di depannya.

__ADS_1


Kakek tua yang dari tadi diam mematung seperti kepompong, mulai bergerak keluar cangkang mendapati tatapan tajam Pangeran Rainhart yang setajam cahaya terik matahari lurus tepat diujung kepala.


__ADS_2