
[Sebelum malam kunjungan Komandan Gerald]
"Haaa. . . . haa. . . . haaaa. . . ."
Dengan napas terengah-engah, Gillian jatuh telentang diatas rumput menatap rimbunnya dedaunan.
Dari sebuah rumah terbuat dari 1 batang pohon besar yang tidak jauh darinya, terdengar suara dentuman langkah tongkat.
Tak berselang berapa lama, keluar orang tua paruh baya memakai pakaian yang agak lusuh dengan kacamata baca kecilnya.
Dengan tangan kirinya, kakek itu lalu memegang gagang kacamatanya memperhatikan sekelilingnya.
Dia kemudian menatap tajam 2 bongkah batang kayu seukuran orang dewasa telah berhamburan disekitar Gillian.
"Hooo. . . sepertinya kamu sudah naik kelas dari bocah kecil menjadi bocah tengil."
"Jangan memanggilku bocah, kakek tua tengik."
Kakek itu mengacuhkan Gillian. Dengan suara lantang dan bahasa yang tidak Gillian mengerti, kakek tersebut mengucakan sesuatu yang terlihat berbeda dari sihir yang biasa Gillian lihat.
"Naneth K'emen galad loth loa Alda Taure."
Ujung tongkat kayunya lalu dihantamkan keras ketanah.
__ADS_1
Bola-bola cahaya biru kecil kemudian muncul diiringi dengan hembusan angin dari berbagai penjuru arah melewati selah-selah pepohonan. Bola-bola cahaya tersebut secara berirama mengelilingi sekitar bongkahan-bongkahan kayu dan Gillian.
Gillian yang tidak pernah melihat sihir ini sebelumnya, dengan tenaga tersisa lantas panik berusaha keluar dari pusaran angin yang mengelilingi.
Semakin lama pusaran angin tersebut semakin kencang sehingga meninggi terbangkan 2 buah bongkahan kayu besar seakan terbuat dari kertas beserta serpihan potongan-potongannya.
"Sialan kau kakek tua!"
Ngumpat Gillian yang juga hampir diterbangkan.
Kakek tua yang berdiri menontonnya, tertawa sinis melihat Gillian memeluk batang pohon dengan erat bagai pasangan kekasih yang tidak ingin terpisah karena tak direstui.
Pusaran angin perlahan meredah lemah, membuat kayu yang tadinya terbang tinggi setinggi pohon, kini secara ajaib jatuh melayang setinggi kepala orang dewasa.
Bola cahaya itu lalu diserap oleh kayu yang melayang. Serpihan-serpihan potongan kayu kecil kemudian menyatu kembali dengan tubuh utamanya membentuk tangan atau kaki, lalu dapat bergerak selayaknya manusia.
Perkataan Gillian yang takjub namun tampak kesal.
Salah satu bola cahaya biru yang tersisa melayang ke arah kakek itu. Bola cahaya itu mendekat ke telinganya, melayang diam beberapa detik.
Kakek itu lalu menatap serius ke salah satu semak berjarak 5 meter dari pohon tempat Gillian bersandar.
Gillian baru tersadar akan keberadaan sesuatu yang bersembunyi di semak-semak setelah memperhatikan arah pandangan kakek tua itu.
__ADS_1
Dia kemudian mengeluarkan pedang kecil dari sarung pedangnya, dengan sikap waspada mengarahkannya ke semak tersebut.
Merasa persembunyiannya sudah diketahui. Seorang lelaki tampan memakai baju pelindung lengkap keluar melangkah pelan dari balik semak mengangkat kedua tangannya.
"Saya tidak mempunyai niat jahat. Tolong, bisa kamu turunkan pedangmu?"
Pemuda tersebut tersenyum memelas ke Gillian dan kakek.
Gillian memandangi pemuda yang kira-kira usianya seumuran dengannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Baju pelindung yang dikenakan pemuda itu sama seperti baju kesatria yang biasa Gillian lihat dipajang di kamar ayahnya.
Meski begitu, dirinya masih curiga dengan pemuda itu dan tanpa takut tetap mengarahkan ujung pedangnya ke wajahnya.
"Apa yang ingin dilakukan oleh Kesatria Kerajaan jauh didalam Hutan Mapple Hitam?"
Tanya Gillian tegas ke pemuda tersebut.
Pemuda itu terlihat terkejut dengan sikap Gillian terhadapnya.
"Saya hanya tersesat."
Jawab pemuda itu singkat sedikit malu.
__ADS_1
"Turunkan pedangmu Gillian. Kau lihat bola-bola cahaya biru yang berada disekelilingnya? itu adalah Peri Hutan. Dan peri hutan biasanya senang berada pada mahluk yang hatinya bersih dan memiliki energi spiritual."
Kakek itu mengatakan ke Gillian seolah menyindirnya.