
Saya seperti tersedot oleh wajah lucu boneka beruang tersebut. Tanpa saya sadari, saya sudah berdiri diatas lantai mencoba mengangkat boneka besar itu dari meja.
Geram melihatku seperti kewalahan, Paman Gerald dengan tangan besarnya mencoba membantu mengambil boneka tersebut lalu menyodorkan pelan kearahku. Sejenak ketika boneka itu mendekati dekapanku, saya kembali panik ketakutan berlari kepangkuan ayah meninggalkan boneka itu setelah melihat senyuman aneh Paman Gerald.
Ayah memelukku mencoba menenangkanku, sedangkan Claudia sedikit memarahi Paman Gerald. Ayah tertawa kecil dan tampak kagum melihat Claudia memarahi seorang Komandan Kesatria Kerajaan.
Paman Gerald hanya bisa tertunduk diam mengangguki perkataan Claudia.
"Meskipun sudah mempunyai istri dan anak, ternyata penyakitmu masih belum sembuh Komandan Gerald."
Kata ayah sembari mengambil boneka yang jatuh di lantai lalu memberikannya kepadaku.
"Lily sayang, bilang terima kasih pada Paman Gerald."
Ayah mengusap lembut rambutku.
"T. . .te...terima kasih Paman Gelald."
__ADS_1
Ahh.. karena masih sedikit ketakutan saya salah mengucapkan nama Paman Gerald.
"Ghuu hack..!"
Paman Gerald malah seperti tersambar petir mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Ughh... mata biru, rambut silver, dan wajah Liliana kecil benar-benar mewarisi kecantikan Sang Mawar Putih, Nyoya Esthelle. Tapi. . . tapi Sera kecilku tidak kalah lucu!"
Paman Gerald dengan semangat berdiri mengepalkan tangan kanannya.
Walikota Hensberg tersenyum melihat teman seperjuangannya telah menjadi sosok ayah yang mencintai keluarganya. Tidak pernah terpikir sebelumnya dirinya juga bisa mempunyai keluarga ketika dulu masih bertugas melayani kerajaan sebagai anggota Pasukan Kesatria Kerajaan Britania.
Seminggu sekali orang tuaku selalu mengajak saya dan kakak ke kuil untuk berdoa kepada Dewi Artemis yang letaknya dipinggiran kota diatas Bukit Bunga Cahaya Bulan dekat dengan Hutan Mapple Hitam. Jadi ukiran emas diatas kotak itu tidak sulit untuk saya kenali.
"Ayah. . . . ayah. . . . "
Dengan sedikit menggerakkan pakaian ayah, saya mencoba menarik perhatian dari lamunannya sambil menunjuk kearah kotak itu yang berada diatas meja.
__ADS_1
Ayah mengelus kepalaku lalu melihat kearah benda yang kutunjuk. Walau agak segan, ayah mengambil kotak merah tersebut kemudian memperhatikannya dari dekat.
"Ukiran emas Dewi Artemis yang merupakan lambang Keluarga Kerajaan Britania, lalu ukiran perisai dan naga lambang dari Klan Penjaga Naga Putih keluarga Ratu Elizabeth."
Ayah menjelaskan kepadaku lalu menatap Paman Gerald dengan wajah serius.
"Kotak merah itu dititipkan oleh Ratu Elizabeth sendiri Walikota Hensberg."
Merasa penasaran ayah perlahan-lahan membuka kotak tersebut yang isinya sebuah jepit rambut berwarna putih berhiaskan batu kristal merah ditengahnya dan terdapat lipatan kertas semacam surat.
Dibandingkan dengan kotak mewah berukiran emas dan perak, jepit rambut itu terlihat usang penuh dengan goresan.
Claudia yang berdiri disamping kursi ayah menutup sebagian wajahnya mematung mengeluarkan air mata setelah ayah memandangi benda usang itu dari dekat.
Komandan Gerald hanya bisa menatap sedih melihat teman lamanya yang menggenggam erat jepit rambut itu yang seolah-olah adalah benda yang paling berharga di dunia.
Dengan kedua tangannya Walikota Hensberg memeluk anak perempuan tercintanya.
__ADS_1
Liliana terlihat panik kebingungan dengan situasi yang terjadi.
Setelah tenang Walikota Hensberg melepas pelukannya lalu mengatakan kepada Liliana dengan suara lembut bahwa jepit rambut itu adalah jepit rambut ibunya yang hilang 4 tahun lalu waktu tragedi itu terjadi.