
"Kamu benar juga, tidak mungkin manusia bisa akrab tanpa mengenal satu sama lain. Tapi sayangnya aku bukanlah manusia, jadi pola pikir seperti itu tidak berlaku padaku."
Charlotte? mengadah sedikit keatas menatap awan yang terlihat berwarna ungu gelap dari ruang sihirnya. . .
"Sebenarnya aku sendiri juga tidak yakin apakah ini pertama kalinya kita saling menatap atau sudah kesekian kalinya. Tapi itu bukanlah masalah, selama sikapmu masih menolakku, aku berpikir ini mungkin yang pertama kalinya."
Walaupun ekspresi wajahnya tidak berubah, sepintas Gillian merasa ada sedikit rasa pilu dalam ucapan Charlotte?.
Charlotte? kembali menatapnya dengan seringai senyum lebarnya. . .
"Nah coba kamu pikir Gillian Hensberg aku sudah terkurung dalam ingatan masa lalumu selama 4 tahun, hari itu adalah hari ini, dan hari ini takkan pernah berakhir." Ia melihat Gillian menjadi gugup keringatan.
"Semenjak kita bertemu, aku sudah mencarimu dalam ingatanmu ini
selama itu, namun sayangnya aku tak dapat merasakan sedikitpun hawa keberadaanmu. . .
Jauh dalam alam bawah sadarmu, kamu tidak ingin hari ini berakhir, tapi itu menjadi masalah buatku. Aku bisa melihat jati dirimu dari dalam sini, waktumu terus berjalan namun sesungguhnya kamu merasa mati di hari ini. Aku sungguh mencemaskanmu khahahaha!. . .
Ahh Itu menjawab salah satu kebingungan dirimu kenapa berada dalam tubuh adikmu sendiri." Ia tersenyum lebar.
Charlotte? terdiam hampir semenit menikmati rasa takut yang muncul dari sikap Gillian yang memeluk tubuh Liliana. Ia menjatuhkan lagi gelasnya.
"Tahukah kamu hari apa ini Gillian Hensberg?"
__ADS_1
Wajahnya sangat dekat sampai batang hidungnya bersentuhan dengan hidung Liliana.
Gillian terdiam mematung gemetaran berusaha menolak ingatannya yang meluap kembali merasuki pikirannya.
"Aturan ketiga, tidak ada pilihan diam dalam menjawab pertanyaanku. Apa mungkin kamu masih berpikir ini salah satu mimpi burukmu?" Ia berjalan ke lapak pedagang buah-buahan yang berada di pinggir jalan, tempat mereka berdiri.
Charlotte? sejenak menatap kembali Gillian dari lapak itu masih berdiri ketakutan seperti anak kecil yang pertama kali melihat hantu. "Sepertinya tidak ada pilihan lain." Ia menggeser kursi kecil tempat duduk pedagang buah itu, lalu berdiri di atasnya untuk mengambil pisau dari tangan pedagang itu yang sedang mengupas buah appel ke pelanggannya.
"Apa ini rasa takut? khehehe sungguh jiwa yang malang."
Charlotte? menatap tangannya yang gemetaran menggenggam pisau itu.
Ia kembali berjalan kedepan Gillian, Gillian menatapnya terkejut melihat pisau di tangan anak perempuan itu. Namun tak dapat berucap sedikitpun.
"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini, tapi kamu memaksaku Gillian Hensberg!"
"Char...lotte. . ." Gillian perlahan tersadar dari kegelapan pikirannya. "Charlotte! Apa tujuanmu melakukan ini pada tubuh Charlotte!" Gillian sudah tidak memperdulikan ini hanyalah mimpi, atau kenyataan pahitnya. Tangannya menggenggam tangan Charlotte yang memegang erat gagang pisau itu.
"Kalau aku langsung menarik pisau ini pendarahannya malah akan semakin parah !"
Pikir Gillian berusaha tetap tenang meski pikirannya diselimuti berbagai pertanyaan.
"Maafkan kakakmu Liliana!" Gillian berusaha sekuat tenaga merobek bagian rok baju adiknya, sebagai persiapan untuk membalut luka tusuk itu nanti, namun tangannya langsung dihentikan oleh jari Charlotte yang berlumuran darah.
__ADS_1
"Aku tidak mengira derajatmu sudah jatuh seperti itu Lian, hehehe." Charlotte tersenyum manis seperti yang Gillian kenali. Panggilan dan tawa menggodanya, membuat Gillian tidak dapat menahan air matanya.
"Kalau kamu menangis begitu, aku. . . aku benar-benar akan. . . jatuh. . . guhuk!!!"
Darah keluar dari mulut Charlotte menghentikan ucapannya.
"Apa yang coba kamu bicarakan Charlotte! bertahanlah dan jangan bicara lagi."
Gillian melirik Claudia yang masih tidak dapat bergerak. "Kenapa sihir waktunya tidak menghilang?!" Ia menggigit bibir bawahnya tidak bisa menahan ketidakberdayaannya.
"Lian, dan Lily aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku dapat melihat percakapanmu dengan mahluk itu yang merasuki tubuhku, kamu tidak perlu bersedih." Ia menyapuh air mata keduanya, ia merasa rasa sedih itu juga keluar dari tangis sahabatnya.
"Ini hanyalah mimpi burukmu dan kesadaranmu Lian, perkataan mahluk itu menyadarkanku, aku hidup dalam ingatanmu ini meski tubuhku berumur 3 tahun, tapi pikiranku seperti anak berusia 7 tahun. Sejak mengetahui kamu Gillian dalam tubuh adikmu, ada perasaan yang muncul kalau aku tidak pernah bertemu denganmu dalam waktu yang lama."
Dengan tenaga yang tersisa ia tersenyum lagi berusaha menenangkan Liliana dan Gillian.
"Kalau kamu bertemu anak egois ini di kenyataan, pastikan kamu untuk menanggapi serius candaannya, hehehe. . ." Charlotte tahu hari ini adalah hari dimana Gillian mengurung dirinya dari dunia. Mengurung dirinya dari kenyataan, menutup dirinya dari perasaan Charlotte terhadapnya. Perasaanya yang tidak mampu menarik selimut tebal yang menutupi Gillian, membuat air matanya keluar jatuh ke pipinya yang berwarna merah darah.
"Paling tidak aku dapat bertemu dan melihatmu, ini tidaklah buruk, hehe. . . maafkan aku Lian, ma. . afkan aku. . . Li. . ly. . ."
Tangan Charlotte melemas jatuh dari pipi Liliana sebagai tanda kepergiannya, ia tersenyum mengantar dirinya untuk tertidur dari mimpi buruknya sendiri.
"Charlotte. . . charlotte!! tidak. . . ti. . .dak!! jangan begini. . . oh tuhan. . hiks... kumohon jangan seperti ini!!"
__ADS_1
Ia mencabut pisau itu lalu memeluk tubuh Charlotte yang sudah tidak bernyawa. Ia menangis sejadi-jadinya, karena kebodohannya lagi merenggut nyawa orang terdekatnya.
Gillian yang terlarut dalam kesedihannya tidak menyadari kabut hitam keluar dari luka tusuk di perut Charlotte. Jarinya yang lemas tidak berdaya perlahan mulai dapat bergerak lagi.