The Undead Knight

The Undead Knight
Nightmare, Bagian 1.


__ADS_3

Gillian yang tidak sadarkan diri, sayup-sayup membuka kedua matanya, terik matahari menyentuh kulitnya terasa segar dan hangat.


Ia memandang ke awan di langit, matanya terbuka lebar tidak merasa kesulitan menatap awan putih yang cerah seperti dipagi hari.


Ia terkejut dengan keadaan disekitarnya yang tiba-tiba ramai dengan para penduduk. Bau amis ikan dan daging tercium menyengat, begitu pula suara bising para penduduk terdengar berisik tidak karuan dari tempatnya berdiri.


Seperti anak kambing yang tersesat, ia celingak-celinguk memperhatikan posisinya berada dimana sekarang. Ia kebingungan memikirkan dirinya yang tadi tidak sadarkan diri di dalam hutan, tiba-tiba bisa berada berdiri dipinggir jalanan pasar seorang diri.


"Mungkin Penjaga Hutan sedang berpatroli menemukanku, lalu membawaku ke kota."


Beberapa saat ia terdiam menemukan kontradiksi dari kesimpulannya yang asal-asalan. Seperti kalau memang ada yang menemukannya, ia harusnya terbangun paling tidak di atas kasur empuknya, bukan dipinggir jalan perkotaan begini.


"Apa itu karena aku sudah dari Guild mengantar botol Mandragora dan batu kristal aneh itu lalu sedang dalam perjalanan pulang? hmm. . . argh aku tidak bisa mengingat sama sekali. Apa karena aku pingsan kemarin dan baru terbangun sekarang sehingga pikiranku menjadi tidak jelas?"


Ia lalu menggosok-gosok biji matanya yang daritadi merasa sedikit aneh dengan pandangannya.


"A. . .aneh, apa aku memang sependek ini ?"


Terlintas dibenaknya setelah melihat sudut pandangnya jauh berubah seperti anak kecil.


"AHHHHHHHH !!!"


Belum sempat mencerna situasinya dengan seksama, Gillian kaget merasakan sesuatu yang dingin dari belakang lehernya.


"Kamu kaget yah~? hehehehe."


Ia mengenal suara tawa jenaka anak kecil itu yang berdiri tepat dibelakangnya.


"Apa yang kamu lakukan Charlotte?!"


Ia membalikkan badannya dengan tetap memegang punggung lehernya yang kedinginan. Gillian yang masih kebingungan dengan situasinya, tidak bisa menyembunyikan kekesalannya kepada teman bermain Liliana yang setahun lebih tua tapi tanggal lahirnya sama dengan adiknya itu.

__ADS_1


Nampak gadis kecil itu mengenakan pakaian ala lady dengan gaun ghotic favoritnya, berwarna ungu gelap, dengan rumbaian berwarna putih. Rambutnya yang berwarna kuning jatuh sampai sepinggang menjadikan dirinya seperti boneka. Siapapun yang melihatnya berpikir ia adalah gadis sekelas bangsawan dengan sifat sopan beretika. Namun kenyataannya, ia hanyalah gadis liar nan manja anak dari pedagang besar yang luar biasa usilnya.


"Reaksimu kali ini sempurna, hehehehe."


Tawa jenakanya yang semakin terlihat bahagia. "Puuuaahhh.. . ." Ia meminum jus jeruknya dari gelas kaca seperti minuman terenak di abad ini, tentu dirinya bertingkah begitu setelah berhasil membuatnya kaget bukan kepayang. "Ini punyamu, sudah kubilang untuk tetap menunggu di depan kedai ayahku saja. Apa yang kamu lakukan sampai disini?"


Ia melototi sekitaran tempat mereka mencari-cari dagangan yang mungkin lagi trend dipasaan sehingga membuat temannya berjalan sampai kesini.


"Ah itu, ah anu. . ." Gillian kebingungan mencari-cari alasan, sampai akhirnya ia mencium bau amis ikan itu lagi, terhirup masuk dilubang hidungnya. "Aku mencari ikan! iya ikan yang besar!!"


Alasan spontannya, berharap Charlotte tidak menanyakan lebih jauh lagi.


"Ck ck ck. . . apa yang kamu katakan bukannya kita sudah berjanji, apa kamu sudah lupa?"


Ia tersenyum sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ja. . janji?"


Ia tidak menanyakan isi janji apa itu, Gillian hanya sama sekali tidak mengerti apa maksud yang dikatakan Charlotte.


"Haa? kapan aku berjanji begitu? Apa tadi yang kamu katakan? sebodoh kakakmu ? apa yang kamu bicara. . .kan. . . .!?"


Ia baru tersadar, Charlotte didepannya terlihat sangat kecil dari ingatannya. Tenaga dari dalam tubuhnya seketika meluap, terhapus oleh hembusan angin, membuatnya merasa lemas tak berdaya.


"Nah itu Claudia sudah datang membeli daging yang banyak untuk pesta nanti."


Charlotte tidak memperdulikan omongan temannya itu, ia lalu melambai dengan semangat ke Claudia yang membawa keranjang berisi bahan pesta nanti. "Disini Claudia, kami DISINI!" ia berteriak ke Claudia yang tadi sedikit kerepotan mengingat posisi anak majikannya kini beranjak dari tempatnya menunggu.


"Tu. . .tunggu sebentar Charlot-"


"Maafkan saya Lily, saya agak lama mencari-cari daging yang masih segar, apa kamu merasa kesepian menungguku?"

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan Claudia, aku bukan Lili-. . ."


Gillian panik ia merasa sudah berbicara tapi gerakan bibirnya sama sekali tidak bergerak.


"Tidak kok, ada Charlotte yang menemaniku."


Suara adiknya Liliana keluar dari mulutnya.


Ia mencoba menggerakkan tangannya menyentuh rambutnya yang ternyata lebih panjang. Warnanya putih silver.


"Ti. . . tidak apa yang sebenarnya terjadi padaku kali ini, kenapa aku berada dalam tubuh adikku sendiri !?" ia sedikit masih bisa menggerakkan tangan adiknya, namun perlahan kehilangan tenaganya menyebabkan gelas minumannya tidak sengaja dijatuhkan pecah diatas jalanan pavling itu.


"Lily jangan bergerak dari situ!" Claudia menaruh keranjang belanjanya, lalu memungut pecahan gelas kaca tersebut.


"Wajahmu sedikit pucat, apa kamu tidak enak badan Lily?"


Ia berhenti sejenak, memperhatikan kondisi Liliana.


"Claudia ini aku, Claudia ini aku Gillian!!! Claudia. . . Claudia. . . . Arghhhhhhhhhhhh! ahh aku pasti bermimpi, iya aku pasti bermimpi." ia tertunduk mengamati salah satu pecahan gelas yang tersisa dibawah kakinya, terlintas dipikirannya untuk memegang pecahan kaca yang tajam itu, berharap rasa sakitnya membawanya terbangun dari mimpi anehnya ini.


Gillian tertunduk mencoba mengambil pecahan kaca itu. . .


"Hehehehe~"


Tawa Charlotte terdengar dengan jelas, seakan hanya suaranya yang terdengar.


"Hehehehe~ khehehehehehehehe~"


Gillian dalam tubuh adiknya berhenti mencoba mengambil pecahan itu, merasa benar-benar hanya suara tawa Charlotte yang terdengar semakin menyeramkan.


Ia mengamati sekitarnya, dalam pandangannya, semua berubah menjadi berwarna ungu dan kemerahan.

__ADS_1


"Apa kamu yakin. . . akan melukai tubuh adikmu sendiri dengan kaca itu? khehehe, apa kamu yakin kalau ini benar-benar mimpi?


Gillian Hensberg. kheheheheehe~"


__ADS_2