
Bayangan hitam itu kini hanya berjarak beberapa puluh meter. . .
Sylph meyipitkan matanya menambah fokus penglihatannya, ia melihat bayangan itu matanya sekilas menyala bercahaya kuning dengan senyum yang mampu membuatnya merinding ditempat.
Rainhart tanpa keraguan maju kedepan menyambutnya dengan tenang. . .
Sylph merasakan aliran mana semakin terkonsentrasi di kaki hewan buas itu. . .
Bayangan itu melompat tinggi dengan kecepatan tinggi ke 1 batang pohon searah diagonal di depannya, bunyi dentuman keras kakinya merapat ke batang pohon menambah rasa yakin Sylph bahwa ada yang tidak beres, ia dengan cepat terbang menjauh dari bahu Pangeran Rainhart.
Badan hewan buas itu tertunduk rendah mengikuti momentum kakinya yang merapat. Kakinya yang tertekuk didorong lurus dengan sekuat tenaga dari batang pohon sebagai pijakan solidnya. . .
Putaran udara yang dilakukannya mengubah posisi kepalanya bertukar dengan kakinya yang kini menjurus kedepan menerjang dengan kecepatan seperti bola meriam.
Rainhart merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk Sera yang merasa sangat rindu kepadanya, pikirnya. . .
"Sera maaf membuatmu lama menung-"
"Supeeeeer Hypeeeeer Giga Megaaa Elegant Drop Kiiiiiiiiick!!!!"
Nama jurus tendangannya diteriakkan keras masih dalam posisi terbangnya.
"-gu hack!!!!"
Menerima tendangan Sera penuh kasih sayang, jatuh tepat ke hatinya, pikirnya. . .
Rainhart berguling-guling terhempas ke belakang, punggungnya menabrak pohon lalu akhirnya tertepar jatuh ke tanah, tangannya yang gemetaran terangkat, lalu jempol tangannya berdiri 1 sendirian.
"Ni. . . .nice Drop. . .kick."
Kata terakhirnya sebelum hilang kesadaran.
Kelopak mata Sylph berkedip dengan cepat melihat drama keduanya. Ia memandang gadis kucing kecil itu yang mengenakan baju pelindung kesatria wanita, berdiri menginjak-injak Wakil Komandan kesatrianya yang pingsan.
"Sadarlah Wakil Komandan Tidak Berguna!"
Serunya kesal dengan sepatu kesatrianya dihantamkan berulang kali ke baju pelindung Pangeran Rainhart.
Tempo tendangannya perlahan melambat, lalu akhirnya berhenti. . .
"Tahukah kamu, betapa khawatirnya aku mencarimu. . . hiks... . ."
Gadis kecil itu tertelungkuk, memukul tanpa tenaga ke tempurung kepala Pangeran Rainhart yang masih tidak sadar.
Sylph merasa iba terhadap gadis kucing itu telah diperlakukan tidak sensitif oleh Kakek Alf.
__ADS_1
"Mau sampai kapan kamu menggoda Ketua Sera, Wa-kil Ko-man-dan?"
Kata Isabella dari belakang Sera.
"Ahaha. . .haha saya tidak menggoda Sera, sungguh!!! kali ini tendangannya itu sangat bertenaga."
Rainhart terpaksa bangun, merinding mendengar suara Isabella mengeja pangkatnya.
"Jangan menyebutnya tendangan itu, namanya Super Hyper Mega Elegant Drop Kick!"
Sambar sera sedikit kesal dengan Pangeran Rainhart yang tidak mengingat nama tendangan dropkicknya.
"Ketua Sera, dimana sisi Elegant yang dimaksud jika seorang gadis kecil melakukan dropkick yang mematikan? dan terakhir Giga-nya lari kemana Ketua Sera?"
Isabella memegang gagang kacamatanya mengkoreksi nama tendangan anehnya itu.
"Bella tidak perlu memperdulikannya sampai detail begitu Nyahahaha~"
"Daridulu sudah saya katakan jangan memotong namaku menjadi begitu. . . Se-ra Griss-hill!"
Ia tersenyum ke Sera.
"Siap Isabella"
Ia berdiri merinding mendengar nama lengkapnya sendiri.
"Apa yang terjadi? hanya hawa keberadaan gadis kucing itu yang kurasakan tadi, aku juga sama sekali tidak mendengar bunyi dari pergerakan wanita berkacamata itu."
Meski Sylph tahu dari pakaian yang dikenakannya, ia juga adalah anggota pasukan kesatria, Sylph merinding menatapnya.
Roh Alam dan Peri sangat sensitif oleh perasaan mahluk disekitarnya. Ia ketakutan dan disisi lain bersimpati melihat Isabella.
Isabella baru pertama kali melihat Roh Angin yang termaterialisasi. Ia tetap tenang berpikir mungkin Roh Angin itulah yang mengantar Wakil Komandannya yang buta arah sampai ke dekat batu anti-mana. Ia menatap Sylph, tersenyum lembut menyapa, mencoba untuk membuatnya tidak setegang itu melihatnya.
Ayah Isabella, Alexander Kriegh adalah tangan kanan Raja Richart Vermilion, Isabella sejak kecil selalu mengagumi ayahnya, bahkan melihat sosoknya sebagai panutan yang ideal sebagai cita-citanya dari kecil menjadi pelindung keluarga kerajaan.
Ayahnya sangat penuh kasih terhadapnya, meski ia tahu Isabella berbakat dan mewarisi kemampuannya, ia hanya ingin melihat putrinya bisa hidup bahagia menikah dengan pria idamannya. Ia sama sekali tidak ingin membuatnya mengemban tugas tradisi dalam keluarganya.
Namun suatu hari kejadian itu terjadi, hari dimana Sang Putri, bersama Isabella yang pada waktu itu berumur 8 tahun, berhasil diculik oleh berandalan ibukota. Semua kesatria yang bertugas mencari ke sudut kota, bahkan sampai daerah pemukiman kumuh yang mungkin menjadi markas persembunyian mereka.
Dan benar saja, kesatria pelatihan yang menemukan mereka pertama kali, dalam sebuah gudang markas berandalan tersebut merinding ketakutan melihat pemandangan itu. Sang Putri tidak sadarkan diri, Isabella hanya berdiri ditengah ruangan, tatapannya kosong tanpa emosi menatap Putri Kerajaan dibawah kakinya tidak melepas pelukannya. Semua darah dan potongan tubuh manusia terhambur sampai ke dinding bangunan kayu tersebut.
Kesatria muda itu muntah ditempat, namun tetap berusaha membawa keduanya keluar dari ruangan. Ia tidak bisa memikirkan anak sekecil itu mampu membunuh puluhan pria dewasa. Ia sangat bersimpati atas kejadian yang dialami Putri Kerajaan dan Isabella. Ia secara personal melaporkan ke kediaman Keluarga Alexander, sebelum akhirnya melapor secara resmi ke komandannya.
Apapun yang terjadi ia hanya bersyukur anaknya tidak kenapa-kenapa, kejadian itu sama sekali tidak mengurangi kasih sayang Alexander Kriegh terhadap anak gadisnya Isabella.
__ADS_1
Raja Richart memanggil dirinya untuk berbicara sebagai teman meminta pendapatnya untuk menjadikan Isabella sebagai pasukan pengawal khusus bagi kedua anaknya. Ayah mana yang mau membiarkan anak gadisnya menjadi daging yang siap mati meski itu perintah raja sekalipun. Ia tidak langsung menyetujui permintaan raja, tanpa membicarakan kepada anaknya Isabella.
Kalimat yang dari dulu ditunggu-tunggu Isabella akhirnya benar-benar keluar dari mulut ayahnya, dimana raja menawarinya langsung menjadi pasukan pelindung seperti dirinya. Ia sangat senang, tertawa bahagia memeluk ayahnya yang sudah beruban itu. Melihat kebahagian anaknya, hati sang ayah dibuatnya luluh mengikuti kemauan Isabella.
Kejadian yang dialaminya kemarin seperti dilupakannya begitu saja, ayahnya sama sekali tidak akan mengungkitnya.
Hanya 1 hal yang ingin dikatakan ayahnya sebelum dirinya mengikuti langkahnya. . .
"Untuk melindungi keluarga kerajaan, apapun caranya ia harus mampu melakukan tugasnya meski jalan yang ditempuh untuk melaksanakannya penuh darah."
Tapi itu tidak sempat dikatakannya, mengingat Isabella sudah melakukan tugasnya dengan baik, ia hanya tertawa bersama memeluk anak gadis kecilnya itu.
Seperti tradisi dalam Keluarga Alexander, sebelum menjadi pasukan pelindung keluarga kerajaan, Isabella harus mampu mempelajari etika, teknik bertarung, dan sihir dari Sekolah Kesatria. Dan yang terakhir seni membunuh dari Assassin Guild.
Diumurnya yang 8 tahun, ayahnya yang memiliki koneksi dengan guild hitam, terpaksa meminta Ketua Guild Assassin untuk mengajari Isabella cara bertarung pembunuh selama 2 tahun, sebelum masuk ke Sekolah Kesatria Kerajaan.
Jadi salah satu teknik dasar yang telah mahir dipelajarinya, Shadow Walk membuatnya mampu bergerak diantara bayangan tanpa bunyi dan tanpa hawa kehadiran.
"Terima kasih telah mengantar Wakil Komandan kami emmm-"
"Sylph, namaku Sylph."
Sambar Sylph yang melihat gadis muda itu terlihat kebingungan memanggilnya.
"Sylph sungguh Nama yang indah." Sylph tersipu malu jika dipuji terang-terangan seperti itu.
"Perkenalkan nama saya Isabella Alexander." Isabella menunjuk Sera dengan tatapannya "Gadis kecil disana adalah Ketua kami dari unit Pasukan Kesatria Wanita, Valkyrie-"
"Sera Grisshill, nya~"
Memotong Isabella, memperkenalkan namanya dengan pose peace-nya.
"Maaf tiba-tiba, saya khawatir kita tidak punya banyak waktu terlalu lama berada disini. Sylph saya ingin meminta bantuanmu segera."
Isabella kini terlihat tergesa-gesa.
"Ba. . baiklah selama aku mampu aku akan membantumu."
Ia hanya kebingungan mengikuti alurnya saja.
Rainhart ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi, tapi ditahannya menilai ucapan Isabella yang terlihat mendesak.
"Isabella, berikan saya laporan tentang apa yang terjadi, jika kita sudah sampai di kamp."
"Baik Wakil Komandan!"
__ADS_1
Mereka berempat bergegas ke kamp sementara menemui Gillian yang masih tidak sadarkan diri.