
Dino hanya menatap meja dengan tatapan kosong
"*lho ternyata benar Jefri sama yuri bertunangan*" batin dino
"Yang sabar yaa Yuri, siapa tau jodoh kamu lebih baik dari Jefri...! " hibur tante Lea
Yuri hanya tersenyum
"Makasih tante... "
"Kamu sudah makan belum yuri?! " tanya bu Lea tiba-tiba
"Sudah tante... "
"Yaudah kamu nginep dulu disini yaa... " ujar bu Lea
"Mm... Makasih tan... Tapi yuri mau pulang aja... " ujar yuri dengan hati-hati
"Lho... Kenapa? " ujar bu Lea sambil menatap yuri dengan tatapan seolah tau apa yang yuri pikirin
"Nggak ada... " jawab yuri sembari tersenyum
"Yaudah... Kapan pulangnya?! " ujar bu Lea
"Sekarang..! Jawab yuri dengan antusias
" yaudah... Dino anterin yuri dulu yaa.. " ujar bu Lea sembari menatap ke arah Dino
Dino hanya menganggukkan kepalanya
Yuri berdiri dari duduknya
"Tante... Yuri pulang ya..! " pamit Yuri sembari tersenyum ke arah bu Lea
"Iya... Hati-hati yaa... " ujar bu Lea
Mereka pun kembali ke rumah Yuri
Sesampainya di rumah Yuri, Yuri pun turun dari motor Dino
"Makasihh Dino... " ujar yuri dengan suara yang kecil
"Yes.. Gw pulang yaa... " pamit Dino
"Hm... Hati-hati.. "
Dino pun kembali ke rumahnya dan yuri masuk ke dalam rumahnya
Ia segera ke kamarnya karena baginya hanya kamarnya tempat dia termenung dan bersandar
Yuri pun duduk di ujung tempat tidurnya
"*kenapa gw harus nangis... Harusnya gw sadar kalau gw memang nggak pantas dengan Jefri , dia anak Sultan sementara gw... Jangankan Sultan.. Ortu aja nggak punya... *" batin Yuri sembari merebahkan badannya kemudian tertidur ia lupa dengan makan malamnya
......
Tepat jam 20;14 malam
Yuri terbangun karena suara dering HPnya
Ia segera meraih HPnya
"Yura?! " gumamnya
"Hallo yuri...!! " ujar yura di seberang telponnya
"Iya... "
"Kenapa lama banget di angkatnya..? "
"Maaf... Gw bangun tidur.. " ujar Yuri dengan suara khas bangun tidur
"Lho jam segini sudah tidur?! " ujar yura sembari mengeraskan suaranya membuat yuri menjauhkan HPnya dari telinganya
"Gw baru bangun anj*.. Gw tidur dari jam lima sore.. " jelas yuri
"Hah jam lima... Huh... Beruntung gw telpon lu.."
"Mm... Lu ada perlu apa telpon gw yura?! " ujar yuri dengan kesal
"Mm... Main yuk.. Gw belum makan malam nih... " ucap yura
"Main atau makan malam?! " ujar Yuri
"Dua-duanya... Mau nggak... Gw jemput nih.. "
"Iya... Lu kesini aja... Yeri juga kah?! " tanya yuri
"Nggak... Dia bilang nggak bisa... Nggak tau kenapa!! " jelas yura
"Yaudah gw mandi dulu.. " ujar yuri
"Ya... Gw otw yaa..! " ucap yura sambil mematikan telponnya
.........
Mereka pun main ke alun-alun kota sambil mencari makanan
"Yura... Lu nggak ajak jidan?! " ujar Yuri sambil berjalan mencari makanan
"Nggak.. Soalnya tadi pulang sekolah dia bilang nggak bisa main nanti malam... " jelas yura
"Ouh... " ujar Yuri sambil menganggukkan kepalanya
Mereka pun sampai di kedai makanan yang mereka cari
Mereka pun duduk sambil memakan makanannya
Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri mereka sambil menumpahkan air ke meja mereka
Yuri dan Yura hanya saling tatap dengan terkejut kemudian mereka menatap ke arah orang yang baru saja menumpahkan air ke mejanya
"Mawar...?! " gumam Yuri
Yura hanya menatap mawar dengan tatapan tajamnya
"Kenapa? Kalian kok nggak lawan gw... Bukannya kalian senior diamond's school's..?! " ujar mawar sembari tertawa dengan tawa yang mengejek
Yuri hanya menatap yura sambil menghela napas panjang
Tiba-tiba mawar mengambil makanan mereka dan melemparkannya ke dalam tempat sampah
"Mawar...! " sahut yura
"Apa? Jika kalian merasa kasihan sama makanan kalian... Yaa... Ambil aja di tempat sampah... " ujar mawar diiringi gelak tawa temannya ternyata temannya mawar ikut dengan mawar namun mereka tidak menghampiri yuri dan yuri melainkan mereka hanya merekam aksi mawar itupun di suruh mawar
Yura berdiri dari duduknya dan ...
Menarik rambut mawar
"Mau lo apa anj*?! " sahut yura sambil menarik rambut mawar dengan kencang
"Aww..... Anj* lu yura... " teriak mawar sembari berusaha meraih tangan yura..
"Teman-teman bantuin gw... " teriak mawar ke arah temannya
Teman-temannya segera menghampiri mawar dan segera melepaskan tangan yura di rambut mawar
Kemudian temannya mawar segera mendorong yura dengan keras
Yura pun terpental
"Aww... "
Yuri segera menghampiri yura namun mawar segera menarik rambut yuri kemudian mendorongnya dengan keras
Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri yuri
"Yuri?! "
Yuri segera menatap orang itu
"Iya... " jawab yuri dengan suara yang kecil
Orang itu menatap mawar dan temannya
"Mawar apa yang lu lakuin..?! "
"Ini bukan urusan lu.. " jawab mawar
__ADS_1
Orang itu pun berjongkok di hadapan yuri
"Lu nggakpp?! " tanyanya
"Gw... " ujar yuri dengan tidak melanjutkan perkataannya
Karena gelap orang itupun meraih HPnya dan menyalakan senter
"Yuri??.. Kenapa lu bisa berdarah..?! " ujar orang itu sembari menatap yuri dengan iba
Kemudian ia kembali berdiri ia segera memanggil temannya
Tak berapa lama temannya pun datang
"Lu tolongin yura... " ujar orang itu sembari menunjuk ke arah yura yang masih duduk dengan kesakitan
Temannya pun menghampiri yura dan membawanya ke dalam mobil
"Lu anterin yura pulang ya.. " ujar orang itu ke arah temannya
Temannya pun hanya mengangguk paham
Mawar hanya menatap aksi mereka dengan bingung
"*apa maksudnya?! *" batin mawar
Vano (orang yang menolong yuri) dan yang menolong yura adalah temannya Vano
"Yuri mari pulang... " ajak Vano
Yuri hanya mengangguk pelan sembari berdiri dari duduknya
"Lu nggakpp kakinya..?! " ujar Vano
"Nggak... Makasih Vano.. "
"Sama-sama... Yuk pulang... " Vano segera berjalan ke arah mobilnya dan yuri pun menyusul di belakang Vano
"Vano... Teman lu bawa yura kemana?! " ujar yuri sambil berjalan di belakang Vano
"Ke rumahnya.. " jawab Vano tanpa menoleh ke arah yuri
Mereka pun masuk ke dalam mobil
"Yuri... Dahi lo berdarah...kita ke rumah gw dulu yaa... Maksudnya kita obatin luka lu dulu... "
Yuri hanya menganggukkan kepalanya
......
Yura pun pulang
"Hei... Makasih yaa... " ujar yura setelah sampai di rumahnya
Orang itu hanya menganggukkan kepalanya kemudian orang itu pun meninggalkan rumah yura
"Yuri? Dimana dia?! " ujar yura sambil meraih HPnya kemudian ia segera menelpon Yuri
"Hallo Yuri... Lu dimana?! " ujar yura
"Hallo... Gw di mobil... Yura lo udah pulang..?! "
"Hmm... Gw udah pulang... Lu di mobil sama siapa?! " tanya yura
"Sama Vano... Kenapa?! "
"Sampaikan makasih gw yaa... Ke Vano... "
"Hm... " ujar yuri sembari menatap ke arah Vano dan tersenyum
"Udah dulu yaa yuri... " ujar yura
"Hm.. " jawab yuri
Telpon pun berakhir
Tak berapa lama Yuri pun sampai di rumah Vano
"Yuk masuk... " ajak Vano
Yuri hanya menatap Vano dengan canggung
"Kenapa? Yukk... Luka lu perlu di obatin Yuri... " ujar Vano smbil menatap Yuri yang kini berdiri mematung
Yuri hanya tersenyum sambil berjalan masuk ke dalam rumah Vano
"Lu tunggu dulu disini... " ujar Vano sambil menunjuk ke arah sofa
"Hm.. " jawab yuri sambil duduk
Tak berapa lama Vano kembali dengan kotak P3K
"Mmm... Vano apa nggak ngerepotin?! " ujar Yuri sambil menatap Vano dengan malu karena tak biasanya dia ngobrol sedekat ini dengan Vano
Vano hanya tersenyum
"Nggak... Yuri... Btw lo kenapa bisa berkelahi sama mawar?! " ujar Vano sambil menatap yuri
"Mmm... Itu...gw juga nggak tau.. ' jawab yuri sembari tersenyum
Vano hanya memalingkan mukanya sambil tersenyum
" yaudah... Mau di obatin.. ?" sahut Vano kembali menatap yuri
"Gw juga bisa Vano... " ujar Yuri sambil meraih kapas di tangan Vano
Vano hanya membiarkan Yuri melakukannya sendiriĀ
"Mm.. Ada cermin nggak..?! " ujar yuri sambil menatap Vano
"Nggak ada... Makanya sini.. " ujar Vano sambil meraih kapas di tangan yuri
Kemudian Vano mengoleskan betadine ke dahi yuri
"Sshh... Sakit... " gerutu yuri
"Namanya juga obat ... " ujar Vano sambil tersenyum
Yuri hanya menatap wajah Vano
"*kenapa jantung gw berdetak sangat kencang... Malu-maluin ihh... *" batin yuri
"Nih udah... " ujar Vano sambil menatap dahi yuri
"Makasih... "
"Hm... " jawab Vano sambil menutup kotak P3K
Vano kembali duduk sambil menatap ke ujung ruangan
"Lu mau pulang sekarang...?! " ujar Vano
Yuri hanya menatap ke luar lewat jendela
"Sekarang jam berapa?! " tanya yuri
"Jam sebelas.. " jawab Vano
"Yaudah gw mau pulang sekarang... " putus yuri
Vano hanya menganggukkan kepalanya
Yuri pun keluar dari rumah Vano
Namun...
Setelah ia sampai di pagar rumah Vano ia merasa ada titik-titik yang mengenainya dan titik-titik itu basah
"Hujan kah?! " gumam yuri
Vano yang sedang menghampiri mobilnya segera menatap ke arah langit
"Yuri... Hujan gimana dong...!? " ujar Vano
Yuri hanya mengangkat kan bahunya
"Yaudah nginep dulu aja di rumah gw...! " ujar Vano
"Nginep? Nanti ortu lu marah Vano...! " ucap Yuri sambil menatap Vano dengan tatapan tajamnya
__ADS_1
"Ortu? Ayah gw nggak ada di rumah " ujar Vano
"Mama lo?! " sahut Yuri
"Mama... Mama gw udah nggak ada Yuri.." Jelas Vano
Yuri hanya menatap Vano sambil melebarkan mulutnya karena ia mau ngomong tapi nggak tau mau ngomong apa
"Yaudah yukk.. Masuk sebelum hujannya deras.. " ujar Vano
Yuri hanya menatap Vano dengan tatapan kosong
"Yuri?! " sahut Vano
"Iya... " jawab Yuri sambil berjalan menghampiri Vano
Mereka pun kembali masuk ke dalam rumah Vano
"Lu tidur di kamar gw Yuri... " ujar Vano sambil menunjuk ke arah kamarnya
"Lu?! " sahut Yuri sambil menatap Vano yang pergi menjauhinya
"Gw di kamar ayah gw... " jelas Vano sambil menatap Yuri
"Mm... Yaudah.. "
Yuri pun masuk ke dalam kamar Vano
"*vano... Ternyata lu nggak mempunyai mama... Dulu gw dengar jio yang nggak punya ayah... Kenapa nasib kita pada sama.... *" batin Yuri sambil merebahkan badannya di atas tempat tidur Vano
..........
Hari menjelang pagi
Di sekolah
Yeri menghampiri yura
"Yura.. Lo nggak bareng Yuri?! " ujar yeri
"Gw? Kan emang gw sekarang nggak pernah bareng Yuri... " jelas yura
"Hmm... Iya ya... Tapi dia nggak ada di rumahnya kirain gw dia udah berangkat bareng lo.. "
"Nggak ada di rumahnya? Lu bohong yaa... "
"Serius anj*.. "
Jefri, Jio, jidan, Dino dan Arya hanya mendengarkan perbincangan mereka
"Tapi kemana?! " ujar yura sambil menatap ke arah kursi Yuri
"Nggak tau... " jawab yeri dengan penuh penekanan
"Dino... Apa Yuri ada di rumah lo..? " bisik Jefri sambil menatap ke arah Dino
"Nggak ada... " ujar dino sambil menggelengkan kepalanya
"Lu tau Yuri ada dimana?! " tanya jio sambil menatap jidan dan Arya
Jidan dan Arya hanya menggelengkan kepalanya
"Jefri.... " sahut dino
"Hmm?! "
Dino menghampiri Jefri
"Gw mau ngomong tapi jangan disini...! "
"Kenapa?! " ujar mereka dengan berbarengan membuat dino tertawa
"Ini rahasia gw sama Jefri... " jelas Dino
"Kapan gw punya rahasia sama lo Dino..?! " ujar Jefri sambil menatap Dino dengan tersenyum
Namun Dino segera menarik tangan Jefri dan berjalan keluar kelas
"Kenapa?! " ujar Jefri setelah mereka sampai di tempat yang sepi
"Kemarin mama gw Bilang sama Yuri kalau pernikahan lu sama Yuri di batalkan kemudian ia meminta gw mengantarkannya ke rumahnya dan mungkin saja dia...!! "
Omongan dino berhenti ketika ia melihat Yuri memasuki kelasnya
"Itu dia orangnya...! " ujar dino sambil tertawa
"Bentar dino... Mama lo ceritain kalau gw sama Yuri dibatalkan pernikahannya?! "
Dino hanya mengangguk
"Mmm... Apa dia menangis..?! " ujar Jefri
"Nggak... Karena mama gw bilang... Nggak usah menangis siapa tau Yuri dapet cowok lebih baik dari lu... Jefri...! "
Ujar dino sambil menunjuk ke arah Jefri
"Apaan lu... Yaudah masuk yukk.. "
Mereka pun masuk ke dalam kelasnya
Jefri duduk di kursinya alias sebelah Yuri
"Sendirian aja?! " ujar Jefri tanpa menatap ke arah Yuri namun sudah pasti ia ngomong sama Yuri karena tak ada orang lain di sebelah mereka
Yuri hanya mengangguk pelan
Tiba-tiba Yuri berdiri dari duduknya membuat Jefri menatapnya
Kemudian Yuri menghampiri Vano
"Vano gw boleh duduk disini?! " ujar Yuri
Vano hanya mengangguk pelan tanpa menolehkan kepalanya ke arah Yuri
"Vano... Apa papa lo kepala sekolah?! " ujar yuri membuat Vano menatapnya
"Kata siapa?! " tanya Vano sembari tersenyum
"Semalam gw lihat poto pak Alex di rumah lu.. Apa pak Alex papa lu Vano..?! "
Vano hanya mengangguk sembari tersenyum
"Ouh jadi lo itu anak kepala sekolah ya... Pantas aja lu pintar.. " puji yuri
"Apa hubungannya anak kepsek sama pintar..?! " ujar Vano membuat yuri tersenyum ke arah nya
"Mmm... Nggak tau... " jawab yuri sembari tertawa ringan
Jefri hanya menatap yuri dengan tatapan rasa bersalah
"*semudah itukah kau menjauhiku yuri... Sungguh aku sangat menyayangimu yuri... Ahhh.... Kenapa aku merasa sial... *" batin Jefri sambil meletakkan kepalanya di atas meja
Dino dan Jio hanya menatap Jefri dengan perasaan iba
"*bagaimana jika itu di posisi gw..?! *" batin Dino sambil menatap yuri yang kini menatapnya kemudian Dino segera memalingkan mukanya ke arah lain
"Yuri lo duduk disini... Apa nggak ada yang marah..?! " bisik Vano karena ia merasa semua murid menatapnya padahal sebenarnya hanya teman-teman Jefri yang kini menatapnya
"Mmm... Nggak ada... " jawab yuri dengan santai
"Tapi perasaan gw semua murid menatap kita... " ujar Vano sembari tersenyum
"Hah? Siapa nggak ada kok.. " ujar yuri kemudian tertawa ringan
Vano hanya tersenyum kemudian melanjutkan pekerjaannya yaitu memainkan hpnya
Tiba-tiba guru memasuki kelas
Yuri segera pindah ke kursinya
"Selamat pagi semuanya.... "
"Pagi pak... "
"Oke murid-murid sekarang kia ada pelajaran fisika... Dan... Itu apakah Jefri tertidur..?! " ujar guru sambil menunjuk ke arah Jefri
Semua murid menatap Jefri begitu juga dengan yuri
.......................................................................
__ADS_1