
"Ouh jadi lu kemarin hanya menemani dia?! " ujar Jefri
Jae hanya mengangguk pelan
"Dan mungkin dia sekarang lebih kacaunya lagi karena Vano punya pacar.. " ujar jae membuat Jefri menatapnya dengan bingung
"Maksudnya?! " ujar Jefri
"Mm.. Gini kan ketika Vano belum punya pacar ia selalu menghibur yuri dengan mengajaknya main... Tapi sekarang tidak mungkinkan Vano mengajak yuri lagi... Pastinya dia akan mengajak pacarnya.." jelas jae
Jefri hanya mengangguk sambil tersenyum
"Oke... Makasih jae... Gw pulang yaa... " ujar Jefri sambil pergi meninggalkan jae
Jae hanya mengangguk
Jefri pun pulang
Sore harinya
Dino pergi ke sirkuit sendirian
Setelah sampai disana ia tidak melihat teman-temannya
"Kok belum pada berangkat?! " gumam dino
....
Jio menelpon Jidan
"Jidan lu pergi ke sirkuit nggak?! " ujar jio
"Iya pergi.. "
"Lu sama dino ya.. Nanti gw sama Jefri! " ujar jio
"Bagaimana dengan Arya?! "
"Mmm... Mungkin dia sama aldi... "
"Yaudah gw telpon dulu dino nya! " ujar jidan
Kemudian Jidan segera menelpon dino
"Dino lu jemput gw ya..! " ujar Jidan
"Jemput? Gw sudah ada sirkuit anjirr! " jelas dino
"Kenapa lu duluan?! "
"Nggak... Kirain gw.. Lu dah pada berangkat..! " ujar dino
"Yah gaje lu... Yaudah nanti gw pergi sama Arya.. "
"Cepetan lu.. " ujar dino
"Bodo akh... Siapa yang nyuruh berangkat duluan" ujar Jidan dengan kesal
"Yaudah cepetan.... " sahit dino dengan suaranya yang keras
Jidan segera mematikan telponnya
Jidan segera berdandan
Kemudian ia meraih kunci motornya dan pergi keluar rumahnya namun setelah menginjak halaman rumahnya...
Ternyata hujan turun dengan derasnya
"Yahhh.... " sahut Jidan sambil berlari masuk ke dalam rumahnya
"Kenapa?! " ujar papanya Jidan (pak Ken)
"Baru aja mau ke sirkuit tapi hujan turun dengan deras... " ujar Jidan dengan tatapan sedihnya
"Hm... Tunggu hujannya reda... Nggak baik hujan-hujan kesana... " ujar pak Ken
Jidan hanya mengangguk kemudian ia masuk ke dalam kamarnya
.......
Di rumah jio
"Jio... Lu mau ke sirkuit hujan begini..?! " ujar yeri sambil menatap hujan di balik jendelanya
Jio hanya menatap ke luar jendela
"Hujan? Gw harus segera menelpon Jefri....! " ujar jio sambil meraih HP-nya dan menelpon Jefri
"Hallo Jefri.. "
"Hmm.. "
"Hujan jef.. Gimana dong... ?! "
"Mmm.. Gimana? Jio kan gw tadi bilangnya gimana nanti... Lagipula kalau hujan tidak turun pun gw nggak mau pergi... Gw lagi pengen di rumah ,jio..! " jelas jefri membuat jio menghela napasnya
"Okh yaudah... Matiin...! " ujar jio sambil mematikan telponnya
Yeri menatap jio sambil tersenyum
"Lu gitu yaa sama Jefri..?! " ujar yeri sambil tertawa
Jio menatap yeri dengan tatapan datar
"Gitu gimana?! Gw sudah biasa gitu sama dia.. " ujar jio sambil merebahkan badannya di atas sofa
Tiba-tiba ia mendapatkan pesan dari Arya
"Apaan? Tumben dia mengirim pesan? " gumam jio sambil meraih HP-nya
*jio... Maaf gw nggak pergi ya🙏*
Jio hanya tersenyum
"*siapa yang mau pergi coba? *" batin jio
Yeri menghampiri jio
"Siapa yang mengirim pesan?! " ujar yeri sambil duduk di sofa sebelah kanan jio
"Jisoo BLACKPINK" jawab jio sambil tersenyum
"Iih... Halu...mana mau kim jisoo ngechat sama lu jio?! " ujar yeri sambil tersenyum
"Siapa memangnya Kim Jisoo?! " ucap jio dengan serius
"Lahh... Yang lu katain tadi siapa?! " ujar yeri sambil tersenyum
"Nggak tau gw juga... Gw nemu nama Jisoo BLACKPINK dari HP lu kemarin! "
"HP gw?? Kapan lu ngambil HP gw?! "
"Kemarin... Ketika lu mandi terus ada notifikasi pesan masuk... Dan setelah gw lihat ternyata itu nama Jisoo BLACKPINK... " jelas jio
Yeri hanya tertawa
"*mungkin itu kelakuannya yura.. *" batin yeri
"Memangnya siapa Jisoo? Cewek atau cowok?! " ujar jio
"Cowok , dia suami gw! " ujar yeri sambil tersenyum
Jio hanya menatap yeri dengan tatapan tajamnya
"Ouh mungkin itu bukan Jisoo BLACKPINK, tapi jio algaskar... " ujar jio sambil tersenyum
"Hmm... Terserah... " ujar yeri sambil berjalan keluar dari kamarnya
.....
Tepat jam 06;02 sore
Dino berdiri sendiri di sirkuit
__ADS_1
"Tau gini... Mendingan gw tidak pergi... " gerutu nya sambil mengambil kunci motornya dan pergi ke rumahnya
Setelah sampai di rumahnya ternyata pak Nathan sudah menunggu di halaman rumahnya
"Pergi tidak izin dulu... Didikan siapa ini?! " ujar pak Nathan sambil menatap dino dengan tajamnya
Dino hanya menatap ayahnya kemudian menundukkan kepalanya
"Masuk ke kamar dan bersihkan diri... Ingat tidak ada makan untuk mu malam ini.. " ujar pak Nathan dengan sedikit menaikkan suaranya
"*sejak kapan gw di marahi seperti ini..? *" batin dino sambil berjalan menghampiri kamarnya
Bu Lea hanya menatap dino dengan tatapan nya yang iba
Dino segera masuk ke dalam kamarnya
Setelah membersihkan diri ia duduk di ujung tempat tidurnya
"Semua ini gara-gara salah kalian... " gumam dino yang ia maksud kalian adalah jio dan temannya
"Papa ketika papa nggak ada di rumah dino bebas main kemana saja.. Tapi setiap papa ada di rumah semuanya kacau... " ujar dino dengan sedikit mengeraskan suaranya
Tanpa sepengetahuan dino
Bu Lea diam-diam mendengarkan ucapan dino
Kemudian bu Lea menghampiri dino
"Dino... Papa mu kasihan sama kamu.. Karena tadi ia mencarimu kemana-mana tapi tak menemukannya... Papa mu khawatir dengan mu.. Karena hujan begini derasnya papa mu takut kamu terjebak banjir di luaran sana... Jangan menyalahkan papa mu dino.... " ujar bu Lea sambil duduk di sebelah dino
"Hmm... Dino paham mah... " ujar dino sambil mengangguk
Dino segera merebahkan badannya di atas tempat tidurnya
"Mah dino tidur dulu yaa... " ujar dino sambil memejamkan matanya
........
Hari kembali esok
Dino masuk ke dalam kelasnya namun ia tak menyapa jio dan temannya karena ia sangat marah selain mereka nggak datang ke sirkuit mereka juga yang membuat dino di marahi sama pak Nathan
Dino duduk di kursi nya
"Dino... Lu kenapa?! " ujar yuri sambil menatap dino
Dino hanya menggelengkan kepalanya
Jio menatap Jefri dan lainnya
"Ada apa dengan dino?! " bisik jio
Mereka hanya mengangkat kan bahunya
"Yuk masuk... " ajak Jidan sambil menatap mereka namun tangannya menarik tangan yura
"Lu sama siapa?! " ujar jio
"Sama kalian.. " jawab Jidan
Mereka hanya saling tatap kemudian tersenyum
"Yaudah yuk masuk... "
Mereka pun masuk
Jefri duduk di kursinya kemudian menatap dino di belakangnya
"Lu kenapa?! " ujar Jefri
Namun dino tak menjawabnya jangankan menjawab menggeleng pun tidak
Jefri hanya tersenyum melihat tingkah dino kemudian ia menatap yuri
"Berangkat sama siapa?! " ujar Jefri sambil menatap yuri dengan tersenyum
Yuri menatap Jefri dengan sekilas
"*iih kenapa sihh ni orang bikin gw jantungan mulu... *" batin yuri sambil membuka bukunya
"Ouh... " jawab Jefri sambil mengalihkan perhatian nya dan menatap jio yang sedang menulis sesuatu di bukunya
Yuri meletakkan kepalanya di atas meja sambil menulis kata-kata di buku diary nya
Tiba-tiba guru datang ,yuri segera mengangkat kan kepalanya dan bersiap untuk belajar
Setelah meng absen guru pun memberi soal latihannya
Semua murid segera menyelesaikan latihannya namun yuri hanya terdiam sambil menatap kertas latihannya dengan tatapan kosong
Jefri menatap yuri
"*kenapa dia tidak begitu semangat? Padahal ini pelajaran kesukaannya*" batin Jefri
Yuri menaruh pulpennya kemudian meletakkan kepalanya di atas meja
"*kenapa guru kasih gw soal... Soal dia sama gw aja belum selesai...malah tambah lagi soal ujian... "*batin yuri dengan berusaha menenangkan pikirannya
Jefri meraih kertas ujiannya yuri
"*lho? Dia belum mengisi apapun?! *" batin Jefri
Kemudian Jefri mengambil pulpen yang tadi yuri taruh
"*nggakpp salah juga yang penting nilai kita sama*" batin Jefri sambil mengisi ujiannya yuri
Jefri segera mengumpulkan kertas ujiannya tidak lupa kertas ujiannya yuri
"Oke... Sekarang boleh istirahat... " ujar guru sambil menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 10;15
"Oke bu.. "
Yuri segera mengangkat kan kepalanya namun ia terkejut karena kertas ujiannya nggak ada
"Lho? Mana kertas ujian gw?! " gumam yuri
Jefri hanya menatapnya dengan tersenyum
Yuri menatap Jefri yang kini sedang menatapnya dengan tersenyum
"Udah gw kumpulin.. " ucap Jefri sambil berdiri dari duduknya kemudian menghampiri jio
"Keluar yuk... " ajak Jefri
Jio hanya mengangguk sambil pergi menyusul Jefri
"*apakah Jefri mengisi semua soal ujian ku? "*batin yuri sambil menatap Jefri yang pergi keluar kelas
Tiba-tiba yani dan yeri menghampiri nya
"mau ke kantin yuri..?! " ujar yani
"Duluan aja. " sahut yuri
"Yaudah dahh... "
Mereka berdua pun kantin
Dino menghampiri yuri
"Yuri... Kenapa lu nggak ke kantin?! "
"Nggak.... Dino lu juga kenapa diam aja.. Tumben gitu kan biasanya lu bobrok.. "
Dino hanya tersenyum
"Nggak... Kepo lu.. " sahut dino sambil berjalan keluar kelas
Yuri hanya menatap seisi kelas sambil menghela napasnya
"Gw pergi ke rooftop dulu ahh.. " gumam yuri sambil berjalan keluar kelas
Yuri segera pergi ke rooftop sendirian
__ADS_1
Kebetulan di rooftop nya sepi
Dari kejauhan jae melihat yuri naik ke rooftop jae segera memberitahu Jefri
Jae menghampiri Jefri yang kini sedang mengobrol bersama jio dan lainnya
"Jefri... " ujar jae
"Kenapa?! " sahut Jefri
"Sini dulu.. "
Jefri segera menghampiri jae
Sementara yang lainnya hanya saling tatap
"*sejak kapan mereka akrab begitu? *" batin jio
"Jefri..lu mau gw bantu nggak?! " ujar jae
"Bantu?? Mmm... Oh iya.. Gimana caranya?! " ujar Jefri dengan tersenyum
"Lu naik ke rooftop.. " ujar jae dengan berbisik
"Ngapain?! " sahut Jefri dengan heran
"Lu naik aja sana... " ujar jae sambil berjalan menjauhi Jefri
"Semoga berhasil" ujar jae dengan tersenyum
Jefri hanya menatap jae dengan bingung
"Rooftop? " gumamnya
"Jefri...! " ujar jio dengan berteriak
Jefri menatap jio
"Kenapa?! " ujar jio dengan penasaran
"Nggak... "Jawab Jefri sambil berjalan ke kelasnya
" haruskah gw kesana? " gumam Jefri
Jefri kembali keluar kelas ia segera menaik ke atas rooftop tanpa sepengetahuan temannya
Sesampainya di rooftop ia segera membuka pintu rooftop dengan hati-hati namun ia terdiam mematung disana ia melihat yuri sedang menangis sambil memainkan HPnya
"Mama...papa... kalian lihat apa yang yuri alamin di dunia ini mah...pah.. Semua orang kejam kalau tau gini yuri lebih baik ikut dengan mama dan papa... Yuri nggak mau menjalaninya sendirian mah... Hiks hiks hiks.. " untuk yuri dengan suaranya yang kecil namun terdengar jelas oleh Jefri
Jefri hanya terdiam
"Kenapa aku yang harus menerima kenyataan ini... Sungguh sakit bagiku...
Hiks hiks... Mama papa... Yuri mau ikut sama mama dan papa.... Semua orang kejam mah.. Pah.. Nggak ada yang menyayangi yuri... Nggak ada yang menghiraukan yuri... Bahkan mereka rela membuang yuri demi pernikahannya... "
Deg
Jefri terkejut dengan apa yang yuri katakan
"*pernikahan?! *" batin Jefri
Diam-diam Jefri menghampiri yuri
Ia menatap ke arah layar HP yang daritadi yuri pandang ia pun terkejut ternyata poto dirinya yang dari tadi yuri lihat
Tiba-tiba Jefri memeluk yuri dari belakang membuat yuri terkejut dan menatap ke belakang
"Jefri.. ? Ngapain lo..?! " ujar yuri dengan terkejut
Jefri hanya tersenyum sambil menahan air matanya
Kemudian ia kembali memeluk yuri namun sekarang bukan dari belakang melainkan dari depan karena yuri nya menghadap ke arah Jefri
"Maafin gw yuri... Gw sudah mendengar apa yang lo katain tadi... " ujar Jefri
Yuri hanya terdiam
Jefri melepaskan pelukannya
"Gw tau... Lu sangat sakit karena pernikahannya di batalkan.. Tapi ingatlah gw sangat mencintai lu.. Gw bisa lari dari pernikahan ini... Gw nggak mau di jodohkan dengan orang lain selain lu yuri... Gw yakin... Gw kagak bakalan nikah sama mawar... Karena gw tidak mencintainya...ketika lu berteriak sakit ketahuilah gw juga merasakannya yuri... Gw juga kadang menangis seperti lo... " ujar Jefri sambil tersenyum
Yuri hanya terdiam sambil menatap langit dengan tatapan kosong
"Yuri... Gw tau orang yang maksud lu kejam itu siapa.. " ujar jefri membuat yuri menatapnya
"Siapa?! " sahut yuri
"Gw bukan?! "
Yuri hanya tersenyum
"Nggak... Udah jangan di bahas... Gw mau ke kelas.. " ujar yuri sambil berjalan
Namun Jefri segera menarik badan yuri ke pelukannya
"Yuri... Bisakah kita tetap bersama... Gw nggak mau lu bersama laki lain... Gw sangat menyayangi lu yuri... " ujar Jefri sambil menatap yuri
Tiba-tiba Jefri mendekatkan wajahnya ke wajah yuri ia segera mencium bibir yuri
Yuri hanya terdiam namun ia cukup terkejut
"*apa-apaan sih dia?! *" batin yuri
Jefri melepaskan ciumannya dan menatap yuri sambil tersenyum
"Lu maafin gw kan?! " ujar Jefri sambil tersenyum
Yuri hanya menahan senyumannya
"Maafin? Buat?! " ujar yuri berpura-pura polos
Jefri hanya tertawa kecil
"Polos banget sih pacar gw.. " ujar Jefri membuat yuri mencubit lengannya
"Ihh... Beneran nggak tau apa sihh... " ujar yuri sambil melepaskan tangan Jefri
"Nggak tau.. Makanya jangan marah mulu jadi cepat pikun kan?! " ledek Jefri
"Siapa yang marah? "
"Tau ahh... Yuri temenin gw dulu disini...! " ujar Jefri sambil menarik tangannya yuri karena saat ini yuri akan berjalan mendekati pintunya
"Lu mau apa disini...!? " ujar yuri dengan heran
"Mau tidur.. " jawab Jefri sambil menarik tangan yuri dan membawanya ke salah satu kursi disana
Jefri duduk di kursi itu
"Yuri.. Duduk sini " ujar Jefri sambil menunjuk ke sebelahnya
Yuri pun duduk sebelah Jefri
Jefri merebahkan badannya di atas kursi itu ia pun meletakan kepalanya di atas pahanya yuri
"Jefri... Nanti ada orang gimana?! " ujar yuri karena ia takut mawar memarahinya lagi
"Kagak bakalan ada orang... " ujar Jefri sambil memejamkan matanya
Yuri menatap wajah Jefri yang terlelap
"*jef... Kenapa lo sangat tampan... Sumpah gw nggak mau melepaskan lo.. *" batin yuri tanpa terasa ia membelai kepalanya Jefri membuat Jefri tersenyum
Jefri memegang tangan yuri yang kini membelai nya membuat yuri terkejut
"Jef... Lepasin.. " ujar yuri sambil tersenyum
Jefri membuka matanya dan menatap yuri
"Kenapa?! "
.......................................................................
__ADS_1