Three In One Transmigration

Three In One Transmigration
#22 - Informasi dari Bawahan


__ADS_3

Malam hari di kamar Slatanis di kediaman Bellwyne, saat ini seminggu telah berlalu sejak ia tinggal di Istana ini, dan sudah tiga kali mengisi rasa laparnya dengan menggunakan Roland sebagai sumbernya.


Ia kini sedang duduk di kursinya sambil meminum wine yang sudah disiapkan oleh pelayan sebelum tidur. Ia bersantai dengan pakaian tidurnya yang berwarna putih dan tipis, sehingga membuat angin malam yang masuk dari jendelanya pun terus menyapu kulitnya. Ia merasa sejuk dan dingin di kulitnya, namun tidak cukup untuk membuatnya menjadi kedinginan. Sebab, resistensi terhadap dingin dan panas benar-benar membantunya.


Kemudian disaat wine sudah mulai habis dari botolnya, sementara dirinya tidak terasa mabuk karena imunitas racun yang dimiliki dari class [prophetess]-nya, ia pun berdiri dan hendak berjalan menuju ranjangnya. Namun sesaat ia melangkahkan kaki tak sampai tiga langkah, suara ketukan di jendela nya pun berbunyi.


“Nyonya! Kami telah sampai!” Ucap Lilith yang sedang terbang di luar kamar Slatanis yang berada di lantai lima.


Slatanis pun bergegas membuka pintu, dan membiarkan Lilith dan juga Raphaela masuk ke dalam kamarnya.


“Jadi, apa yang sudah kalian dapatkan?” Tanya Slatanis sambil kembali duduk di kursi empuknya, sementara keduanya baru saja sampai dan menutup kembali sayap mereka.


“Raphaela Yang akan menjelaskannya,” ucap Lilith sambil langsung melempar tubuhnya ke ranjang. “Aku ingin berbaring sebentar, hehehe.”


“Oh oke, jadi … apa kalian baik-baik saja? Tidak terjadi apa-apa kan?” Tanya Slatanis Tampak kekhawatiran di wajahnya..


“Kami baik-baik saja Baginda, apakah anda juga baik-baik saja selama di Istana ini?” Tanya Raphaela yang masih berdiri.


“Duduklah dulu, Raphaela,” ucap Slatanis sambil menepuk-nepuk alas kursi panjang di sebelahnya.


Raphaela pun duduk di sana, dan Slatanis langsung ikut pindah dan duduk berdekatan dengannya. Setelah itu, Slatanis pun bersandar di bahu berotot Raphaela.


“Oke, sekarang ceritakan apa yang kalian peroleh,” ucap Slatanis sambil menyandarkan pipinya di bahu Raphaela.


“Baiklah,” ucap Raphaela sambil mengeluarkan ratusan buku dari dalam Inventory-nya.


“Aku juga, nih,” tiba-tiba Lilith juga ikut mengeluarkan buku-buku sambil berbaring di ranjang.


“A-apakah kalian memintaku untuk membacanya?” Tanya Slatanis melihat buku yang begitu banyak.


“Tidak … tapi jika anda ingin yang lebih detail, anda bisa melihatnya di buku-buku itu,” ucap Raphaela dengan wajah datar. “Jadi, setelah menginterogasi dan mengeksekusi— maksudku mengembalikan mereka kembali ke tempat asal mereka, kami pun mendapatkan begitu banyak informasi tentang Mana, sihir dan para penyihir. Jadi ….”

__ADS_1


‘Pulang-pulang kenapa dirinya jadi sadis begini? Padahal dia adalah seorang malaikat yang memiliki alignment neutral good,’ pikir Slatanis menatap Raphaela.


Raphaela pun mulai menyampaikan temuan mereka berdua kepada Slatanis.


….


Menurut catatan di buku-buku yang ada di kuil serta hasil dari interogasi para petinggi kuil, di dapatkanlah beberapa informasi tentang sumber sihir.


Diketahui bahwa sesungguhnya Mana yang sekarang tersebar di udara, sejatinya berasal dari objek-objek alam yang ada di seluruh Rhea. Mereka para peneliti dari kuil tercatat pada awalnya pernah menemukan beberapa gua yang di dalamnya terdapat mineral batu berwarna biru terang dan menyala. Bebatuan itu ternyata memancarkan Mana dari dalam, dan mineral itu disebut sebagai Kristal Mana.


Dikatakan juga bahwa sesaat Kristal ini di dicabut dari dari permukaan gua-gua tersebut, warna biru yang bercahaya dari batu itu pun menghilang secara perlahan. Yang dimana mereka akhirnya berspekulasi bahwa sumber Mana datang dari Gua-gua tersebut, sehingga mereka pun berhenti untuk memanen kristal Mana, karena demi untuk tetap memelihara kuantitas Mana di dunia.


Setelah itu, mereka pun berspekulasi bahwa Mana hanyalah berasal dari kristal-kristal tersebut yang berasal dari gua, namun beberapa penemuan setelahnya justru mengatakan sebaliknya. Yakni sumberi sihir ternyata bukan hanya dari kristal yang berasal dari dalam gua, tapi juga ternyata kristal-kristal ini dapat ditemukan di dalam tanah. Seperti sebuah fossil yg sudah terkubur lama. Selain dari itu, tak hanya dari kristal saja, sumber sihir yang ada di udara juga akhirnya ditemukan dari berbagai macam objek alam, selerti akar pohon purba dan sebagainya.


Kemudian dari penemuan-penemuan itu, ditetapkanlah bahwa Mana berasal dari kedalaman tanah. Hal ini terbukti dari berbagai objek alam yang mempropagasikan Mana-mana ini ke udara.


Selain itu, ditemukan pula bahwa pempropagasi Mana ini memiliki jaringan transmisi di dalam tanah bagaikan aliran darah, sementara bebatuan kristal sihir dan objek alam lainnya merupakan pempropagasi atau penyebar Mana ke udara yg disebut sebagai Pori-pori Mana.


Lalu adapun beberapa sumber Mana yang tidak dapat terpropagasikan ke udara. Beberapa sumber tersebut adalah dari Darah Fairy, Raksasa, Foxtribe dan bahkan Monster. Namun perihal hal ini, mereka para pihak kuil menutup-nutupinya dari publik sehingga tidak ada yang tahu sumber lain dari pori-pori Mana.


“Jadi dengan kata lain, jika kita bisa membuka pori-pori ini lebih banyak, kuantitas sihir di udara akan bertambah?” Tanya Slatanis berpendapat.


“Benar, karena diketahui juga bahwa dua dekade lalu, terdapat peningkatan jumlah penyihir yang tinggi dan itu berbanding lurus dengan bertambah banyaknya penemuan-penemuan kristal sihir yang tertimbun oleh tanah, dan beberapa kegiatan geologi lainnya yang dapat menghalangi Mana terpancar dari pori-pori tersebut saat itu,” ucap Raphaela membenarkan sembari menjelaskan.


‘Dengan kata lain, pihak kuil secara agresif telah membuka pori-pori itu untuk membiarkan Mana menyebar ke udara. Namun, kenapa hanya berhenti di dua dekade lalu??’ Pikir Slatanis bertanya-tanya.


“Kamu bilang dua dekade lalu, apakah mereka berhenti untuk membuka pori-pori Mana?” Tanya Slatanis.


“Benar. Itu semua mereka lakukan demi menegakkan hukum yang terdapat di kitab mereka, yang kira-kira hukum tersebut berisi tentang mengontrol kuantitas dan kualitas penyihir dan lain-lainnya,” ucap Raphaela menjelaskan.


“Jadi mereka berniat untuk mengontrol penyihir?” Tanya Slatanis.

__ADS_1


“Ya, tujuan akhirnya mereka memang ingin mengontrol seluruh penyihir yang ada di dunia di bawah sayap mereka,” ucap Raphaela.


“Kalau begitu, apakah tidak ada pihak lain yang ingin membuka pori-pori itu?” Tanya Slatanis kembali sembari melepaskan pipinya yang terus menempel di bahu Raphaela, kemudian menatapnya.


“Ada … mereka adalah pihak dari kerajaan Flanderis dan beberapa kabal penyihir di seluruh dunia. Namun pergerakkan mereka masih terus dihalang-halangi oleh pihak kuil secara senyap atau melalui sabotase. Kita perlu mengingat bahwa Elahirim adalah agama dan organisasi terbesar di dunia yang menyaingi kepala pemerintahan itu sendiri, bahkan jika mereka diktator sekalipun,” ucap Raphaela.


“Jadi, jika kita berusaha untuk membuka pori-pori, maka kita akan melawan seluruh dunia?” Ucap Slatanis.


“Kita tidak perlu khawatir akan hal itu Baginda, karena kita sangatlah kuat. Saya bahkan sempat memukul dengan sangat ringan salah seorang penyihir dari kuil, namun tiba-tiba tubuhnya hancur,” ucap Raphaela dengan wajah bangganya.


“Oh oke ... Lalu, apa saran kalian untuk kita bisa membuka pori-pori itu?” Tanya Slatanis kembali.


“Jika anda ingin dengan cara ringan, kita bisa beraliansi dengan beberapa kabal penyihir dan Flanderis. Namun jika anda ingin cara saya, maka gunakanlah tentara anda wahai Baginda, panggillah mereka ke dunia ini untuk membantu anda untuk membuka pori-pori Mana,” saran Raphaela.


‘Hmmm, cara darinya adalah yang termudah, namun menambah para makhluk summon? Apakah mereka akan tetap setia kepadaku? Mengingat ini adalah dunia nyata yang dimana tidak ada sistem dari game yang mengunci perasaan mereka terhadap tuan pemanggil mereka,’ pikir Slatanis merasa khawatir.


“Bagaimana perasaanmu terhadapku, wahai Raphaela?” Tanya Slatanis berusaha memastikan.


“Tentu,” ucap Raphaela sambil berlutut tiba-tiba. “Anda adalah makhluk yang telah memanggil kami, dan karena anda lah kami ada. Para pahlawan di Farland sudah bagaikan dewa kebajikan bagi kami para Pribumi, karena berkat kalian lah malapetaka yang disebabkan oleh para dewa sialan itu bisa dihentikan, maka anda tidak perlu meragukan lagi soal perasaan saya atau siapapun itu yang akan anda panggil ke dunia ini. Karena sejatinya, kami adalah milik anda yang akan setia selamanya.”


‘Wow, aku sampai merinding mendengarnya,’ Pikir Slatanis.


“Ahem, Baiklah kalau begitu—” ucap Slatanis terhenti.


“Aku juga Nyonya!” Teriak Lilith tiba-tiba namun masih berbaring di ranjang.


“Ba-baiklah, aku akan mulai memanggil mereka ketika kita sudah memiliki Istana yang sudah dijanjikan oleh duke Willem,” ucap Slatanis.


**************


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2