Three In One Transmigration

Three In One Transmigration
#25 - Roland Blunder


__ADS_3

Slatanis pun berjalan di lorong menuju kamarnya dengan mantel yang masih berada di tubuhnya. Ia berjalan dengan perlahan agar hentakan kakinya tidak terdengar, sementara semua lilin di seluruh Istana sudah dimatikan saat itu, sehingga [night vision] Slatanis bisa aktif dan ia bisa melihat dengan jelas.


Di tikungan menuju kamarnya, Slatanis melihat cahaya lilin menerangi area itu, dan Slatanis pun sedikit menoleh sebelum akhirnya berbelok.


“Hm? Roland? Sedang apa dia berada di depan kamarku?” Bisik Slatanis.


Terlihat Roland sedang berdiri dengan tangan yang hendak mengetuk pintu, namun tidak jadi.


‘Gawat, Raphaela dan Lilith ada di dalam, jangan sampai dia membuka pintu itu,’ Pikir Slatanis dan langsung bergegas menghampiri Roland.


“Tuan Roland, apa yang sedang kamu lakukan disini?” Tanya Slatanis.


“Ah Slatanis,” balas Roland agak terkejut saat menoleh dan melihat Slatanis tepat berada di sebelahnya.


“Aku … aku ingin meminta maaf atas perlakuan keluarga kerajaan kepadamu,” ucap Roland dengan cemas. “Dan juga—”


“Itu bukan salahmu Tuan Roland,” potong Slatanis sambil memegang gagang pintu dan hendak membuka pintu.


“Tunggu,” ucap Roland menghentikan Slatanis. “Ini … ini mantel siapa?” Lanjutnya sesaat melihat mantel biru menggantung di badan Slatanis.


“Oh … ini dari seorang kesatria bernama Rodrik,” ucap Slatanis dengan santainya.


“Rodrik … Apa yang habis kalian lakukan malam-malam begini?” Tanya Roland memicingkan matanya.


“Tidak melakukan apa-apa, aku hanya jalan-jalan di taman karena tidak bisa tidur,” balas Slatanis.


“Jangan bilang …,” ucap Roland dengan suara pelan sambil menunduk. “Jangan bilang kamu habis melakukannya dengan Rodrik!”


“Hah? Wow! Tuan Roland! Apa yang kamu bicarakan?!” Ucap Slatanis dengan agak terkejut melihat suara tinggi Roland.


Roland pun menaruh tangannya di pintu, dan dengan tubuhnya ia agak menghimpit Slatanis.


“Katakan! Apa yang habis kalian lakukan?! Apakah kamu juga melakukan hal tersebut dengannya?!” Ucap Roland dengan marahnya.


‘Wtf!’ Pikir Slatanis kesal menatap wajah Roland yang memerah karena kesal.


“Apakah kamu seorang pela*cur—” bentak Roland namun terhenti karena Slatanis langsung mendorongnya dan membuatnya terpental ke tembok belakangnya karena kekuatan fisiknya jauh lebih kuat darinya.


Braak!


Saat itu juga, Roland tidak mampu berpikir dengan jernih dan berakhir dengan emosinya yang membludak. Dan Saat itu pula secara bersamaan, Slatanis hanya bisa melihat Roland yang sudah tampak pingsan sedang tubuhnya bersandar di tembok seberangnya. Sedang dirinya hanya bisa menebak-nebak apa yang ada di pikiran Roland, dan secara bersamaan juga hatinya merasa kesal atas perlakuan Roland terhadapnya.


“Ughhh,” eluh Roland di dalam kesakitannya dengan pandangan yang langsung buram dan gelap.


Slatanis pun kemudian masuk ke dalam kamarnya dan langsung menutup pintu dengan keras. Sedangkan Roland yang jatuh terduduk pun ditinggal begitu saja. Kemudian untuk sesaat Roland tak sadarkan diri, tak lama ia pun terbangun dalam keadaan punggung yang sakit. Ia merasa bersyukur karena tidak ada tulang yang patah, dan hanya memar dan rasa sakit.


‘Kenapa aku mengatakan itu!? Dasar bodoh!’ Pikir Roland menyesal.


Roland pun berdiri dan mulai berjalan sambil menahan rasa sakit dan rasa malunya.

__ADS_1


************


Keesokan paginya, aktivitas pun berjalan seperti biasanya, yakni dimulai dengan sarapan bersama. Namun hari ini berbeda, karena keluarga duke bellwyne makan bersama dengan keluarga kerajaan dan tanpa Slatanis hadir di satu meja yang sama. Pelayan pun tidak mengantarkan makanan ke kamar Slatanis sama sekali.


Lalu di tengah itu semua, Roland yang sedang makan bersama keluarga kerajaan, tampak dirinya sering melamun di makanannya dengan sesekali menoleh ke arah kursi tempat Slatanis biasa duduk kini diduduki oleh Tristan sang pangeran.


Pagi itu begitu sepi tanpa Slatanis, ia bahkan tampak tidak tersenyum sama sekali dengan berwajah datar. Rasa penyesalan tadi malam pun masih menghantui dirinya. Kini ucapannya yang telah keluar sudah tidak bisa ditarik lagi. Ia juga merasa tidak yakin jika meminta maaf, akankah Slatanis memaafkannya atau tidak.


Di depan menyerong ke kanan Roland kini adalah Ayahnya, sementara sebelah kanannya adalah sang Ratu dan di kursi utama adalah Cael sang Raja. Posisi ini benar-benar membuat Roland tidak nyaman.


Akhirnya di tengah acara sarapan itu, Roland pun memilih pamit. Dan dengan sifat santai sang Raja, Roland pun diberikan izin untuk beranjak dari ruang makan oleh Cael.


Ia pun terus berjalan di Lorong Istana dan hendak pergi ke kamar Slatanis untuk menjelaskan semuanya. Lalu di tengah-tengah perjalanannya, ia terus mengingat-ingat akan apa yang dikatakan oleh ayahnya kemarin, tepat sebelum keluarga kerajaan datang.


Willem sempat mengatakan pada Roland bahwa keluarga kerajaan terdiri dari orang-orang yang tidak suka dengan warga biasa, jadi jika mereka sampai mengetahui Slatanis hanyalah warga biasa, mereka akan mulai tidak menyukainya. Saking tidak sukanya, mereka bahkan bisa saja sampai melarang seluruh pelayan untuk memberikan pelayanannya kepada Slatanis tanpa memandang rumah siapa ini.


Willem kemudian berpesan kepada Roland untuk menjaga Slatanis dari setiap tindakan kerajaan yang bisa saja menjatuhkan martabatnya. Oleh karena itu, Roland pun menggiring perhatian Tristan dari Slatanis kemarin. Begitu juga dengan setelahnya, yang dimana hampir seharian penuh ia terus mencoba mengalihkan pembicaraan setiap kali salah satu keluarga kerajaan mencoba bertanya tentang latar belakang Slatanis.


Kemudian di antara pembicaraan itu, Roland meminta izin untuk menghentikan pernikahan dirinya dengan Gisella kepada Ayahnya, namun kembali ditolak seperti sebelumnya. Meskipun pada saat itu Roland memberikan seribu alasan yang sangat masuk akal, Willem tetap tegas dan bersikukuh dalam pendiriannya.


Setelah itu ia juga mengingat bahwa Willem juga memerintahkan dirinya untuk memberitahu Slatanis bahwa, Istana tersebut tidak jadi diberikan untuk Slatanis. Apalagi mengingat bahwa dirinya lah yang menyarankan untuk Istana itu diberikan kepada Slatanis, dan meskipun Willem juga sempat pernah setuju karena demi mendapatkan keamanan lebih dengan keberadaan Slatanis di dekat Istana Bellwyne.


Willem pun memberitahu alasannya kepada Roland. Ia tidak mau bahwa kerajaan menjadi curiga jika ada seseorang yang menempati tempat itu. Apalagi jika sampai ketahuan bahwa Slatanis adalah seorang penyihir yang disembunyikannya. Ia sebagai seorang yang sudah memberikan janji kepada Slatanis, pasti akan merasa sangat gagal dan kehormatannya juga akan jatuh.


Jadi daripada kerajaan mulai mengincar Slatanis, ia pun memerintahkan Roland untuk menyampaikannya kepada Slatanis, dan sebagai gantinya, Slatanis akan diberikan tanah yang luas dan belum pernah digarap namun sudah ditanadi di dalam hutan Gloria yang berada masih di dalam wilayah Bellhaven.


Namun karena kecerobohannya, Roland malah gagal memberitahu hal tersebut kepada Slatanis tadi malam.


Sesaat sudah berada di depan kamar Slatanis, tiba-tiba pintu pun terbuka dan Slatanis keluar dari sana sambil membawa mantel biru tersebut.


Slatanis pun menunduk sebentar tanpa mengatakan apa-apa, lalu langsung berjalan melewati Roland begitu saja.


“Tunggu,” ucap Roland dan Slatanis tidak berhenti.


Roland pun mengikuti Slatanis dari belakang, sementara Slatanis berjalan lebih cepat.


“Tunggu,” ucap Roland memegang tangan Slatanis, dan akhirnya mereka berdua pun berhenti.


“Ada apa?” Ucap Slatanis dengan tatapan kesal.


“Aku ingin memberitahumu tentang Istana yang hendak diberikan kepadamu,” ucap Roland. “Ayahku membatalkannya. Namun, ia akan tetap menggantinya dengan lahan yang baru.”


“Oke, aku mendengarkan,” ucap Slatanis melipat tangannya.


“Di sebelah barat daya Bellhive, sekitar 10 hari perjalanan terdapat perkampungan yang bernama Neverhive. Pergilah ke sana, lalu satu hari perjalanan ke arah barat ada sebuah hutan yang bernama Hutan Gloria, dan hutan ini berbatasan langsung dengan hutan agung Hinan. Setelah sudah menemukan Hutan itu, masuklah ke sana. Lalu setengah hari perjalanan lagi ke dalam hutan ke arah barat, maka setelahnya kamu akan mendapati lahan yang sudah ditandai,” jelas Roland.


“Oke, aku akan kesana. Lalu mana dokumen-dokumennya?” Tanya Slatanis.


“Dokumen?” Tanya Roland dengan bingungnya.

__ADS_1


“Aku butuh sebuah bukti bahwa lahan itu telah menjadi milikku, dan itu membutuhkan bukti tertulis dan stempel dari duke Bellwyne. Kemudian jangan lupa untuk memberikan detail koordinat dan luas lahan. Mengerti?” Ucap Slatanis dengan tegas.


“Koordinat?” Tanya Roland.


“Kalian sungguh primitif,” ucap Slatanis dengan nada kesal sambil menggelengkan kepala. “Berikan saja bukti dokumen dan peta lokasinya, paham?”


“Ba-baiklah,” ucap Roland pasrah.


“Kalau begitu, aku pergi dulu, aku mau mengembalikan mantel ini kepada sir Rodrik,” ucap Slatanis dan langsung berjalan begitu saja.


‘Aku tidak mengira bahwa martabatku akan dibuat sejatuh ini oleh mereka, dan bahkan tak ada kata permintaan maaf keluar dari mulutnya setelah memanggilku dengan sebutan itu, tsk,’ pikir Slatanis kesal sambil terus berjalan meninggalkan Roland yang hanya berdiri tertegun. 'Apalagi keluarga kerajaan, tsk, kenapa mood-ku jadi hancur begini pagi-pagi?'


*************


Di kemah, Slatanis pun berjalan hendak mencari Rodrik. Lalu setelah mengetahui tenda Rodrik dari beberapa kesatria, Slatanis pun pergi menuju tempatnya. Kemudian di tengah-tengah perjalanannya menuju tenda Rodrik, di kemah prajurit, terlihat beberapa Prajurit pun memandang Slatanis dengan mata usil mereka. Bahkan beberapa ada yang bersiul.


Kemudian sesampainya di tenda Rodrik, Slatanis pun memasuki tenda tersebut dan menemukan Rodrik sedang berkumpul dengan kesatria lain sambil mengobrol. Sesaat Slatanis memasuki tenda, mereka pun saling menatap canggung di dalam keheningan.


Rodrik pun berdiri, dan langsung meminta yang lain untuk keluar.


‘Kenapa jadi seperti masuk ke tenda bos mafia?’ Pikir Slatanis sesaat melihat para Kesatria keluar begitu saja setelah Rodrik meminta mereka.


“Nona Slatanis, ini masihlah pagi, kenapa anda sudah mengembalikannya?” Ucap Rodrik sembari mendekati Slatanis.


“Tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin terbebani dengan benda orang lain yang berada di diriku. Nih,” ucap Slatanis sembari memberikan mantel tersebut ke Rodrik.


Rodrik pun menerima mantelnya, sambil menatap heran Slatanis.


“Nona, apakah telah terjadi sesuatu pada anda?” Tanyanya.


‘Wow, nih orang bisa baca pikiran atau bagaimana?’ Pikir Slatanis.


“Tidak … tidak ada apa-apa kok,” ucap Slatanis tersenyum. “Ya sudah, aku kembali ke Istana dulu ya,” lanjutnya sambil berbalik badan.


Sesaat Slatanis ingin keluar dari tenda, Rodrik pun berdiri di sampingnya.


“Biar saya antar, Nona,” ucap Rodrik dengan sopannya.


“Ah, terimakasih, sir Rodrik,” ucap Slatanis dan mereka pun mulai berjalan sambil bergandengan menuju Istana.


Sementara itu, sesampainya di jalan menuju pintu Istana, Roland melihat keluar jendela dari lantai lima di dalam kantor duke Willem. Dengan tangan yang dilipat ke belakang, ia pun menggenggam erat tangannya dengan sangat keras sambil menatap ke arah Slatanis yang sedang berjalan bersama Rodrik menuju Istana.


“Ada apa Roland?” Tanya Willem yang sedang menulis dokumen lahan.


“Tidak … tidak apa-apa,” jawab Roland.


“Jika kamu masih ingin memutuskan hubungan dengan keluarga Ringwyne, aku tidak akan lepas dari pendirianku, dan jawabanku akan tetap dan  tidak,” ucap Willem sambil mulai menstempel dokumen tersebut. “Nih, berikan kepada Slatanis … dan berikan peta lahan tersebut yang ayah simpan di lemari sebelah sana,” lanjutnya sambil memberikan dokumen tersebut ke Roland.


“Baik, ayah,” ucap Roland dengan patuh.

__ADS_1


**************


Bersambung ….


__ADS_2