Three In One Transmigration

Three In One Transmigration
#36 - Patroli dan Rasa Lapar


__ADS_3

Hari pun sudah menjelang siang petang dan pergantian lokasi patroli pun dijalankan. Yang dimana sebelumnya Slatanis berpatroli di bagian terdalam desa, kini ia bergantian diminta untuk berpatroli di bagian paling barat Desa.


Slatanis pun mulai berjalan menuju pos di sisi barat.


‘Shade, tanya kepada Shade yang mengikuti Lilith dan Raphaela tentang tangkapan mereka,’ ucap Slatanis melalui telepati memerintah Shade di balik bayangannya.


‘Mengerti Nyonyaku,’ ucap Shade dengan metode yang sama.


'Dan juga, apakah kamu sudah mendapatkan kabar dari istana Bellwyne?' tanya Slatanis.


'Belum. Namun saat ini mereka masih sedang mendiskusikan jalan keluarnya,' jawab Shade.


'Aku bisa saja menghancurkan waldengrace sekarang juga, apalagi mengingat bahwa situasi Bellwyne saat ini bisa terjadi karena ulah ceroboh ku. Namun tindakan itu pasti akan merepotkanku nantinya di masa depan jika aku bertindak langsung membunuh keluarga waldengrace demi menghentikan mereka untuk menguasai ku. Mengingat bawa ini adalah dunia nyata dan tidak seperti game, yang dimana setiap tindakan yang aku ambil akan berdampak ke banyak lini. Jadi daripada membiarkan otakku yang mencari cara yang mana aku sama sekali belum berpengalaman di lika-liku politik, perang dan drama di lingkungan aristokrat, maka hal ini lebih baik aku limpahkan saja kepada mereka yang lebih berpengalaman,' pikir slatanis sembari ia terus berjalan menuju pos barat.


'Dan juga, sekaligus aku ingin mengetes seberapa baik kaki tanganku dalam memecahkan masalah.' Lanjutnya melamun dan berpikir di dalam benaknya.


Tak lama, di kala Slatanis masih berjalan menuju pos barat, Shade pun kembali berbisik melalui telepati dengan membawa kabar dari Lilith dan Raphaela.


‘Wahai Nyonyaku, Lilith dan Raphaela saat ini berada di pinggir hutan di sebelah barat daya dari Neverhive, dan saat ini mereka sedang menunggu anda,’ ucap Shade.


‘Baiklah,’ ucap Slatanis berjalan masuk ke dalam kebun jagung. Kemudian di antara tingginya tanaman jagung, Slatanis pun menggunakan spell [concealment] -nya dan kemudian menggunakan sihir [fly] untuk terbang.


‘Fuhh mari mulai berhati-hati dengan menggunakan concealment terlebih dahulu, sebelum kejadian seperti di istana bellwyne terulang kembali,’ pikirnya sambil mulai lepas landas.


‘Baiklah, sekarang tunjukkan tempatnya,’ ucap Slatanis.


‘Baik, Nyonya Ku,’ ucap Shade.


Dengan kecepatan tinggi dan dengan tubuh yang tidak terlihat, ia pun mulai terbang dengan kecepatan tinggi. Setelah itu, karena tipe spell [concealment] adalah merupakan tipe aktif yang dimana dapat menguras Mana-nya sampai habis, maka ia pun menonaktifkannya ketika sudah berada di ketinggian yang cukup.


Tak berselang sejam, ia pun sampai di pinggir hutan sementara di bawahnya terdapat ribuan prajurit yang sudah tewas bergeletakkan. Di antara mayat-mayat itu terlihat Lilith dan Raphaela berdiri sambil keduanya masih membunuh beberapa prajurit yang masih hidup dengan sangat sadis.


‘Apa yang sedang mereka lakukan?’ Tanya Slatanis melalui telepati sambil menatap dengan ekspresi tenang.


‘Mereka telah membiarkan beberapa yang masih hidup untuk anda, Nyonyaku,’ ucap balas Shade.


Slatanis pun mendarat di dekat mereka berdua.


“Baginda, Anda sudah sampai,” ucap Raphaela berlutut.


“Ah, Nyonya, lihat ini!” Ucap Lilith sambil melempar seorang Prajurit dengan kepala yang sudah putus, kemudian berjalan menuju beberapa prajurit yang tampak tak sadarkan diri tak jauh darinya.


“Jadi, mereka adalah yang sudah kalian siapkan? Bukankah aku hanya meminta satu?” Tanya Slatanis.


“Benar, tapi kami tidak tahu pasti selera anda, karena kami mendapati mereka memiliki umur yang muda dan setelah diinterogasi pun mereka belum ada yang berkeluarga,” ucap Raphaela yang masih berlutut.


“Berdirilah Raphaela,” perintah Slatanis dengan lembut dan Raphaela pun berdiri dengan sigap. “Lalu apa yang terjadi pada yang lain?” Lanjutnya bertanya.


“Mereka melihat kami, dan kami tidak bisa membiarkan itu. kami padahal sudah berhati-hati seperti apa kata anda agar tidak terlihat oleh siapapun, namun kami tidak mengira akan ada prajurit sebanyak ini yang melihat. Jadi daripada mereka menyebarkan gosip tentang kami sementara kami hanya membutuhkan satu orang, kami pun memutuskan untuk membuat mereka diam,” jelas Raphaela sambil menoleh ke arah para prajurit yang sudah tewas secara mengenaskan dan bergelimpangan. “Dan alasan lain kenapa kami membunuh mereka semua karena, mereka bukanlah prajurit dari houlus maupun dari keempat duke,” tambahnya.


Sementara itu, Lilith sedang sibuk mengumpulkan mayat-mayat ke dalam inventory-nya sebagai persediaan daging.


“Hmmmm, oke,” ucap Slatanis melirik ke keduanya secara bergantian, yang kemudian muncul keheningan untuk sesaat.

__ADS_1


“Kalau mereka bukan dari Houlus, lalu dari mana?” Tanya Slatanis.


“Eclea,” Ucap Lilith sambil mengangkat perisai layang-layang dari antara tumpukan mayat. “Dan juga, wilayah ini sudah masuk ke dalam wilayah Efrana, hmmm apa yang sedang mereka lakukan di Efrana?”


Slatanis pun melihat simbol tersebut dan teringat hari dimana dia berhenti dan kembali ke hutan kecil untuk bersembunyi bersama dengan Lilith karena melihat ribuan prajurit dengan panji tidak dikenal berbaris, sebelum akhirnya memanggil Raphaela dan pergi menuju Fishsyre.


“Selama di Fishsyre aku telah mempelajari banyak simbol-simbol dan panji-panji mereka, dan sejak berada di Fishsyre pula aku sudah mengetahui bahwa ribuan prajurit yang aku lihat waktu itu adalah tentara dari Ecela jika dilihat dari panji mereka,” ucap Slatanis mulai menghampiri Lilith, kemudian meraih perisai tersebut. “Konspirasi macam apa yang sedang mereka lakukan di Houlus?” Gumamnya sambil mengeluarkan sihir air untuk membasuh perisai tersebut dari darah dan serpihan daging.


“Lebih baik kita tanyakan saja kepada mereka,” ucap Lilith menunjuk ke arah 20 prajurit yang tak sadarkan diri. “Aku bisa menggunakan hipnotis ku kepada mereka, jika kamu mau.”


“Ah, Jika anda bertanya-tanya, saya menggunakan skill [Angel’s Stand] untuk menakut-nakuti mereka, sambil berkata ‘janganlah takut’ ke mereka dengan harapan mereka tidak terlalu ketakutan dan terkena serangan jantung, tapi mereka malah tertidur. Padahal niatku hanya untuk membuat mereka melemah dan lumpuh,” ucap Raphaela.


“Dan mereka malah pingsan dan kemungkinan juga lumpuh?” Tanya Slatanis.


“Mungkin,” ucap Raphaela.


“Bisakah kamu membangunkan mereka?” Tanya Slatanis kembali.


“Tentu, Baginda,” ucap Raphaela dan mulai mendekat ke 20 prajurit itu.


Ia tiba-tiba mengeluarkan enam sayap yang agak transparan berwarna putih bercahaya, yang mana di setiap sayapnya terdapat banyak mata-mata yang terpasang dan tampak sangat mengancam. Kemudian, Raphaela pun mendongak ke atas. Setelah mendongak, mulutnya tiba-tiba melebar, jauh melebihi ukuran lebar mulutnya. Ia pun membuka mulutnya yang sudah melebar dan mulai berteriak.


Woooaaaaaaaaaaaaaaaang! Wooooaaaaaaaaaaaaaaaaang! Wooooaaaaaaaaaaaaaaaaang!


Suara teriakan pun terdengar sangat keras. Suara teriakan itu sangat nyaring seperti teriakan keputus asaan, dan menggelegar seperti terompet perang. Suara tersebut sangat keras sampai-sampai tanah disekitarnya mulai bergetar. Seraya teriakan itu terus berbunyi, sayap-sayap yang ada di belakangnya pun ikut bergetar dengan mata-mata yang terpasang di sayap-sayapnya pun juga mulai bercahaya.


Slatanis yang menyaksikan dan mendengarkan itu pun merasakan bahwa dirinya … untuk pertama kalinya sebagai succubus merasakan ketakutan yang mendalam seakan dirinya ingin sekali untuk kabur dari tempat itu. Kupingnya seakan pecah, dan kulitnya seakan gemetar. Namun ia tetap bisa mendengar, dan tubuhnya merasa tetap tegar seakan ketakutan tersebut mulai hilang begitu saja.


‘Jika saja bukan karena Holy Element Nullification dari kelas Prophetess ku, aku mungkin sudah kabur dari tempat ini sementara kulitku mulai meleleh,’ pikir Slatanis.


“Lilith!” Teriak Slatanis menghampiri Lilith. “Minum ini!” lanjutnya sambil mengeluarkan Potent Healing Potion dari Inventory -nya.


‘Aku tidak bisa menyembuhkannya dengan [potent heal]-ku karena dirinya memiliki energi fisik berupa dark energy,’ pikir Slatanis.


Lilith pun mulai meminum ramuan tersebut.


“Daemon Sungguh sangat sensitif terhadap skill ini,” ucap Lilith sementara Teriakan Raphaela pun mulai berhenti. “Jika aku tidak salah, skill ini bernama ….”


“Raphael’s Roaring Of The Dooms,” ucap Raphaela seakan mengkonfirmasi terlebih dulu. “Dan ini adalah kemampuan spesial saya dari ras Legendaris saya yang bernama Seraphim.”


Raphaela pun menoleh ke arah 20 Prajurit yang sudah terbangun dalam keadaan mata terbelalak menatap, namun tetap lumpuh. Terlihat di mata mereka sebuah perasaan mencekam yang seakan belum mereka lihat dan dengar sebelumnya.


“Aku sengaja menggunakannya sambil mendongak agar tubuh kalian tidak hancur,” ucap Raphaela kepada mereka sambil memandang rendah diri mereka, padahal mereka sudah sangat ketakutan. “Janganlah takut,” lanjutnya sementara ke enam sayapnya yang sangat horor belum juga ia tutup.


“Tutuplah dulu sayap-sayapmu itu, baru mengatakannya,” ucap Lilith sambil berdiri. “Fuhhh, untung saja Nyonya berada di dekatku. Walaupun kesehatan ku tidak menurun secara signifikan, tapi tetap saja sakitnya itu yang membuatku tidak tahan.”


“Ah, maafkan aku,” ucap Raphaela menatap Lilith, kemudian menatap ke 20 Prajurit yang masih terpatung ketakutan. “Aku akan menutup kembali sayapku, jadi janganlah takut,” lanjutnya sementara di atas mereka, awan dan langit seakan telah berlubang.


Slatanis pun mulai menanyakan ke dua puluh Prajurit itu sebelum akhirnya mengeluarkan saripati putih mereka menggunakan [Mind Reflection] milik Lilith dan memasukkannya ke dalam beberapa Vial yang tersisa dari dalam Inventory-nya untuk cadangan, dan juga meminum saripati yang tidak ikut dicadangkan secara langsung dari sumbernya.


Dari interogasi yang digelar, di dapatkanlah sedikit informasi dari mereka yang mana intinya bahwa mereka bukanlah prajurit dari Eclea melainkan gabungan dari prajurit Duke Winston dan juga Templar dari Solem. Untuk tujuan kenapa resimen ini dibentuk, mereka hanya mengetahui bahwa mereka sedang diperintahkan untuk berpatroli di sekitar wilayah Efrana dan juga di dekat wilayah perbatasan Bellhaven.


Setelah mendapatkan informasi itu, dan juga setelah mengenyangkan dirinya dan juga menyimpan cadangan untuk lebih dari satu tahun, sedang para prajurit itu sudah terlihat sangat kering, Slatanis pun memerintahkan Lilith dan Raphaela untuk membunuh mereka kemudian membakarnya, sementara beberapa dari mereka dibawa oleh Lilith untuk cadangan makanan untuk dirinya.

__ADS_1


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan dan sedikit informasi dari ke 20 prajurit yang hampir tidak mengetahui sama sekali tentang misi mereka itu, Slatanis pun kembali terbang menuju pos barat dengan cara yang sama seperti sebelumnya bersama dengan Lilith dan Raphaela yang sudah kembali masuk ke dalam Inventory-nya.


********************


Di sisi barat desa terdapat satu dusun yang fokus mengurus pertanian Gandum, sementara di dekatnya, sebelah utara tak jauh dari dusun itu adalah dusun lain yang fokus untuk beternak domba. Sedangkan Samuel, bekerja di Dusun itu sebagai mandor peternak domba.


Kemudian sesampainya di pos barat, Slatanis pun langsung bertukar tempat dengan beberapa milisi yang ada di sana. Sementara Slatanis sebagai penyihir yang sampai saat ini masih dianggap sebagai penyihir dari pasukan elit, dihitung setara dengan 20 milisi. Sehingga, ia pun bertukar tempat dengan beberapa milisi di pos barat.


“Ah, Nona Slatanis, silahkan— keuh— mohon maafkan saya,” ucap salah satu milisi yang berpapasan dengan Slatanis sambil berlari meninggalkannya dengan wajah yang berkeringat secara tiba-tiba.


‘Hmmm, sepertinya [charm of succubae]-ku aktif karena aphrodis ku sudah cukup berkurang, dan tampaknya dia terkena efek tersebut dengan cukup kuat, padahal aku tidak menggodanya sama sekali,’ pikir Slatanis sambil menoleh.


Di pos barat, terdapat beberapa menara pengawas dari kayu yang tingginya sekitar 8-10 meter dengan jarak yang cukup jauh, namun tidak cukup jauh untuk menara-menara itu tidak terlihat dari menara lain.


Slatanis pun kemudian naik ke pos menara pengawas yang sudah diberikan kepadanya, kemudian duduk di bangku panjang di atas menara.


Beberapa saat kemudian yang mana sebelumnya siang itu cuaca sangat cerah, tiba-tiba kabut pun mulai menutupi ladang-ladang yang ada di depannya. Kabut ini datang dari arah barat. Sehingga tampak beberapa milisi yang ada di menara lain pun langsung berteriak memberitahukan para petani untuk keluar dari kebun gandum. Sementara Slatanis yang menyadari hal itu pun langsung berdiri dari bangku panjangnya dan mulai bersiaga.


“Nona Slatanis! Bersiaplah!” Teriak seorang milisi dari menara lain.


“Baik!” Slatanis menyahuti mereka.


Mereka pun mulai menunggu untuk kabut itu menjadi semakin dekat.


“Kejadian ini pernah terjadi meskipun hanya pernah terjadi sekali, yakni sekitar di awal-awal penyerangan!” Teriak sang milisi dari menara lain. “Jadi, kami sudah tahu ini pasti adalah ulah mereka.”


“Kabut-kabut ini,” ucap Slatanis sementara kabut mulai merayap lebih tinggi lagi. Sampai akhirnya kabut itu pun mulai menutupi puncak menara.


“Mana … Aku bisa merasakan Mana dari balik kabut-kabut ini,” ucap Slatanis dengan tatapan yang bertambah tajam sesaat kabut mulai menyentuh kulitnya. “Tidak … tidak hanya itu, sepertinya kabut-kabut ini salah satu dari spell juga. Aku benar-benar bisa merasakannya.”


“Sepertinya para monster sedang berbaris di balik kabut ini, Nyonya, dan salah satu dari mereka tampaknya mampu menciptakan kabut sebanyak ini,” ucap Lilith.


“Biarkan saya keluar, Baginda, saya ingin membantu anda,” ucap Raphaela.


“Tidak, tunggu saja di dalam,” ucap Slatanis.


‘Sekalian aku ingin menguji kemampuan nyataku jika dihadapkan oleh musuh yang banyak,’ pikir Slatanis.


“Jika kabut sebanyak ini adalah spell, itu berarti dia memiliki Mana yang melimpah. Dan jika kabut ini adalah spell, itu berarti kabut ini bisa dibatalkan,” ucap Slatanis sambil merasakan kabut yang mulai menyentuh kulitnya.


Slatanis pun mengulurkan tangannya.


“Mari mulai dari dispel tingkat rendah dulu,” ucap Slatanis, “[Lesser Dispel]!”


Vhuuuuuussss!


Gelombang kejut yang dihasilkan oleh telapak tangan Slatanis tiba-tiba menghilangkan seluruh kabut yang ada di depannya.


“Seperti dugaanku,” ucap Slatanis. “[Eagle Vision]!” Dan pandangannya pun menerawang jauh ke barat.


Terlihatlah ratusan ribu monster yang menyerupai berbagai jenis binatang sudah bersiap-siap untuk berlari dan menyergap dengan ancang-ancang mereka. Dan di antara monster-monster itu, ada satu monster yang paling besar dan berdiri tegak. Slatanis bisa melihat dengan jelas monster besar hijau itu, dan tampak pula wajah monster itu terkejut.


“Aku harus mendekati mereka, daripada menunggu mereka untuk sampai kesini,” ucap Slatanis dan mulai menggunakan spell [fly] nya lalu terbang ke arah monster itu dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


*******************


Bersambung ….


__ADS_2