Three In One Transmigration

Three In One Transmigration
#45 - Bellwyne vs Waldengrace


__ADS_3

Rombongan Willem yang saat ini sudah mengetahui rencana Slatanis pun mulai mempersiapkan perjalanan mereka menuju hutan Gloria. Dengan 2000 prajurit Bellhaven yang masih loyal kepada duke Bellwyne, para pelayan serta ratusan kesatria dari delapan keluarga Bangsawan bawahan yang semuanya masih di dalam hubungan kekerabatan berikut dengan orang-orang loyal mereka, mereka pun mulai bersiap dan berbaris di luar kota dengan konvoi yang besar.


Sementara rombongan Bellwyne sudah berada di luar kota Bellhive, para penduduknya yang tidak tahu menahu akan kejadian yang sebenarnya dan hanya tahu rumor akan pengkhianatan duke Bellwyne, kini mereka tampak hanya menjalankan aktifitas mereka seperti biasa. Namun tetap, terhitung ada beberapa dari mereka yang akhirnya ikut meninggalkan kota bersama dengan Tuan mereka, menuju tujuan yang bahkan mereka tidak tahu.


Kebanyakan para warga yang ikut keluar dari Bellhive adalah para pedagang, sebagian petani, sebagian petugas perawat kota, seniman dan pengrajin. Sedangkan para pemilik lokakarya, pemilik gedung, sebagian petani dan setengah petugas perawat kota tetap memilih untuk tinggal.


“Para warga biasa sepertinya banyak yang ikut berbaris di dalam rombongan,” tutur salah satu kesatria dari atas kudanya.


“Hmmmm,” gumam Rodrik menoleh ke belakang ke arah barisan warga biasa, sedang dirinya berada di sebelah kesatria itu, duduk di atas kudanya.


“Sir Rodrik, apakah kita akan membiarkan mereka?” Tanya kesatria itu kembali.


“Aku akan menanyakannya dulu kepada Duke,” ucap Rodrik dan mulai melaju dengan kudanya menuju barisan paling depan. Ia menuju kereta kuda yang ditumpangi Willem, Brandon, Shasha dan Roland.


Kemudian sesampainya di samping kereta kuda, ia pun mulai mengetuk kaca jendela. Setelah mendengar ketukan itu, Willem yang berada di dalamnya pun langsung membuka jendela.


“Tuanku, Sepertinya banyak warga—” ucap Rodrik terpotong.


“Biarkan,” ucap Willem singkat tanpa menoleh. “Mereka memang orang-orang yang secara khusus aku ikut sertakan dan terpilih. Sementara mereka yang tinggal, adalah pemilik properti dan orang-orang yang tidak terpilih. Biarkan mereka mengurus kota.”


“Tenanglah, ini adalah perang sipil, jadi tidak perlu ada hal yang dikhawatirkan dengan mereka,” ucap Brandon yang juga mendengar pembicaraan itu.


“Anda benar,” ucap Rodrik mengangguk.


‘Ini adalah perang sipil antar bangsawan, yang mana itu berarti, mereka tidak akan mungkin ikut melukai warga setanah air mereka sendiri yang tidak ikut berperang. Namun membawa sebagian dari mereka yang tampaknya adalah orang-orang yang penting dalam menggerakan roda ekonomi, tampaknya Tuanku ingin membangun pemukiman baru,’ pikir Rodrik sementara itu.


“Kalau begitu, saya izin kembali ke belakang,” ucap Rodrik dan langsung memacu kudanya ke barisannya.


Beberapa saat kemudian, rombongan konvoi pun jalan.


Dengan delapan keluarga bangsawan bawahan yang ikut bersama rombongan, dengan jumlah kereta kuda bangsawan yang berjumlah puluhan serta ratusan kuda yang ditunggangi oleh para kesatria, mereka pun mulai menjalankan barisan konvoi tersebut. Sementara itu, di antara anggota keluarga dari delapan bangsawan yang ikut serta konvoi tersebut, keluarga Ringwyne justru hanya mengikutsertakan Brandon di dalam konvoi ini.


“Jadi, kamu mengirim keluargamu menuju Alundris?” Tanya Willem sedang kereta kuda baru saja bergerak.


“Iya, karena mereka lebih aman di sana,” jawab Brandon.


Willem pun menghela nafas panjang sambil menyandarkan badannya.


“Aku sungguh khawatir apakah mereka akan menawan para bangsawan tetua dari Bellhaven atau tidak, ini sungguh membuatku pusing,” gumam Willem sambil mulai memejamkan matanya.


Para tetua bangsawan, dan para baron yang memiliki tugas di Mareen semuanya tinggal di Joundr di dalam tiap-tiap Mansion yang mereka miliki. Sementara kota Joundr itu sendiri adalah sebuah kota berbenteng seperti Alundris. Hanya saja kota ini jauh lebih besar, mewah, rapi dan lebih ketat penjagaannya, karena di dalamnya tinggal para tetua bangsawan yang sedang menikmati masa pensiun mereka dan para bangsawan kelas Baron yang tidak memiliki wilayah sendiri serta sedang bertugas di Mareen..


Maka dengan begitu, Cael bisa saja menggunakan para Tetua dari keluarga Bellwyne dan para bawahannya untuk meminta apa yang ia inginkan, namun hal itu akan sangat memalukan jika benar-benar terjadi. Walaupun begitu, kemungkinan untuk Cael bertindak sejauh itu tetaplah bukan Nol. Sehingga hal itu pun membuat Willem benar-benar terus memikirkannya.

__ADS_1


“Tenanglah sepupuku, para Tetua itu sudah lepas dari ikatan politik, jadi mereka tidak akan melakukan hal memalukan itu,” ucap Brandon seakan berusaha menenangkan.


“Tetap saja …” ucap Willem dengan ekspresi khawatir. “Huff … aku masih tidak habis pikir bahwa beliau akan melakukannya sampai sejauh ini,” lanjutnya sementara dirinya masih memegang sebuah surat ultimatum dari Cael.


Surat itu berisi tentang permintaan Cael kepada Willem untuk segera menyerahkan Slatanis, sambil beralasan bahwa kerajaan saat ini sedang dilanda krisis geopolitik dan politik internal. Yang mana dua bangsawan terbesar benar-benar di luar kontrol kerajaan. Meskipun di telah banyak bangsawan di bawah mereka yang merupakan royalis, namun tetap mereka sungguh sulit dikontrol.


Selain itu, di dalam surat itu, Cael juga mengatakan bahwa dia akan mengumumkan secara sah tentang pengkhianatan dirinya. Kemudian setelah itu, ia juga mengatakan akan mengirim ratusan ribu pasukannya yang sudah menunggu di setiap perbatasan di utara masuk menuju Bellhaven untuk menduduki setiap daerah, wilayah, kota, desa dan bahkan setiap jengkal tanah. Bahkan bersamaan dengan surat itu dikirim, saat ini pasukannya juga sedang mengambil alih benteng-benteng di perbatasan di utara Bellhaven.


“Ini sama saja dengan menukar wilayah dengan—” untuk sesaat Willem merasa hilang arah di dalam perkataannya, sampai akhirnya bahunya dipegang oleh Brandon.


“Jangan khawatir! Dan tetap teguhkan hatimu, Sepupuku! Kita tidak akan kalah!” Ucap Brandon menggenggam bahu Willem. “Jika pengkhianatan yang mereka inginkan, maka berikanlah!” menatapnya dengan tajam.


“Lalu apa? Katakanlah kita menang?” Suara willem sudah terdengar seakan menyerah, padahal sebelumnya ia tampak biasa saja.


Roland yang sadar akan pikiran ayahnya saat ini pun langsung merebut surat ultimatum itu dari tangannya, kemudian membuangnya keluar.


“Aku akan naik tahta,” ucap Roland tiba-tiba.


“Hah! Lihat! Bahkan putramu lebih berpikiran jauh daripadamu!” Ucap Brandon dengan tegas, dan untuk pertama kalinya memiliki pemikiran sama dengan Roland.


Willem yang sedang menunduk dengan pikiran menyerahnya pun menatap Roland dalam ke matanya. “Hah~ sepertinya Ayahmu ini belum memberimu pelajaran berarti tentang dunia aristokrasi, dan hanya bisnis saja yang dia ajarkan.” dan ia pun kembali menunduk sambil menutup wajahnya.


“Klaim tahta tidak hanya karena semata-mata ibumu memiliki darah kerajaan, tapi juga karena pengetahuan dan sifat,” lanjutnya tambah menutup wajahnya sambil mengusap-usapnya.


“Kalau begitu, ajarilah aku! Ini belum terlambat, Ayah! Mungkin selama ini engkau hanya sibuk mengajariku tentang bisnis, sampai-sampai mengirimku sendirian ke benua timur saat umurku masih 15 tahun,” ucap Roland mulai memegang tangan Ayahnya dan menatapnya dalam-dalam, sedang Willem juga kembali menatapnya. “Percayalah … lagipula aku tidak sendirian,” lanjutnya menatap Brandon yang sedang tersenyum lebar seakan bangga.


“Ohhhh …” keluh Willem terus menunduk pasrah dengan rencana mereka.


Sementara itu,


‘Katakan kepada Nona, bahwa kita sudah mulai berangkat,’ ucap Shasha menggunakan telepatinya.


‘Baik,’ ucap Shade-nya menggunakan metode yang sama.


Rombongan besar Bellwyne pun terus lanjut berjalan dengan kecepatan pejalan kaki, demi menyamai kecepatan dengan para prajurit infanteri, dan juga para warga biasa yang tidak memiliki karavan atau kuda mereka sendiri. Dengan ribuan unit yang ikut di dalam rombongan itu, tambahan unit lain pun bertambah setiap kali mereka berhenti di beberapa kota, kota kecil dan desa. Sampai-sampai rombongan mereka pun bertambah banyak dan barisan pun menjadi tambah panjang.


Rombongan melakukan perjalanan selama 10 jam dalam sehari, kemudian sisanya dipakai untuk istirahat dan menunggu pergantian hari esok. Dan begitulah dimulainya perjalanan panjang Bellwyne dan orang-orangnya demi kehormatannya serta kehormatan sang Penyihir, Slatanis, dari dekrit sang Raja yang congkak dan angkuh.


************


Sementara itu, di perbatasan di utara Bellhaven, di dalam salah satu benteng yang telah dikuasai, Cael saat ini sedang sendirian duduk bersandar di atas kursi dengan sandaran tinggi, sementara di depannya adalah seorang pengintai yang baru saja kembali dari tugasnya.


“Paduka, Saya telah membawakan kabar dari Bellhaven,” ucap sang pengintai sambil berlutut.

__ADS_1


“Katakan,” ucap Cael dengan santainya sambil memakan anggur dari sebuah mangkuk yang ia taruh di meja di samping kursinya.


“Para Bellwyne telah membentuk rombongan yang sangat besar kemudian meninggalkan Bellhive dua hari yang lalu,” ucap sang pengintai.


Cael tampak begitu tenang saat mendengar ucapan itu, namun tangannya mengepal dengan keras lima anggur yang ada di tangannya.


“Keluarlah,” ucap Cael, dan sang pengintai pun keluar dengan patuhnya.


Cael pun berdiri sesaat sang pengintai sudah keluar dari ruangan itu. Kemudian ia memandang kedepan untuk sesaat dengan tatapan kosong.


“Sialan! Kenapa jadi begini! Kenapa jadi begini!!!?? Kenapa!!?? Aaarghhhh!” Teriaknya sambil melempar mangkuk anggur ke tembok. “Willem! kenapa kamu melakukan ini kepadaku!? euurghhh!? kenapa … kenapa kamu tidak mau menyerahkan itu kepada negaraku!? apakah kamu tidak sadar akan perjuangan Raja mu ini, hahh!!??” lanjutnya mengeluh sambil menonjok-nonjok tembok yang ada di hadapannya.


Mata Cael memerah dengan amarah yang membara, sedang ia menjambak sendiri rambutnya.


‘Apakah … apakah ini gara-garaku!? Apakah ini karena ku yang terlalu membenci rakyat biasa, hah? Bajing*an! Mana aku tahu! Jika aku tahu sejak awal bahwa wanita itu adalah penyihir yang sangat kuat, aku tidak akan bersikap seperti itu!’ Pikir Cael sembari telapak tangannya bersandar di tembok dan kepalanya menunduk.


“Paduka.” tiba-tiba Richard masuk ke dalam ruangan itu, dan memanggil Cael dari belakang.


Cael pun menoleh kemudian berkata, “ada apa?”


“Apakah kita harus benar-benar menjalankan undang-undang pembelotan?” Tanya Richard.


“Menjadikan Willem sebagai musuh kerajaan dengan mengumumkan pengkhianatannya secara sah?” Tanya Cael sambil mulai berdiri dengan tegak dan tenang, sementara tatapannya kembali menajam.


“Saya yakin, seluruh bangsawan royalis, tidak hanya bangsawan dari Bellhaven, tapi semuanya akan turun tangan untuk memerangi Bellwyne dan keluarga besarnya,” ucap Richard tambah meyakinkan Cael.


Untuk sesaat Cael hanya menatap ekspresi sungguh-sungguh Richard.


“Pertanyaannya adalah, apakah kita bisa menang? Mengingat—”


“Paduka! Janganlah takut dengan satu penyihir! Bukankah kita memiliki pasukan yang jauh lebih banyak dari mereka? Dan bahkan pasukan elit anda yang berjumlah 3000 ribu unit itu, pasti bisa mengalahkannya dengan mudah,” ucap Richard sekali lagi.


“Sebenarnya, apa yang kamu inginkan, Tuan Richard?” Tanya Cael, sebelum akhirnya duduk kembali di kursinya.


“Berikan saya seluruh wilayah atau sebagian dari Bellhaven …” ucap Richard agak menunduk.


Cael memicingkan matanya menatap Richard.


“Tapi aku harus memancung kepala putramu,” ucap Cael dengan santainya.


“Lakukan sesuka anda, Paduka,” ucap Richard tersenyum lebar sementara dirinya masih agak menunduk.


“Hm.” Cael pun hanya bisa berdengus sesaat mendengar pernyataan Richard.

__ADS_1


*****************


Bersambung ….


__ADS_2