
Samuel dikenal oleh warga desa sebagai seorang pria muda yang sangat terbuka dengan orang-orang meskipun ia adalah orang yang serius, ia juga dikenal gampang bergaul bahkan di antara golongan tua. Selain itu, ia adalah orang yang memiliki intuisi yang kuat dalam mengambil keputusan, sampai-sampai beberapa orang mengiranya ia adalah seorang peramal.
Dari intuisi kuatnya itu, ia telah membantu para penjaga di desa untuk menangkap bandit bahkan jauh sebelum mereka melakukan aksi penjarahan.
Intinya, dia adalah seorang idola desa, bahkan wanita-wanita yang sudah bersuami dan berkeluarga pun tetap mengelu-elukannya, karena ia adalah Samuel. Sampai akhirnya delapan bulan yang lalu sifatnya pun mulai berubah, tepatnya ketika ia menikahi seorang Putri bangsawan dari keluarga Count Renesphere, Amyguella Renesphere. Dan secara bersamaan saat itu, adik (perempuan) tirinya dari beda ibu yang bernama Olivia, menikah dengan Count Renesphere.
Tidak ada yang tahu kenapa dia berubah saat itu, namun beberapa warga berspekulasi bahwa Samuel berubah karena merasa kasihan dengan adiknya yang harus dinikahkan dengan seorang pria dewasa yang menurut mereka gendut dan tidak rupawan.
Sementara keluarganya dikenal sebagai keluarga Norton. Yakni sebuah keluarga bekas bangsawan yang tiga dekade lalu telah lengser dari gelar kebangsawanannya.
Keluarga Norton adalah keluarga Baron dari bawahan sekaligus salah satu cabang lain dari keluarga Duke Winston. Keluarga mereka mengalami kejatuhan karena salah satu anggota keluarga mereka telah ketahuan mendukung para penyihir pagan oleh duke Winston, sehingga Duke Winston yang terkenal sebagai keluarga saleh pun langsung mengeluarkan mereka dari daftar bangsawan di wilayahnya.
Ditengah pengasingan itu, Duke Bellwyne yang menemukan mereka pun akhirnya mengangkat mereka menjadi keluarga kepala Desa, dan telah dijanjikan bahwa di generasi keempat, mereka akan dinaikan menjadi keluarga Baron bawahan duke Bellwyne. Lalu dengan viscount Everdyne menjadi bangsawan atasan mereka, keluarga Norton pun memulai tugas mereka sebagai Tuan Kepala Desa di desa Neverhive.
Namun meskipun mereka sudah digelari oleh Duke Bellwyne saat itu, pertentangan di antara bawahan Duke pun tetap muncul ke permukaan. Mereka menganggap bahwa keputusan duke Bellwyne pada saat itu sangat membahayakan teritorial Bellhaven. Apalagi mengingat keluarga Winston dan Bellwyne tidak pernah akur sejak dulu, sebab keduanya adalah seorang saudagar yang menguasai laut Lerian. Dua keluarga ini lah yang menguasai jalur perdagangan ke benua timur di Houlus.
Singkatnya, setelah pertentangan yang tiada henti di dalam kebangsawanan wilayah Bellhaven, keluarga Norton pun tetap menjadi kepala desa di Neverhive dan memerintah di sana sampai sekarang.
********************
Slatanis yang berdiri di antara para warga yang mulai terjatuh di lutut mereka sesaat mendengar ucapannya pun hanya bisa terdiam. Sedangkan Amy, ia pun langsung menerobos masuk dan berlari menuju tubuh tak bernyawa Samuel.
“Tidaaaak! Samueeel! Huwaaaa … hiks hiks hiks,” tangis Amy dengan teriakannya sambil terus memeluk Samuel di dekapannya.
Slatanis pun berjalan keluar dari kerumunan, sementara kerumunan warga mulai mendekat ke tubuh Samuel. Ia pun terus berjalan sampai melewati akhir barisan para warga, dan sampailah ia di belakang dan melihat Aaron yang juga ada di sana dengan ditemani oleh beberapa milisi.
Aaron yang berdiri dengan tongkatnya pun hanya bisa terdiam disana menatap jauh ke arah tubuh Samuel yang tertutupi oleh kerumunan warga. Slatanis yang mendapati hal itu pun langsung berjalan mendekat, kemudian memegang bahu kirinya.
“Maafkan saya, saya tidak bisa menyelamatkannya,” ucap Slatanis.
‘Seandainya aku tidak berpikir untuk menangkap sang monster itu, mungkin Samuel tidak perlu mati,’ pikir Slatanis tertunduk . ‘Aku benar-benar ceroboh … apakah ini karena rasa empatiku yang berkurang sehingga aku tidak berpikir sampai sejauh ini? Kemana kesadaranku yang dulu sebagai Putri di saat-saat seperti ini?’
__ADS_1
Slatanis mengingat di saat dirinya mulai terdominasi oleh kesadaran dari seorang succubus, meskipun baru lebih dari sebulan ia berada di dunia ini, ia bisa merasakan dengan jelas dirinya yang dulu sebagai manusia normal mulai pudar beriringan dengan rasa empatinya terhadap manusia yang juga mulai berkurang.
Ditengah transformasi mentalnya yang didominasi oleh insting seorang succubus, bagian kecil dirinya sebagai Manusia masih lah tersimpan di dalam jurang kesadarannya. Kesadaran itu lah yang terus menjaga Slatanis atau dirinya sebagai Putri tetap menjaga sedikit rasa empatinya terhadap manusia, karena jika tidak, di akan memangsa seluruh pria yang ada di dunia ini untuk "konsumsi" nya tanpa pilih-pilih.
“Tidak … tidak apa-apa. Karena yang terpenting sekarang adalah …,” ucap Aaron tertahan oleh air matanya, lalu menoleh ke arah Dicken yang sudah terpotong. “Yang terpenting sekarang adalah, para monster biadab ini sudah habis.”
Slatanis pun mengangguk tanpa berkata.
“Mari Tuan Aaron,” ucap salah satu milisi mulai menuntunnya ke arah tubuh Samuel.
“Nona Slatanis, Terima kasih telah membantu kami dalam melawan para monster itu … walaupun pada akhirnya malah anda justru yang melakukan semuanya sekaligus membantai mereka,” ucap milisi lain yang berdiri di dekatnya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Slatanis pun menyalaminya sambil tersenyum lalu berkata, “saya hanya melakukan pekerjaanku sebagai mestinya.”
“Tidak tidak … anda sangat luar biasa tadi, saya bahkan sampai tidak bisa bergerak karena terkagum-kagum melihat anda dari kejauhan,” ucap milisi lain sambil memberikan setengah senyumannya. “Saya belum pernah melihat penyihir sebelumnya, tapi apakah penyihir memang sekuat itu?” lanjutnya bertanya.
‘Ah … bagaimana mengatakannya ya?’ Pikir Slatanis.
“Ya-yaa … kurang lebih,” ucap Slatanis gugup.
“Kalau begitu, kami pergi dulu untuk membereskan mayat-mayat itu, Nona,” ucap Milisi yang ada di depan Slatanis.
“Baik,” balas Slatanis kemudian menoleh ke arah tubuh Dicken. “Kecuali yang itu, biarkan saja saya yang mengurusnya.”
Sementara milisi lain mulai berjalan menuju mayat para monster lain dan para warga mulai mengangkat tubuh Samuel dengan tandu, Slatanis pun berjalan menuju tubuh Dicken. Kemudian, ketika sudah berada begitu dekat dengan tubuh sang monster, Slatanis pun berlutut sambil mulai menyentuh darahnya yang menggenang.
Sesaat tangannya menyentuh darah yang berwarna biru itu, Slatanis bisa merasakan Mana nya mulai terisi sangat cepat.
“Efek generasi yang ditimbulkan oleh darah ini, hampir sama seperti Mana Potion peringkat medium,” gumam Slatanis sambil terus menyentuh darah biru tersebut sampai Mana nya mulai terus terisi penuh. Kemudian seraya Mana nya terus terisi, genangan darah biru yang ia sentuh pun perlahan ikut menguap.
‘Itu menguap … dan menjadi partikel Mana!’ Ucap Raphaela.
__ADS_1
‘Benar, aku bisa merasakannya, meskipun aku berada di dalam inventory mu, Nyonya,’ sahut Lilith.
“Iya, ini ikut bergabung dengan partikel Mana yang ada di udara,” ucap Slatanis sambil mendongak melihat uapan asap yang menghilang di udara.
‘Cobalah buka inventory anda,’ saran Raphaela tiba-tiba.
Slatanis tanpa pikir panjang pun langsung membuka Inventory-nya, dan mendapati inventory-nya memiliki antarmuka layaknya seperti di dalam woc. Yakni berwarna biru transparan dengan begitu banyak detail dan terdapat kolom kotak-kotak yang setiap kolomnya mewakili item dan equipment tertentu. Namun sayangnya, tampilan itu masih tampak tidak stabil dengan banyaknya glitching seperti layar yang rusak.
“Ini masih belum sempurna,” ucap Slatanis.
‘Oh iya, mungkin aku bisa mengekstrak dari mayat-mayat monster yang lain juga,’ pikir Slatanis dan tiba-tiba langsung terbang dengan spell [fly]-nya menuju mayat para monster yang kebanyakan sudah hancur itu. Ia terbang dengan inventory-nya yang masih terbuka.
Di jarak yang bahkan belum jauh dari tubuh Dicken, tiba-tiba layar Inventory-nya secara perlahan pun menghilang dan kembali menjadi lubang hitam.
“Loh kok?” Ucap Slatanis terhenti dari laju terbangnya dan tetap melayang di udara.
‘Sepertinya itu hanya berfungsi sesaat partikel Mana di sekitar anda mencapai pada kuantitas tertentu,’ ucap Raphaela mengkonfirmasi.
“Ah ini sangat mengesalkan,” ucap Slatanis.
‘Kalau begitu, mari kita langsung pergi ke para mayat monster itu … ya meskipun sudah banyak yang hancur, mungkin anda masih bisa menemukan bercakan darah biru untuk diekstrak ke udara,’ saran Raphaela.
Slatanis pun kembali melaju terbang, dan kemudian sesaat ia sampai di tempat yang dituju, ternyata disana sudah tidak ada lagi darah biru karena mayat-mayat itu kebanyakan sudah hancur.
“Yah, sungguh disayangkan,” ucap Slatanis sambil terus berjalan di antara mayat monster, sementara para Milisi baru mulai sampai di tempat itu sambil membawa perkakas mereka.
Dari sana, para warga pun mulai memunguti sisa-sisa monster di tengah-tengah area yang sudah dipenuhi dengan kawah-kawah bekas ledakan sihir AOE Slatanis. Kemudian, mereka pun langsung membangun tempat kremasi yang besar dan langsung membakar sisa-sisa monster yang tidak ikut terbakar atau menjadi abu itu.
Sore itu, para milisi pun mulai membersihkan padang rumput di sebelah barat Neverhive yang dipenuhi dengan abu, daging yang hancur tercincang dan mayat gosong dari para monster dengan bergotong royong. Sampai menjelang malam, mereka pun selesai melakukan itu semua, dan memilih untuk berkabung daripada merayakan kemenangan.
Hari itu, mereka telah kehilangan sosok pujaan mereka, Samuel Norton.
__ADS_1
***************
Bersambung ….