Three In One Transmigration

Three In One Transmigration
#42 - Hutan Gloria I


__ADS_3

Setelah terbang cukup lama bersama dengan Olivia, Slatanis pun mendarat di depan garis hutan Gloria.


"Hmm? Kenapa kita berhenti disini?" Tanya Olivia dengan tatapan bingung, sembari ia turun dari pelukan Slatanis.


"Aku memiliki tanah di dalam hutan ini yang sudah diberikan oleh Duke Bellwyne kepadaku, jadi untuk sementara kita akan berkemah disini sebelum aku memastikan lokasinya lebih lanjut dari peta," ucap Slatanis di dalam kegelapan malam. "Namun sebelum itu, aku akan memanggil dua pelayanku untuk menemani kamu."


"Menemaniku? Memangnya kamu mau kemana?" Tanya Olivia.


"Aku akan kembali ke rumah kepala desa untuk menyelesaikan tugasku. Setelah itu di pagi harinya aku akan kembali kesini, kemudian kita pergi bersama-sama masuk ke dalam hutan Gloria untuk mengklaim lahan ku," beritahu Slatanis.


"Baiklah," angguk Olivia yang tampak patuh layaknya seorang adik. "Lalu, dimana dua pelayanmu itu?"


"Lilith, Raphaela, keluarlah!" Ucap Slatanis dan keduanya pun muncul di dalam kegelapan.


Olivia yang tidak dapat melihat di dalam kegelapan pun masih belum begitu melihat dan menyadari mereka berdua dengan jelas melainkan hanya mampu melihat lingkaran putih bercahaya mengambang di udara, sampai akhirnya Lilith dan Raphaela pun menghampirinya lebih dekat, dengan wajah Lilith yg ikut terpantul cahaya dari lingkaran cahaya Raphaela.


"Oh wow! Kalian muncul dari mana?" Tanya Olivia melihat ke arah keduanya yang berdiri cukup dekat di depannya. "Dan di atas kepala kalian ..., ahem, kamu memiliki tanduk, sementara kamu memiliki lingkaran putih bercahaya," lanjutnya sambil agak berjalan mundur.


"Janganlah takut," ucap Raphaela.


"Iya tenanglah, aku hanya memakan daging manusia pria kok," ucap Lilith dengan santainya.


"Apa? Ka-kamu ... kamu memakan daging manusia?" Tanya Olivia yang tampak bingung.


"Tenanglah Olivia," ucap Slatanis sambil mendekat ke Olivia, kemudian merangkulnya dan mulai memperkenalkan Lilith dan Raphaela kepadanya.


Setelah melakukan perkenalan dan Olivia pun tampak lebih nyaman bersama dengan mereka berdua, Slatanis pun meminta mereka bertiga untuk membuat kemah dan bermalam di tempat itu.


"Aku akan kembali besok pagi," ucap Slatanis sambil memeluk Olivia di dekat api unggun. "Aku melakukannya karena aku tidak ingin mereka mencurigaiku atas kehilanganmu, dan juga sekaligus ... aku ingin mengambil hadiahnya."


"Baiklah," ucap Olivia terjeda. "Kakak," lanjutnya.


'Hehehe, entah kenapa hatiku terasa sangat hangat saat mendengarnya memanggilku Kakak,' pikir Slatanis sambil tersenyum.


Slatanis pun melepas pelukannya dan langsung menoleh ke arah Lilith dan Raphaela. "Tolong jaga adikku ini, oke?" Perintahnya.


"Tentu, Nyonya."


"Tentu, Baginda."


Slatanis pun langsung mengaktifkan Spell [Concealment]-nya, kemudian langsung terbang dengan spell [Fly]-nya.


****************


Keesokan paginya di dalam rumah kepala desa Neverhive.


"Hei! Hei! Apakah kalian melihat dimana Olivia istriku berada?!" Ucap Owain sambil menggoyangkan bahu seorang pelayan wanita di lorong rumah.


"Nyonya Renesphere? Mohon maaf Tuan, saya tidak melihatnya," ucap sang pelayan wanita.


"Tsk, kemana perginya dia?!" Keluh Owain sambil melepaskan genggamannya, sedang sang pelayan wanita pun langsung berlari.


Owain menoleh ke sekitar seraya dirinya tampak berpikir.


"Ia masih belum kembali sejak semalam karena izin untuk buang air kecil, tsk, kalau tahu akan menjadi seperti ini, lebih baik aku rantai saja dia!" Gumam Owain sambil menggaruk dagunya.


"Pagi, Tuan Renesphere," ujar Slatanis yang berjalan di belakangnya.

__ADS_1


Owain yang agak terkejut pun spontan langsung berbalik ke belakang, "oh, pagi juga Nona Slatanis."


"Apakah ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran anda Tuan?" Tanya Slatanis.


"Ah, istri saya ... Olivia, ia belum kembali sejak tadi malam. Apakah anda melihatnya?" Tanya Owain sambil mempersilahkan Slatanis berjalan bersamanya, menuju lantai bawah untuk sarapan.


Mereka berdua pun berjalan bersama di lorong.


"Sayangnya, saya tidak melihatnya sejak pagi, Tuan," ucap Slatanis dengan tenangnya.


"Kalau begitu, apakah anda bisa mencarinya?" Tanya Owain. "Saya berjanji akan memberikan anda tambahan 1000 Krun lagi, setelah 1000 krun dari bayaran asli telah saya berikan."


"Sungguh disayangkan saya harus kembali ke Mareen," ucap Slatanis. "Mungkin anda bisa meminta serikat tentara bayaran atau ... prajurit dari bangsawan terdekat untuk melakukannya untuk anda."


"Hufff," keluh Owain dengan wajah pasrahnya.


Setelah perbincangan singkat itu, mereka pun turun ke lantai bawah dan mulai sarapan di sana. Kemudian selama sarapan itu, Owain pun memberitahu Aaron sehingga membuatnya menjadi panik. Sampai akhirnya Aaron pun juga ikut meminta Slatanis untuk mencarinya, namun sekali lagi, Slatanis tetap memegang pendiriannya.


Dan di pagi itu, Slatanis pun terbang meninggalkan desa dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sebelum terbang, seperti biasa, ia pun mencari tempat sepi lalu menggunakan spell [Concealment]-nya kemudian menonaktifkan spell tersebut di ketinggian. Ia terbang sangat cepat, sampai-sampai jarak hutan yang paling tidak bisa ditempuh selama satu hari pun, kini ia hanya menempuhnya kurang dari satu jam.


Sementara itu di tengah kepanikan, Aaron pun meminta para milisi dan penjaga desa untuk mencari Olivia, sementara Slatanis pamit meninggalkan desa dengan 1000 Krun di kantongnya. Kepanikan itu merembet sampai sore hari, dan tak satupun dari mereka yang memunculkan kecurigaan terhadap Slatanis yang terbang meninggalkan desa di pagi hari. Apalagi para milisi dan warga yang sangat berterimakasih dengannya.


….


Kemudian sesampainya di pinggir hutan, Slatanis pun langsung mengajak mereka bertiga yang baru saja selesai membereskan kemah untuk terbang bersama masuk ke pedalaman hutan Gloria, menuju lahan yang sudah dijanjikan untuk membangun tempat bernaung yang permanen. Dengan Slatanis yang menggendong Olivia, mereka bertiga pun mulai terbang menuju lahan yang dituju.


“Yuhuuuu!” Teriak Olivia dengan gembira. “Ini lebih menyenangkan daripada terbang di malam hari, hahaha.”


“Di malam hari kamu tidak bisa melihat apa-apa,” ucap Slatanis. “Lihatlah, dunia ini sungguh indah jika dilihat dari ketinggian,” lanjutnya sambil menunjuk ke arah pemandangan.


“Iya … benar … kamu benar, kak, ini sangat indah dan sejuk sekali,” ucap Olivia terpukau. “Tapi ngomong-ngomong, apakah kamu tidak merasa berat?” Tanyanya sementara tangannya mengalungi bahu dan leher Slatanis.


‘Iya, ini ringan sekali, seperti menggendong bantal guling,’ pikirnya sementara Olivia digendongnya seperti seorang putri raja.


Olivia pun hanya tersenyum sambil menempelkan pipinya ke dada Slatanis.


“Terimakasih karena telah membawaku pergi,” bisik Olivia.


****************


Beberapa jam kemudian, setelah terbang dengan cukup pelan dan dengan ketinggian yang cukup rendah karena mentolerir tubuh fana Olivia, mereka berempat pun sampai di atas sebuah padang rumput yang di setiap sudutnya sudah ditandai dengan menara batu. Lahan yang sudah di patok itu tampak sudah lama tidak diurus, terlihat dari ilalang dan rerumputan yang sudah tumbuh tinggi. Namun untungnya pepohonan tidak mulai tumbuh di dalam atau di sekitar lahan yang sudah ditandai.


Kemudian, mereka pun mendarat di atas rerumputan yang tinggi tersebut sambil menurunkan Olivia.


“Wow, tempat ini lumayan juga,” ucap Olivia kembali terkagum sambil menghadap ke arah barat melihat pegunungan yang membentuk lembah di tengah-tengahnya. “Setahuku, apakah itu jalan menuju hutan agung Hinan?” Lanjutnya menunjuk ke celah lembah.


“Hmmm, iya benar,” ucap Lilith menanggapi.


“Mari kita mulai membuat bangunan kecil dulu, yakni bangunan berupa kabin untuk kita tinggali,” ucap Slatanis, kemudian menoleh ke arah Lilith dan Raphaela. “Menurut kalian, makhluk apa yang cocok untuk dipekerjakan sebagai penggarap lahan dan pembuat bangunan.”


Sementara itu Slatanis mengingat-ingat bahwa para makhluk panggilan tidak ada yang memiliki Perk, karena demi keseimbangan game pada saat itu. Hal ini diperhitungkan karena mengingat Perk adalah sebuah kumpulan Skill dan Spell tambahan yang mana setiap nama / judul Perk memiliki tingkatan dan level karakteristik tersendiri yang perlu diasah. Dari tingkatan-tingkatan itu pula mereka memiliki level karakteristik tersendiri, seperti halnya Common bernilai 5 level, Rare bernilai 10 level, legendary bernilai 15 level dan Mythical bernilai 20 level.


Selain itu, kebanyakan perk tidaklah masuk ke empat tipe kelas yaitu Warrior, Mage, Fighter dan Rogue. Perk memiliki kategori tersendiri yakni berupa Artisan, Military, Crafter, Economist dan Governing, yang dimana tentu saja Perk hanya bisa dimiliki oleh para Player dan NPC di luar makhluk panggilan.


Sedangkan Slatanis memiliki Perk kategori Hybrid berupa Military dan Governing dengan tingkat legendaris yang berupa kumpulan Summoning spell yang bernama [Summoner of Evil]. Dan sejauh yang dia ingat, selama di dalam game, tidak ada satupun NPC hasil summon yang memiliki perk ataupun bisa bekerja sebagai tukang bangunan atau bahkan sekadar pengrajin.


“Para makhluk dari tingkat medium akan sangat cukup, Wahai baginda,” saran Raphaela. “Tapi jika anda bertanya pihak malaikat mana yang cukup, maka tentu akan saya sarankan kepada anda bahwa panggillah para Powers karena mereka sangat berguna dan kuat secara fisik. Sementara itu, panggil pula para Dominions untuk memimpin mereka dan Virtues untuk menjaga order di antara mereka. Rasio nya adalah 10 : 5 : 1. 10 untuk Powers, 5 untuk Dominions dan 1 untuk Virtues.”

__ADS_1


“Hmmm, tapi bukankah mereka tidak memiliki perk?” Tanya Slatanis yang tampak berpikir sembari memegang dagunya.


“Perk? Tidak … tidak perlu,” jawab Lilith yang sedang berdiri di sebelah Olivia sambil menatap pemandangan gunung. “Sejak awal para makhluk Farland tidak memerlukan Perk untuk melakukan pekerjaan sederhana, hanya saja para pahlawan memang membutuhkannya entah mengapa,” lanjutnya yang juga tampak berpikir.


‘Sepertinya aku paham. Mungkin karena keterbatasan mekanik dan pergerakan animasi yang disebabkan oleh para player yang memainkannya melalui ruang dua dimensi yakni layar komputer, maka hal-hal seperti perk dan emot sangat diperlukan. Seperti seorang player tidak bisa duduk di bangku tanpa menggunakan emot duduk, atau seorang player tidak bisa menebang pohon tanpa perk tipe crafter atau artisan. Yang mana kedua kegiatan ini bagi para NPC hanyalah hal biasa,’ pikir Slatanis menyimpulkan.


‘Begitupun juga diriku yang kini berada di dunia nyata dengan tubuh karakter fiksi ini. Aku bisa membuat … atau mungkin bisa mempelajari hal baru di luar sistem game. Mungkin aku juga bisa mempelajari sihir yang ada di dunia ini, atau bahkan ilmu alkimia tanpa memerlukan perk,’ lanjutnya berpikir sambil menatap kedua telapak tangannya.


“Kakak, kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu melamun saja?” Tanya Olivia yang sudah berdiri di depannya.


“Tidak … tidak apa-apa kok, aku hanya terpikirkan beberapa hal saja,” balas Slatanis sambil tersenyum.


‘Kalau begitu, apakah itu berarti aku bisa memanggil banyak summon dari perk-ku tanpa harus berpikir mereka memiliki perk apa?’ Pikir Slatanis.


“Apakah kamu ada saran?” Tanya Slatanis menoleh ke arah Lilith.


“Hmmmm, kalau aku sih …  lebih baik kamu memanggil para undead,” saran Lilith. “Dan juga … karena disini banyak ilalang, kenapa tidak panggil para Grim Reaper saja?”


“Hah? Grim reaper? Grim reaper untuk memotong rumput?”


“Iya, mereka sangat handal dalam menebas apapun,” ucap Lilith dengan bangganya. “Selain itu, mereka adalah medium Tier Undead, dan mereka merupakan para undead tipe Arch Wraith dengan level tertinggi di tier mereka, yakni level 80.”


‘Menggunakan grim reaper untuk memotong rumput?’ Pikir Slatanis bertanya-tanya.


“Dan Grim reaper itu sendiri adalah kelas tipe Mythical,” ucap Lilith sekali lagi.


“Hah??? Apakah kamu serius!?” Tanya Slatanis yang tampak terkejut.


“Hm hm,” angguk Lilith dengan ekspresi bangga sambil menyilang tangannya.


Sementara itu, Olivia hanya mendengarkan pembicaraan mereka dengan ekspresi bertanya-tanya.


“Apakah undead membutuhkan makanan?” Tanya Slatanis.


“Tidak, mereka lebih mirip seperti para angel yang tidak membutuhkan makan. Tapi tetap, mereka perlu mengisi energi mereka dengan menyerap Miasma di daerah sekitar,” ucap Raphaela. “Dan tampaknya daerah ini memiliki miasma yang pekat juga,” lanjutnya sambil menunduk ke tanah.


“Bagaimana kamu bisa tahu?” Tanya Slatanis.


“Di tempat ini, sudah banyak yang mati sejak ratusan ribu tahun yang lalu. Jadi ya … ini cukup pekat. Bisa dikatakan juga bahwa miasma adalah partikel kedua terbanyak setelah udara, mengingat hampir setiap jengkal tanah terdapat makhluk hidup yang mati di sana,” jelas Raphaela.


‘Aku tidak menyangka bahwa mereka sangat murah, hehehe,’ pikir Slatanis.


Setelah itu, Slatanis pun mulai menggunakan spell [summon medium tier angel]-nya untuk memanggil para malaikat yang disarankan oleh Raphaela, dan juga memanggil para grim reaper dengan menggunakan spell [summon medium tier undead]-nya. Ia melakukannya selama berkali-kali dan satu-satu. Ia bahkan sampai meminum banyak potion Mana nya.


Setelah kurang lebih dua jam ia memanggil dan meminum potion Mana selama berkali-kali, akhirnya berkumpulah para pelayan dan tentaranya yang kini berjumlah banyak. Sekarang terdapat 100 Powers berlevel 70, 50 Dominions berlevel 80 dan 10 virtues berlevel 75 dari berbagai kelas. Selain itu, terdapat pula 200 grim reaper yang kini tak hanya direncanakan untuk memotong rumput belaka, tapi juga direncanakan sebagai bala tentara nantinya ikut berkumpul di antara mereka.


Kini dengan lahan seluas kurang lebih 2 hektar yang sudah dipatok, para makhluk summon pun mulai melakukan penggarapan dan membangun kabin seluas 5x6 meter persegi. Sementara Slatanis mulai memikirkan bangunan macam apa yang akan ia bangun di tempat itu, di dalam kabinnya bersama dengan Olivia.


Malam hari pun tiba, dan para makhluk summon pun dibiarkan berkeliaran di luar dengan Lilith yang memimpin para Grim Reaper dan Raphaela yang memimpin para Angel. Para Grim Reaper juga tak lupa diperintahkan oleh Lilith untuk berpatroli di radius 200 sampai 250 meter dari kabin di dalam hutan sembari menyembunyikan keberadaan mereka, sementara para angel diperintahkan oleh Raphaela untuk berpatroli di sekitar lahan garapan. Dan dengan begitu, parameter pengamanan pun telah dibentuk dengan begitu terkoordinasi oleh kedua pelayan Slatanis.


Sementara itu, pada malam hari, Slatanis yang sedang berbaring di atas kasurnya bersama dengan Olivia yang tidur di sebelahnya pun mendengar suara panggilan Shade yang bersembunyi dibalik bayangannya.


“Nyonyaku, anda baru saja mendapatkan pesan dari para Shade dan Shadow Daemon yang berada di istana bellwyne,” bisik Shade.


“Baiklah, biarkan aku mendengarnya,” ucap Slatanis yang masih berbaring menatap langit-langit kabin, sementara Olivia tidur di sebelahnya dengan nyenyaknya sambil memeluk dirinya.


****************

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2