
Kota pelabuhan Fishsyre, tepatnya di sebelah timur laut kota Alundris yang berjarak empat hari perjalanan. Kota ini adalah kota pesisir yang panas, sehingga kebanyakan penduduknya memilih untuk mengenakan pakaian yang minim. Itu berlaku ke wanita dan juga pria. Kebanyakan pria hanya mengenakan bawahan saja, dan membiarkan bagian atasnya telanjang. Sedangkan para wanita, kebanyakan dari mereka membiarkan lengan, perut dan bagian paha ke bawah mereka terbuka.
Di kota ini juga terdapat keberagaman ras, namun paling banyak yang tinggal di kota ini tentu saja adalah manusia. Lalu untuk penduduk terbanyak kedua adalah lizardman, mereka adalah perenang handal dan tahan dengan suhu panas asalkan mereka sering berada di air.
Di kota ini pula selain dari bisnis logistik impor dan ekspor yang tinggi, mereka juga punya komoditas lain seperti penangkapan ikan, budidaya rumput laut dan produksi garam. Dengan kekayaan yang dimiliki kota ini, penguasa sekaligus pemilik dari kota ini adalah seorang bangsawan bergelar duke (adipati). Ia bernama Willem dari keluarga Bellwyne.
Dan di kota ini pula Slatanis lari dan bersembunyi dari incaran abdi dalam kuil, dan sudah sebulan sejak kejadian itu.
Pagi hari di pasar ikan di pinggir kota, di dekat pelabuhan yang dipenuhi dengan burung camar, Slatanis saat ini sedang menjalani tugasnya sebagai pelayan di sebuah bar.
‘Fuhh, sudah satu bulan aku berada di kota ini ... dan sudah banyak waktu yang aku lewati dengan tenang bersama dengan tubuh tanpa siklus menstruasi ini, hmmm sungguh hari-hari tanpa sakit perut yang damai. Selain itu, sepertinya pihak kuil juga sudah menyerah untuk memburuku,’ pikir Slatanis sambil memilih-milih ikan. ‘Jika bukan karena spell yang aku miliki dari class baruku sebagai Prophetess, mungkin saja aku tidak akan bisa menyamarkan tandukku ini,’ lanjutnya sambil memegang kalung barunya yang ia buat dengan spell tingkat 9 [create divine accessories].
‘Banyak yang telah terjadi dalam kurun waktu satu bulan ini, salah satunya adalah diriku yang sudah benar-benar terbiasa dengan segala kelebihan dan kekurangan pada tubuh ini,’ pikir Slatanis terpaku menatap ke bawah. 'Terutama setelah aku merasakan lapar untuk pertama kalinya. Saat itu aku tidak pernah mengira bahwa mengkonsumsi cairan putih milik pria akan membuatku kenyang.'
“Nona? Apakah anda jadi membeli?” tanya sang pedagang ikan.
“Iya, tolong masukkan ke keranjang ini,” ucap Slatanis sambil memberikan keranjang kepada sang pedagang yang seorang lizardman.
“Terimakasih, dan jangan lupa untuk berkunjung lagi,” ucap sang Lizardman sambil menerima satu keping kren.
Slatanis pun tersenyum dan langsung berbalik badan dan beranjak, sementara sang pedagang untuk sesaat tampak terpaku dengan kecantikannya.
“Luar biasa, apakah dia sudah memiliki suami?” Gumam sang Lizardman tertegun sambil memandang punggung Slatanis yang sudah mulai menjauh.
'Aku masih mengingat betul tentang hari itu, di saat dimana aku harus menahan dan membiarkan rasa lapar ku begitu saja karena tidak mau mengkonsumsi cairan menjijikan tersebut, dan lalu pada akhirnya itu malah membuatku menjadi gila karenanya. Di hari itu, aku pun menggila dan mulai menghisap seluruh sari-sari Bernard, yakni sang pemilik bar dan penginapan tempat aku bekerja dan tinggal, selama berkali-kali sampai ia hampir lumpuh dengan langsung menggunakan mulutku. Saat itu aku bukanlah diriku, yang dimana tubuhku benar-benar tidak terkendali. lalu setelah kejadian itu, aku pun mulai sadar bahwa untuk tidak menjadi gila karena kelaparan, aku haruslah terus memberikan asupan pada tubuhku setidaknya tiga sampai lima kali sehari,' pikir Slatanis sambil mengingat minggu pertama ia tiba di Fishsyre.
Seraya berjalan, Slatanis melihat ke sekelilingnya dan memperhatikan perilaku penduduk lokal yang mengenakan pakaian yang cukup terbuka.
‘Hahhh, terlepas dari itu semua. tempat ini sungguh damai dan tentram dengan suhu hangatnya dan arsitektur bangunannya yang seperti eropa abad pertengahan. Ini seakan aku sedang berada di bali namun dengan rasa eropa,’ pikir Slatanis sambil tersenyum menatap matahari pagi yang menyingsing.
Ngiiikk~!
Tiba-tiba terdengar suara kuda berlari ke arahnya.
“Hm?” Gumam Slatanis sesaat menyadari seekor kuda sedang berlari menuju ke arahnya.
Ketipak ketipuk ketipak ketipuk!
Lari kuda semakin mendekat.
Slatanis melihat kuda itu dengan biasa saja, kemudian menghindar dengan mudahnya dan membiarkan kuda itu melewatinya sambil berlari dan menggila. Namun satu hal yang tidak dia sadari adalah, tak jauh di belakangnya ada seorang bocah kecil sedang berjalan.
Prak!
Sang kuda menabrak sang bocah, dan sang bocah pun terpental ke samping.
“No!” Teriak Slatanis dan langsung berlari ke arah sang bocah yang sudah tergeletak itu.
Sementara kuda itu sudah berlari menjauh, beberapa orang yang mengejar kuda itu pun lewat.
“Hei! Bertanggung jawablah!” Teriak salah seorang wanita yang berdiri di sana meneriaki orang-orang itu.
“Hei, apakah kamu tidak apa-apa?” tanya Slatanis sambil memeriksa tanda kehidupan di tubuhnya.
‘Jika aku menggunakan sihir penyembuhan disini, apakah tidak apa-apa? Apakah tidak akan ada hal yang merepotkan yang menantiku nantinya?’ Pikir Slatanis.
“Hei cepat angkat anak itu, dan bawa ke tabib!” Ucap warga lain yang berada di seberang jalan.
__ADS_1
“Tidak, ini terlalu bahaya, karena tulangnya banyak yang patah,” ucap Slatanis.
‘Aduh gimana nih?’ Pikir Slatanis sambil memangku tengkuk sang bocah yang sudah tak sadarkan diri itu. ‘Tsk, bodo lah! Persetan dengan bagaimana nantinya!’
Slatanis pun mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah tubuh bocah itu.
“[Potent heal]!” Ucap Slatanis, dan cahaya emas pun menerangi area sekitar.
Seluruh penduduk yang ada di sana pun tercengang saat melihat Slatanis menghasilkan cahaya emas dari telapak tangannya. Lalu tak sampai dua detik, cahaya emas dari telapak tangan Slatanis pun mulai redup lalu menghilang sepenuhnya.
“Hmmm, aku dimana?” Ucap sang bocah sesaat membuka ma tanya.
“Fuhh, apakah kamu tidak apa-apa?” tanya Slatanis.
“Tidak … aku tidak apa-apa, dan entah kenapa aku jadi lebih mudah bernafas,” ucap sang bocah sambil memegang dadanya.
“Malaikat,” ucap seorang wanita yang berdiri di dekat Slatanis dan tampak terpukau.
“Tidak, aku bukan,” ucap Slatanis dan mulai berdiri. Kemudian sesaat dia membalik badannya, ia pun terhalangi oleh tubuh seorang pria muda berumur sekitar 20 tahunan berambut hitam berdiri sambil menatapnya.
'wow, tampannya--- kuh, siapa dia? apakah dia dari Kuil? gawat!' pikir Slatanis sambil terpaku menatap wajah pria muda itu.
“Kau … kau telah menyembuhkannya—” ucap pria itu tertahan seraya Slatanis berjalan melewatinya begitu saja tanpa mengatakan apapun.
“Tunggu!” Ucap pria muda itu berusaha mengejar Slatanis.
‘Sh*t **** ****,’ gerutu Slatanis di dalam benaknya sambil terus berjalan secara terburu-buru. ‘Semoga saja bukan orang kuil atau siapapun itu yang dapat merepotkanku.’
“[Haste]!” Ucap Slatanis dan langsung berlari dengan sangat cepat menggunakan sihirnya.
“Apakah dia seorang penyihir suci dari kuil?” Gumam sang pria muda.
“Tuan muda, kami sudah menenangkan kudanya,” ucap seorang ajudannya yang baru saja sampai di belakangnya.
“Cepat cari wanita itu,” ucap sang pria muda yang masih tertegun. “ Mungkin dengan kemampuannya, dia bisa menyembuhkan ayah.”
“Baik, tuan muda,” ucap sang ajudan dengan begitu patuh.
**************

Slatanis pun sampai di bar tempat ia bekerja dan tinggal. Kemudian sesaat ia membuka pintu, Bernard sudah menunggunya di balik meja bar.
“Oh Slatanis! Akhirnya kamu sampai juga,” ucap sang pemilik toko bertubuh kekar berumur 30an, Bernard. “Cepat cepat, bar akan buka sebentar lagi.”
“Siap bos,” ucap Slatanis sambil membawa keranjang belanjanya ke dapur.
Slatanis pun berjalan ke dapur melalui area kerja Bernard, dan untuk sesaat bernard melirik tubuh Slatanis dengan mata terbuka penuh. Kemudian tak berselang lama sejak Slatanis masuk ke area dapur, Bernard pun berjalan masuk ke dalam dan sambil menutup hordeng yang menutupi area dapur.
“Oh bos, ada apa?” tanya Slatanis yang sedang menyiapkan ikan di atas meja dapur.
“Slatanis … apakah kamu sudah memikirkan tentang tawaranku?” tanya Bernard.
“Sudah, dan jawabannya tetap. Tidak,” ucap Slatanis tegas sambil mulai memotong ikan yang sudah ia siapkan. "Aku tidak akan menikahimu ... karena kamu bukanlah tipeku."
"Tapi kita sudah melakukan ... ahem ... melakukan itu," sangkal Bernard.
__ADS_1
"Kita hanya bersenang-senang ... dan lagipula, kamu tidak memasukkannya, dan hanya menggunakan tangan dan mulutku, ya kan?" Ucap Slatanis menoleh ke arah Bernard yang berdiri di belakangnya.
'Maaf, kamu hanyalah sumber makanan bagiku, Bernard,' pikir Slatanis dan mulai menaruh pisau di atas meja.
"Setidaknya---" ucap Bernard terhenti sementara Slatanis berjalan melewatinya.
“Tunggu,” bernard menghalangi jalan Slatanis.
‘Ah ini dia,’ pikir Slatanis menatap Bernard dengan tatapan malas.
Slatanis pun terus berjalan mundur, seraya bernard terus berjalan maju dan mulai memojokkan dirinya ke tembok dapur.
“Kalau begitu, mari kita lakukan sekarang agar kita bisa menikah nantinya,” Ucap Bernard dan mulai mencium leher indah Slatanis.
'Nggak begitu dong caranya!' pikir Slatanis sambil mendorong dada telanjang Bernard. ‘Jika saja saat ini aku adalah aku tiga minggu lalu, aku pasti sudah membakarnya hidup-hidup.'
“Ada apa?” tanya Bernard dengan tangan yang mulai masuk ke sela-sela baju Slatanis.
“Aku tidak mau melakukannya, Bernard," ucap Slatanis sambil memegang tangan Bernard yang mulai membandel. "Lagipula, bukankah perjanjiannya untuk melakukan 'itu' adalah tiga hari sekali?”
“Kenapa? Kenapa hanya tiga hari sekali?” tanya Bernard dengan tatapan memelas.
“Karena aku butuhnya hanya tiga hari sekali, tidak lebih,” ucap Slatanis dengan tatapan datar.
'Yaps, aku hanya lapar setidaknya setiap tiga hari sekali,' pikir Slatanis sambil menjaga jarak antara mereka berdua.
Slatanis pun langsung berjalan meninggalkan Bernard.
“Hei!” Teriak Bernard yang tampak emosi.
Slatanis pun berhenti tepat sebelum ia sempat membuka hordeng.
“Fuhhh, baiklah,” tanya Slatanis dengan ekspresi datar sambil berbalik.
Dan tiba-tiba Bernard langsung menurunkan celananya di depan Slatanis.
‘Apakah itu disebabkan karena dari efek [Charm of Succubae]?’ Pikir Slatanis dengan tatapannya terpaku pada menara milik bernard yang sudah mengeras dan membesar itu.
“Fuhh~ baiklah,” ucap Slatanis mendekat sambil membuka pakaiannya melalui inventory, sementara Bernard langsung melakukan urusannya.
“Ah~,” desau Bernard dengan semburan deras keluar dari menaranya.
‘Belum juga apa-apa,’ pikir Slatanis menatap kecewa Bernard.
“Sudah kan? Mari kita kembali bekerja,” ucap Slatanis sembari mengenakan pakaiannya kembali.
“Kenapa? Kenapa ini cepat sekali? Padahal setiap kali aku ke rumah bordil, setidaknya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuatku ejakulasi,” ucap Bernard penuh dengan kekecewaan sambil duduk bersimpuh.
‘Tsk, makananku jadi terbuang sia-sia kan,’ pikir Slatanis sambil berjalan ke tempat meja pembeli, dan mulai mengelap meja-meja itu.
*************
Bersambung ….
Haste (n.) sihir sustain tingkat 5 dengan efek, selama spell ini aktif maka agility pengguna akan bertambah sebanyak 15%.
Create Divine Accessories/Armor/weapon (n.) sihir tingkat 10 yang dapat menciptakan equipment setara tingkat Mythical Artifact dengan tiga enchantment untuk attack/defense/misc/other yang berkaitan dengan kategori holy element, dan dua enchantment untuk attack/defense/misc/other dengan tidak adanya batasan kategori.
__ADS_1