Three In One Transmigration

Three In One Transmigration
#42 - Hutan Gloria II


__ADS_3

Sebelumnya di istana Bellwyne.


Willem, Roland, Brandon dan bahkan Sasha saat ini sedang berada di ruang kerja setelah selama dua hari sebelumnya mereka telah mendiskusikan tentang cara terbaik untuk bisa menghindari dekrit sang Raja. Sementara itu, di tengah-tengah diskusi mereka, rombongan keluarga kerajaan bersama dengan para pengawalnya juga sudah kembali semua ke Gracehamberd sejak kemarin, begitu juga dengan Baron Isemberd yang merupakan baron bawahan Bellwyne yang saat ini masih menjadi duta duke Bellwyne di Mareen.


Terlepas dari Edgar Isemberd yang memilih untuk kembali bersama rombongan keluarga kerajaan, Rodrik yang merupakan putra satu-satunya justru memilih untuk tetap berada di Bellwyne tanpa alasan yang tidak diketahui. Padahal sang Raja, Cael III sudah menawarkannya sebuah jabatan yang tinggi di pasukan elitnya. Namun tetap ia bersikukuh untuk tetap menolak dan tetap berada di posnya sebagai kesatria duke Bellwyne.


“Sir Rodrik, aku tidak mengira dia akan tetap berada di sisi kita meskipun paduka sudah memintanya untuk bergabung,” ucap Willem yang saat ini sedang duduk serius di sofa panjangnya.


“Tetapi ayahnya, tetap memilih Gracehamberd, ketimbang memilih untuk tetap berada di Bellhaven,” tutur Brandon sambil memangku dagunya. Ia saat ini duduk di sofa panjang di seberang Willem.


“Namun sepertinya aku paham kenapa dia seperti itu,” kata Willem agak mengangguk. “Apakah ia seperti kalian yang sudah dijadikan sebagai kaki tangan oleh Nona Slatanis?” Lanjutnya bertanya seraya menatap Brandon dan juga Sasha yang saat ini berdiri di dekat pintu.


“Belum, Tuanku. Tapi tampaknya ia sudah mengenal Nona Slatanis sejak awal, sehingga ia memilih untuk tetap berada disini,” jelas Sasha. “Namun tetap, kita harus tetap siaga dengannya. Karena dia adalah seorang templar sebelumnya,” tambahnya dengan tatapan serius menatap keluar jendela.


“Benar, kita juga tidak ingin membiarkan pihak kuil juga mengetahui akan hal ini,” balas Willem. “Hmmm, ayahnya berada di pihak kerajaan, sedang putranya berada di pihak kuil.”


“Kita perlu menyingkirkannya, Ayah!” Ucap Roland tiba-tiba dan tegas.


“Siapa? Ayahnya?” Tanya Willem kembali.


“Keduanya … iya … keduanya, tampaknya mereka sama sekali tidak bisa dipercaya,” ucap Roland dengan tegas.


“Hei, bukankah kalian berdua adalah teman masa kecil?” Tanya Brandon mengangkat alis kanannya. Ia menatap ke arah Roland yang tampak tegang sambil terus mengepal kedua telapak tangannya.


Roland dan Willem saat ini sudah mengetahui tentang kekuatan Slatanis dan juga keterlibatan pihak Brandon yang saat ini menjadi kaki tangannya. Mereka berdua sudah diberitahu sejak Cael memberikan dekrit tersebut.


“Tenanglah, Tuan muda Roland, kami sebenarnya sudah mendiskusikan cara terbaik di belakang kalian,” ucap Sasha. “Kita jika bisa melakukan rencana ini, sebenarnya kita tidak perlu saling bunuh apalagi sampai berperang.”


“Benarkah?” Willem Menatap Sasha dengan tatapan penuh harap.


“Benar, Tuanku.” angguk Sasha.


“Baiklah, Jadi begini rencananya ….” Brandon pun mulai menjelaskan.


Sebelum kepulangan mereka ke Gracehamberd, para bangsawan yang hadir di pesta saat itu sebenarnya sudah banyak yang mendengar tentang rumor Sang Raja yang telah memberikan Dekrit kepada Duke Willem. Namun tak satupun dari para bangsawan yang hadir mengetahui Dekrit apa yang telah diberikan, dan alasan apa yang membuat Duke Willem diberikan sebuah Dekrit.


Bahkan beberapa justru mendengar rumor yang lebih merusak dari yang dikira, yakni dirumorkan bahwa Duke Bellwyne selama ini sedang merencanakan pemberontakan dan pada saat malam hari sempat mengirim seorang Assassin untuk membunuh keluarga kerajaan. Tetapi karena kesigapan tim elit, sang assassin pun berhasil dibunuh pada saat itu.


“Jadi, apakah itu perbuatan dari salah satu kaki tangan Waldengrace yang menyebarkan rumor tersebut?” Tanya Roland.


“Tampaknya iya,” jawab Brandon.


Rumor tersebut menyebar begitu cepat ke telinga para bangsawan yang hadir pada saat itu. Padahal, sehari sebelum kepulangan rombongan kerajaan, para bangsawan yang hadir juga sudah kembali semua ke wilayah mereka masing-masing. Begitu juga dengan Undeil Andrelion beserta rombongannya yang kembali bersama dengan rombongan duke Elhanan Winston kembali ke wilayah Efrana menuju dan berpisah di Alundris.


“Mereka begitu cepat menyebarkan rumor,” ucap Roland.


“Benar, karena salah satu dari tim elit mereka ada yang punya sihir untuk menyebarkan rumor. Entah bagaimana cara kerja mekanisnya, namun sihir tersebut memang ada. Saya pernah menyaksikannya,” jelas Sasha.


“Kemudian ….” dan Brandon pun mulai menjelaskan.


Kemudian karena saat itu Brandon dan beserta kelompoknya sudah membaca pergerakan pasukan elit sejak awal, mereka pun mulai membentuk rencana bersama untuk menanggulangi rencana mereka. Yakni dengan memanfaatkan pihak kuil dan duke Winston.


“Apa? Apakah anda sudah gila, paman?!” Bentak Roland sambil bangkit dari bangkunya untuk sesaat.


“Tenanglah … ahem, fuhhh, bikin terkejut saja,” ucap Brandon sambil berlagak membenarkan kerahnya.


“Kenapa kamu merencanakan hal segila itu, Brandon?” Tanya Willem menatap tajam dan serius Brandon.


“Glek, jadi … ahem … bisakah kalian mendengarkan dulu?” Tutur Brandon agak gugup menatap tatapan tajam Willem.


Brandon sudah tahu dan paham betul tentang hubungan keluarga besar mereka dengan keluarga besar Winston. Oleh karena itu untuk menunjukkan perbedaan dan perlawanan, Bellwyne memiliki sedikit kuil Elahirim di dalam wilayahnya. Keluarga Bellwyne bahkan melarang mereka untuk mendirikan kuil agung di kota-kota penting.


Dengan pengetahuan tersebut, Brandon pun meminta adik iparnya, Undeil untuk menawarkan pembangunan proyek kuil agung di wilayah Fishsyre yang selama ini hanya ada kuil sedang di sana ke Duke Elhanan Winston. Oleh sebab itu, Undeil diminta untuk pergi bersama duke Elhanan.


“Hmmmm, bukankah para bangsawan sudah mendengar rumor merusak itu?” Tanya Willem di tengah-tengah itu. “Sudah pasti ia tahu akan hal itu, bukan? Dan juga pastinya ia akan menolaknya karena sudah bisa menebak akan tujuan kita. Selain itu, kenapa kamu memintanya untuk membangun kuil agung?”


“Duke Elhanan Adalah penyihir, Wahai sepupuku. Tak hanya itu, ia bahkan dikatakan juga adalah seorang penyihir yang sangat kuat, bahkan lebih kuat dari kebanyakan Grand Cleric. Jadi, mantra rumor tidak akan tembus kepadanya,” jelas Brandon meyakinkan.

__ADS_1


“Bahkan Duchess Ashriel pun seorang penyihir yang sama kuatnya,” tambah Sasha.


“Apa? Sejak kapan? Kenapa kamu tidak bilang? Tsk, jangan bilang kapal kargo ku tenggelam gara-gara dirinya,” kata Willem yang langsung berpikiran negatif.


“Bukan, itu memang karena badai saja.” Brandon menanggapi dengan tatapan datar.


“Baiklah, mari lanjutkan, paman,” ucap Roland.


Brandon pun mulai lanjut menjelaskan.


Pembangunan Kuil agung hanyalah sebuah bentuk seremoni biasa untuk menandakan bahwa duke Bellwyne sebenarnya memiliki hubungan dekat dengan duke Winston. Setelah itu, setelah menawarkan proyek yang dimana pastinya akan diterima, karena duke Winston terkenal sangat saleh dan dekat dengan kongregasi Solem, Brandon pun berencana menyebarkan rumor di antara para bangsawan tentang kedekatan duke Bellwyne dengan duke Winston.


“Baiklah baiklah, sampai sini saya tidak dapat mengikuti arah rencana anda, Paman,” ucap Roland memotong. “Hubungannya apa dengan kita membangun kuil agung di fishsyre dengan kedekatan kita dengan para Winston?”


Brandon pun tersenyum miring, sementara Willem tampak menggelengkan kepalanya sambil menunduk. “Ini adalah serangan lembut, Roland. Kau pasti akan paham semakin kamu dewasa nantinya,” ucapnya.


Brandon berencana menggunakan Rumor tentang kedekatan kedua Duke untuk menahan manuver konspirasi politik dari Waldengrace. Karena ia dan para aristokrat lainnya pun sudah tahu betul tentang hubungan Waldengrace dan Winston. Yakni keduanya telah bergesekkan sejak lama tentang nilai-nilai keimanan dan keagamaan.


Selain itu, keluarga kerajaan juga dikenal sangat tidak suka dengan keberadaan otoritas-otoritas kuil yang dianggap sudah kurang ajar dan melangkahi banyak kepentingan kerajaan. Salah satunya adalah tentang penggunaan penyihir di dalam pasukan. Sementara itu, keluarga Winston adalah keluarga yang saleh dan taat. Mereka bahkan dikatakan bahwa mereka sebenarnya lebih tunduk kepada kongregasi Solem dibanding kepada dinasti Waldengrace yang dikenal fasik dan otoriter.


Oleh karena itu, dinasti Waldengrace selama beberapa dekade belakangan ini dengan gencar-gencarnya terus mengumpulkan para penyihir dan para kesatria kebal sihir untuk masuk ke dalam pasukan elitnya. Hal itu mereka lakukan demi menunjukkan dominasi lebih di hadapan kongregasi dan juga untuk membuat pasukan yang berguna untuk menghabisi kongregasi atau pihak kuil di masa depan.


Selain dari pengumpulan pasukan elit, diketahui pula bahwa pihak kerajaan sejak awal berdirinya dinasti Waldengrace telah menggunakan duke Bellwyne sebagai proksinya untuk menahan laju perkembangan pihak kuil dan kongregasi di dalam kerajaan Houlus. Sementara hubungan mereka dengan Winston terus memburuk, dan hubungan mereka dengan Waldenfrey terus menjauh.


“Jadi satu-satunya sekutu keluarga kerajaan saat ini adalah Bellwyne?” Tanya Roland sambil bersandar dan memegang pelipisnya.


“Benar,” jawab Brandon singkat.


“Lalu bagaimana dengan Waldengrace? Bukankah paduka Cael sudah menikahi Ratu Katherine? Seharusnya mereka aman-aman saja dong,” tutur Roland merasa kurang yakin.


“Di luar ya, tapi di dalam, mereka masih saling menodongkan belati,” tegas Brandon sekali lagi.


Bisa dikatakan kedua keluarga ini, Waldengrace dan Waldenfrey bisa saja berperang kapan saja, jika bukan karena tradisi mereka yang saling menikahkan antar anggota keluarga demi mempertahankan darah murni keluarga besar Walden.


“Benar juga,” gumam Roland. “Lalu apakah pernikahanku dengan Gisella merupakan tradisi keluarga besar Norwyne?”


“Tidak … tidak juga,” sangkal Willem. “Tapi itu adalah sebuah tugas kita sebagai bangsawan untuk tetap memurnikan darah keturunan kita, bahkan jika bisa para bangsawan rela menikahkan sedarah kedua anaknya.”


“Hahahah! Kau memang tahunya hanya berbisnis seperti ayahmu!” Brandon Tiba-tiba tertawa lepas sambil meledek Roland.


Willem pun kembali menatap tajam Brandon.


“Ahem … Jadi, dengan begitu, kita akan membuat keluarga kerajaan semakin terhimpit dan akhirnya mencabut dekrit tersebut,” ucap Brandon.


“Lalu jika gagal?” Tanya Roland sambil meluruskan pandangannya menatap Brandon.


“Ya … kita akan berperang dengan keluarga kerajaan. Dan tenang saja, kita pasti akan menang, karena Dewi— ahem, maksudnya Nona Slatanis adalah penyihir yang sangat kuat seperti-seperti Dewi perang dari legenda-legenda,” tutur Brandon dengan wajah bangganya.


Willem dan Roland pun hanya bisa saling menatap satu sama lain, sementara Brandon mengangkat dagunya dengan bangga.


“Seperti yang sudah anda tahu, ia bahkan bisa memanggil dua tipe makhluk yang sudah kami tunjukkan kepada anda, Tuanku,” tambah Sasha di sela-sela itu. “Jika anda masih kurang paham bagaimana kuatnya seorang penyihir jika ia bisa memanggil makhluk yang sangat kuat juga, maka akan saya umpamakan itu. Yakni, Nona Slatanis bagaikan—”


“Bagaikan Dewi perang Meredith dari legenda Vilgeva! Yang mana di legenda tersebut dikatakan bahwa … sang Dewi lah yang membelah daratan menjadi tiga benua, wahahahah!” Ucap Brandon dengan tawa semangatnya.


Willem dan Sasha pun hanya menepuk kening mereka, sementara Roland tampak ingin tertawa juga namun wajahnya sudah terlanjur terlihat canggung sehingga ia pun mengurungkan niatnya untuk ikut tertawa.


“Ahem … baiklah, aku mengerti ia benar-benar kuat, namun … bukankah itu sama saja dengan mengumumkan kepada dunia bahwa dia adalah seorang penyihir? Yang mana pihak kuil akan juga mengetahui hal itu,” tanya Willem.


“Hmmmm … jangan khawatir, karena sebenarnya sejak awal jika kita tidak berhasil dengan serangan lembut, maka pihak kuil dan juga Winston juga pasti akan membantu … tenang saja, dan jangan khawatir,” ucap Brandon berusaha menenangkan mereka tanpa memberikan penjelasan lebih.


“Karena pihak kuil sebenarnya sangat ingin sekali untuk keluarga duke Bellwyne menjadi umat El yang taat, entah kenapa,” jelas Sasha dengan tatapan malasnya sambil berpaling.


“Dan sebenarnya mereka selama ini telah menteorikan bahwa keberadaan 14 altar suci Marith berada di daerah sekitar di ketinggian gunung Belgovinn,” tambah Brandon.


“Belgovinn?” Tanya Willem.


“Benar, dan mereka selama ini berteori bahwa, ramalan tentang 14 altar suci yang akan muncul di gunung di belakang rumah seorang Pemimpin orang-orang Suci dan tentara Ilahi, akan muncul di gunung yang ada di belakang kediaman Bellwyne,” jawab Brandon. “Hal ini juga dihubungkan dengan keinginan mereka yang ingin sekali mengembalikan Bellwyne ke jalan Elahirim.”

__ADS_1


“Jadi menurut mereka gunung yang ada di belakang istana bellwyne adalah gunung belgovinn? Dan menganggap bahwa suatu saat di keturunan Bellwyne akan muncul seorang pemimpin yang akan memimpin orang-orang suci dan tentara ilahi?” Tanya Willem untuk lebih meyakinkan dirinya.


“Benar.” angguk Brandon.


**************************


Sementara itu di dalam pedalaman hutan Gloria.


“Jadi seperti itu?” Tanya Slatanis kepada Shade-nya.


“Benar, Nyonyaku,” jawab Shade.


“Hmmmm, boleh juga rencana mereka, dan semoga saja serangan lembut mereka bisa menyelesaikan masalah, sehingga aku bisa hidup dengan tenang di hutan ini bersama Olivia dan para Tentara dan juga pelayanku dengan lebih cepat,” ucap Slatanis sementara dirinya sudah bersandar sambil memangku kepala Olivia yang masih tidur.


Slatanis pun menoleh ke sekitarnya, dan melihat dua ranjang tempat Raphaela dan Lilith tidur yang berada di ruangan yang sama yang tampak sudah kosong.


“Aku bahkan tidak sadar kalau mereka sudah keluar, hanya karena aku terlalu sibuk mendengarkan Shade,” ucap Slatanis sambil menoleh ke jendela yang ada di belakang kepala ranjangnya. “Fuwaaaah, dan bahkan aku tidak sadar bahwa matahari sudah tinggi.”


“Ngggh … kakak?” Tanya Olivia pelan, sedang dirinya baru saja membuka mata.


“Bagaimana? Nyenyak tidurnya?” Tanya Slatanis sambil masih mengusap kepala Olivia.


“Huwaaaa!” Teriak Olivia terkejut sesaat melihat Slatanis yang saat ini memiliki tanduk seraya dirinya bangkit dan merangkak ke ujung kasur. “Ka-ka-kakak? Sejak kapan kamu memiliki tanduk?”


Slatanis pun tersenyum sambil melihat tingkah lucu Olivia yang masih menunjuk ke arah tanduknya. Kemudian, ia pun memasang kembali kalung penyamarannya untuk memperlihatkannya ke Olivia.


“Lihat, jadi selama ini aku tuh menutupi tandukku dengan sihir yang ada di kalung ini,” jelas Slatanis sambil tersenyum teduh.


“Wow keren, bolehkah aku mencobanya?” Tanya Olivia dengan tatapan terpukau.


“Hmmm, bisa sih,” jawab Slatanis sambil melepas kalung tersebut secara manual. Di kalung itu terdapat strap di bagian belakang. “Nih, jika kamu ingin mencobanya.” Slatanis pun memberikan kalung tersebut.


“Waahhhh … keren …,” ucap Olivia sembari terus terpaku pada kalung yang sudah ia pegang itu.


Olivia pun mulai memasang kalung tersebut, kemudian secara tiba-tiba rambut indahnya yang berwarna keemasan menghilang dan membuatnya menjadi botak plontos.


“Hah! Hahahahaha! Kok bisa begitu?! Hahahaha!” Tawa Slatanis secara spontan sesaat melihat kepala plontos Olivia.


“Ha~ kok jadi begini?” Keluh Olivia sambil memegang kepala plontosnya.


Duk duk duk!


Tiba-tiba Raphaela berlari masuk ke dalam, kemudian berlutut di hadapan Slatanis. “Baginda … eh? Pfffttt,” ucapnya sambil menahan tawa sesaat melihat kepala Olivia.


“Ada apa?” Tanya Slatanis sementara Olivia mulai melepas kembali kalung nya dengan ekspresi kecewa.


“Para Malaikat … mereka … mereka baru saja menemukan banyak sumber elemen suci di gunung,” ucap Raphaela..


“Oh syukurlah kalau begitu,” balas Slatanis dengan santainya.


“Tidak hanya itu, jumlahnya sangat banyak, wahai Baginda!” Tegas Raphaela.


“Berapa memangnya?” Tanya Slatanis kembali.


“Empat belas,” jawab Raphaela sambil menatap Slatanis.


“Oh, ya sudah, lebih baik kalian menjaganya,” ucap Slatanis sambil mengambil kembali kalungnya, kemudian mulai menapak kakinya ke lantai.


“Tak sampai disitu … selain dari kepekatan elemen suci dari 14 sumber yang sangat pekat, namun itu juga tidak memiliki batas, seakan itu memang memiliki selang penghubung dibawahnya,” jelas Raphaela kembali.


“Oke … lalu?” Slatanis Kembali bertanya, sementara ia berpikir bahwa sumber-sumber itu tidak berguna untuknya.


“Salah satu Powers menggali di sekitar untuk memastikan mereka menemukan sumber lain, namun mereka malah menemukan pori-pori Mana, Baginda,” tekan Raphaela.


“Hah?” Slatanis Menanggapi dengan ekspresi yang agak terkejut. “Hmmm, kalau begitu, pencarian kita dalam mencari Pori-pori Mana telah baru saja dimulai,” lanjutnya sambil tersenyum.


“Benar Baginda, Karena dengan begitu … maka kita akan bisa menggunakan fitur-fitur Farland lebih cepat daripada yang kita duga,” balas Raphaela yang juga ikut tersenyum.

__ADS_1


“Aku tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan …,” gumam Olivia pelan sambil memiringkan kepalanya dan sambil menatap Slatanis yang masih tersenyum lebar.


****************


__ADS_2