Three In One Transmigration

Three In One Transmigration
#37 - Dicken Dorton


__ADS_3

Beberapa saat sebelum penyerangan para monster.


“Akhirnya … akhirnya setelah tiga bulan aku mengembangkan kekuatanku … akhirnya aku bisa memiliki tentara monster sebanyak ini, kikikiki,” kekeh Sang monster yang paling besar.


“Kuil, Winston dan juga Desa ini! Lihat saja aku akan menghancurkan kalian dengan monster-monster ini!” Ucapnya kembali dengan amarah sambil mengingat-ingat masa lalunya.


Dia dulunya adalah seorang anak bangsawan bernama Dicken dari keluarga viscount Dorton, yakni salah satu dari keluarga cabang duke winston. Dia adalah seorang pria bangsawan muda yang memiliki Mana dan secara diam-diam mempelajari sihir tanpa sepengetahuan siapapun, bahkan dari kedua orang tua nya yang adalah Viscount Dorton.



Sejak umur 17 tahun atau lebih tepatnya sejak ia mendapatkan gelar kesatria dari duke Winston, ia sudah menyadari bahwa dia telah memiliki Mana di dalam jiwa nya. Hanya saja, karena dia tidak ingin hidup dan mengabdi di dalam kuil dengan waktu yang lama, dan tidak mau masuk ke dalam pasukan elit kerajaan yang mana keduanya mampu menanggalkan dirinya dari barisan pewaris tahta viscount Dorton, ia pun memilih untuk menyembunyikan keahliannya itu.


Selama bertahun-tahun ia pun mempelajari pola sihir dan melatih Mana nya. Namun suatu ketika, terdapat beberapa gejala pada Mana nya yang mengindikasikan dirinya telah mulai mengalami komplikasi jiwa akibat Mana yang tidak sinkron. Dari sejak saat itu, Mana nya pun sering keluar dan membuat dirinya mengalami sakit di jantung dan persendian tulang. Rambutnya juga mulai rontok, bersamaan dengan gusinya yang mulai menggelap serta giginya yang mulai menajam dan kusam.


Ia pun menyadari akan Mananya yang tercemar dan mutasi di tubuhnya itu, namun tetap ia memilih untuk menyembunyikan hal tersebut karena takut dirinya akan langsung dihukum mati oleh pihak kuil.


Sampai suatu ketika, Duke Winston pun mendatangi kastil keluarganya bersama dengan beberapa grand cleric untuk mengadakan pemberkatan dan pesta syukuran atas kelahiran anak kelima dari viscount Dorton, sekaligus untuk mengadakan acara penamaan pewaris Viscount Dorton berikutnya yang akan segera diputuskan oleh Duke Winston itu sendiri melalui beberapa tes. Atau begitulah seharusnya dipikiran Dicken.


Saat itu, Dicken telah menyembunyikan dirinya selama lebih dari dua minggu di dalam kamar dan enggan untuk keluar. Tetapi ayahnya terus memaksanya untuk keluar, sampai akhirnya seorang grand cleric sendiri lah yang secara sukarela turun tangan untuk membujuk Dicken untuk keluar.


Dicken pun sadar dengan suara yang masuk ke dalam kamarnya itu. Itu adalah suara yang tidak ia kenal, namun terdengar berotoritas seperti ayahnya.


Dicken pun yang tidak tahu siapa yang ada di luar akhirnya memutuskan keluar dengan memakai jubah untuk menutupi kepala dan wajahnya dengan terus berjalan menunduk. Kemudian sesaat Dicken membuka pintu, tiba-tiba sang Grand Cleric pun menyentuh dadanya dan langsung mengeluarkan sihir dari telapak tangannya sampai membuat Dicken jatuh terkapar.

__ADS_1


whooooz! Gubrak!


“Kita telah mengawasimu, Dicken … sejak hari koronasi mu,” ucap sang Grand Cleric waktu itu.


Dicken pun merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar, sementara penampakannya telah terekspos karena tudung jubah nya yang turun.


“Orang Tuamu juga sudah tahu akan hal itu … dan mereka semua sudah menerima semua konsekuensi apa yang akan kamu terima,” ucap sang Grand Cleric.


Lalu sang grand cleric pun mengeluarkan sihir kembali yang berupa tali transparan berwarna biru untuk langsung mengikat Dicken. Dicken yang terikat pun langsung tidak bergerak sama sekali bahkan sihir yang sudah ia pelajari sama sekali tidak bisa digunakan saat itu, sementara sang Grand Cleric langsung menarik kembali talinya sampai Dicken tertarik keluar dari kamarnya.


Dicken pun diseret oleh sang Grand Cleric melewati lorong kastil, menuruni tangga, keluar dari ruangan yang terpisah kemudian masuk ke dalam aula tamu tempat duke Elhanan Winston duduk dengan berwibawanya.


“Dicken, kau enggan menyerahkan diri ke kuil, sementara itu adalah pilihan terbaikmu. Kenapa kamu melakukan itu?” Tanya Elhanan.


“Baiklah, karena keputusan mu itu kami akan menghukummu. Tetapi, karena kamu tidak memutuskan untuk menjadi pasukan elit, maka kami pun telah memutuskan hukuman apa yang pantas untukmu.”


Dicken pun hanya terdiam sambil menatap benci para Grand Cleric dan juga duke Elhanan yang ada di depannya.


Tiba-tiba, pandangannya pun gelap seraya seorang Grand Cleric mengarahkan sihir kepadanya. Kemudian ia pun terbangun di dalam sebuah hutan yang tidak ia kenal, dan mulai hidup di sana. Untuk beberapa waktu, ia pun terus mencari cara untuk keluar dari hutan, dan sesaat ia keluar dari hutan dan menemukan sebuah desa, desa itu menolaknya dengan sangat keras karena wujudnya yang sudah sangat menyeramkan.


Ia pun jatuh ke dalam jurang kesedihan dan keputusasaan.


Di tengah keputusasaan itu, ia pun mulai menyebarkan Mana nya yang sudah tercemar itu ke hewan-hewan yang ada di hutan dan secara bersamaan mengubah mereka menjadi monster yang sama sepertinya. Ia yang pada awalnya menggunakan monster-monster itu sebagai teman, akhirnya mulai mengubahnya menjadi tentara monster.

__ADS_1


Saat ini.


“Namun sebelum itu, demi melancarkan aksi ini, aku sudah mengimprovisasi sihir ultimet ku ini untuk kalian, wahai penduduk desa yang keji …. Kikikiki,” kekeh nya dan langsung mengangkat kedua tangannya, dan kabut pun mulai terbentuk.


Beberapa saat kemudian, kabut pun sudah memenuhi areanya dan 500 meter di depannya.


“Hahahaha! Lihatlah! Lihatlah! Hahahah! Saksikanlah wahai penduduk desa, hari ini aku akan—” tawanya dengan histeris namun tertahan sesaat kabutnya yang ada di hadapannya tiba-tiba menghilang.


“Ba-ba-bagaimana bisa?” Ucapnya kebingungan. “Aku padahal sudah melakukan banyak ritual dan pengorbanan jiwa untuk membuat kabut sebesar ini, tapi … bagaimana? Bagaimana bisa kabut tebal dan seluas ini bisa hilang seketika?!”


Bum! Bum! Jeger! Duaar! Hah hihi dar!!! 🎆🎇🎆


Tiba-tiba suara ledakan terus terdengar, sementara kilatan demi kilatan, bakaran demi bakaran, ledakan demi ledakan, dan sapuhan demi sapuhan terlihat di depannya. Monster-monster yang sudah ia kumpulkan sejak lama, kini terlihat seperti bulu-bulu yang beterbangan di depannya. Itu adalah penampakan yang belum pernah ia lihat, dan suara yang belum pernah ia dengar kecuali dari suara sambaran guntur.


“Siapa … siapa dia? Bukankah aku sudah menghentikan mereka untuk mengakses dunia luar?” Gumam Dicken menatap ke arah wanita penyihir yang terbang tak jauh dari jangkauan cakrawalanya.


Lalu karena sadar bahwa dirinya tidak akan mampu melawannya, ia pun langsung berbalik badan dan mulai berlari secepat-cepatnya menuju Hutan yang jaraknya satu hari perjalanan itu jika berjalan layaknya manusia normal selama 10 sampai 12 jam per harinya.


Dicken adalah monster yang mampu berlari selama seharian. Maka oleh karena itu, ia bisa sampai kurang dari setengah hari dari hutan gloria menuju ujung barat desa Neverhive.


**********


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2