
Sekembalinya ia di dalam aula tamu, Slatanis pun kembali berdiri di sisi Aula sambil meminum segelas wine yang tersedia di setiap meja prasmanan.
‘Mereka hanya berkumpul dan berbicara sambil berdiri, sementara tempat duduk sudah terisi semua. Hahhh, untung saja ini bukan tubuhku yang dulu, kalau saja ini tubuh yang dulu, aku lebih memilih untuk kembali ke kamar lalu berbaring malas-malasan,’ pikir Slatanis sambil menatap kosong ke para tamu yang sedang berinteraksi satu sama lain.
Slatanis melirik ke segala kerumunan yang ada, dan ia tidak menemukan Roland di sana.
“Dimana Roland?” Gumam Slatanis.
Slatanis pun hanya berdiri disana seraya terus mengganti gelas wine nya berkali-kali, sementara dirinya tidak bisa merasakan rasa mabuk. Makanan ringan yang tersedia juga terus ia makan, seakan tidak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan.
Tiba-tiba salah seorang pria bangsawan di antara kerumunan bangsawan muda pun berjalan menghampiri Slatanis seakan mereka sedang bertaruh untuk mendapatkan Slatanis. Dengan gaya yang dibuat berwibawa, seraya terus merapikan kerah, pria muda berambut coklat itu pun berjalan menghampiri Slatanis.
Slatanis tidak melihat pria itu sedang dirinya sibuk memakan cemilan yang tersedia.
“Nona,” Ucap Pria muda itu sementara berdiri di depan Slatanis yang tidak menyadari keberadaannya. “Kita sudah berkenalan sebelumnya, hmmm, bolehkah saya berdansa dengan anda?”
Slatanis pun melirikan matanya, dan melihat wajah yang dirasa ia kenal.
“Tuan Muda Thomas?” Ucap Slatanis agak memiringkan kepalanya.
“Fuhhh~ saya sempat ragu bahwa anda telah lupa dengan saya,” ucap Thomas sambil agak menggaruk tengkuknya. Ia terlihat gugup dan ragu.
Slatanis pun hanya terdiam sambil melihat tingkahnya.
‘Aku padahal sedang menunggu Roland untuk berdansa, tapi malah orang ini yang datang,’ pikir Slatanis sambil menatap Thomas.
“Ahem, bolehkah saya … berdansa dengan anda, Nona?” Ucap Thomas Sekali lagi sambil mulai membungkukkan badannya, lalu mengulurkan tangan kanannya.
‘Ya~ apa boleh buat, aku sudah terlanjur berlatih dengan susah payah juga, jadi … ya,’ pikir Slatanis dan mulai mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
“Tentu, Tuan muda Thomas,” ucap Slatanis melemparkan senyuman manisnya.
Thomas pun menggapai tangan Slatanis dengan lembut. “Mari Nona Slatanis,” ucapnya sambil mulai menuntun Slatanis ke tengah area dansa.
Sesaat berada di tengah, Thomas pun hanya berdiri tidak ikut bergerak sama sekali sambil terus memegang tangan dan lingkar pinggang Slatanis .
“Mari kita tunggu sampai lagu ini selesai, kemudian kita akan mulai di lagu berikutnya,” ucap Thomas.
Musik bernada bahagia pun berhenti. Lalu terlihat dari aba-aba sang Konduktor mengayunkan baton nya dengan ketukan irama yang pelan. Setelah itu terlihatlah sang pianis mengangguk, dan mulai masuk ke kunci minor.
“Oh, lagu ini,” ucap Thomas. Kemudian, ia pun menoleh ke arah Slatanis dan menatapnya dengan dalam.
Dengan ketukan irama yang pelan, Thomas pun mulai menarik lingkar pinggang Slatanis lebih dekat. Lalu secara otomatis, setelah Slatanis melihat pasangan dansa lain melakukan hal yang sama, Slatanis pun melakukannya juga dengan menempelkan pipinya di dada Thomas.
‘Wow, apakah ini lagu romantis?’ Pikir Slatanis dan mulai bergerak di lagu yang melow.
Keduanya pun mulai berdansa dengan area langkah yang tidak luas. Nyatanya mereka hampir tidak kemana-mana, dan hanya berdansa mengikuti irama di tempat yang sama.
Thomas pun menaruh wajahnya di samping pelipis Slatanis, dan mulai bernafas di sana.
‘Wow, oke,’ pikir Slatanis dan secara spontan ia langsung melepaskan dekapan pipinya di dada Thomas. Sehingga dengan begitu, tanpa sengaja mereka pun jadi saling tatap dengan jarak yang begitu dekat.
__ADS_1
Thomas terlihat tersipu, namun ia mampu menahannya. Ia bahkan terlihat lebih dewasa dan lembut. Kemudian dengan senyuman tipisnya, ia pun terus menatap bola mata Slatanis dengan begitu percaya diri sambil terus mengikuti ritme lagu.
“Apakah anda sudah terbiasa dengan lagu ini, Tuan muda?” Tanya Slatanis.
“Panggil saya, Thomas … ya, cukup panggil saya Thomas,” ucap Thomas dengan penuh percaya diri.
“Baiklah Thomas,” ucap Slatanis mengangguk pelan. "Apakah kamu sudah terbiasa dengan lagu ini?"
"Tidak ..., bahkan bisa dikatakan ini adalah pertama kalinya buatku," ucap Thomas sambil terus menatap mata Slatanis seraya berdansa.
‘Halah, dasar ... pertama kali apanya?!’ pikir Slatanis.
Mereka pun terus melanjutkan gerakan dansa mereka yang minimalis itu, sementara pipi mereka akhirnya saling menempel karena terbawa suasana dengan lagu yang begitu melow.
Sampai akhirnya, lagu pun selesai.
Keduanya pun mundur, lalu saling membungkuk.
Sesaat musik berhenti, tampak dan terdengar para tamu yang hanya berdiri dan menonton pun terpukau melihat Slatanis dan Thomas yang berdansa dengan begitu harmonis.
“Apakah mereka berdua sepasang kekasih?”
“Benarkah? Tunggu, bukankah itu Tuan muda Thomas?”
"Heh~? benarkah~? Lalu, siapa wanita berdada besar itu?"
"Dia adalah investor duke, aku mendengarnya dari ayahku."
"Iya!"
Para wanita muda bangsawan mulai berbisik satu sama lain, dan mulai menggosip.
Slatanis pun hanya berdiri di tengah sambil melirik ke arah para wanita muda bangsawan itu sedang ia bisa mendengar mereka dengan begitu jelas. Kemudian ia pun beranjak seakan tak menghiraukan hal tersebut. Setelah itu, ketika ia sedang berjalan menuju pinggir aula, ia melihat Roland bersama dengan Brandon berdiri di tempat biasa ia berdiri.
“Roland?” Gumam Slatanis, dan mulai berjalan lebih cepat.
Sesampainya di tempat itu, Slatanis pun berdiri di depan Roland.
“Sungguh performa dansa yang menakjubkan,” ucap Roland dengan tulus, dan tampak tidak terlihat menyindir sama sekali.
‘Hmmm, apakah dia tidak cemburu setelah melihatku berdansa dengan pria lain?’ Pikir Slatanis menatap Roland dengan ekspresi bingungnya.
“Sungguh? Terimakasih atas pujiannya loh,” ucap Slatanis tersenyum.
“Oh iya, Paduka Raja dan keluarganya sudah beristirahat di ruangannya saat ini, dan sebentar lagi pesta akan selesai setelah acara makan-makan,” ucap Roland.
“Jadi Raja dan keluarganya tidak hadir dalam acara penutupan?” Tanya Slatanis.
“Tidak … mereka tetap akan hadir, hanya saja mereka tidak ikut berpesta,” ucap Roland.
“Oh iya, silahkan diminum dulu, Nona Slatanis,” ucap brandon tiba-tiba memberikan segelas wine.
__ADS_1
“Oh, terima kasih,” ucap Slatanis tersenyum sambil meraih gelas tersebut.
Sesaat Slatanis menyentuh gelas tersebut, ia dapat merasakan Mana nya seakan mengalir seperti sebuah aliran listrik yang bertemu dengan bahan konduktor.
‘Pola sihir?’ Pikir Slatanis sambil menatap gelas itu. ‘Dan entah bagaimana, aku bisa langsung mengetahui maksud dan cara kerja dari pola sihir ini secara detail.’
Slatanis pun menggoyang-goyangkan winenya seakan mengaduknya. Kemudian ia melirik ke arah Brandon yang hanya menatap dirinya dengan ekspresi pokernya.
‘Luar biasa, dia begitu tenang,’ pikir Slatanis. ‘Haruskah aku mengerjainya? Hehehe, ini pasti akan sangat seru.’
Slatanis pun mulai minum wine tersebut, secara perlahan dan sampai habis.
Setelah habis, Slatanis pun langsung tiba-tiba terdiam dan menatap kosong ke arah Roland.
“Slatanis? Ada apa?” Tanya Roland.
Slatanis tidak menjawab.
Brandon yang berpikir alat sihirnya telah ampuh dalam mengontrol Slatanis pun mulai tersenyum dengan lebar.
“Ah, Tuan Muda Roland, sepertinya nona Slatanis sedang tidak enak badan,” ucap Brandon. “Serahkan saja kepada pelayan untuk membawanya ke kamarnya nanti.”
“Hmm, ya, tentu,” ucap Roland menatap bingung Slatanis yang masih terdiam dan menatap ke dalam kekosongan. “Kalau begitu, saya akan memanggil—”
“Tidak perlu tuan muda, biarkan saya saja yang memanggil mereka,” ucap Brandon. “Anda pergi saja duluan ke ruangan duke Willem.”
“Fuhh, baiklah, padahal saya ingin mengajaknya ke dalam ruangan ayah untuk membicarakan beberapa hal,” ucap Roland tampak kecewa. Kemudian ia pun beranjak dari tempat itu dan hanya meninggalkan Slatanis dan Brandon.
Beberapa saat kemudian setelah Roland sudah tidak tampak lagi, Brandon pun mulai mendekat ke Slatanis.
“Hmmm, ini sungguh mudah, kekekeke,” kekeh Brandon sambil mengusap dagunya dan menatap Slatanis yang masih terdiam seperti robot yang sedang menunggu perintah.
“Pegang tanganku,” ucap Brandon, dan sontak Slatanis pun menggenggam tangannya.
“Hehehe,” tawa Brandon merasa puas akan hasil kerjanya. “Ngomong-ngomong, dimana mereka berdua?” Lanjutnya bertanya-tanya sambil menoleh ke sekitar.
“Apakah kamu tahu dimana Dorian dan Undeil?” Tanya Brandon.
“Oh, mereka telah kembali ke wisma tamu mereka,” ucap Slatanis dengan ekspresi datar.
“Hmmm sepertinya tawaran mereka telah kau tolak,” ucap Brandon. “Mari ikuti aku,” lanjutnya sambil mulai berjalan di depan.
Mereka berdua pun berjalan dengan Brandon yang berjalan di depan Slatanis sambil terus menuntun dirinya.
“Mari kita menuju ke kamarmu,” ucap Brandon agak menoleh sambil terus berjalan lebih cepat.
"Baik Tuan," ucap Slatanis menatap kosong.
************************
Bersambung ….
__ADS_1