Three In One Transmigration

Three In One Transmigration
#41 - Ladies Time


__ADS_3

Olivia pun mulai menceritakan segalanya, dan itu dimulai dari masa lalunya.


Dia adalah adik tiri dari Samuel, dengan hanya berbeda ibu. Ibu Samuel adalah seorang rakyat biasa, sementara ibu Olivia adalah seorang budak dari Eclea. Keduanya, Ibu Samuel dan Olivia meninggal saat melahirkan anak mereka, yang membuat keduanya pun diurus oleh dua orang pengurus yang berbeda. Samuel disusui dan diasuh oleh seorang pembantu di rumah Norton sebelum akhirnya diurus oleh ayahnya sendiri demi mengajarkannya tentang kepemimpinan, sementara Olivia disusui dan diasuh oleh seorang wanita saleh yang tinggal di salah satu dusun petani di Neverhive sampai berumur 15 tahun.


Saat kepulangannya ke rumahnya di pusat Neverhive, Olivia yang berumur 15 tahun pun bertemu untuk pertama kalinya dengan kakandanya, Samuel yang saat itu sudah berumur 17 tahun. Olivia yang saat itu sudah diberitahu sebelumnya bahwa yang ia temui adalah kakanda-nya, tak menyangka ia malah jatuh hati kepadanya. Seorang wanita belia yang belum tahu apa-apa tentang percintaan, mengalami rasa tersebut saat pertama kali bertemu dengan kakandanya.


Setahun pun berlalu dengan keduanya tumbuh menjadi kakak adik pada umumnya, sedangkan Olivia terus memendam rasa tersebut. Dengan rencana pernikahan yang sudah mulai didiskusikan, Olivia pun mulai merasa takut untuk kehilangan Samuel.


Sampai akhirnya, berbulan-bulan setelah diskusi tersebut, Olivia pun menyatakan perasaannya terhadap Samuel. Sedangkan Samuel yang masih lugu pada saat itu, meskipun umurnya sudah hampir 19 pun hanya mengatakan "iya" kepada Olivia dan berjanji untuk tidak akan meninggalkannya.


Kemudian sampailah Samuel di umurnya yang ke 19, yang dimana saat itu ia sudah sering mendengar dan belajar tentang kedewasaan dari para penduduk desa.


Saat itu, Samuel yang juga sudah menjadi pujaan para wanita muda pun memilih untuk tidak menghiraukan mereka, sementara ia terus bertanya banyak hal tentang bagaimana caranya membalas cinta. Begitu juga dengan Olivia yang sama cantiknya dan juga melakukan hal yang sama.


Di saat masa-masa pengertian dan masa-masa romantis yang sedang berbunga-bunga itu, sayangnya tak satupun dari mereka yang bertanya tentang hubungan sedarah. Sampai akhirnya, di sebuah gudang yang berada di salah satu dusun, mereka pun melakukannya, melakukan hal yang sangat tabu dan terlarang.


Untuk satu tahun berikutnya, mereka pun terus menjalin hubungan tersebut tanpa sepengetahuan siapapun. Sampai akhirnya, mandat pernikahan pun dibahas kembali. Samuel pun akhirnya dijodohkan dengan Amy sementara Olivia dijodohkan dengan seorang pria muda dari desa lain, sebelum akhirnya pria muda itu mati tanpa sebab yang jelas.


Setelah itu, karena kehilangan kandidat suami, Aaron tiba-tiba memutuskan bahwa Olivia akan menikahi seorang bangsawan duda, yakni Owain.


Pada awalnya mereka berdua yang mendengar mandat itu pun memutuskan untuk membuat rencana pergi dari desa dan hidup bersama di dalam persembunyian. Namun … Olivia yang menyarankan hal tersebut pun sampai tidak mengira bahwa sarannya itu akan ditolak oleh Samuel dengan cara yang paling pengecut.


Yakni, ketika keduanya sudah bersiap-siap untuk pergi, di tengah malam pada saat itu yang mana mereka juga sudah berjanji untuk bertemu di pinggir desa, tiba-tiba saja Samuel justru malah datang bersama dengan Aaron dan juga Owain di malam itu.


Kecewa, marah dan takut, Olivia pun hanya bisa berteriak dan menangis sambil diseret oleh para penjaga untuk kembali ke rumahnya. Sedangkan di hadapannya adalah Samuel yang hanya bisa tertunduk ketakutan di depan ayahnya dan Owain.


Paginya, Olivia pun dinikahkan oleh Owain dan langsung dibawa ke kastil Renesphere, sementara Samuel dinikahkan beberapa bulan setelahnya dengan Amy.


Meskipun begitu, selama hampir setahun, Olivia masih terus menunggu Samuel di dalam kamarnya yang gelap di dalam kastil tua Count Renesphere. Ia hanya bisa berharap sambil terus kembali menangisi Samuel. Hanya satu yang dia harapkan saat itu, ia hanya berharap untuk Samuel dengan gagahnya datang menjemput dirinya di dalam kastil tua itu.


Setelah mendengar cerita itu, Slatanis pun hanya bisa terdiam untuk sesaat.


‘Jika ini aku yang dulu ... mungkin aku sudah mewek,’ pikir Slatanis sambil terus memeluk dan mengusap bahu Olivia.


“Jika saja ada kesempatan kedua untuk anda bisa bersamanya, apakah anda rela melakukan apapun demi itu?” Tanya Slatanis.


“Bahkan jika El yang turun ke dunia ini untuk membangkitkan Samuel, aku akan lebih memilih untuk mati dengannya dan hidup di surga bersamanya,” jawab Olivia dengan suara yang sudah normal tanpa adanya tanda-tanda habis menangis. “Dunia ini sungguh bermasalah, aku tidak mau hidup di dalamnya meskipun aku memiliki orang yang paling aku sayangi di sisiku.”


“Ah, saya paham maksud anda,” ucap Slatanis. “Kalau begitu, adakah hal lain yang ingin anda lakukan? Jangan bilang, anda tetap ingin lari dari dunia ini dengan cara mati.”


“Hm, memang begitu yang ingin aku lakukan pada awalnya,” ucap Olivia. “Namun setelah bercerita tentang semuanya kepada kamu, entah kenapa aku menjadi sangat lega dan jadi merasa ingin terus tetap melanjutkan hidupku,” tambahnya dan berdiri sambil membuang pisau yang berada di sabuk pengikat pinggangnya.


Olivia pun menoleh ke arah Slatanis sambil tersenyum lalu berkata, “Jika saja dia bisa mati dengan cara pahlawan, maka aku harus bisa melanjutkan hidupku yang tak seberapa ini.”


Sebaris kalimat yang diucapkan Olivia memang terdengar ringan, namun tatapannya saat mengatakan itu benar-benar kosong sementara ia tersenyum di bawah sinar rembulan. Rambutnya yang berwarna keemasan benar-benar memberikan kesan anggun sekaligus melankolis. Mata sayunya sesaat tatapan kosongnya mereda, juga memberikan tatapan yang lemah seakan memohon untuk pertolongan.


Slatanis yang masih terduduk pun menatap Olivia dengan penuh perhatian.

__ADS_1


‘Aku tidak begitu merasakan bagaimana perasaannya, namun aku tahu rasanya ditinggal pergi oleh kedua orang tuaku, dan juga diselingkuhi oleh orang yang aku sayangi saat itu,’ pikir Slatanis dan mulai berdiri. ‘Satu hal yang aku tahu pasti dengan hanya melihat senyumannya ialah, bahwa dia sebenarnya sudah sangat hancur sampai di titik dimana ia hanya bisa memasrahkan semuanya … semua yang akan dia hadapi di depan.’


“Lalu bagaimana dengan kakimu? Kamu belum menceritakan tentang kakimu,” ucap Slatanis sambil memandang punggung Olivia yang sudah mulai menjauh.


'Siapapun yang melakukan itu kepadanya ...' pikir Slatanis dengan tatapan menajam.


“Hmmm, tidak ... Tidak apa-apa,” ucap Olivia tanpa menoleh, sementara dirinya mulai berjalan menjauh. "Ini hanya bagian kecil dari jalan hidupku yang berliku."


“Samuel melakukan itu karena ia punya rasa bersalah denganmu, sedangkan kamu tidak … jadi … setidaknya, janganlah mengikuti jejaknya dengan "mati sebagai pemberani" jika itu yang kamu maksud,” ucap Slatanis kepada Olivia yang semakin menjauh. “Kamu sudah cukup melakukan semuanya … dan itu sangat berat bagimu, bukan?”


Olivia tidak menjawab dan terus berjalan.


Slatanis terjeda dan hanya bisa menatap punggung Olivia. Namun tak lama, ia pun mulai terbang dan meluncur ke belakang Olivia.


“Aku adalah wanita, begitu juga kamu. Aku mengerti perasaanmu, karena aku pernah berada di posisimu. Setidaknya, jika kamu membutuhkan sesuatu, mintalah!” tambahnya sambil mulai memeluk Olivia dari belakang.


Olivia tidak menjawab, dan justru malah kembali menangis.


“Aku ingin lari ... hiks hiks ... tapi kemana?” ucapnya sesenggukkan. "Kenapa ... kenapa tak satupun dari mereka ada yang menolongku? ... hiks hiks hiks ... di ... di malam itu, bahkan Samuel ... hiks hiks hiks ... sementara aku hanya bisa menangis dan berteriak untuk meminta tolong agar tidak dinikahkan olehnya."


"Huss huss huss, sekarang janganlah khawatir ... ada aku disini," ucap Slatanis berusaha menenangkan Olivia.


'Aku tidak bisa membiarkan ini! siapapun yang melakukan hal sekeji ini kepadanya, aku harus menghancurkannya!' pikir Slatanis menatap tajam.


"Aku hanya ingin lari dari tempat ini! hiks hiks hiks," Olivia pun terus sesenggukan.


Slatanis terus memeluknya, meskipun kini mereka sudah berada di permukaan. Ia terus memeluknya sambil duduk berdua dan menunggu tetesan terakhir berhenti dari mata Olivia.


“Kakiku ... jika kamu bertanya tentang kakiku,” ucap Olivia. “Owain lah yang merantaiku karena aku dulu sering berusaha untuk kabur.”


“Baiklah, kalau begitu, apakah kamu menginginkanku untuk membunuh pria itu?” Tanya Slatanis dan mulai berdiri seketika.


Olivia pun mengangkat kepalanya dan menatap Slatanis dengan mata yang masih berlinang, kemudian menggelengkan kepalanya.


“Tidak … aku lah yang salah, karena hal tersebut tidak seharusnya aku lakukan … apalagi setelah ia mengetahui bahwa aku sudah tidak—” ucap Olivia tertahan dengan jari Slatanis yang menahan bibirnya.


“Stop! Jangan dilanjutkan,” ucap Slatanis. "Baiklah jika kamu tidak ingin ia mati, maka apakah kamu ingin lari bersamaku? aku bisa menawarkanmu perlindungan ... dan ... kebahagiaan."


Olivia pun menatap Slatanis seakan timbul banyak pertanyaan di kepalanya saat mendengar kata "kebahagiaan" keluar dari mulutnya. Namun perlahan, ia tersenyum sesaat Slatanis menatapnya dengan tatapan sungguh-sungguh.


“Ingat! ini adalah tubuh kamu … kamu berhak melakukan apa saja pada tubuh kamu, dan jangan pedulikan apa kata orang tentang kondisi omong kosong itu! Lakukan apapun ... asalkan itu tidak merugikan tubuhmu … seperti menjadi gendut dan terkena penyakit jantung," ucap Slatanis dengan membara-bara dengan tatapan yang masih sungguh-sungguh.


“Hah? Hahahah, menjadi gendut dan terkena penyakit jantung? hahahaha lucu sekali,” Olivia pun tiba-tiba tertawa lepas untuk pertama kalinya sejak ia menikah dengan Owain.


Slatanis pun mulai ikut tertawa mengikuti suasana.


“Hahahaha, tapi benarkan? Kalau kamu gendut kamu akan sulit jalan dan akhirnya malah akan menyusahkan orang lain,” ucap Slatanis ikut tertawa bersamanya.

__ADS_1


“Benar hahahaha benar sekali,” balas Olivia dengan tawa lepasnya.


“Hahahah, oke … bagaimana kalau begini,” ucap Slatanis dan mulai berlutut di hadapannya. “Maukah kamu menjadi adik angkatku, wahai Nyonya?” Lanjutnya sambil mengulurkan tangan.


'Aku adalah anak tunggal, sehingga aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang saudara kandung. Jadi mungkin dengan begini, aku bisa merasakannya. Well, walaupun permintaanku tampak sangat egois dan ... menggelikan. Tapi setidaknya secara bersamaan aku juga bisa menyelamatkannya dengan menjauhinya dari pria itu,' pikir Slatanis.


“Hahahaha, tentu tentu,” ucap Olivia menggapai tangan Slatanis. “Hahahaha kalau begitu, aku akan memanggilmu sebagai kakak mulai sekarang, apakah itu adil?”


'Tidak buruk juga,' pikir Slatanis.


“Tentu wahai adikku yang cantik hahahah,” ucap Salatanis dengan tawa lepasnya sambil mencubit kedua pipi Olivia.


Setelah itu, mereka pun terus bercanda dan tertawa. Sampai beberapa menit kemudian, di saat seluruh topik pembicaraan mereka mulai memudar dan malah mulai bernostalgia lagi, Slatanis pun mulai mengalihkan topik.


“Jadi … karena kita secara tidak formal sudah menjadi kakak adik, apakah kamu ingin tinggal di rumahku dan berbagi kebahagiaan denganku? Jika mau, maka dengan begitu ... kamu secara sah telah menjadi adikku,” Tanya Slatanis sambil berjalan sambil bergandengan.


'Semoga dia mau tinggal di dalam HQ yg sudah aku rencanakan di Gloria nanti,' pikir Slatanis sementara itu.


“Hmmmm, jadi pada akhirnya … apakah kamu ingin menyarankanku untuk lari bersamamu?” Tanya Olivia dengan senyuman candanya.


“Tentu, karena kamu adalah adikku dan aku bisa menjagamu di sana. Selain itu, apakah kamu lupa bahwa aku bisa terbang dan membawamu ke tempat yang tidak diketahui oleh orang-orang? Hm? Meskipun pada akhirnya mereka tahu dan tetap bersikeras untuk mendapatkanmu kembali, aku pasti akan menghancurkan mereka seperti monster-monster itu!” Ucap Slatanis dengan bangganya sambil menunjukkan ototnya.


“Hehehehe, benar benar … aku hampir lupa bahwa kamu adalah seorang penyihir,” tawa Olivia sambil menutup mulutnya dengan begitu manis.


Mereka pun terus berjalan dan sampailah mereka di depan rumah kepala desa.


Keduanya pun berdiri di depan rumah kepala desa dengan Olivia yang mendongak ke atas seakan memperhatikan plakat yang terpasang di atas pintu yang besar itu.


“Jika kamu masuk ke dalam rumah itu, aku tidak akan menawarkannya lagi,” ucap Slatanis yang berdiri tak jauh di belakangnya.


Olivia pun terus menatap plakat tersebut yang terdapat tulisan nama keluarganya, Norton.


Dengan menghela nafas yang panjang, Olivia pun berbalik menghadap Slatanis.


“Kalau begitu, aku akan memilih kakakku!” Ucapnya sambil tersenyum lebar dan berlari ke arah Slatanis.


Slatanis pun menerima pelukannya dengan lebar.


“Kalau begitu, berpeganglah wahai adikku. Karena kita akan lari dari orang-orang itu dan membuat istana kita sendiri!” Ucap Slatanis dengan penuh semangat.


“Siap Kakak!” Balas Olivia sama bersemangatnya.


Mereka berdua pun melesat ke dalam langit malam.


**************


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2