
Malam hari sebelum Slatanis pergi, dan Slatanis baru saja selesai menulis surat perpisahan dan menaruhnya di meja. Secara bersamaan, para prajurit dan kesatria saat ini sedang berkemah di luar kompleks Istana sambil bernyanyi-nyanyi di depan api unggun, sementara beberapa sedang jaga malam membantu para kesatria dari Istana Bellwyne.
Saat ini Rodrik sedang duduk di depan api unggun yang ia buat sendiri dan terpisah dari yang lain.
“Sir Rodrik,” ucap salah satu kesatria ordo pengawal kerajaan sekaligus seorang instruktur di pasukan Elit kerajaan dari belakang. Ia adalah Greg, seorang kesatria veteran dengan rambut hitam beruban.
“Sir Greg?” Tanya Rodrik tanpa menoleh.
“Bolehkah saya duduk di sebelah anda?” Tanya Greg.
“Tentu, Sir Greg,” ucap Rodrik dan Greg pun duduk di sebelahnya.
“Kenapa anda tidak bergabung dengan yang lain?” Tanya Greg membuka pembicaraan.
“Entahlah, saya hanya sedang memikirkan seseorang dan membutuhkan tempat yang sepi,” ucap Rodrik.
“Seseorang ini … apakah dia seorang wanita?” Tanya Greg sambil melempar sebuah ranting ke dalam api unggun. “Apakah telah terjadi sesuatu dengan dia? atau … ataukah telah terjadi sesuatu di antara kalian?”
Rodrik menoleh ke arah Greg, kemudian kembali melamun dan menatap api unggun.
“Hahhh~ ini sangat rumit,” ucap Greg menghela nafas. “Saya pertama kali bertemu dengannya saat aku masih berada di dalam kesatria ordo templar.”
“Priestess? Arch priestess?” Tanya Greg menebak-nebak.
“Bukan … nyatanya dia adalah satu dari yang— ah,” ucap Rodrik dan mulai berdiri setelah mengingat bahwa semua yang terjadi di pada lingkar dalam kuil adalah rahasia untuk orang luar. “Mari kita kembali ke kemah,” tambahnya dan mulai hendak mengangkat kakinya.
“Jadi … dia adalah seorang penyihir?” Tanya Greg sambil mulai berdiri.
Rodrik pun hanya menoleh dengan lirikan mata sinisnya ke belakang.
Di antara keheningan yang tak sampai dua detik itu, tiba-tiba dari langit terdengar suara kepakan sayap. Keduanya yang mendengar itu pun spontan langsung mendongak ke atas dan menyaksikan sebuah entitas bersayap keemasan dan bercahaya terbang di atasnya.
“Apa itu?!” Ucap Greg merasa bingung dan terkejut.
Namun berbeda dengan Greg, Rodrik tampak terdiam dan agak tersenyum sambil mendongak sesaat melihat rambut dari entitas tersebut secara sekelebat. Lalu tanpa disadari Rodrik, secara bersamaan Greg ternyata melihat ekspresi Rodrik yang tampak merasa lega itu.
“Oho,” ucap Greg dengan nada pelan sehingga Rodrik tidak dapat mendengarnya.
“Ahem, sepertinya itu datang dari dalam Istana,” ucap Greg berdehem untuk mengambil perhatian Rodrik.
Rodrik pun terpancing dan menoleh dengan ekspresi pokernya.
“Entahlah,” ucap Rodrik kemudian berjalan meninggalkan Greg.
****************
Keesokan paginya.
Roland yang hanya bisa terduduk di sofa di dalam kamar Slatanis sambil terus memegang surat perpisahan, merasa enggan untuk melakukan apa-apa. Ia hanya terdiam di sana sedari tadi sambil melamun.
__ADS_1
“Apakah aku harus mendatanginya?” Ucap Roland seraya matanya hanya menatap langit-langit kamar.
Ia pun berdiri, “baiklah kalau begitu, aku akan mendatangimu dimanapun kamu berada,” ucapnya dengan tatapan agak murung.
Ia pun beranjak dan hendak membuka pintu, namun tiba-tiba suara ketukan pintu berbunyi.
“Nona … Nona Slatanis?” Panggil seorang pelayan, Sasha dari balik pintu.
Roland pun tanpa pikir panjang langsung membuka pintu.
“Dia sudah pergi,” ucap Roland dengan tatapan murung.
“Ah, kebetulan, Tuan Roland, Tuan Willem telah memanggil anda untuk kembali ke ruangannya,” ucap Sasha dengan sopan sambil agak menundukkan kepalanya.
Roland pun tanpa mengatakan apa-apa langsung berjalan melewati Sasha, sementara Sasha langsung agak mengintip keluar.
“Sepertinya benar Nona sudah pergi sejak semalam, seperti yang sudah diberitahukan oleh Shade,” gumam Sasha sambil menutup pintu kamar.
Secara bersamaan di dalam ruang Willem, sementara sang Raja, Cael sudah berada di dalam bersama Willem duduk di sofa panjang.
“Salah satu kesatria terpercayaku tadi malam sempat melihat sebuah sosok terbang dengan sayap emas berkilauannya dari dalam Istana. Tak hanya itu, beberapa prajurit dan kesatria lain juga melihatnya,” ucap Cael menatap serius Willem yang duduk di seberangnya.
“Apakah kamu punya penjelasan akan hal itu?” Tanya Cael sekali lagi.
Willem hanya terdiam menatap Cael dengan pandangan wibawanya kemudian berkata. “Mohon maafkan saya paduka, sepertinya ada penyusup yang sempat masuk ke dalam Istana ini, lalu berhasil kabur dengan sihirnya.”
“Penyusup huh? Jadi kamu menganggap bahkan pasukan elit ku, para penyihir itu tidak berguna bahkan untuk mencegah sang penyusup untuk masuk sekalipun?” Tanya Cael menatap Willem lebih dalam dan serius.
Cael pun bersandar dari sikap bungkuk nan seriusnya itu.
“Benar … kamu benar,” ucap Cael. “Tapi apakah kamu tahu, bahwa beberapa penyihir dari pasukan elit ku sempat mengejar mereka dengan kuda mereka, lalu melemparkan beberapa sihir namun tidak ada yang kena. Sekalipun kena, sihir mereka akan hilang begitu saja seakan dirinya kebal dari sihir. Penyihir macam apa sebenarnya dia bisa sekuat itu? Hmmmm.”
“Entahlah, tapi setidaknya dia tidak menyakiti kita,” ucap Willem.
“Menyusup lalu keluar tanpa memberikan efek apapun kepada orang-orang, hmmm aneh sekali. Aku penasaran, tujuan dia apa sebenarnya dengan menyusup seperti itu? Apakah dia mata-mata? Tapi jika dia mata-mata, mana ada mata-mata yang seceroboh itu ketika kabur?” Ucap Cael terus menyindir.
Sementara Willem tampak mengeluarkan setetes keringatnya dari pelipis kanannya.
Tok tok tok!
“Ayah?” Panggil Roland yang saat ini sedang berada di luar.
“Ah, silahkan masuk, Roland,” ucap Willem terlihat lega sambil berdiri seakan ingin menyambut.
Pintu pun terbuka, dan Roland pun memasuki ruangan bersama dengan Sasha yang langsung berdiri di samping pintu.
“Paduka?” Ucap Roland dan langsung menunduk di dalam keterkejutannya sesaat melihat sang Raja juga berada di dalam ruangan ayahnya.
“Aku dengar kamu dekat dengan sang wanita investor itu ... Hmmm, siapa namanya?” Tanya sang Raja sambil menatap Roland yang masih berdiri.
__ADS_1
“Slatanis Paduka, namanya adalah Slatanis,” ucap Roland terdengar agak kesal dari nadanya.
“Ah iya,” ucap Cael singkat seakan. “Ngomong-ngomong, dimana dia sekarang? Bukankah aku meminta pelayan untuk memanggilnya juga?” Lanjutnya sambil menatap rendah Roland.
Roland merasa kesal sambil menggertakan giginya dalam, namun tetap menjaga ekspresi datarnya.
“Dia sudah pergi,” ucap Roland singkat.
“Aahhhh, pergi? Apakah perginya tadi malam?” Tanya Cael sambil tersenyum namun dengan tatapan merendahkannya.
Roland merasa tambah kesal dengan pertanyaan itu, sementara ayahnya sudah kembali duduk sambil memangku dagunya dengan kedua tangannya. Willem tampak tegang dengan keringat yang mengucur dari kedua pelipisnya.
‘Orang ini … ada apa sebenarnya? Dan bagaimana ia bisa tahu tentang kepergian Slatanis tadi malam?’ Pikir Roland diantara itu semua sambil tetap menatap Cael yang memandang rendah dirinya.
Di tengah keheningan sementara Cael masih menunggu jawaban, Roland melirik ke arah ayahnya sekali lagi untuk memastikan keadaannya.
‘Apakah dia merasa kesal hanya karena Slatanis meninggalkan tempat ini tanpa seizinnya … sialan para royalist ini! Kalian bahkan tidak ingin melirik para penduduk biasa, tapi kini kalian justru merasa terhina karena mereka mengabaikan anda! Kalau begitu aku harus menjawab dengan apa adanya agar dia tambah terhina,’ pikir Roland.
“Benar … dia sudah pergi tadi malam, wahai Paduka, karena—” ucap Roland terhenti sementara Cael berdiri secara tiba-tiba.
“Sepertinya sudah jelas semuanya,” ucap Cael menatap Roland sambil tersenyum lebar, kemudian menoleh ke arah Willem yang masih tertunduk serius. “Serahkan dia kepada pasukan elit ku, karena saat ini kita sangat membutuhkan pasukan untuk memperkuat negara kita. Ingat, ini adalah dekrit, jika kamu mengabaikannya, maka itu akan dianggap sebagai pengkhianatan.”
Cael pun langsung berjalan keluar menuju pintu dan melewati Roland yang masih berdiri terdiam.
“Dan satu lagi,” ucap Cael berhenti kemudian menoleh ke arah Willem. “Aku dengar dari para pasukan elit bahwa dia memiliki rambut merah dan berdada yang sangat besar.”
Cael pun lanjut berjalan sementara pintu sudah dibukakan oleh Sasha yang sudah bersiap siaga di dekat pintu. Kemudian Cael pun keluar dan pintu pun kembali ditutup.
“Ayah! Jangan bilang—” ucap Roland tertahan sesaat melihat ayahnya menggebrak meja yang ada di depannya.
Brak!
“Kehormatanku … tidak hanya aku tidak bisa menepati janjiku kepada penolongku, kini kehormatanku bahkan diinjak-injak paduka,” ucap Willem.
Roland pun langsung berlutut dan bersimpuh sambil menunduk di hadapan ayahnya.
“Mohon maafkan aku ayah, ini semua gara-gara ku,” ucap Roland.
“Tidak … jangan dipikirkan, kita akan mencari caranya,” ucap Willem.
Sementara itu, Sasha yang memperhatikan itu pun langsung dibisiki oleh Shade yang bersemayam di bayangannya.
‘Apa yang akan kamu lakukan?’ ucap Shade melalui telepati.
‘Pertama, tolong sampaikan kejadian ini kepada Nona, lalu setelah itu kita bahas apa yang perlu kita lakukan berikutnya,’ balas Sasha melalui metode yang sama.
‘Baik,’ ucap Shade.
************
__ADS_1
Bersambung ….