Three In One Transmigration

Three In One Transmigration
#40 - Crying Lady


__ADS_3


(Owain Renesphere)


Satu hari setelah pembersihan monster, Count Renesphere pun menerima surat dari kepala desa Neverhive, Aaron. Atau lebih tepatnya, Olivia lah yang menerima surat tersebut dari ayahnya.


“Hmmm, surat dari Norton kah?” Tanya Count Owain Renesphere sesaat menerima surat dari seorang pelayan di dalam ruang kerjanya. “Untuk Olivia dari ayahnya?” tanyanya sekali lagi.


“Ah, kalau begitu tolong biarkan saya saja yang mengantarkan surat itu, Tuanku,” ucap sang pelayan.


“Tidak perlu, biar aku saja,” ucap Owain.


Ia pun langsung keluar dari ruang kerja nya dan mulai berjalan menuju kamar Olivia. Sembari berjalan, ia pun terus mengetuk-ngetuk surat tersebut ke telapak tangan satunya.


“Tumben Sekali ayah mereka yang mengirim surat, biasanya bocah itu yang mengirim surat,” ucap Owain dengan wajah tenangnya sambil terus berjalan dengan tubuh gempalnya itu. “Yaa … biasanya surat romantis menggelikan yang dikirimkan olehnya, kiihhkkk, entah kenapa aku jadi semakin kesal,” tambahnya dengan ekspresinya yang berubah menjadi muka geram.


Setelah itu, sesampainya di dalam kamar Olivia, terlihat di dalam kamar itu terdapat banyak sekali barang mewah seakan seseorang telah mencoba sekuat tenaga untuk menyenangkan seseorang yang ada di kamar itu. Dari tatakan lilin yang terbuat dari emas sampai jubah-jubah sutra yang terhiasi oleh ornamen dari mutiara dan batu-batu mulia semua terpajang rapih di dalam kamar itu. Furniture kamarnya juga sudah terlihat begitu mewah. Namun di tengah kemewahan di dalam kamar tersebut, terdapat pula jeruji-jeruji besi di setiap jendela.


Sementara itu, di atas ranjang, seorang wanita berbaring miring dan berselimut dengan ekspresi murung di dalam daster putihnya yang tipis. Dengan rambut keemasan dan tubuhnya yang molek, ia berbaring tampak tak berdaya sementara sebuah rantai terlihat dari balik selimutnya. Dan wanita itu adalah Olivia.



(Olivia (Norton) Renesphere)


“Istriku, ayahmu telah mengirimi surat untukmu,” ucap Owain dengan nada lembut, dan mulai menghampiri Olivia. “Ini suratnya,” lanjutnya memberikan surat tersebut.


Olivia tetap berbaring miring seraya tidak menjawab, namun tetap meraih surat tersebut dengan enggan. Ia pun mulai membaca bagian depan surat. Kemudian sesaat melihat nama ayahnya, ia pun langsung hampir meremas surat tersebut.


“Buka saja dulu dan baca, kali saja itu penting,” ucap Owain mulai duduk di pinggir ranjang.


Sesaat amplop dibuka, Olivia pun mulai membacanya.


“Hiks hiks hiks,” tiba-tiba air mata olivia mengalir seraya ia meremas surat tersebut.


Owain yang menyaksikan itu pun merasa penasaran dan langsung merebut surat tersebut.


“Jangan—” ucap Olivia hendak merebut kembali.


Namun Owain yang berdiri dengan cepat pun tak terkejar oleh Olivia yang berusaha meraih surat itu kembali.


Olivia pun bangkit dan hendak kembali meraih surat tersebut yang mana Owain mulai membacanya.


“Oh, kalau begitu, aku sungguh turut berduka cita,” ucap Owain dan mulai duduk kembali sambil memberikan surat itu kepada Olivia. “Mari kita pergi ke desa besok.”


Olivia tidak menjawab dan hanya menatap kosong dengan pipi yang basah karena air matanya.


Owain pun mencium kening Olivia, kemudian berdiri sambil mengangkat selimut yang menyelimuti tubuh Olivia. “Dan sepertinya, kita harus memberikan salep ke pergelangan kakimu dulu sebelum kita pergi ke desa.”


Di balik selimut itu, tampaklah kaki kiri Olivia yang di rantai.


“Aku akan memanggil pelayan untuk memberikan salep ke kakimu,” ucap Owain dengan ekspresi datar.


Ia pun keluar dari kamar dan langsung berdiri di balik pintu yang sudah ia tutup itu. Kemudian selagi ia berdiri menyandarkan punggungnya di pintu kamar, Owain pun menutup mulutnya dengan tangan kanannya untuk menahan senyuman lebarnya. Sementara dari dalam kamar, suara tangisan histeris Olivia terdengar kencang dan memilukan.


***************


Hari pemakaman pun digelar dua hari setelah kematian Samuel.

__ADS_1


Di desa ini tidak ada kuil atau bahkan seorang priest pun, kecuali beberapa orang yang dianggap saleh oleh warga setempat. Orang saleh pun diminta untuk memimpin doa pemakaman Samuel di hari itu.


Dengan dihadiri oleh para warga, Samuel pun dimakamkan dengan penuh duka. Slatanis yang berada di tengah-tengah situasi pun hadir di barisan paling belakang sambil terus memikirkan perbuatannya yang ceroboh, serta perasaan empatinya yang sangat tipis.


‘Jika bukan karena janji untuk memberitahu Olivia tentang semeninggal dirinya, saat ini mungkin aku sudah pergi menuju Gloria, fuhhh. Lagipula jika aku pergi sekarang, akankah mereka curiga denganku? Terutama Amy yang sejak kemarin terus menatapku dengan tatapan kesal walaupun sudah diberitahu oleh warga bahwa Samuel tewas karena ulahnya sendiri,’ pikir Slatanis di tengah acara pemakaman.


“Dan sekarang ia malah menyalahkan para warga yang ia nilai sebagai pengecut karena tidak ikut membantu samuel,” gumamnya sambil menatap ke arah barisan depan.


Setelah selesainya pemakaman, pada malam hari, rombongan dari Count Renesphere pun sampai. Pada malam itu, mereka pun mengadakan acara makan-makan sembari Aaron menceritakan apa yang sudah terjadi kepada Samuel dan desanya sejak tiga bulan yang lalu. Sementara Slatanis berada di acara itu bersama dengan mereka.


“Jadi, Nona ini adalah seorang penyihir dari pasukan elit yang berhasil mengalahkan ribuan monster itu?” Tanya Owain yang duduk di meja seberang.


“Benar, dia adalah penyihir yang mengalahkan mereka,” Aaron mengkonfirmasi.


“Kejadian ini sungguh sangat disayangkan,” ucap Owain sementara Olivia duduk di sebelahnya sambil menjaga etiket anggunnya dengan suapan makanan. “Aku turut berduka atas kepergian kakandamu, istriku,” tambahnya sambil mencium pelipis kanan Olivia.


“Kalau begitu biarkan saya yang memberikan bayarannya kepada Nona ini,” ucap Owain.


“Tapi—” ucap Aaron tertahan.


“Tidak apa-apa, Tuan Norton,” ucap Owain tersenyum ke arahnya.


Slatanis yang tidak mengikuti arah pembicaraan mereka karena terlalu teralihkan pikirannya  pun hanya bisa menyuapi makanan sambil menatap Olivia.


“Karena kita adalah besan dua arah,” tambah Owain.


Slatanis yang sekilas mendengar itu pun langsung menatap Owain bingung. ‘Besan dua arah?’ pikirnya.


“Kenapa kamu menatap ayahku dengan ekspresi seperti itu?” Tanya Amy dengan ekspresi lesu yang duduk di sebelah kirinya.


“Ah tidak, aku hanya memikirkan perkataannya tentang besan dua arah,” Ucap Slatanis.


“Hah? Apakah itu legal?” Tanya Slatanis tampak terkejut.


“Selama ini kamu hidup dimana jika hal begini saja tidak tahu,” ucap Amy dengan tatapan sinis.


‘Jadi, alasannya ia ingin mengatakan hal itu karena Olivia adalah adiknya,’ pikir Slatanis sembari tidak menggubris tatapan sinis Amy.


Beberapa saat kemudian, acara makan-makan pun selesai dan masing-masing kembali ke ruangan mereka untuk tidur, kecuali Olivia.


Malam itu, Saat Slatanis hendak kembali ke kamarnya, ia pun melihat Olivia justru pergi keluar dengan sebuah lilin yang menyala di tangannya.


‘Hm? Mau kemana dia?’ Pikir Slatanis bertanya-tanya. ‘Ah, mungkin ini bisa menjadi kesempatanku untuk mengatakannya, melihat ia tampaknya akan membawa dirinya ke tempat yang sepi untuk menyendiri.’


Slatanis pun mulai mengikuti Olivia dari belakang sambil mengaktifkan spell [Concealment]-nya.


Beberapa saat setelah Slatanis mengikuti Olivia, tampak Olivia pergi menuju makam Samuel. Sesampainya ia di makam Samuel, Olivia pun hanya berdiri di sana, kemudian terduduk sambil menangis di atas makam Samuel, sementara lilin secara bersamaan ia taruh di sebelahnya.


Slatanis pun menonaktifkan Spell-nya lalu berjalan menuju Olivia.


“Nyonya Olivia,” panggil Slatanis.


Olivia pun agak terkejut dan langsung mengelap air matanya sambil berlagak seakan tidak terjadi apa-apa.


“Panggil aku Nyonya Renesphere,” ucap Olivia.


“Ba-baik, maafkan saya Nyonya Renesphere,” ucap Slatanis menunduk.

__ADS_1


“Mau apa kamu kesini?” Tanya Olivia tanpa menoleh.


“Saya hanya ingin menyampaikan apa yang terjadi kepada kakanda anda,” ucap Slatanis yang berjalan semakin mendekat.


Untuk sesaat terjadi jeda di sana, seakan Olivia enggan menjawab.


“Tulang hancur lalu tewas? Jika itu yang ingin kamu katakan, aku sudah tahu,” ucap Olivia dengan suara yang gemetar menahan tangis.


“Tidak … saya hanya ingin bilang bahwa, dia gugur sebagai pemberani. Dia juga yang membisikkan ucapan itu kepada saya di nafas terakhirnya,” ucap Slatanis dengan nada datar tak berempati.


Lalu terdengar lah suara sesenggukan Olivia sambil ia terus mengelap air matanya, dan mulai tertunduk ke tanah.


“Nyonya, mari kita kembali ke dalam,” ucap Slatanis sambil mendekati Olivia sambil berusaha memegang bahunya, kemudian mulai duduk bersimpuh di dekatnya.


“Hiks hiks hiks,” Olivia sesenggukan sambil tubuhnya mulai bersandar di dada Slatanis, dan Slatanis pun dengan spontan mulai memeluknya karena mengikuti suasana.


Tangisan pun semakin kencang dan air matanya pun semakin deras.


Slatanis tidak bisa mengatakan apa-apa dan hanya bisa mengusap-usap punggungnya.


“Aku … aku bahkan tidak pernah tahu … hiks hiks … bahwa dia sering mengirimkanku surat sebelum akhirnya monster mulai menyerang desa ini,” ucap Olivia sesenggukan di pelukan Slatanis.


Slatanis tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengusap punggung Olivia dengan pelan dan sentuhan lembut.


Slatanis pun mulai mengeluarkan sebuah selimut yang pernah ia simpan sebelumnya di dalam Inventory. “Tolong selimuti diri anda,” ucapnya dan langsung menyelimuti punggung Olivia.


Sesaat selimut itu menyelimuti punggung Olivia, tanpa sengaja lilin yang berada di sebelahnya pun mati tertiup.


“Kenapa? Hiks hiks hiks … kenapa hidupku bisa … hiks hiks … sesengsara ini? Hiks hiks,” tangis Olivia sambil mulai mengeluhkan keadaannya.


Slatanis masih terdiam sambil terus mengusap punggung Oliva dengan sesekali meng-huss-kannya.


“Apakah tidak ada keadilan untukku di dunia ini?!! Hiks hiks hiks,” ucap Olivia di tengah tangisannya.


Beberapa saat kemudian, setelah Olivia terus menangis di bahu Slatanis dengan sesenggukan, ia pun mulai tenang dan akhirnya berhenti menangis sambil mulai mengelap air matanya.


"Terimakasih ya, aku jadi bisa bertambah tenang dengan adanya kamu … dan juga, terimakasih atas selimut ini,” Ucap Olivia tersenyum.


“Senang bisa membantu anda, Nyonya,” jawab Slatanis.


Olivia pun menggeser tubuhnya, lalu tanpa sengaja pergelangan kakinya pun tersingkap.


Slatanis yang penglihatan malamnya aktif pun melihat dengan jelas luka lecet di pergelangan kaki Olivia.


“Nyonya, ada apa dengan kaki anda?” Tanya Slatanis sementara olivia tampak tersentak sesaat mendengar pertanyaan itu


“Bu-bukan … bukan apa-apa,” ucap Olivia berusaha kembali menyembunyikan pergelangan kakinya.


“Nyonya,” Ucap Slatanis sambil memegang tangannya dan menatap matanya dalam-dalam dengan serius.


Olivia pun terdiam sambil kembali menatap mata Slatanis yang tampak sungguh-sungguh.


“Mungkin saya bisa menolong anda Nyonya … maka ceritalah,” ucap Slatanis.


“Ba-baiklah,” ucap Olivia sambil menunduk, kemudian menghela nafas panjang dan mulai membuka suaranya.


**************

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2