Three In One Transmigration

Three In One Transmigration
#32 - It Should've Been His First


__ADS_3


Malam hari di dalam Istana Bellwyne.


“Hmmm, kalian sudah tidur ya?” Tanya Slatanis mencoba berbicara dengan Lilith dan Raphaela yang masih berada di dalam Inventory-nya, namun tidak ada jawaban dari dalam.


“Sepertinya sudah tidur,” gumam Slatanis yang saat ini sedang duduk di atas ranjangnya.


Ia pun termenung sedang dirinya merasa tidak mengantuk. Di tengah keheningan, ia pun mulai mengingat-ingat kegiatan tadi sore, tepatnya setelah acara makan-makan terakhir.


Saat itu, ia tidak ikut di dalam acara makan-makan, karena sang Raja tidak ingin ada seorang penduduk biasa duduk sejajar bersamanya. Sehingga, ia pun dilarang untuk datang oleh sang Raja, sementara Roland mencoba terus meminta maaf kepadanya.


“Fufufu, lucu sekali,” ucap Slatanis sambil tertawa kecil. “Aku sih tidak keberatan dengan perlakuan sang Raja, walaupun pada awalnya aku merasa ingin menguburnya hidup-hidup. Lagipula, sebentar lagi aku akan pergi dari tempat ini besok.”


Di tengah usaha Roland untuk tidak membuat dirinya kesal, Roland pun memberikan sebuah dokumen dan peta untuk tanah yang akan ditempati oleh dirinya. Lalu disaat sebelum Roland pergi kembali ke aula tamu untuk menghadiri acara makan-makan, Roland pun sempat berbicara banyak hal dengan Slatanis sambil duduk di kursi taman. Ia membicarakan tentang masa kecilnya yang selalu kesepian tanpa seorang ibu dengan Slatanis yang terus merangkulnya dan terus membalas cerita tentang rasa kesepiannya itu.


Kemudian di akhir pembicaraan, Roland pun mencium Slatanis sebelum akhirnya ia meninggalkan kursi taman dan Slatanis berduaan.


‘Fuhh, jika itu aku yang dulu, mungkin aku sudah kelepekan,’ pikir Slatanis sambil tersenyum.


“Ahem, oke, mari kita lihat peta saja,” ucap Slatanis sambil mengambil peta dari dalam inventory-nya. “[Light ball].” lanjutnya mengucapkan mantra.


Bola lampu berwarna putih terang pun muncul di atas kepalanya, sementara ia mulai membuka peta tersebut untuk kembali memeriksa.


“Dia bilang sih, pertama-tama aku perlu melewati jalan ke arah barat … lalu terus mengikuti jalan ini … lalu melewati jalan ini. Dan aku membutuhkan 10 hari perjalanan jika berjalan tanpa istirahat dari pagi sampai menjelang malam. Ya itu jika aku benar-benar berjalan kaki, hehehe tapi karena aku bisa terbang dengan cepat, sepertinya aku tidak perlu sampai 10 hari deh—” ucap Slatanis sambil menunjuk-nunjuk simbol-simbol pada peta lalu terhenti sesaat suara ketukan pintu kamarnya berbunyi.


Tok tok tok!


Suara ketukan pintu yang terdengar pelan dan beritme lambat terdengar dari telinga kiri Slatanis.


“Siapa sih malam-malam begini?” Keluh Slatanis kemudian bangkit dan berjalan menuju pintu kamar untuk membukanya.


“Slatanis,” Ucap seseorang dari balik pintu itu.


“Tuan Roland?” Tanya Slatanis. “Kamu mau apa kesini?”


Slatanis hanya menempelkan telinganya ke pintu.


“Aku … nnngg … aku ingin membahas peta tersebut,” ucap Roland dengan suara berbisik. “Bolehkah aku masuk?”


“Oke,” ucap Slatanis dan mulai membuka pintu secara perlahan. “Masuklah,” tambahnya sesaat pintu sudah terbuka cukup lebar.


Roland pun masuk ke dalam dengan langkah kaki yang senyap.

__ADS_1


“Kamu bahkan tidak membawa lilin—” ucap Slatanis tertahan sesaat Roland menciumnya secara tiba-tiba sambil menutup pintu yang ada di belakang Slatanis. Kini Slatanis pun terhimpit dengan tubuh tinggi Roland dan pintu yang ada di belakangnya.


“Mfff,” gumam Slatanis merasa kesulitan, namun tampak enggan melepaskan.


‘Haruskah aku biarkan?’ Pikir Slatanis bertanya-tanya.


Roland pun terus mencium Slatanis dengan penuh gairah, sementara Slatanis hanya membalas ciumannya dengan mulutnya tanpa mengikutsertakan tangannya yang saat ini hanya menggantung ke bawah seakan pasrah.


Dengan lingerie putih yang saat ini Slatanis kenakan, Roland pun menjadi tambah buas. Sementara itu, sihir cahaya yang diciptakan Slatanis masih melayang di atas kepalanya sehingga Roland bisa melihatnya dengan begitu jelas.


Tak berselang beberapa detik, Slatanis pun agak mendorong Roland sambil terus memegang kedua lengannya.


“Apakah kamu tidak merasa bersalah dengan Gisella?” Tanya Slatanis menatap wajah Roland yang tampak setengah menutup mata sambil mengerutkan keningnya.


‘Aku ingin menanyakan hal ini sejak ia menciumku di taman, tapi ia sudah keburu kabur duluan,’ pikir Slatanis di sela-sela itu.


“Sejak kapan kamu peduli dengan hal itu, bukankah— tidak … aku tidak bermaksud untuk menyelingkuhi Gisella, jika itu yang sedang kamu pikirkan. Aku hanya … aku sebenarnya hanya mencintaimu, bukan Gisella, dan aku berjanji akan berusaha lebih keras … dan … aku akan lari bersamamu jika perlu, mari kita hidup bersama, bagaimana? Aku rela melepaskan gelarku, ” ucap Roland setengah berbisik sambil menunduk di hadapan Slatanis.


‘Wow,’ pikir Slatanis sementara ia tampak bingung.


“Aku sejak awal memang sudah tidak setuju dengan pernikahan ini, aku bahkan baru bertemu dengannya sekarang,” ucap Roland sekali lagi.


“Tapi apakah kamu pernah memikirkan perasaan Gisella?” Tanya Slatanis dengan tatapan sayu.


“Well … ya, itu penting,” ucap Slatanis memalingkan pandangannya.


“Apakah … itu … penting?” Ucap Roland kembali sambil terus mendekatkan wajahnya ke telinga Slatanis.


‘How dare you use my own spell against me, potter— Roland!?’ Pikir Slatanis sembari mendiamkan tindakan Roland saat ini.


“Apakah itu—”


“Oke oke,” ucap Slatanis dan langsung menuntun Roland ke dekat Ranjangnya dan langsung mendorongnya.


‘Sh*t! Apakah di dunia ini aku akan baru bisa kehilangan— hahh~ peduli setan!’ Pikir Slatanis sementara Roland sudah berbaring di atas ranjangnya, sedang dia masih berdiri sambil memandang Roland.


Roland pun hendak bangkit dari ranjangnya, namun Slatanis dengan sigap memegang bahunya dan terus kembali membaringkannya. Saat ini, Slatanis berada di atasnya. Sementara Slatanis sudah berada di atas Roland, Slatanis pun kembali menatap Sayu Roland. Lalu tiba-tiba, kilatan ingatannya tentang senyum Gisella sebagai perempuan muda yang masih naif akan cinta pun lewat di pikirannya.


‘Oke, ini tidak benar … ini sama sekali tidak benar … apalagi aku sebagai wanita sangat menyadari hal ini jika memikirkan Gisella yang sudah bertemu dengan Roland dan tampak senang itu. Ia bahkan tampak begitu lugu, ketika aku mengintip ke dalam di acara makan-makan mereka,’ pikir Slatanis dan langsung turun dari atas Roland lalu duduk di atas ranjang.


“Slatanis?” Tatap Roland bingung.


“Aku tidak bisa melakukannya,” ucap Slatanis memegang keningnya.

__ADS_1


‘Mungkin di saat itu juga, Gisella untuk pertama kalinya merasakan cintanya di usia semuda itu … aku tidak tega,’ pikir Slatanis.


“Ya sudah, kalau begitu mari kita lari dari Istana dan hidup bersama,” ucap Roland sambil mulai memegang tangan Slatanis.


“Tidak,” balas Slatanis kemudian menatap Roland, lalu mendekatkan wajahnya. “Maafkan aku,” bisiknya.


“Kenapa—” ucap Roland terhenti.


“[Sleep]!” Ucap Slatanis dengan Spell-nya sambil menyentuh bibirnya ke bibir Roland, dan Roland pun langsung tertidur lelap.


‘Aku sebelumnya tidak tahu siapa tunangannya, namun setelah tahu dan melihat Gisella yang terlihat senang saat berbicara dengannya, aku jadi merasa tidak mampu untuk menggunakan Roland lagi meskipun hanya sebagai sumber makanan. Meskipun … meskipun aku sudah mulai timbul perasaan juga,’ pikirnya sambil menatap Roland yang tertidur lelap.


“Hahhh~ thank me later, Gisella,” ucap Slatanis sambil menghela nafas.


**********************


Pagi hari, Roland pun terbangun dan menemukan dirinya masih berada di dalam kamar Slatanis. Ia menoleh untuk memastikan sekitarnya sesaat baru saja membuka mata, namun ia tidak menemukan siapapun. Dengan ingatan yang agak kabur, ia pun mulai mengingat kejadian semalam.


“Slatanis,” Bisiknya dan langsung bangkit secara tiba-tiba. Ia kini duduk di atas ranjang dengan wajah bingung sambil melihat sana-sini. Lalu ia pun turun dari atas ranjang dan langsung berjalan untuk membuka gorden.


“Eughhh, kemana dia?” Ucapnya sementara ingatan terakhirnya adalah ia yang sedang berciuman dengan Slatanis. “Setelah itu, apa yang terjadi? apakah aku benar-benar melakukannya?” lanjut gumamnya sambil membuka gorden.


Sesaat gorden dibuka, matahari pagi pun memancar dari sebelah kiri manson langsung ke pipinya.


“Syukurlah ini masih pagi,” ucap Roland berusaha meyakinkan dirinya. “Mungkin dia sekarang sedang jalan-jalan di taman.”


Roland pun lanjut berjalan ke balkon kamar, kemudian langsung berpegangan di sandaran balkon untuk melihat ke arah taman.


“Atau mungkin sedang sarapan,” ucapnya dan langsung berbalik arah kembali masuk ke kamar.


Sesaat ia ingin keluar, di ujung pinggir pandangannya, ia melihat lipatan perkamen ditaruh di atas sebuah meja di samping ranjang, ia pun berhenti dan langsung mengambil perkamen tersebut.


“Surat?” Ucapnya sesaat membuka lipatan perkamen yang dipenuhi dengan tulisan. “Siapa yang menulis tulisan sejelek ini?”


Ia pun mulai membacanya.


Isi surat itu, “mungkin di pagi hari kamu sudah terbangun dan menemukan aku tidak berada di sana sementara ada sebuah surat ditaruh di atas meja. Aku hanya ingin meminta maaf karena tidak bisa bersama dengan kamu dan tidak bisa membalas perasaan kamu. Namun aku yakin ini adalah yang terbaik. Dan jika kamu bertanya-tanya aku dimana sekarang, ya, aku sudah pergi sejak semalam saat kamu tertidur karena sihir ku. Maafkan aku, dan terimakasih untuk segalanya. Salam sayang, Slatanis.”


Roland yang membaca itu pun langsung meremas surat tersebut dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang dadanya yang sesak secara tiba-tiba. Tanpa sadar, air matanya pun menetes.


*****************


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2