
Di sebuah hamparan padang rumput di dekat perbatasan di utara Bellhaven, tepatnya beberapa kilometer dari benteng Gramshire, saat ini rombongan kerajaan sedang berkemah dan membentuk barikade. Sang raja, Cael III pun juga ikut berkemah di sana, sementara anggota keluarganya sudah kembali ke kastil kerajaan.
“Paduka,” Ucap Richard Isemberd berbisik dari belakang, sedang Cael duduk di sebuah kursi tahta dari kayu tepat di depannya. “Saat ini, para utusan telah dikirim ke berbagai bangsawan royalis di Gracehamberd maupun di Bellhaven.”
“Bagus,” ucap cael mengangguk pelan sambil tersenyum. “Lagipula, kita hanya perlu menggertak mereka, karena tidak mungkin Duke Willem akan mengingkari perintahku itu.”
“Apakah itu satu-satunya rencana anda, Paduka?” Tanya Ulric yang berdiri di sebelah kanannya. Ulric adalah seorang anggota keluarga marquis bawahan Waldengrace, dengan nama keluarga Holton.
Saat ini mereka bertiga sedang mendiskusikan rencana akhir dari kampanye sang raja untuk mendapatkan Slatanis dari genggaman Duke Bellwyne.
Setelah mendengar pertanyaan Ulric, Cael pun tampak terdiam seakan sedang berpikir sambil memangku pipinya.
“Bagaimana jika mereka malah melawan?” Tanya Ulric kembali.
“Itu tidak mungkin, Tuan Ulric. Karena hubungan keluarga kita bukan hanya sekedar hubungan politik biasa, namun kita ini sudah besanan … jadi, aku sangat yakin dia pasti akan menjalankan perintahku dengan senang hati,” ucap Cael tampak percaya diri.
“Hubungan keluarga Waldengrace dan Waldenfrey pun sama, namun ketegangan diantara keduanya masihlah sangat rentan, wahai Paduka,” jelas Ulric dengan ekspresi khawatir. Mengingat ia adalah lelaki tua yang sudah menjadi tangan kanan raja selama dua generasi, ekspresi khawatirnya tampak begitu mengerutkan wajahnya.
Cael yang mendengar itu pun memicingkan matanya sambil menatap wajah khawatir Ulric.
“Apakah kau pikir aku melakukan ini hanya demi memperkuat tahta-ku saja? Yakni dengan memperkuat pasukan elit sejak aku naik tahta, huh??” Ucap Cael dengan nada kesal. “Tidak Tuan Ulric, tidak … aku melakukan semua ini semata-mata demi kerajaan kita. Kamu juga tahu sendiri, kan, betapa rentannya kerajaan ini dari ancaman luar? belum lagi dua Duke yang saat ini memerintah wilayah terbesar, menjalin hubungan dekat dengan dua faksi yang bisa mengancam kedaulatan kita.”
Pasukan elit kerajaan sudah ada sejak Waldengrace merebut tahta beberapa abad yang lalu. Yang mana kegunaan pasukan elit itu sendiri, selain untuk meruntuhkan dinasti sebelumnya, yakni juga untuk berdiri sejajar dengan para kongregasi kuil dan juga berdiri dominan di hadapan para kerajaan dan negara lain sebagai pelayan paling setia milik dinasti Waldengrace.
“Namun menurut saya, memberikan dekrit ancaman kepada satu-satunya keluarga duke yang masih royal kepada kita bukanlah ide yang baik,” jelas Ulric.
__ADS_1
“Tsk, seandainya kamu tahu seberapa kuat penyihir yang ku maksud,” ucap Cael menekankan.
“Saya memang pada saat pesta tidak hadir, karena tubuh tua ini yang membuat saya harus beristirahat panjang di wisma tamu,” jelas Ulric merendahkan punggungnya, menandakan tubuhnya yang sudah rentan. “Jadi mohon maafkan saya, Paduka, karena telah melewatkan hal tersebut.”
Ulric adalah seorang tetua dari keluarga Holton, yang mana seharusnya, sesuai dari peraturan tetua bangsawan, dia seharusnya sudah pensiun dan sedang menghabiskan masa hidupnya di Joundr. Namun karena dia lah satu-satunya sosok yang sampai saat ini adalah sosok yang dianggap paling bijak dan sangat terpercaya sejak generasi sebelumnya, maka sampai saat ini dia masih menjabat jadi tangan kanan Raja. Meskipun gelar Marquis sudah diturunkan kepada Putranya.
“Tidak … tidak apa-apa,” ucap Cael.
Untuk sesaat ia pun terdiam, dan tiba-tiba mulai berdiri. “Tuan Richard, seberapa banyak prajurit yang aktif di Bellhaven?” Tanyanya.
“Sekitar 12000 prajurit aktif, Paduka, dan belum dihitung dari jumlah kesatria di setiap keluarga bangsawan,” jawab Richard menunduk. “Namun dari jumlah prajurit yang sebanyak itu, kami belum memastikan seberapa banyak yang akan beraliansi dengan bangsawan royalis. Meskipun begitu, saya sudah memperkirakan seberapa banyak bangsawan yang akan bergabung bersama kita. Yakni setidaknya terdapat 12 bangsawan royalis asal Bellhaven yang siap menunggu panggilan anda, Paduka. Sementara sisanya, yakni 8 dari bangsawan yang tersisa adalah masih memiliki satu ikatan keluarga dengan Bellwyne, dan mereka memiliki pangkat antara Count sampai Marquis.”
“Lalu yang 12 itu?" tanya Cael kembali.
"Mereka ... antara Baron sampai Viscount," ucap Richard ragu.
“Untuk hal itu … “ ucap Richard tampak ragu. “Terdapat 40, dan hanya 2 yang ikut bersama saya, Paduka. Sisanya ikut dengan putra saya, Rodrik. Sementara saya adalah seorang Baron yang tinggal di Joundr dan tidak memiliki wilayah di Bellhaven.”
“Sial, bahkan putramu yang memiliki kekebalan sihir juga sudah memilih pihak seawal ini? Tsk,” keluh Cael dengan wajah tampak khawatir.
“Namun … namun tenanglah wahai Paduka, karena para bangsawan royalis di bellhaven juga terhitung lebih banyak daripada faksi Bellwyne. Dan sebentar lagi … mereka pun akan bergabung dengan kita,” ucap Richard berusaha mengendalikan suasana.
“Ya … semoga saja kamu benar,” jawab Cael, kemudian menoleh ke arah Ulric. “Karena jika mereka malah melawan balik … maka itu akan menjadi hari dimana dinasti Waldengrace runtuh.”
Cael pada detik itu pun benar-benar mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan seorang penyihir yang bahkan kebal terhadap sihir kematian yang telah dilemparkan oleh salah satu dari pasukan elit nya itu. Saat ini ia benar-benar sangat terobsesi dengan penyihir itu, sang penyihir berambut merah bernama Slatanis.
__ADS_1
Ia memang tidak melihatnya secara langsung, namun seorang penyihir dari pasukan elitnya memberikannya sebuah penerawangan dari apa yang sudah ia saksikan kepada dirinya. Sebuah penglihatan yang di dalamnya menampakkan aksi kejar-kejaran antara mereka dan sang penyihir berambut merah itu.
Sementara itu, para bangsawan dari bawahan waldengrace, Bellwyne dan sebagian dari Winston pun sudah mendengar akan rumor pengkhianatan duke Bellwyne. Bahkan para bangsawan dari Waldenfrey yang tidak ikut hadir pun sudah mulai mendengar rumor tersebut.
*****************
Seminggu kemudian di kuil agung Alundris sejak rumor tentang pengkhianatan menyebar, Grand Cleric Hezekiah saat ini sedang mengadakan ibadah sore bersama dengan para templar dan paladin. Hezekiah yang memimpin peribadatan itu pun terus membacakan doa-doa keselamatan dan ayat-ayat dari Hamrelith sebagai bagian dari sesi peribadatan.
Lalu beberapa saat kemudian, setelah para templar dan paladin bubar dari dalam kuil, Hezekiah pun memanggil Fretlen yang saat itu hadir juga di sana.
“Setelah kamu kembali dari utara dan tidak menemukan jejak-jejak wanita itu, sebenarnya aku telah mendapatkan kabar simpang siur yang cukup menggemparkan dunia bangsawan,” ucap Hezekiah yang masih berdiri di mimbarnya, sementara Fretlen berlutut di bawahnya.
Fretlen terus tertunduk patuh sambil terus berlutut.
“Kabar ini saya dapatkan dari seorang penyihir yang saya pernah susupi di tubuh pasukan elit kerajaan,” tutur Hezekiah mulai menceritakan. “Ia mengatakan bahwa sang penyihir wanita yang selama ini kita cari, telah ditemukan. Ia pun menuturkan bahwa, sang penyihir wanita ini memiliki sayap emas berkilauan, pertahanan sihir yang di luar akal, dan saat itu ia menyaksikannya sedang terbang melarikan diri dari istana bellwyne. Dan sang penyihir wanita itu bernama Slatanis. Tak hanya itu, seorang count dari Efrana juga mengatakan hal yang sama, meskipun ia tidak menyaksikan bahwa ia telah melihatnya terbang dengan sayap.”
Fretlen pun terus terdiam dan mendengarkan dengan patuh.
“Tampaknya ia juga memiliki kemampuan sihir yang membuat tanduknya bisa menghilang, serta memiliki kekuatan sihir yang mampu menghancurkan ratusan ribu monster dengan sihir ledakan berskala luas,” jelas Hezekiah.
Fretlen pun mengangkat kepalanya, kemudian berkata, “kalau begitu, apakah anda berkenan melimpahkan tugas itu kepada saya, wahai Yang Kudus?”
“Sebelum itu, kamu harus tahu tugas apa yang ingin aku berikan,” ucap Hezekiah dengan suara wibawanya. “Ini berbeda seperti sebelumnya ketika keberadaannya hanya kita yang yang tahu. Yang mana berarti, tugas yang aku berikan saat ini adalah … tolong habisi wanita ini, jangan sampai pihak kerajaan mendapatkannya.”
“Mengerti, wahai Yang Kudus,” ucap Fretlen menunduk dalam-dalam.
__ADS_1
*****************
Bersambung ….