Three In One Transmigration

Three In One Transmigration
#23 - Latihan Dansa dan Menyambut Keluarga Kerajaan


__ADS_3

Suara hentakan kaki beritme, serta suara piano yang memberikan melodi indah, menemani Slatanis dan Roland berlatih dansa.


“Satu … dua … satu … dua …,” ucap Slatanis sambil mengikuti ketukan kaki Roland.


‘Wajahnya begitu dekat, aku akan hilang akal jika ini terus berlanjut,’ pikir Roland yang masih suka tersipu padahal dirinya sudah dibuat terbang sebanyak empat kali oleh Slatanis dalam seminggu ini.


Mereka pun terus bergerak kesana dan kemari sambil terus berfokus berlatih dansa. Kemudian, beberapa lagu kemudian, mereka berdua pun memutuskan untuk beristirahat dan duduk lesehan di sisi ruang Dansa, sementara sang pianis keluar dari ruang dansa untuk melakukan tugasnya yang lain karena dirinya adalah seorang butler.


“Apakah kamu tidak pernah berdansa sebelumnya?” Tanya Roland yang duduk di sebelahnya.


“Belum pernah,” jawab Slatanis sambil tersenyum.


‘Hmmm, dua hari lagi acara akan digelar dan marquis Brandon akan datang ke sini, apakah aku harus mengadukannya kepada duke willem?’ pikir Slatanis sambil duduk bersandar dan bersilang, dengan ekspresi yang tampaj berpikir dalam keraguan.


“Apakah … apakah siklus berdarah mu sudah selesai?” Tanya Roland tiba-tiba ditengah diri mereka yang sedang istirahat.


“Apakah kamu sangat menginginkannya?” Tanya Slatanis sambil menatap datar Roland.


'Keuh, kenapa aku mengatakan hal itu?!' pikir Roland sambil memalingkan wajahnya menahan malu.


“Ah … maafkan aku,” ucap Roland gugup.


“Tidak ... tidak apa-apa kok,” ucap Slatanis singkat.


“Aku ingin bertanya kepada kamu, apakah kamu yakin benar-benar ingin melakukannya denganku? Karena kupikir, kamu haruslah melakukannya dengan seseorang yang spesial denganmu, dan kamu tidak boleh sembarangan melakukannya,” ucap Slatanis seakan memberi nasehat.


Roland tidak menjawab, namun ia berpikir sambil duduk membelakangi Slatanis. ‘Kamulah yang spesial untukku, aku bahkan sudah meminta ayahku untuk membatalkan pernikahanku dengan Gisella.’


“Hei,” ucap Slatanis sambil memegang punggung Roland, namun ia tidak merespon seakan sedang meringkuk sedih.


Roland tiba-tiba menghela nafas, kemudian berdiri.


“Kamu benar … aku berjanji, aku akan lebih berusaha lagi,” ucap Roland dan langsung keluar dari ruang dansa tanpa menoleh sedikitpun.


‘Hah? Apakah dia baru saja- tsk, jangan bilang dia akan berhenti menemuiku. Gawat nih kalau sumber makanan ku satu-satunya menjauh begitu saja,’ pikir Slatanis yang hanya bisa menatap Roland yang keluar dari ruang dansa begitu saja.


‘Sebenarnya jauh-jauh hari aku ingin memanggil makhluk summon untuk kujadikan sumber makanan, namun perk dan spell yang aku miliki, semuanya hanya bisa memanggil kalau bukan devil, daemon, Chromatic Dragon dan undead, ya Angel. Dengan kata lain, mereka semua adalah Ras yang kebal dari pengaruh succubus, yang mana berarti milik mereka tidak bisa digunakan untuk sumber makanan untuk succubus,’ pikir Slatanis.


Perk yang dimiliki Slatanis bernama Summoner of Evil, sebuah perk dengan tier legendary yang dimana di dalamnya terdapat spell-spell pemanggilan makhluk supernatural yang memiliki alignment evil seperti Undead, Vampire, Devil, Daemon dan Chromatic Dragon.


Kemudian, Slatanis yang ditinggal sendiri di dalam ruang dansa pun hanya bisa termenung untuk sesaat, dan ia pun berdiri lalu keluar dari ruang dansa tersebut.


Beberapa saat kemudian, butler yang tadi merangkap menjadi pianis pun kembali ke ruang Dansa, dan mendapati bahwa di dalam telah kosong.


“Lah kok hilang?” Ucap Butler.


***********


Setelah melakukan latihan dansa, Slatanis pun kembali ke kamarnya, dan saat ini dia sedang berada di balkon kamarnya, duduk di kursi di balkon sambil mengobrol dengan kedua makhluk summonnya yang saat ini berada di dalam inventory -nya.


“Apa yang ingin anda lakukan jika nanti kita dapat mengakses sistem dari Farland?” Tanya Raphaela.


“Aku akan memanggil kendaraanku Flying Dutchman lalu jalan-jalan dengan kapal itu. Itupun jika hal tersebut tidak membuat makhluk di dunia ini menjadi heboh karena hal tersebut,” jawab Slatanis.


“Farland adalah dunia yang luas dan indah, namun karena peperangan para dewa yang tiada hentinya, dunia tersebut menjadi kacau dan memiliki banyak malapetaka. Lantas apakah anda ingin kembali ke farland? Jika memiliki kesempatan dengan sistem farland untuk kembali kesana,” tanya Raphaela kembali.


‘Duniaku bukan di farland jika bisa jujur, tapi apa reaksi mereka jika aku benar-benar mengatakannya? Jika aku mengatakan bahwa aku sebenarnya adalah yang mengendalikan tubuh ini dari dunia yang berbeda? Apakah mereka akan membenciku?’ Pikir Slatanis sebelum menjawab.


“Tidak … dunia itu tidak memiliki masa depan,” jawab Slatanis.


‘Sebenarnya aku sudah sampai di ending main quest saat menggunakan Kerasius, jadi aku tahu apa yang terjadi,’ pikir Slatanis membuat alasannya. ‘Dan mereka yang sudah mencapai ending main quest, akan mendapatkan Gelar sebagai yang telah naik atau ‘The Ascended One’, yang mana mereka bisa membuat dimensi sendiri yang di dalamnya bisa dimodifikasi sesuka hati. Dan di dalam dimensi itu, mereka juga bisa mengajak rekan-rekan sepermainan untuk sekedar roleplay ataupun yang lainnya.’

__ADS_1


Ia pun mengingat akan kejadian dirinya sebagai Putri sebelum akhirnya tertransmigrasi ke dunia lain. Yang dimana saat itu, karakter yang bernama Anunnaki_101 yang memiliki ras Angel mengirimkan sebuah link yang membuatnya berakhir di dunia ini.


‘Apakah aku bisa menyalahkannya?’ Pikir Slatanis di dalam jeda obrolan yang cukup lama.


Tiba-tiba, dari balkon kamarnya yang berada di lantai lima, Slatanis melihat para kesatria berlari keluar area kompleks Istana dengan terburu-buru. Terlihat pula Willem dan Roland yang ikut berlari seakan terlihat mereka juga sedang terburu-buru.


Dari Istana, khususnya di lantai lima, siapapun bisa melihat kota kecil Bellhive dari atas.  Jaraknya yang tidak begitu jauh, juga membuat siapapun bahkan bisa melihat orang-orang berlalu lalang di bellhive.


Slatanis yang penasaran dengan keramaian pun menggunakan spell [eagle vision]-nya, dan melihat ke arah kota kecil bellhive dari balkonnya.


“Ada apa nyonya?” Tanya Lilith.


Terlihatlah ratusan kesatria yang tampak sedang berbaris dan mengawal sebuah kereta kuda emas yang mewah.


“Sepertinya ada seorang bangsawan yang sedang bertamu ke bellhive, jadi mungkin saja mereka membutuhkan pengawalan juga,” jawab Slatanis.


Di saat dirinya sedang asik melihat dengan sihirnya, suara ketukan pintu kamarnya pun berbunyi.


“Nona, Anda diminta untuk turun oleh duke Willem dan menemuinya di dekat gerbang Istana,” ucap seorang pelayan, Sasha dari balik pintu.


“Baik, aku akan segera kesana,” jawab Slatanis.


‘Sejak kejadian itu, Sasha jadi sering melayaniku dengan secara langsung meminta ke duke Willem untuk ditugaskan di bawahku,’ pikir Slatanis sambil membuka pintu kamarnya.


Kemudian sesampainya di dekat gerbang Istana, Slatanis pun berdiri di sebelah kiri Willem, sementara Roland berada di sebelah kanannya.


“Ada apa Tuan?” Tanya Slatanis.


“Paduka Raja beserta keluarganya telah datang ke kediaman Bellwyne, dan saya ingin memperkenalkan anda kepada mereka,” ucap Willem dengan penuh berwibawa. “Sebelum itu, saya harus menguraikan apa saja yang perlu diperkenalkan kepada mereka.”


“Baik,” angguk Slatanis.


“Anda disini bukan sebagai penyihir ataupun orang yang menyembuhkan saya, tapi sebagai tamu dan investor di kota bellhive, bagaimana?” Jelas Willem.


“Baik,” ucap Willem menjaga posturnya, dan bahkan tidak menoleh sama sekali.


Slatanis pun menunggu dan menunggu untuk rombongan kerajaan sampai. Seraya ia menunggu, ia juga mencuri-curi pandang ke sebelah kiri Willem, di tempat Roland berdiri.


‘Dia tampak begitu formal juga,’ pikir Slatanis sambil mengintip ke arahnya. ‘Aku sangat khawatir dia menjauh dariku, fuhhh.’


“Kabarnya, baron Edgar Isemberd yakni selaku duta dari duke Bellwyne beserta satu orang putranya juga akan datang,” suara pelayan wanita terdengar berbisik di antara mereka, dan Slatanis yang memiliki pendengaran sensitif pun mampu mendengar mereka dengan jelas sehingga memutuskan untuk menoleh ke arah mereka.


“Putranya? Apakah yang kamu maksud adalah seorang kesatria yang gagah dan tampan itu? Waaah, aku tidak sabar untuk melihatnya,” sahut pelayan lain di dalam bisik-bisik mereka.


“Hmph! Menurutku sih, Pangeran yang paling tampan,” ucap salah seorang pelayan lain yang sudah terlihat lebih dewasa.


‘Bahkan kamu yang tampak sudah memiliki suami,’ pikir Slatanis.


“Aahhh, pokoknya rumah ini nantinya akan diisi oleh tiga tuan muda tampan, hehehe,” sahut pelayan lain sambil masih berbisik.


‘Ketampanan mereka bahkan disejajarkan dengan Roland? Hmm, padahal aku sudah sempat berpikir bahwa Roland adalah nasi bungkus terbaik,’ pikir Slatanis lalu menoleh ke arah Roland yang tampak siap siaga.


Beberapa saat kemudian, rombongan pun sampai di depan mereka. Dengan sebuah kereta kuda yang berada di paling depan dan berhenti duluan, dan seorang prajurit pun dengan sigap membukakan pintu.


Sesaat pintu terbuka, duke Willem serta yang lainnya pun langsung berlutut, kemudian dengan canggung, Slatanis pun ikut berlutut selayaknya wanita bangswan.


Kemudian dari kereta kuda itu, seorang pria pun keluar dengan pakaian mewahnya dan berjubah merah. Dia adalah Raja Cael III.


“Selamat datang Paduka,” ucap Willem sambil merendahkan pandangannya.


“Hmmm,” Cael hanya berdiri di depan Willem. “Berdirilah,” lanjutnya memberi isyarat dengan tangannya. Dan semua yang berada di sisi Willem pun berdiri, begitu juga dengan Slatanis.

__ADS_1


“Paduka,” Ucap Willem sekali lagi saat berdiri.


“Kamu …,” ucap Cael. “Kamu telah sembuh,” lanjutnya sambil memegang kedua bahu Willem.


“Atas rahmat anda, Paduka, saya bisa sembuh,” ucap Willem dengan rendah hati.


“Benar-benar, aku jadi ikut senang mendengarnya,” Cael pun memeluk Willem dengan penuh haru, begitu juga dengan Willem yang membalas pelukannya dengan haru.


Kemudian, yang lain pun memberi salam kembali dengan setengah berlutut. Cael pun mulai berjalan ke arah Roland dan mengucapkan selamat atas pertunangannya.


“Hah! Jika kita bukan besanan, aku akan menikahkanmu dengan putriku,” ucap Cael sambil menepuk-nepuk bahu Roland.


“Saya akan merasa sangat terhormat, Paduka,” tunduk Roland.


Kemudian, Cael pun berjalan ke arah Slatanis lalu berhenti dan tertegun untuk sesaat.


“Cantik sekali, bolehkah saya mengetahui nama anda Nona?” Ucap Cael sambil mengulurkan tangannya menengadah.


“Tentu, paduka, sudah menjadi sebuah kehormatan,” ucap Slatanis sambil memberikan tangannya.


“Dia adalah investor di bellhive, paduka,” ucap Willem.


“Oh, benarkah?” Ucap Cael yang masih memegang tangan Slatanis.


“Nama saya adalah Slatanis, Paduka,” ucap Slatanis setengah menunduk.


“Apakah kamu seorang bangsawan?” Tanya Cael.


“Bukan—” ucap Slatanis terhenti sementara Cael tiba-tiba melepas tangannya, dan langsung berjalan lalu berhenti di depan Willem.


“Apa kabarmu Willem?” Tanya Cael kepada Willem.


Kemudian mereka berdua pun mengobrol sementara sang Ratu mulai bersalaman dengan Willem dan Roland. Lalu secara bersamaan pula, setelah Cael melepas tiba-tiba tangannya yang memegang tangan Slatanis, tiga anggota keluarga kerajaan pun jadi ikut tidak menyalami Slatanis dan melewatinya begitu saja sambil mengangkat dagu mereka dengan bangga.


Slatanis pun merasa sangat kesal, namun ia hanya bisa berdiri disana dengan wajah yang tetap tersenyum.


‘Nyonya, mari kita hancurkan kerajaan ini,’ ucap Lilith dari dalam inventory dengan suara yang hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya.


'Jangan ... Aku pun juga sangat kesal karena merasa direndahkan seperti itu, tapi kita tidak boleh ceroboh dalam mengambil keputusan. Apalagi mereka adalah seorang yg paling dihormati di kerjaan ini,' ucap Slatanis melalui metode yang sama.


Kemudian, tanpa disangka, sang pangeran pun menghampiri Slatanis.


“Ohh, apakah kamu salah satu dari pelayan?” Tanya sang Pangeran Tristan.


‘Hmph, tidak begitu tampan juga, jika dibandingkan Roland,’ pikir Slatanis sambil menatap Tristan dengan datar.


Kemudian di tengah ocehan prasangka Tristan, sebuah kuda pun berhenti di dekat kereta kuda kerajaan. Dia adalah seorang kesatria berzirah lengkap dengan kuda yang juga mengenakan zirah. Kemudian, ia pun melepas helm nya.


‘Sepertinya aku pernah melihatnya,’ pikir Slatanis menatap ke arah pria muda itu sambil mengintip dari sebelah lengan Tristan.


“Kyaaaaah, Sir Rodrik,” teriakan kecil dari salah satu pelayan wanita pun terdengar di telinga Slatanis.


‘Oh ****,’ sumpah serapah Slatanis di dalam benaknya.


***********


Bersambung ….


Summon high/medium/low tier evil creature (n.) dapat memanggil ras Devil dan Daemon.


Selain itu, perk Summiner of Evil juga terdiri dari beberapa spell lainnya, yaitu : [summon high tier evil creature], [summon medium tier evil creature], [summon low tier evil creature], [summon special evil creature], [summon the army of imps], [summon guardian of hell], [summon the tomb keeper], [summon high tier Undead], [summon medium tier undead], [summon low tier undead], [summon army of the death], [summon army of pure evil], [summon army of blood sucking creature], [summon high tier vampire], [summon medium tier vampire], [summon low tier vampire], [summon chromatic ancient dragon], [summon chromatic dragon lord], [summon chromatic dragon] dan [summon army of gargoyle].

__ADS_1


Dan seperti biasa, semua spell ini memiliki batas waktu bagi makhluk itu di panggil dan paling lama adalah satu jam. Namun karena sekarang berada di dunia nyata dan dunia yang berbeda, maka semua summon tidak memiliki batas waktu summon.


Sir (n.) sematan untuk kesatria


__ADS_2