Three In One Transmigration

Three In One Transmigration
#29 - Acara Syukuran IV


__ADS_3

Di perjalanan menuju kamar Slatanis, Brandon dan Slatanis pun bertemu dengan Sasha yang sedang berjalan di lorong.


"Sasha, cepat ikuti aku," ucap Brandon kepada Sasha. "Dan tunjukkan dimana kamar Slatanis."


"Baik Tuan," balasnya sembari menatap bingung Slatanis yang sedang dituntun di belakang Brandon. Ia juga menyaksikan Slatanis yang tampak terdiam dengan tatapan kosong.


"Tuan, apa yang ingin anda lakukan kepada Nona Slatanis?" Tanya Sasha sambil menatap Slatanis.


"Apa urusanmu bertanya seperti itu?" Tanya Brandon dan langsung hendak berjalan.


Namun, sesaat ia akan beranjak, Slatanis yang sedang dituntunnya pun menoleh ke arah Sasha sambil mengedipkan mata tanpa sepengetahuan Brandon yang berjalan di depan.


"Oh, baiklah," ucap Sasha mulai mengikuti Brandon dari belakang.


'Aku sudah melayani nona Slatanis sejak ia melepaskan segel pada leherku, aku tidak akan membiarkan si gendut ini macam-macam dengannya. Ya walaupun tampaknya Nona Slatanis tidak terpengaruh oleh kutukannya sih,' pikir Sasha sambil terus mengikuti Brandon dari belakang.


Sejak hari dimana Sasha dibebaskan dari segel kutukan oleh Slatanis, dan dibebaskan begitu saja dari kesalahannya, sejak saat itu pun Sasha terus melayani Slatanis dengan penuh kesetiaan. Apalagi ditambah, ia telah mengetahui bahwa Slatanis adalah seorang pagan dan juga penyihir.


*********************************


Sesampainya di depan pintu kamar Slatanis.


"Sasha, buka pintunya!" Ucap Brandon.


Sasha pun membuka pintu tersebut dan langsung mempersilakan keduanya untuk masuk duluan. Kemudian Sasha pun mengikuti mereka dari belakang.


"Kunci pintunya," ucap Brandon kembali memerintah Sasha. "Hahaha, akhirnya aku mendapatkan penyihir yang sangat kuat, yang bahkan grand cleric saja tidak ada tandingannya," lanjutnya sambil melepas genggaman tangannya, lalu langsung duduk di atas sofa.


"Dia memiliki kekuatan untuk mengangkat kutukan, dan juga bisa menyembuhkan. Fuhh, apa yang harus aku lakukan dengannya ya? Hmmmm," ucap Brandon sambil melihat Slatanis yang tampak hanya berdiri dan terdiam menatap kekosongan.


"Aku tidak menyangka bahwa segel yang aku tanamkan ke kamu, bisa memunculkan efek yang selama ini aku cari-cari," ucap Brandon mengomentari sikap Slatanis yang seperti manekin.


Glass of Hemkosrah (gelas hemkosrah) adalah sebuah alat sihir yang didapatkan oleh Brandon di reruntuhan di dalam wilayah Solem. Gelas ini berwarna bening dan memiliki ukiran kaligrafi berwarna emas di dalam bahasa Kuno yang digunakan di dalam kitab-kitab Hamrelith, yakni Shemarian.


Di dalam sejarah yang diketahui, gelas ajaib ini awalnya digunakan untuk menyegel monster. Sedangkan monster sendiri adalah sebutan untuk mereka yang sejak lahir telah memiliki Mana namun terdapat konflik di dalam jiwa mereka, yang dimana kemudian hal tersebut membuat pemilik Mana tersebut bertransformasi menjadi makhluk yang mengerikan. Di masa sekarang, setelah kemunculan monster semakin jarang, diteorikan juga bahwa Daemon di dunia ini yang sekarang sedang diburu oleh para paladin dengan gencar-gencarnya, adalah keturunan dari para monster di jaman dulu.


Gelas ajaib ini juga memiliki suatu keutamaan, yakni selain bisa menyegel dan membuat yang disegel menuruti seluruh perintah yang menyegel, gelas ini juga bisa mempengaruhi alam bawah sadar seseorang bagi siapapun yang minum dari gelas tersebut. Namun keutamaan itu didapatkan secara acak. Ada yang terpengaruh kesadarannya, ada juga yang tidak.


Sementara saat ini, Brandon berpikir bahwa Slatanis telah terpengaruh alam bawah sadarnya juga. Dengan melihat dari tingkah Slatanis, Brandon sangat yakin akan efek yang ditimbulkan tersebut.


"Apakah kamu bisa menggunakan sihir lain?" Tanya Brandon.


'Dia saat ini bahkan tidak tahu bahwa pengaruh segelnya terhadap Sasha juga sudah hilang. Hah~ betapa teledornya orang ini. Padahal menurut cerita Sasha, dulunya orang ini adalah pria yang brilian. Sungguh sangat disayangkan,' pikir Slatanis sementara dirinya terus berpura-pura dengan tatapan kosongnya.


"Saya bisa memanggil devil dan daemon, Tuan," ucap Slatanis dengan nada datar.


"Devil? Apa itu? Hmmm, Baiklah, coba panggil Daemon sekarang juga," ucap Brandon sambil terus bersandar di sofa nya.

__ADS_1


'Nona Slatanis bisa memanggil makhluk? Bukankah itu membutuhkan jiwa sebagai bayarannya? Tunggu, memang sih beberapa bisa dipanggil dengan Mana, tapi … Daemon? Mereka adalah makhluk kuat yang bahkan paladin saja kesulitan dalam mengatasi mereka, lalu bagaimana cara memanggil mereka? Itu pasti akan membutuhkan jiwa sebagai bayarannya!' pikir Sasha yang hanya berdiri di belakang Slatanis.


'Berpura-pura sih berpura-pura, tapi apakah anda akan melakukannya sampai sejauh itu? Tch, aku tidak akan membiarkan manusia sekuat dia mati begitu saja, aku harus menghentikannya!' Pikir Sasha sekali lagi sambil mulai berancang-ancang untuk berlari dan menghentikan Slatanis.


Slatanis pun sudah mengulurkan tangannya ke depan, tapi tiba-tiba Sasha memeluknya dari belakang.


"Hentikan Nona! Hentikan! Jangan lakukan itu!" Teriak Sasha sambil terus memeluk Slatanis dari belakang.


"Apa?! Hei! Sasha! Apa yang kamu lakukan! Hentikan!" Teriak Brandon berdiri tiba-tiba.


"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal seperti ini lagi!" Bentak Sasha sambil mulai melepas pelukan Slatanis dan mulai mengarahkan telapak tangannya ke arah Brandon.


"Hentikan! Hei! Aku perintahkan! Hentikan!" Teriak Brandon dengan tegas.


"Kau pikir segel itu masih berada di tubuhku hah?!" Ucap Sasha tegas sambil menatap tajam Brandon.


"Ba-bagaimana bisa— tunggu, Slatanis?" Ucap Brandon mulai tersadar dan langsung menatap Slatanis yang terlihat menghela nafas seakan kecewa akan sesuatu.


"Hufff~ padahal aku ingin mengerjainya lebih jauh," ucap Slatanis sambil memegang punggung Sasha yang sudah bersiap menembakkan sihirnya.


"[Dimensional lock], [mirror dimension]!" Ucap Slatanis dan ruangan pun terkunci dan tersalin ke dalam dimensi cermin.


"A-apa yang … apa yang terjadi?" Ucap Brandon mulai panik sesaat area sekitarnya mulai dilapisi oleh energi transparan, dan hilangnya suara sekitar sehingga menjadi kedap.


“Jangan bunuh dia,” ucap Slatanis sambil menarik bahu Sasha ke belakang. “Sementara anda tuan, anda bisa memilih untuk hidup namun harus menjadi budak dan kaki tangan saya, atau memilih untuk tidak menjadi siapa-siapa, namun saya akan melaporkan semua tindak permufakatan jahat anda terhadap duke Willem kepada yang bersangkutan,” lanjutnya memandang rendah Brandon.


“Tsk, kau memangnya punya bukti apa?!” Ucap Brandon dengan nada jengkelnya.


“Sasha! Apa yang kau lakukan?! Apakah kamu tidak ingat bahwa akulah yang menyelamatkanmu dari kejaran pihak kuil?!” Teriak Brandon sambil menunjuk-nunjuk Sasha dengan tegas.


‘Hmmm, padahal aku ingin menjadikannya kaki tanganku seperti Dorian dan Undeil, tapi sepertinya Sasha dan dirinya masih memiliki masa lalu yang jauh lebih dari yang aku kira … kalau begitu untuk sekarang, mari kita lihat ujungnya seperti apa,’ pikir Slatanis seakan sembari mengawasi mereka dari samping.


Sasha terlihat hanya tertunduk seakan sedang menahan rasa amarahnya.


“Benar … kau telah menyelamatkanku waktu itu, tapi …,” ucap Sasha, kemudian langsung menatap tajam Brandon. “Tapi kau telah menggunakanku sesuka hati kau! Kuh— apakah kau tahu seberapa menyesalnya diriku setelah kau memerintahkan diriku untuk menghabisi keluarga count Bellmayer!?”


“Hah! Itu hanyalah salah satu dari rencana kita untuk—” ucap bandon tertahan.


“[Sambaran petir]!” Potong Sasha yang sudah mengarahkan telapak tangannya ke arah Brandon.


“Kuhaaaaaak! Aarrrrrhgh!!!” Teriak Brandon sesaat salah satu bagian tubuhnya tersengat oleh aliran listrik yang diarahkan oleh sihir Sasha.


 ‘Hmmm, apakah itu spell tingkat 3 [lightning strike]? Walaupun hanya saja ukurannya lebih kecil daripada yang ada di game. Aku jadi penasaran, sihir apalagi yang dia punya ya,’ pikir Slatanis sambil memperhatikan Sasha dan juga Brandon yang tubuhnya sudah dipenuhi oleh luka bakar.


“Hahh hahh hahh,” Sasha terdengar berdengus kelelahan.


‘Lah kok?’ Pikir Slatanis sesaat melihat Sasha yang sudah kelelahan.

__ADS_1


Slatanis pun membuka inventory nya, dan langsung mengambil satu botol vial berisikan cairan biru terang. Itu adalah [Lesser Mana Potion].


“Minum ini,” ucap Slatanis memberikan vial tersebut kepada Sasha, dan Sasha pun mengambil vial tersebut tanpa ragu-ragu. “Aku ingin melihat mantra lain yang kamu bisa.”


“Ba-baik,” ucap Sasha gugup, dan langsung meminum vial tersebut.


“Sementara itu,” ucap Slatanis langsung menghadap Brandon yang masih sadarkan diri. “[Potent Heal]!” Dan Brandon pun langsung sembuh bersamaan dengan cahaya emas yang ikut menghilang.


“Hah? Apakah ini?” Ucap Brandon merasa terpukau sesaat tersadar tubuhnya kembali seperti semula.


“Coba gunakan sihir lain,” ucap Slatanis yang kini menatap Sasha.


“Ah~ ini benar-benar mengisi kembali Mana-ku … luar biasa … anda sungguh luar biasa,” ucap Sasha menatap Slatanis dengan bangga. “Baik Nona, saya akan melakukannya sesuai perintah anda dengan senang hati,” lanjutnya dan kembali menghadap ke arah Brandon.


“Tu-tunggu—” ucap Brandon memohon ampun.


“[Bola api]!” Ucap Sasha dan langsung membakar sebagian tubuh Brandon.


‘Luar biasa, aku masih saja terpukau dengan kekuatan sihir tingkat 1 di dunia ini yang bisa membakar sekuat itu,’ pikir Slatanis sambil menatap tubuh Brandon yang mulai dan masih terbakar oleh sihir tersebut.


“Rrrghhhh … tolong … hentikan,” rintih Brandon terkulai lemas dengan tubuh yang hangus setengah.


“Apakah ada lagi?” Tanya Slatanis.


“Ya … saya memiliki empat mantra lainnya, [tetesan Racun Kalajengking], [Perisai Sihir], [Penghilang Jejak Mana] dan [Pertajam Pendengaran],” jelas Sasha.


‘Penghilang jejak mana? Apakah ada spell semacam itu di dalam woc?’ Pikir Slatanis.


“Penghilang jejak Mana? Apa itu?” Tanya Slatanis.


“Ah, apakah anda tidak tahu?” Sasha Berbalik bertanya dengan tatapan herannya.


Slatanis pun menggelengkan kepalanya.


“Ini adalah sihir dasar yang wajib dimiliki oleh setiap penyihir, khususnya penyihir luar kuil seperti saya untuk menghapus jejak dari para Templar maupun pihak kuil lainnya,” jelas Sasha. “Ya … meskipun pemilik sihir [Pembaca Jejak Sihir] sangatlah langka, namun setidaknya untuk jaga-jaga kita harus memiliki sihir seperti ini,” tambahnya.


‘Apakah aku bisa mempelajarinya? Mengingat sihir adalah sesuatu yang aku dapatkan secara otomatis dari game dan bukan sesuatu yang aku peroleh melalui usaha ku sendiri,’ pikir Slatanis termenung.


“Baiklah, untuk sekarang mari kita sembuhkan orang ini terlebih dulu,” ucap Slatanis lalu mengucapkan spell [potent heal]-nya kepada Brandon.


“Dan untuk jaga-jaga, [Sleep]!” Ucap Slatanis dan langsung membuat Brandon langsung tertidur lelap ketika baru saja tersadar dari kesembuhan.


“Wow, luar biasa,” ucap Sasha kembali terpukau dengan kemampuan sihir yang dimiliki oleh Slatanis.


“Mari kita bicarakan hal lain khususnya tentang apa saja yang dia lakukan kepada kamu, sebelum pada akhirnya aku putuskan nasibnya,” ucap Slatanis dan mulai duduk di atas kasurnya.


“Baik Nona,” angguk Sasha dengan patuh.

__ADS_1


**********************


Bersambung ….


__ADS_2