
Slatanis pun terbang dan melayang di atas para monster yang masih berbaris itu.
“Hmmm, mari kita coba Spell aoe tingkat 5 dulu,” ucap Slatanis sambil mengarahkan tangannya ke para Monster. “[Great Flame]!”
Api yang sangat panas berwarna biru pun menyembur sangat dahsyat dari tangan kanannya dengan bentuk kerucut yang membesar di ujung. Sihir itu adalah tipe aktif, yang dimana ketika di dalam game, cukup beberapa detik saja api itu seharusnya sudah menghilang. Namun karena ini di dunia yang berbeda, api itu terus menyembur dan membakar segalanya.
Slatanis pun hanya mengarahkan api itu, sampai ia merasakan Mana nya mulai berkurang dengan cukup signifikan.
“Hmmmm, mereka langsung jadi abu … berikut juga dengan tanah tempat mereka berpijak jadi berlobang membentuk kawah hitam,” gumam Slatanis.
Kemudian ia pun mengeluarkan sihir lainnya. Kini adalah sihir AOE tingkat 8 yang bernama [Hell Flame]. Spell ini sama dengan Great Flame, hanya saja Hell Flame warna yang hitam pekat, serta memiliki suhu yang jauh berbeda dan luas serta jangkauan yang berbeda pula. Itu lebih jauh dan jauh lebih lebar, dan juga … jauh lebih panas.
Saat Slatanis mengeluarkan Spell itu, di sekitar radius 15 meter, monster pun musnah sampai-sampai melelehkan tanah. Sementara mereka yang tidak terkena secara langsung, langsung terbakar hangus menjadi abu dan arang. Tanah yang meleleh sementara itu, masih terus menggelembung dan membentuk magma.
“Ini sangat besar,” ucap Slatanis sementara menatap padang rumput yang berubah menjadi pasir hitam berikut dengan magma seperti kawasan gunung bromo saat sedang meletus.
“Kalau begitu coba yang lain dengan melakukan multi spell secara berturut-turut,” ucap Slatanis melihat ke arah gerombolan ratusan ribu Monster yang lain yang masih terlihat sangat banyak. “[Meteor Shower]! [Great Meteor]! [Great Double Meteor]! [Dark Thunder]! [Tornado Blade]! [Tornado]! [Dark Abyss]! [Micro Nuclear]! Dan [Nu—] eh tidak jadi deh, segitu saja,” lanjutnya dengan banyaknya sihir yang mulai bermunculan.
‘Aku baru tahu kalau ternyata aku bahkan bisa mengirim sihir-sihir itu dari jarak yang sangat jauh seperti ini tanpa perlu pindah-pindah,’ pikir Slatanis dalam keadaan masih melayang di atas para monster yang mulai berhamburan seperti bulu-bulu yang berterbangan.
[Meteor Shower] Sihir tingkat 6 yang mengeluarkan ribuan ratusan berukuran bola kasti sampai bola sepak dari lingkaran sihir yang muncul dari atas. [Great Meteor] Sihir tingkat 7 yang mengeluarkan satu buah bola api berukuran mobil truk dari lingkaran sihir yang muncul dari atas. [Great Double Meteor] Sihir tingkat 8 yang mengeluarkan efek yang sama seperti [Great Meteor], hanya saja spell ini mengeluarkan dua bola meteor. [Dark Thunder] sihir tingkat 7 yang memunculkan awan hitam di ketinggian ratusan meter, yang mana dari awan hitam ini memunculkan ratusan sambaran petir dengan efek AOE di setiap sambarannya.
[Tornado Blade] Sihir tingkat 8 yang memunculkan angin tornado yang sangat tajam seperti pedang dari udara hampa. [Tornado] Sihir tingkat 6 yang memunculkan angin tornado biasa dari udara hampa. [Dark Abyss] Sihir tingkat 9 yang memunculkan lingkaran hitam yang teramat besar di permukaan tanah yang dapat menghisap apapun yang ada di dekatnya. [Micro Nuclear] Sihir tingkat 9 yang memunculkan ledakan nuklir mikro dengan radius kurang dari 400 meter. Sementara sihir yang tidak jadi ia keluarkan bernama [Nuclear], yang mana sihir tersebut adalah sihir tingkat 10 yang memunculkan ledakan nuklir normal dengan radius 2 kilometer.
Di dalam Game, Micro Nuclear dan Nuclear memiliki pembatasan dalam penggunaan. Cooldown mereka adalah 1 hari sekali untuk micro nuclear, dan tiga hari sekali untuk nuclear. Keduanya juga memiliki casting time yang lama, yakni 1 menit untuk micro nuclear dan 5 menit untuk nuclear. Adapun Dark abyss yang juga memiliki batasan sama seperti micro nuclear, hanya saja dengan casting time selama-lamanya 20 detik.
Namun seperti yang sudah diketahui, di dunia ini cooldown dan casting time tidak berlaku. Sehingga Slatanis pun menahan sihir [nuclear] -nya karena ada kemungkinan juga efeknya akan berubah, yang mana efek tersebut bisa jadi adalah berupa radiasi sangat berbahaya. Jadi, untuk sekarang, ia setidaknya harus puas dengan sihir [micro nuclear] nya. Dan seluruh Spell AOE nya ini berasal dari kelas Void Elementalist, Dark Elementalist dan Mistress of Doom -nya.
Setelah serangannya mulai memadam, tampaklah para monster sudah mati semua, namun tidak dengan sang bos monster yang terlihat sedang berlari dengan begitu cepat.
“Hmmm, sepertinya ia memiliki kecerdasan,” ucap Slatanis sambil melihat dengan spell [eagle vision] -nya. “Ia cukup cerdas, sampai-sampai ia tahu bahwa aku tidak bisa dikalahkan olehnya. Hmmmm, kalau begitu, mungkin dia akan cukup berguna untukku dengan menanyakan dirinya tentang sihir dan monster di dunia ini,” gumamnya dan mulai melesat.
****************
Dicken pun terus berlari dengan begitu cepat, meskipun tubuh monsternya besar dan gempal.
“Aku … aku tidak akan menyia-nyiakan sisa hidupku ini! Aku harus kembali dan setidaknya aku harus menghajar para abdi kuil itu!” Teriak Dicken sambil terus berlari.
Ia terus berlari dan berlari tanpa menoleh ke belakang, sampai-sampai koneksi dirinya dengan tentara monsternya pun terputus.
“Mereka … mereka telah habis, kuh,” keluh Dicken. “Aku harus lari dari sini! Sial! Sebenarnya aku yang monster atau dia sih!??”
Lalu ketika ia berlari, ia pun menyadari bahwa di sisi kanan cakrawalanya, di antara padang rumput, ia melihat dusun lain di sana.
“Hah! Mungkin aku bisa menjadikan dusun itu sebagai tawananku!” Ia pun langsung mengepot dan berbelok ke arah dusun itu.
Sementara itu, Slatanis yang masih terbang sambil menghabisi sisa-sisa monster pun melihat Dicken sedang berlari dengan begitu cepat. Untuk sesaat ia membiarkan ia berlari, namun tiba-tiba ia berbelok ke kanan menuju dusun lain.
“Gawat!” Ucap Slatanis dan langsung mengejarnya sambil terus terbang.
Dengan jangkauan yang tidak begitu jauh, ia pun menembakkan sihir [spear lance]-nya ke arah punggung dicken, namun Dicken mampu menahannya meskipun itu sudah tertancap.
“Sepertinya dugaanku benar, bahwa dia sadar dengan dirinya yang tidak akan bisa mengalahkanku, oleh sebab itu ia memilih untuk lari. Tapi, kenapa ia berlari menuju dusun itu?” Ucap Slatanis bertanya-tanya. “Hmmmm, kalau dipikir-pikir kembali, dengan melihat kecerdasannya, apakah ada alasan tertentu yang memotivasi dirinya untuk menyerang Neverhive?”
Slatanis pun terus terbang sambil terus menembakkan sihir tingkat rendahnya, sementara dirinya mencoba untuk tidak langsung membunuhnya agar bisa menginterogasinya nanti.
'Jika dia dulunya adalah Manusia, mungkin aku bisa menginterogasi dirinya tentang banyak hal, khususnya tentang mutasi dirinya dan juga sihir. Apalagi mengingat bahwa dirinya yang sekarang masih tampak cukup cerdas untuk sekedar berbicara,' pikir Slatanis.
__ADS_1
Lalu sesampainya di ujung dusun, di pinggir peternakan domba, Dicken pun berhenti sambil tetap memunggungi Slatanis. Sementara Slatanis hanya melihat Dicken seakan menunggu dirinya untuk melakukan sesuatu.
Di dekat pagar yang mengandangi para domba, Dicken pun menoleh ke arah sebuah gudang yang tampaknya itu adalah kandang para domba. Dengan perlahan ia pun melirik ke arah gudang itu, sementara ia bisa merasakan keberadaan sang wanita penyihir yang hanya terbang melayang di belakangnya.
'Apa yang sedang ia cari?' Dikir Slatanis sambil mengikuti arah lirikan Dicken. 'Kandang itu? Ada apa di dalam sana? Jangan bilang---'
Dan benar saja, tiba-tiba dengan hentakan kuat, Dicken pun melompat ke arah gudang tersebut. Sedangkan Slatanis yang dikejutkan dengan gerakan tiba-tiba Dicken pun tidak sempat merespon pergerakkan itu.
“[Quadriplegia]!” Teriak Slatanis mengucapkan Spell paralysis nya ke arah Dicken, namun itu tidak aktif.
“Sial! Mana Ku!” Ia pun tersadar akan jumlah Mana nya yang sudah berkurang jauh akibat menggunakan banyak sihir aoe ke para monster, dan menggunakan banyak Buff ke tubuhnya.
Dicken pun mendarat dan menghancurkan gudang tersebut. Lalu sesaat ia mendarat dan menghancurkan sebagian gudang, terlihatlah kumpulan warga di sana yang sedang berlindung.
“Hah! Dapat kau!” Ucap Dicken langsung meraih dua sandera dari warga yang mengungsi.
Dicken pun berbalik badan ke arah Slatanis sambil mengangkat dua sandera dengan kedua tangannya.
“Biarkan aku pergi! Maka aku akan melepaskan mereka!” Ucap Dicken mengancam.
“Tsk,” keluh Slatanis.
“Pertama-tama, turunlah dan menapak di tanah, aku merasa sangat khawatir dengan caramu itu!” Ucap Dicken, dan Slatanis pun mengalah.
‘Sial, seandainya aku punya sihir teleportasi, mungkin aku sudah berada di belakangnya sekarang dan langsung membunuhnya,’ pikir Slatanis sambil mulai mendarat dengan anggunnya. ‘Dan juga … Mana ku sekarang sudah berkurang banyak, dan hanya bisa menggunakan sihir tingkat rendah saja. Jika aku menggunakan sihir tingkat rendah ku untuk langsung membunuhnya, tapi itu malah tidak membunuhnya secara langsung, maka itu justru akan membahayakan dua orang ini.’
“Baiklah,” ucap Slatanis. “Sekarang, lepaskan dua warga itu.”
“Hah! Aku tidak sebodoh itu, Nona!” Ucap Dicken. “Aku akan membawanya bersamaku, sampai aku benar-benar sudah berada di luar jangkauanmu, lalu baru setelah itu … aku akan melepaskan keduanya.”
“Lepaskan mereka!” Ucap seorang pria dengan menggunakan garpu besar pembersih kandang dari kotoran. Dia adalah Samuel.
“Hah! Coba lihat ini! Seseorang yang ingin menjadi pahlawan huh? Tunggu … aku mengingatmu! Bukankah kau … bukankah kau adalah orang yang paling depan dalam mengusirku waktu itu?” ucap Dicken menoleh ke arah Samuel.
“Aku tidak mengingatnya, jadi lepaskan mereka!” Ucap Samuel dengan ekspresi stoik nya.
Sementara itu, Slatanis menonaktifkan seluruh spell buff nya. Kemudian mulai mengeluarkan satu Vial Mana Potion tingkat tinggi dari dalam Inventory-nya.
“Hei! Apa yang kau lakukan!” Teriak Dicken yang melihat gerak-gerik Slatanis.
Slatanis pun langsung menurunkan tangannya kembali sambil memegang vial berisi cairan berwarna biru pekat. Itu adalah [Potent Mana Potion], sebuah ramuan Mana tingkat tertinggi.
“Apa itu yang ada di tanganmu?” Tanya Dicken sambil terus menatap ke arah Slatanis.
‘Sial, di dunia ini Mana sangat lama terisinya!’ Pikir Slatanis.
Sementara itu, Samuel yang melihat kesempatan itu pun secara perlahan mulai mendekat ke arah Dicken dari belakang.
“Jangan coba macam-macam, atau akan aku remas mereka berdua,” ucap Dicken sekali lagi. “Cepat menyerahlah dan berikan aku jalan untuk pergi ke hutan, dan jangan ikuti aku. Aku berjanji akan melepaskan mereka berdua disaat— eugghhh!” Tiba-tiba ucapannya terhenti sesaat Samuel menusuknya dari belakang.
Dicken pun memutar badannya sambil langsung menendang Samuel dengan sangat keras sampai-sampai ia terpental.
“Kuhaakkkk!” Rintih Samuel sementara dirinya terpelanting dengan sangat keras ke tanah.
“Sialan kau!” Teriak Dicken.
Namun sepersekian detik dari jeda gerakan memutarnya itu, tiba-tiba Slatanis juga langsung mengambil inisiatif untuk berlari dan melompat ke arahnya sambil mengeluarkan falchion-nya, kemudian langsung menebas dan membelah perutnya yang terdapat mulut besar secara horizontal dengan sangat mulus tanpa meneriaki warcry sedikitpun.
__ADS_1
Spruuuuut!
Darah biru pun terpancar dari tubuhnya yang terbagi dua itu, dan Dicken pun tergelimpang jatuh.
Slatanis tanpa pikir panjang pun langsung berlari ke arah Samuel, sementara warga lain yang berada di sana langsung mulai menyelamatkan dua warga yang tampak tertindih oleh tangan besar Dicken.
‘Baginda, darah monster itu mengandung begitu banyak Mana,’ ucap Raphaela di tengah-tengah itu.
‘Iya, nanti aku akan memeriksanya, tapi untuk sekarang, aku ingin memeriksa keadaan Samuel terlebih dulu,’ balas Slatanis.
Slatanis pun sudah berada dekat di tubuh Samuel yang sudah tampak banyak patahan itu.
“Kuh— uhuk uhuk uhuk!” Rintih Samuel dengan batuk darahnya.
“Samuel! Bertahanlah, aku akan menyembuhkanmu!” Ucap Slatanis sambil bersimpuh di sebelahnya.
“Hentikan! Ja— … uhuk uhuk … jangan, hentikan … jangan … sembuhkan aku,” ucap Samuel sementara dirinya sudah mulai sekarat.
“Ke-kenapa? Aku bisa menggunakan sihir penyembuhan! Jadi tenang saja ini tidak akan sakit!” Ucap Slatanis.
“Hentikan!” Ucap Samuel sambil memegang tangan Slatanis, sementara tangannya sendiri memiliki setidaknya tiga patahan. “Hentikan … tolong,” lanjutnya dengan nafas yang semakin pendek dan lemah, dengan tatapan memohon kepada Slatanis.
“Kenapa? Kenapa kamu—” ucap Slatanis tertahan sementara genggaman Samuel di tangannya semakin kuat.
“Aku … aku telah hidup di tengah penderitaan … jadi … tolong, biarkan aku mati,” lirih Samuel dengan nada yang semakin melemah. “Juga … tolong bilang kepada Olivia … istri dari count Renesphere, bahwa aku … uhuk uhuk … bahwa aku mati sebagai pahlawan.”
“Kenapa aku harus—” ucap Slatanis kembali tertahan.
“Berjanjilah!” Ucap Samuel.
“Ba-baik,” balas Slatanis mengerutkan keningnya.
'Ah, ini sungguh merepotkan,' pikir Slatanis.
Tiba-tiba dari belakang, suara seorang wanita bernada tinggi pun berlari menghampiri mereka.
“Sayang!” Teriak wanita itu. Ia adalah Amy.
‘Tsk, ternyata dia sudah bangun,’ pikir Slatanis.
Namun Amy yang hendak menghampiri Samuel yang sudah terkulai lemas di dalam detik-detik akhirnya pun, dicegat oleh beberapa warga yang juga mengelilinginya tak jauh.
“Biarkan aku lewat!” Teriak Amy. “Aku adalah istrinya! dan aku adalah Putri dari Count Renesphere! jadi minggirlah!”
Namun para warga tetap tidak bergeming di tengah perlawanan Amy.
Samuel pun tersenyum sambil menatap Slatanis, lalu dengan nafas terakhirnya ia berkata. “Setidaknya … setidaknya aku bisa mati sebagai … pahlawan,” ia pun menghembuskan nafas terakhirnya.
'Tidak, kamu baru saja mati karena berhasil menjadi umpan dan martir,' pikir Slatanis sambil menutup kelopak matanya yang masih terbuka.
Slatanis pun berdiri, kemudian menoleh ke arah para warga dengan ekspresi tegasnya.
“Ia sudah gugur sebagai pahlawan,” ucap Slatanis kepada para warga, dan para warga pun langsung terjatuh di lutut mereka sambil mengeluarkan kesedihan mereka. Begitu juga dengan Amy yang langsung berlari dan berteriak ke arah tubuh tak bernyawa Samuel.
********************
Bersambung ….
__ADS_1