Three In One Transmigration

Three In One Transmigration
#30 - Acara Syukuran V


__ADS_3

Saat ini, Slatanis dan Sasha sedang duduk berdua di atas pinggir ranjangnya.


Kemudian, Sasha pun mulai menceritakan tentang nasib Bellmayer yang masih merupakan anggota keluarga cabang atau kerabat jauh dari keluarga utama, Duke Bellwyne. Mereka adalah Count bawahan dari duke Bellwyne, sedangkan kepala keluarga mereka yang bernama Richard Bellmayer adalah pengganti Brandon sebagai tangan kanan Duke Willem.


Count Bellmayer memiliki dua istri dan delapan anak yang berumur antara 2 sampai 17 tahun. Mereka adalah keluarga bahagia, sekaligus terkenal sebagai keluarga saleh oleh pihak kuil. Sampai-sampai Count Richard mendapatkan piagam penghargaan karena pernah menjadi anggota kesatria ordo paladin paling tekun.


Tugasnya sebagai paladin pun berakhir dan diperintahkan untuk kembali oleh Willem untuk melayaninya. Hal ini terjadi saat Willem baru saja menikah dengan Elizabeth dari keluarga kerajaan. Ia kembali awalnya sebagai pendamping sementara, namun akhirnya naik jabatan menjadi tangan kanan.


Singkat cerita, waktu pun berlalu dan tepat dua bulan sebelum duke Willem diberi kutukan, keluarga Count Bellmayer pun habis terbunuh karena terjadinya kebakaran di kastilnya, di Mayerburnum. Di saat kejadian, count Richard saat itu sedang berada bersama Willem sedang mengurus sesuatu, jadi ia tidak sempat menyelamatkan keluarganya. Bahkan ia baru mendapat kabar empat hari kemudian, mengingat seberapa jauhnya Mayerburnum dari Bellhive.


Kemudian setelah mendengar berita memilukan itu, ia pun langsung pergi begitu saja untuk kembali ke kastilnya.


Sebulan kemudian, setelah absennya count Richard sementara duke Willem sedang sangat sibuk dengan bisnisnya. Count Richard pun datang ke Istana Bellwyne dengan keadaan yang berantakan. Dengan dirinya yang tampak berantakan dan kelelahan, ia pun langsung meratapi kesedihannya itu di depan duke Willem. Namun karena sifat dinginnya saat itu, Willem sama sekali hampir tidak menanggapinya.


Di saat dirinya yang sedang berkabung parah, akalnya pun hilang dan langsung berniat untuk membunuh Willem karena menganggap dirinya lah yang telah membunuh keluarganya. Namun sungguh disayangkan, dirinya sudah keburu tewas dengan pedang yang menancap di punggungnya. Pedang itu ditancapkan oleh beberapa kesatria yang ada di Istana saat itu.


Dan sejak saat itu, keberadaan keluarga Count Bellmayer sudah tidak ada lagi. Sedangkan kini, Mayerburnum diduduki oleh pihak kuil sesuai dari surat yang ia tinggalkan di sakunya saat kematiannya.


“Jadi yang membakar kastil count Bellmayer adalah kamu?” Tanya Slatanis menatap Sasha.


“Be-benar nona … namun hal itu saya lakukan karena—” ucap Sasha yang terlihat hanya menunduk saja.


“Tidak usah dilanjutkan, aku sudah mengerti,” ucap Slatanis kemudian berpaling menatap Brandon yang masih tertidur lelap.


‘Orang ini sangat biadab … apakah aku harus membunuhnya sekarang juga? Ataukah aku menyerahkannya saja kepada duke willem? Tapi jika aku menyerahkannya, apakah dia akan percaya? Bukti saja hanya sedikit yang kupunya,’ pikir Slatanis dalam-dalam.


“Sasha, Apakah ada saksi lain?” Tanya Slatanis.


“Sayangnya … tidak ada Nona,” ucap Sasha menunduk murung. “Hanya saya saja yang bisa menjadi saksi. Tetapi saya yakin, itu masih lah kurang.”


‘Sekarang pilihannya adalah bunuh atau memperbudaknya,’ pikir Slatanis.


“Apa konsekuensinya jika aku membunuh seorang bangsawan?” Tanya Slatanis sambil terus menatap serius Brandon.


“Hukuman mati … jika tidak, ya diasingkan dan dikucilkan,” ucap Sasha. “Namun tidak usah khawatir Nona, karena anda adalah salah satu dari kami … dan kami pasti akan mencoba dengan seluruh kemampuan kami untuk melindungi anda.”


“Melindungi? Heh! Jangan khawatir,” ucap Slatanis tersenyum miring. “Bagaimana kalau aku gantian yang memperbudak Brandon? hm?”


“Ide bagus Nona, itu ide yang sangat bagus! Mari kita gunakan alat sihir itu!” Ucap Sasha penuh dengan rasa semangat.

__ADS_1


Slatanis pun berdiri dan langsung mengambil gelas tersebut yang jatuh di dekat kaki Brandon.


‘Baginda, sepertinya di sisi gelas itu terdapat sebuah pola sihir …dan pola sihir itu sangatlah sederhana, bahkan efeknya sendiri pun sangat acak dan tidak stabil,’ ucap Raphaela melalui telepati dari inventory-nya.


‘Benarkah?’ Tanya Slatanis menggunakan teknik yang sama.


‘Benar Baginda. Anda bahkan bisa dengan mudah membuatnya dengan spell [Create Divine Item] karena sudah memiliki contohnya saat ini,’ jelas Raphaela.


‘Baiklah, mari kita coba,’ ucap Slatanis dan mulai mengaktifkan spell-nya itu.


Sesaat spell-nya aktif, seperti biasa lingkaran sihir berwarna putih bercahaya pun muncul dan langsung menghilangkan gelas yang ada di tangannya.


“Luar biasa Nona! Namun, apa yang sebenarnya sedang anda lakukan?” Tanya Sasha yang sedang terpukau.


Slatanis tidak menjawab sedang dirinya berfokus.


Di saat seluruh gambaran mulai muncul di pikirannya, tidak terlihat satupun dari item itu yang menyerupai gelas. Namun tak berselang beberapa detik, gelas yang tadinya menghilang dari genggamannya kini muncul di dalam pikirannya, dan gelas itu langsung ikut berbaris melingkar di antara gambaran contoh item lain.


Contoh item-item itu pun berputar sesaat Slatanis memilih gelas tersebut. Kemudian, ia pun memilih satu bahan dari inventory-nya, dan ia menggunakan Celestial Golden Bar untuk menciptakan gelas tersebut.


Mesin penempa bergaya steampunk pun mulai menempa, cahaya yang dihasilkan dari tempaan pun kemudian mulai ikut menyilaukan, dan akhirnya … sebuah goblet pun tercipta dan terbentuk. Seraya goblet itu mulai melayang di depan pandangannya, Slatanis pun meraih Goblet tersebut. Dan sesaat ia menyentuh goblet tersebut, tergambarlah seluruh informasi ke dalam pikirannya dari item tersebut.


Goblet ini bernama [Goblet of The Master] dengan kegunaan untuk Memperbudak seseorang jika ia meminum dari goblet ini, dengan efek orang tersebut tidak akan bisa terbebas kecuali dari keinginan sang Tuan itu sendiri. Fungsi lain dari goblet ini adalah, sang budak bisa dihubungi atau diperintahkan oleh sang Tuan dari jarak yang tak terbatas dan bisa di teleportasikan dari jarak yang tak terbatas juga. Selain dari itu, adapun fungsi lainnya, yakni dapat mencuci pikiran sang Budak.


“Ahem, mari kita minumkan orang ini dengan sesuatu,” ucap Slatanis sambil berjalan dan hendak mengambil sebotol wine yang tersedia di meja di dalam kamarnya. “Ah sebelum itu … [Mirror Dimension] nonaktif!” Lanjutnya untuk berjaga-jaga.


‘Fuhhh, aku tidak mau yang diminumnya hanyalah sesuatu yang fatamorgana,’ pikir Slatanis sambil mengambil botol wine yang sudah bukan dari dimensi cermin. Kemudian langsung menuangkan wine dari botol ke dalam goblet.


‘Hmmm, tidak ada reaksi sihir yang terlihat. Tapi aku bisa merasakan Mana ku seakan sedang mengisi setiap jalur yang ada pada pola sihir yang terukir di goblet ini,’ pikir Slatanis.


“Buka mulutnya,” perintah Slatanis.


“Baik Nona,” ucap Sasha dan langsung berjalan ke arah Brandon, kemudian membuka mulutnya lebar-lebar.


Slatanis pun mulai menuangkan wine tersebut ke dalam kerongkongan Brandon sambil menutup hidungnya. Dengan hidungnya yang ditutup, ia pun kesulitan bernafas dan terpaksa menggunakan kerongkongannya untuk bernafas, sehingga tanpa sadar ia pun malah menelan wine yang sudah dituangkan itu.


Sriiiing!


Tiba-tiba kening Brandon muncul sebuah simbol Quadragram berwarna emas. Sesaat simbol itu muncul, tiba-tiba di pikiran Slatanis masuk informasi yang memberitahukan dirinya untuk memprogram pikiran Brandon.

__ADS_1


‘Hmmm, cuman bisa memprogram empat doktrin … kalau begitu, kira-kira apa ya?’ Pikir Slatanis sambil menaruh Goblet tersebut ke dalam inventory-nya.


“Pertama, aku adalah seorang Dewi dimatamu, hehehe, maka mulai sekarang sembahlah aku setiap kali bertemu denganku,” ucap Slatanis sambil terkekeh.


Kaki yang berada di atas Quadragram pun menghilang.


“Wow, oke. Lalu yang kedua adalah, kamu hanya mendengarkan perintah dariku sedang tidak bisa membantahnya sama sekali, dan dirimu akan merasa sangat senang dan menikmati setiap kali aku memerintahkanmu secara keras dan judes,” ucap Slatanis sambil tersenyum lebar.


Kini sudut lain dari Quadragram ikut menghilang.


‘Sepertinya Nona Slatanis sangat menikmati momen ini,’ pikir Sasha menatap bingung Slatanis.


‘Hehehe aku akan membuatmu menjadi masokis, kuwahahahaha!’ Slatanis Tertawa jahat di dalam benaknya secara histeris sementara tampak ia tersenyum begitu lebar.


“Yang ketiga adalah, kamu akan selalu bersikap baik kepada keluarga Bellwyne tanpa terkecuali dan tanpa pamrih,” ucap Slatanis.


‘Well, kurang baik apanya coba aku ini kepada keluarga Bellwyne, hmph!’ Pikir Slatanis.


“Lalu yang keempat adalah, Sasha adalah kedua dalam komandoku, yang dimana perintahnya adalah mutlak setelah perintah mutlak ku,” ucap Slatanis sekali lagi.


“No-Nona?! Apa yang anda lakukan—”


“Sssttt, anggap saja ini sebagai hiburan untukmu, hehehe,” ucap Slatanis.


Dan dua sisa kaki dari Quadragram pun menghilang.


‘Luar biasa, item ini sungguh sangat berguna dan broken! Untung saja item seperti ini tidak ada di game, fuuhhh,’ pikir Slatanis terlihat bersemangat.


“Mari kita agak mundur,” ucap Slatanis mengajak Sasha untuk berjalan mundur sedikit.


“[Dispel]!” Ucap Slatanis mengarahkan sihirnya ke arah Brandon, dan Brandon pun tersentak bangun.


“Hah hah hah, dimana aku?!” Ucap Brandon kebingungan, sementara matanya masih merah dan sembab.


“Brandon~,” Ucap Slatanis dengan nada lembut namun dengan ekspresi yang berwibawa.


“Oh Dewi!” Ucap Brandon dengan tiba-tiba sujud di depan Slatanis dengan begitu keras. “Apakah anda membutuhkan sesuatu dari hamba mu yang rendahan ini?”


‘Oke, sepertinya aku telah berlebihan deh,’ pikir Slatanis sementara ia hanya bisa menatap rendah Brandon tanpa mengucapkan apapun, begitu juga dengan Sasha.

__ADS_1


**********************


Bersambung ….


__ADS_2