
Di desa Neverhive malam hari.
Seperti halnya di masa abad pertengahan, ketika lampu belum ditemukan dan kegelapan adalah hal biasa ketika malam, tampak di desa ini para penduduk sudah tertidur semua. Toko-toko dan bar-bar yang biasanya digambarkan buka di malam hari pada cerita-cerita fantasi petualangan pun tidak berlaku di sini. Hanya ada beberapa milisi yang sedang berpatroli malam sambil membawa obor di pinggir-pinggir desa.
Sementara itu, Slatanis dengan spell [concealment]-nya sedang memantau keberadaan desa tersebut dari atas sambil terbang dengan [divine wings]-nya. Dengan [night vision]-nya ia mampu melihat dengan jelas keadaan desa yang sepi, dan dengan [eagle eye]-nya ia bisa memperbesar penglihatannya sehingga menjadi begitu dekat. Kemudian dengan [eagle eye]-nya itu, ia pun dapat melihat sebuah plang yang bertuliskan “selamat datang di desa Neverhive.”
“Fuhhh, akhirnya sampai di tujuan,” ucap Slatanis merasa lega.
‘Aku tidak menyangka, aku bisa seceroboh itu tadi … dan untungnya aku tidak nyasar … dan untungnya lagi, aku bisa terbang dengan kecepatan yang sangat tinggi, sampai-sampai jarak yang membutuhkan 10 hari perjalanan kaki, kini hanya aku tempuh dengan 2 jam perjalanan saja,’ pikir Slatanis sebelum akhirnya turun menukik.
“Mari cari tempat istirahat dulu, lalu kembali melanjutkan perjalanan besok pagi,” gumam Slatanis dan mulai berjalan.
….
Sebelumnya, di Istana Bellwyne, setelah Slatanis mencatat surat untuk Roland, ia pun mengabarkan kepergiannya kepada Sasha melalui Shade-nya. Setelah itu, dengan perasaan ragu dan dengan hati yang berat, ia pun keluar begitu saja melalui balkon sambil mengaktifkan [Divine Wings]-nya. Kemudian dengan santainya, ia pun terbang dengan ketinggian relatif rendah.
Dengan beberapa pikiran yang menyangkut di kepalanya, ia pun hanya bisa menatap kosong ke cakrawala malam sambil terbang. Lalu di saat ia akan baru saja untuk menuruni bukit, tiba-tiba beberapa penunggang kuda mengejarnya sambil melemparkannya sihir.
Pada awalnya ia tidak mengetahui akan serangan itu karena tidak satupun sihir dapat menyentuhnya, sampai akhirnya serangan yang kesekian kalinya pun meleset tepat di depan wajahnya. Slatanis pun saat itu langsung menoleh ke bawah dan mendapati terdapat beberapa pengendali kuda sedang mengejarnya. Lalu karena bingung harus apa, sementara dirinya saat ini sedang berada di mode yang dimana tidak seharusnya orang lain lihat, ia pun langsung turun menukik sambil bertahap melambatkan laju terbangnya untuk menghabisi mereka.
Namun disaat tubuhnya sudah berdiri vertikal, tiba-tiba salah satu dari penunggang kuda menembakkan sihir penyilau mata yang sangat terang. Slatanis pun seketika langsung dibutakan untuk sesaat oleh sihir tersebut, semetara [night vision] saat itu sedang aktif secara pasif.
Ia pun terjatuh, namun masih bisa berdiri di atas tanah. Beberapa penunggang yang menyaksikan itu pun memperlambat kuda mereka sambil terus melemparkan sihir mereka. Namun tak satupun sihir mereka yang bisa melukai atau bahkan menyentuh Slatanis, kecuali sihir penyilau mata.
Dengan pandangan yang masih putih semua, dan dengan rasa cemas yang mendalam sebab tidak tahu siapa yang sedang dia hadapi, Slatanis pun langsung kembali terbang dan memilih untuk kabur dari para pengejar nya dalam keadaan yang masih buta.
…..
Saat ini di desa Neverhive, dua jam sejak kejadian itu.
Slatanis pun mulai berjalan di desa-desa untuk mencari penginapan, namun tak satupun ada yang buka. Bahkan beberapa cahaya lilin sudah mati di rumah-rumah.
“Aku tidak tahu jam berapa sekarang, namun ini sepertinya sudah malam sekali,” gumam Slatanis.
Ia pun terus berjalan, sampai ke salah satu ujung desa.
“Yaps, sepertinya sudah habis,” ucap Slatanis sementara di hadapannya adalah ladang gandum yang amat luas.
‘Fuhh, aku sudah cukup bersyukur bisa sampai di desa ini, tapi masa sih tidak ada satupun yang buka? Apakah harus aku ketuk?’ Ucap Slatanis bertanya-tanya.
“Si-si-siapa kau?” Tiba-tiba beberapa orang pria dengan api unggun mereka berteriak dari kejauhan.
“Ah … akhirnya ada orang,” ucap Slatanis menoleh ke arah gerombolan itu. “Ah sebelum itu,” dan ia pun langsung mengganti pakaiannya ke pakaian tempurnya yang lebih tertutup dan berwarna kemerahan.
Slatanis pun langsung mulai berjalan menghampiri gerombolan itu.
“Siapkan perisai kalian!” Teriak salah satu dari mereka.
“Matanya menyala … apakah dia seorang monster???” Ucap yang lain bertanya-tanya sambil menempatkan perisai di depan dadanya.
“Acungkan tombak kalian! Bersiaplah!” Teriak salah satu dari mereka.
Kini lima pria milisi itu berada di sikap siap mereka.
“Senang berkenalan dengan kalian kawan,” ucap yang lain.
Lalu salah satu dari mereka yang memegang obor pun tiba-tiba berkata, “tunggu … dia tampak seperti manusia!”
“Tolong turunkan senjata kalian, saya manusia seperti kalian!” Terika Slatanis sesaat mengetahui mereka sudah mendirikan dinding perisai.
__ADS_1
“Hah! Dia bisa berbicara!” Ucap yang lain tampak tambah panik.
“Dia adalah monster yang sudah cerdas … yang berarti … dia sudah sangat kuat,” ucap yang lain.
“Bersiaplah!!!!”
“Hiyaaaat!!!”
Semua para milis pun berteriak dan hendak berjalan maju.
“[Light ball],” ucap Slatanis mengucapkan mantra dan cahaya putih terang pun muncul di atas kepalanya. “Hentikan, saya adalah manusia.”
“Wow, bidadari,” ucap salah satu dari mereka tertegun.
“Penyihir?” Ucap yang lain sama tertegunnya, namun tampak ekspresi lega terpampang di wajahnya.
“Akhirnya … apakah pihak kuil mengirim anda? Apakah anda seorang high priestess atau bahkan cleric??” Tanya salah satu dari mereka.
“Iya, aku penyihir tapi bukan dari kuil,” ucap Slatanis.
Sesaat mendengar itu mereka pun saling lihat satu sama lain.
“Kalau begitu, apakah anda dari pasukan elit kerajaan?” Tanya salah satu dari mereka.
“Nnngggh, ya … bisa dikatakan,” ucap Slatanis sambil melirik ke samping.
“Hahh~ syukurlah,” ucap mereka hampir bersamaan dengan perasaan lega.
“Selamat datang di Neverhive,” ucap salah satu dari mereka menghampiri Slatanis sambil mulai menyalaminya.
“Akhirnya mereka mengirim anda, setelah banyaknya pembawa pesan kami kirim namun tidak ada yang kembali,” ucap salah satu yang lain.
“Sebelum kami menjawabnya, mari semua kita pergi ke rumah kepala desa,” ucap salah satu milisi sambil mengajak Slatanis.
“Oh … oke,” ucap Slatanis mengangguk.
‘Oke, buff dulu sambil jalan untuk jaga-jaga,’ pikir Slatanis dan mulai berjalan sambil berkomat-kamit memberikan dirinya beberapa buff pertahanan. ‘Semoga saja bukan Rey yang lain.’
***********
(Aaron, Kepala desa Neverhive)
Sesampainya di depan bangunan besar di tengah-tengah desa, salah satu dari milisi pun mempersilahkan Slatanis untuk masuk duluan.
“Ini adalah rumahnya, silahkan,” ucap pria lain sementara yang lainnya mulai mengetuk pintu.
Tak lama, beberapa saat kemudian seorang pria dewasa dengan rambut panjang putih dan jenggot putih pun membuka pintu.
“Ryan?” Ucap pria itu, sang kepala desa bernama Aaron.
“Tuan Aaron, kita telah kedatangan seorang penyihir dari pasukan elit kerajaan,” ucap pria itu, Ryan.
“Be-benarkah?” Ucap Aaron langsung menatap Slatanis dengan mata berkaca-kaca.
‘Aku jadi merasa tidak enak … apakah aku harus mengatakan ke mereka bahwa aku bukanlah dari pasukan elit?’ Pikir Slatanis tersenyum canggung.
“Silahkan masuk … silahkan masuk,” ucap Aaron mempersilakan Slatanis masuk.
__ADS_1
‘Untuk sekarang, mari berpura-pura saja terlebih dulu, demi mendapatkan tempat bermalam,’ pikir Slatanis.
“Baik, terima kasih,” ucap Slatanis dan mulai berjalan masuk ke rumah.
Kemudian, setelah duduk bersama di aula yang terdapat api unggun di tengah-tengahnya, makanan dan minuman pun mulai dihidangkan.
‘Hahh~ aku jadi ingin makan,’ pikir Slatanis menatap makanan yang tersedia di depannya.
“Silakan makan Nona …,” ucap Aaron.
“Slatanis … Panggil aku Slatanis,” ucap Slatanis.
“Salam Berkenalan dengan anda Nona Slatanis, saya adalah kepala desa di sini, dan nama saya adalah Aaron,” ucap Aaron memperkenalkan dirinya dengan ramah. “Seperti yang sudah diberitahukan ke para pihak yang berwenang, kami saat ini sedang ditimpa oleh kerumunan monster yang datang dari hutan Gloria.”
‘Monster? Mereka disini? Para makhluk mutasi hasil dari tidak tersinkronnya jiwa dengan Mana … di Gloria?’ Pikir Slatanis.
“Ini sudah terjadi sejak tiga bulan yang lalu, dan para milisi kami sudah melawan mereka mati-matian sejak saat itu,” Aaron pun mulai bercerita sambil mengepal kedua tangannya dan sambil menunduk murung. "Dan sebentar lagi adalah musim panen, dan para saudagar dari setiap serikat dagang akan datang untuk mensuplai dagangan mereka disini."
Sejak tiga bulan yang lalu, para monster telah menyerbu desa Neverhive dari arah hutan Gloria. Mereka bahkan juga menyerang dusun-dusun di bawah otoritas desa Neverhive, terutama dusun-dusun yang paling dekat dengan hutan. Diketahui monster-monster ini membunuh dan memakan para korban langsung di tempat, maupun membawa mereka kembali ke dalam hutan. Mereka memiliki sifat yang sangat ganas dan liar. Apalagi mengingat wujud mereka kebanyakan adalah binatang karnivora seperti serigala dan beruang.
Sudah tak terhitung jumlah korban jiwa yang berjatuhan sejak saat itu, sejak awal-awal pertama penyerangan, sampai akhirnya para milisi yang hanya dibentuk ketika terjadi perang pun ikut diturunkan. Selama tiga bulan, para milisi ini berhasil menahan kawanan monster tersebut dengan sedikit korban jiwa setiap minggunya. Sembari mereka menahan, beberapa pembawa kabar pun juga dikirim ke kastil-kastil bangsawan terdekat untuk meminta bantuan mereka. Namun tak satupun ada yang mendapatkan balasan. Bahkan pembawa pesan yang dikirim ke Viscount Everdyne selaku Tuan mereka yang kastilnya berada 2 ½ hari dari neverhive pun tidak kunjung kembali.
Mereka juga bahkan sudah mengirim ke bangsawan bawahan duke Winston, yakni Count Renesphere yang bahkan jaraknya hanya 1 hari perjalanan. Namun hal yang sama juga terjadi kepada mereka, para pembawa kabar sejak saat itu. Kemudian selain dari itu, mereka juga sudah mengirim pesan ke benteng Manhive yang jaraknya 1 ½ hari dari Neverhive, namun sayang, lagi-lagi pengirim pesan tidak ada yang kembali.
Di antara pihak-pihak berwenang yang mereka kirimkan pesan, pihak kuil yang sekarang sudah sejak dua tahun lalu menguasai Mayerburnum dan pasukan elit kerajaan yang bermarkas di Mareen adalah harapan terakhir dan satu-satunya untuk mereka. Namun lagi, tak satupun pengirim pesan ada yang kembali dari keduanya.
“Sepertinya para pengirim pesan yang belum kembali sampai sekarang tampaknya sudah gugur di jalan bahkan jauh sebelum mereka sampai,” ucap Aaron terus menunduk, kemudian menoleh untuk menatap Slatanis yang tampak sedang mendengarkan dengan seksama. “Dan … jangan khawatir, kami sudah menyiapkan bayarannya.”
‘Aku paham, jadi mereka memintaku untuk menghentikan monster-monster ini … well, karena Gloria sebentar lagi akan menjadi HQ-ku, maka mau tidak mau aku harus membantu mereka … sekaligus mendapatkan bayaran dari mereka hehehe,’ pikir Slatanis.
“Aku paham, jadi kapan mereka akan keluar? Biasanya,” tanya Slatanis.
“Tidak menentu, terkadang mereka keluar tiga hari sekali, terkadang sehari sekali, terkadang dalam seminggu tidak muncul,” jawab Aaron.
“Kalau begitu, saya akan singgah disini sampai mereka muncul,” ucap Slatanis sambil memotong roti yang ada di depannya.
“Terimakasih Nona,” ucap Aaron menundukkan kepalanya. “Saya akan menyiapkan kamar anda kalau begitu,” tambahnya sambil menoleh ke arah pelayan yang sedang berdiri tak jauh dari ia duduk.
“Siapkan kamar untuk Nona Slatanis,” ucap Aaron ke pelayan tersebut.
“Baik Tuan,” ucap sang pelayan.
Dan malam itu pun diisi dengan makan malam dan bincang-bincang riang antara Slatanis dan Aaron.
************
Sementara itu di dalam hutan Gloria.
Ratusan monster dengan mata merah menyala dari berbagai bentuk sudah berkumpul di dalam kegelapan, sementara di antara mereka adalah Monster berukuran tubuh paling besar dan gempal.
“Besok … adalah pesta makan untuk kita,” ucap Monster yang paling besar dengan suara berat dan menggeram sambil memegang beberapa lembar perkamen di tangannya.
Kemudian, ia pun merobek lembaran-lembaran tersebut sambil kembali berkata, “tidak akan ada yang datang untuk menolong kalian … khiiiiiikikikiki!”
*********************
__ADS_1
Bersambung ….