
Di saat keluarga sang Raja, Ratu, Putri raja, Duke Willem dan Baron Edgar mulai masuk ke dalam komplek Istana, Slatanis yang masih dihalangi oleh pangeran Tristan pun masih berdiri di sana.
“Hei, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?” Tanya Tristan sambil menggapai bahu Slatanis.
“Yang mulia,” ucap Roland yang menghampirinya dari belakang. “Mari kita masuk,” lanjutnya sambil merangkul lengan Tristan.
“Baiklah,” angguk Tristan menurut, dan mereka berdua pun langsung berjalan meninggalkan Slatanis yang tampak berdiri termenung.
Sambil berjalan, Roland sesekali menoleh ke arah Slatanis.
‘Sial, kenapa dia ada disini? Apakah dia tahu ini adalah aku? Semoga saja penjara rey waktu itu cukup gelap,’ pikir Slatanis dan mulai balik badan ke arah Istana.
“Nona,” ucap Rodrik yang baru saja turun dari kuda nya.
‘Sh*t,’ Slatanis berhenti sementara enggan menoleh.
“Iya?” Slatanis yang terpaksa menoleh dengan senyum yang dipaksakan juga.
“Anda … ah, tidak tidak, saya pikir anda adalah orang yang saya kenal, mohon maafkan saya,” ucap Rodrik dan menunduk di depannya.
“Ah- ya, tentu,” balas Slatanis canggung.
Slatanis pun kembali membalik badannya dan hendak berjalan.
“Tunggu,” ucap Rodrik dan Slatanis pun berhenti kembali.
“Izinkan saya untuk menuntun anda masuk,” ucap Rodrik sambil menyediakan lengannya.
‘Wow, pria ini gentle juga ya,’ pikir Slatanis terpukau dan menatap Rodrik.
“Ba-baik,” senyum Slatanis dan langsung memasukkan tangannya ke lengan Rodrik. Mereka berdua pun mulai berjalan bergandengan.
Selagi di jalan menuju pintu Istana, Slatanis pun terus melihat wajah Rodrik.
‘Kalau dilihat dari dekat, manis juga ya,’ pikir Slatanis.
“Apakah ada sesuatu di wajah saya, Nona?” Tanya Rodrik.
“Ah, tidak,” ucap Slatanis tersipu tiba-tiba sambil memalingkan pandangannya.
‘Wow wow wow, santai Slatanis … santai,’ pikir Slatanis sambil menunduk dan berusaha menenangkan hatinya. ‘Fuh tampaknya mentalku sebagai Putri masih bergejolak di dalam.’
“Bolehkah saya tahu nama anda, Nona?” Tanya Rodrik.
“Oh tentu, nama saya … Slatanis,” ucap Slatanis.
“Kalau begitu, saya adalah Rodrik,” ucap Rodrik menoleh ke arahnya dan tersenyum.
‘Wow … ahem,’ pikir Slatanis tertegun.
Mereka pun berhenti di depan Istana.
“Silahkan, Nona,” ucap Rodrik.
“Hah? Anda tidak ikut masuk, sir?” Tanya Slatanis.
“Saya adalah seorang kesatria, jadi saya akan menunggu di luar bersama dengan kesatria lain,” ucap Rodrik. “Kami juga akan membangun kemah di depan komplek, untuk para kesatria, prajurit dan pasukan elit menetap.”
__ADS_1
“Baiklah,” ucap Slatanis tersenyum.
Slatanis pun melepaskan tangannya, kemudian Rodrik pun menunduk pamit ke Slatanis.
‘Fuhh untung saja dia tidak mengenalku, mungkin karena aku menyembunyikan tanduk ini,’ pikir Slatanis memandang punggung Rodrik yang sudah mulai menjauh.
‘Hmmm, wajahnya, rambutnya bahkan bentuk tubuhnya sangatlah mirip dengan wanita yang pernah templar tangkap, apakah dia wanita itu? Apakah aku salah mengingat karena sudah lama sejak kejadian itu? Jika benar, lalu kemana tanduknya? Apakah dia memotongnya?’ Pikir Rodrik sementara itu, bertanya-tanya sambil terus berjalan menuju kemah yang baru sedang ingin dibangun.
****************
Malam hari di kamarnya dan Slatanis sedang baru saja tertidur.
‘Sial, aku tidak bisa tidur,’ pikir Slatanis sesaat ia terbangun setelah bermimpi buruk di dalam tidurnya. ‘Setelah aku berhasil lari dari rubanah kuil, aku malah jadi sering bermimpi buruk tentang kejadian di penjara Rey. Jujur memang pada awalnya aku merasakan trauma yang cukup berbekas setelah itu, namun perasaan itu sudah lama hilang. Tapi, mimpi buruknya saja yang masih terkadang muncul karena ada pemicu tertentu.’
Slatanis pun duduk dan mendapati Raphaela dan Lilith sudah tertidur nyenyak di posisi yang menghimpitnya.
“Hmmm, apakah Rodrik adalah pemicunya?” Gumam Slatanis bertanya-tanya.
Slatanis pun turun dari ranjangnya dan langsung melepas pakaian tidurnya, kemudian menggantinya dengan pakaian divine putih nya dari inventory.
“Di saat seperti ini, aku seharusnya langsung membuka komputer dan bermain woc dengan pemain luar yang zona waktunya masih siang,” ucap Slatanis dan mulai menoleh keluar jendela. “Tanpa adanya polusi cahaya, di dunia ini bintang selalu terlihat sangat jelas dan terang. Bahkan bulan lonjong itu yang sudah terbiasa aku melihatnya,” lanjutnya sambil mulai berjalan dan membuka pintu kaca yang menuju balkon kamarnya.
“Fuhh, mungkin jalan-jalan di taman akan membuatku mengantuk,” pikir Slatanis.
Slatanis lalu melompat dari Balkon dan mulai berjalan-jalan di taman Istana.
Di tengah gelapnya dan dinginnya malam, Slatanis terus berjalan kaki menyusuri taman. Ia berjalan dengan penerangan dari rembulan dan lilin yang terpasang di lampu taman. Ia tidak bisa melihat begitu jelas, sebab pasif [night vision]-nya tidak akan aktif jika masih ada penerangan selain dari cahaya bulan.
Sesampainya di dekat air mancur, ia melihat sebuah bangku taman dari kayu. Sambil melihat sekitar untuk sementara, ia pun duduk di kursi tersebut.
“Hahh~,” desau Slatanis menghela nafas. Ia pun mulai mendongak ke langit sambil terus menatap bintang-bintang yang begitu banyak dan beragam.
Ia pun terus duduk sambil menatap langit malam, sampai akhirnya matanya pun menjadi berat dan tertidur di kursi taman tersebut.
********
Rodrik yang sedang berpatroli malam, saat ini sedang berjalan di antara taman di pekarangan depan Istana sambil membawa lentera yang terdapat lilin di dalamnya.
“Seandainya aku punya sihir yang bisa menerangi jalan, ini pasti akan sangat berguna,” gumam Rodrik sambil terus memeriksa setiap sudut yang ia lewati.
‘Sejak kejadian lebih dari sebulan yang lalu, aku terus memikirkan tentang wanita itu. Tentang bagaimana nasibnya. Aku tahu dia kuat, namun sendirian di dunia ini setelah dipanggil oleh para pagan itu, pasti kesepian juga, mau seberapa kuat dia,’ pikirnya sambil terus berpatroli.
‘Tapi setelah bertemu dengan Nona Slatanis, aku menjadi tambah khawatir dengannya. Apakah dia baik-baik saja di luar sana? Kuh— rasa empati ini, sudah sangat melekat sebagai salah satu kode kekesatriaan di dalam hatiku,’ pikirnya kembali.
Ia pun terus berjalan, lalu menemui sebuah tikungan yang dipisahkan oleh semak-semak hias. Ia pun berbelok di tikungan tersebut sesaat mendengar ada suara gemericik air. Kemudian baru saja ia menoleh, ia melihat Slatanis dengan rambut merah dan kulit cerahnya tertidur di sebuah bangku taman, sementara cahaya bulan terpancar ke tubuhnya.
‘Nona?’ Pikir Rodrik dan mulai menghampiri.
Sesaat sampai di depan Slatanis yang tertidur lelap, ia pun langsung memegang lehernya untuk mengecek keadaannya.
“Fuhh, aku pikir dia sudah tidak bernyawa,” ucap Rodrik merasa lega. “Di malam yang sedingin ini, dia bisa dengan santainya mengenakan pakaian seterbuka ini. Benar-benar teledor,” lanjutnya sambil melepas mantel kesatrianya, kemudian langsung menyelimuti tubuh Slatanis.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” Gumam Rodrik, dan tiba-tiba langsung duduk di sebelah Slatanis yang sedang terlelap. “Hahh, aku tidak tahu dimana kamarnya, dan sepertinya para pelayan juga sudah tidur semua. Selain itu, aku juga tidak tega untuk membangunkannya. Jadi, lebih baik aku menunggu saja disini.”
Waktu pun berlalu, dan Rodrik dengan tabahnya pun duduk di sebelah Slatanis yang posisinya kini sudah berbaring di paha Rodrik.
“Untung saja saat ini aku tidak memakai zirah besi,” ucap Rodrik.
__ADS_1
Dengan Rodrik yang duduk sudah cukup lama, ia pun sesekali memandang wajah Slatanis.
‘Dia benar-benar mirip sekali,’ pikir Rodrik. ‘Tapi, kemana tanduknya?’
Ia pun perlahan mulai menyeka rambut Slatanis untuk melihat kepalanya.
‘Tidak ada … tidak ada bekas pemotongan juga. Hmmm, apakah karena sihir? Mengingat dia juga bisa menggunakan Mana,’ pikir Rodrik masih menatap dan dengan tanpa sadar juga masih mengelus-elus rambut Slatanis.
“Euugghh, tolong aku,” tiba-tiba Slatanis berkata di dalam tidurnya. “Aku … aku baru saja sampai ke dunia ini! Kenapa aku harus dihadapkan dengan situasi seperti ini!? Euugh! Tolong aku! Siapapun!”
Rodrik yang menyaksikan itu pun langsung bertindak dengan mengelus-elus kepala dan bahu Slatanis secara bergantian.
“Tenanglah … tenanglah,” ucap Rodrik di sela-sela ia berusaha menenangkan Slatanis.
‘Barusan, dia berkata bahwa dia baru sampai ke dunia ini? Apa maksudnya itu? Apakah dia adalah wanita itu?’ Pikir Rodrik.
“Lepaskan rantai ini! Euggh! Dasar menjijikan!” Ucap Slatanis dengan suara yang agak kurang jelas.
Rodrik terus berusaha menenangkan Slatanis, sampai akhirnya Slatanis pun kembali tenang dan kembali terlelap.
‘Fuhhh, akhirnya,’ pikir Rodrik. ‘Slatanis? Jadi namamu adalah Slatanis … dan kamu baik-baik saja. Syukurlah,’ lanjutnya tersenyum.
Beberapa saat kemudian, Slatanis pun terbangun.
“Huh? … Kenapa aku berbaring di— hah?!” Slatanis Tersentak dan langsung duduk sesaat mendapati dirinya tertidur di atas pangkuan paha Rodrik.
“Oh, anda sudah terbangun,” ucap Rodrik dengan santainya.
‘Tunggu, kenapa dia tampak begitu santai? Dan juga … mantel ini?’ Pikir Slatanis sambil memegang mantel biru dan tebal yang menutupi tubuhnya.
“Kamu … apakah … apakah kamu sedari tadi berada disini?” Tanya Slatanis sambil memalingkan wajahnya dengan pipinya yang memerah.
‘Huwaaa! Kenapa aku jadi dag dig dug begini?!!!’ Teriak Slatanis di dalam benaknya.
“Ah benar sekali. Apakah saya telah membuat anda tidak nyaman? Kalau begitu maafkan saya,” ucap Rodrik dan hendak menundukkan kepalanya.
“Ti-tidak … tidak sama sekali,” ucap Slatanis berusaha menahan Rodrik untuk mengangkat kepalanya.
‘Ia sedari tadi berada disini tanpa terpengaruh oleh diriku, ia bahkan menjagaku,’ pikir Slatanis tertegun menatap Rodrik yang terlihat begitu tulus dan tabah menunggu Slatanis yang tertidur.
“Baiklah kalau begitu, mari saya antar anda kembali,” ucap Rodrik, berdiri dan langsung mengulurkan tangannya di hadapan Slatanis.
“Oh … oke,” angguk Slatanis sambil memberikan tangannya.
Mereka berdua pun mulai berjalan kembali ke arah Istana sambil bergandengan. Kemudian sesampainya di depan pintu Istana, Rodrik pun kembali menyuruh Slatanis untuk masuk ke dalam Istana sendirian. Dan Rodrik langsung pergi begitu saja.
‘Luar biasa … apakah ini perlakuan dari seorang kesatria terhadap wanita?’ Pikir Slatanis kembali tertegun menatap punggung Rodrik. ‘Eh tunggu, mantelnya?!’
“Tunggu! Mantelnya belum kamu bawa,” Slatanis berlari mengejar Rodrik.
“Ah, gunakanlah untuk sekarang, anda bisa mengembalikan mantel itu besok siang,” ucap Rodrik singkat dan langsung kembali berjalan.
‘Hah?’ Pikir Slatanis menatap bingung.
Dan Slatanis pun kembali ke kamarnya dengan mantel tersebut.
**************
__ADS_1
Bersambung ….