Three In One Transmigration

Three In One Transmigration
#46 - Bellwyne vs Waldengrace II


__ADS_3

Enam hari pun berlalu sejak rombongan Bellwyne melakukan perjalanan bersama dengan ribuan karavan dan ratusan ribu orang berada di dalam iring-iringan tersebut. Kini mereka berada di kastil Mayerburnum, sementara pihak kuil yang menduduki wilayah dan kastil sudah pergi dari sana. Maka dengan begitu, iring-iringan Bellwyne pun bisa menempati kastil beserta kota kecil yang juga sudah sama-sama ditinggalkan tersebut.


"Tuanku, tim pengintai sudah kembali membawa berita," ucap Rodrik agak menunduk.


Saat ini ke delapan bangsawan bawahan Bellwyne termasuk Brandon Ringwyne berada di dalam satu ruangan, yakni di dalam ruangan rapat dengan meja bundar yang lebar. Mereka saat ini baru saja sedang melakukan diskusi perang, sambil duduk di dalam suasana yang tegang. Sementara itu Willem duduk di salah satu kursi dengan sandaran paling tinggi, dengan Roland dan Shasha berdiri di kedua sisinya.


"Katakan," ucap Willem singkat.


"Sementara pihak Waldengrace sudah banyak menguasai wilayah-wilayah timur laut Bellhaven, bagian lain terpantau belum ada yang tersentuh oleh mereka. Bahkan, Kastil anda ... Wahai Tuan Everdyne, masih lah aman dan tidak tersentuh. Begitu juga dengan kota Theofred." Rodrik menjelaskan dengan lugas dan padat, layaknya seorang tentara yang melapor kepada atasannya.


"Hah Syukurlah," ucap Warren Everdyne yang saat ini juga duduk di satu meja.


"Melihat kita sudah cukup dekat dengan Hutan Gloria, bagaimana jika kita membentengi iring-iringan kita di sini aja?" tanya Daffon, seorang Count dari keluarga Mellwyne sambil menatap Willem.


"Benar, kita tidak bisa kabur begitu saja," tutur Geralt, seorang Marquis dari keluarga Bellkin sekaligus seorang penguasa Fishsyre, sambil menatap tajam Willem. "Lagipula, ini semua terjadi karena penyihir itu bukan? Jika benar dia ingin beritikad baik dalam mengatasi masalah ini, setidaknya biarkanlah dia yang datang kesini," lanjutnya dengan nada angkuh.


Tiba-tiba dari balik bayangan Brandon yang duduk di depannya, Shadow Daemon pun keluar dari dari sana dan langsung berdiri tegak di belakang Brandon sambil melipat tangannya dan juga menatap tajam Geralt. Tubuhnya yang abu-abu dan kekar, jadi bertambah mengancam dengan adanya aura gelap yang menyelimuti tubuh telanjangnya itu. Intinya, itu benar-benar menakuti dan mengejutkan mereka.


Sampai-sampai bangsawan yang belum pernah melihatnya pun langsung beku ketakutan sesaat mereka melihat sebuah sosok bertanduk dan bertubuh tinggi besar muncul tiba-tiba.


"Berani-beraninya kau menghina Nyonya kami!" ucap Shadow Daemon dengan nada ancaman.


Sementara itu, Brandon tampak tersenyum lebar melihat tampang ketakutan Geralt beserta tujuh bangsawan lain. Sedangkan Willem beserta Sasha dan Roland pun juga sama-sama seakan tidak menghiraukan kehadiran Shadow Daemon dengan ekspresi datar merek.


"Jaga omongan anda, Tuan," ucap Brandon sambil masih tersenyum lebar.


"Hentikan, Shadow Daemon," ucap Sasha. "Kamu sudah cukup menakuti-nakuti mereka."


Sang Shadow Daemon pun mengangguk, lalu kembali lagi ke bayangan Brandon.


"Sepertinya anda ada usulan Strategi, Tuan Geralt," ucap Willem menatapnya.


"Ya ... be-benar, saya punya usulan," ucap Geralt gugup sedang keringat dinginnya masih mengucur.


"Kalau begitu, mari kita dengarkan terlebih dulu apa usulannya," ucap Willem mencoba mengurangi ketegangan.


"kita ... Ahem ... Kita saat ini tepat berada di seberang sungai panjang yang bernama, Daersolla, yang mana sungai panjang ini menghubungkan gunung Aendor dan Saendorin di utara Houlus. Sungai ini sangat panjang, dan juga tak memiliki banyak jembatan, sehingga dengan begitu kita bisa dengan mudah mempertahankan wilayah paling barat ini, jika kita memobilisasi pasukan ke setiap jembatan yang ada. Dengan kata lain, kita bisa menerapkan Bottleneck tanpa perlu memojokkan diri kita ke hutan Gloria," jelas Geralt.


"Hmmmm, bagaimana?" tanya Willem menatap ke arah Brandon.

__ADS_1


Brandon pun menatap balik sambil agak mengangguk, kemudian menatap Sasha dalam diam dan juga sambil agak mengangguk. Keduanya pun kemudian hampir bersamaan berkata, "baiklah, akan kami informasikan dulu kepada beliau."


**************


Slatanis yang saat ini berada di atas gunung berlembah, sembari masih terus menunggu pori-pori Mana yang sudah dibuka meningkatkan kuantitas Mana di udara, saat ini hanya bisa menatap bosan ke arah menara yang sudah 80% jadi itu.


Warnanya yang keemasan dengan bebatuan alam asli yang dibangun dengan sihir, Menara itu sudah mulai tampak begitu majestik, meskipun bagian puncaknya belum selesai. Dengan ribuan Angels, perlahan dan dengan fase yang cepat, Menara itu pun dibangun.


Slatanis yang hanya menatap bosan sementara saat ini ia hanya sendirian di atas puncak itu, berdiri di dekat pori-pori Mana sambil berharap salah satu dari fitur Farland segera terbuka, tiba-tiba merasakan lapar. Kemudian, tanpa berkata apapun, ia pun mulai mengambil sebotol cairan putih di dalam botol vial dari dalam inventarisnya.


Setelahnya, ia pun langsung meneguk cairan putih tersebut.


"Glek ... Ueeek! Sama sekali nggak enak," gumam Slatanis sesaat meneguk cairan tersebut sambil menggelengkan kepalanya dan dengan ekspresi jijik.


'Fuhhh, kapan bisanya coba? Sudah dua minggu lebih, tapi fitur di WoC masih belum ada yg terbuka,' pikir Slatanis setelahnya. 'Aku ingin sekali mengganti tubuhku ini agar tidak perlu lagi meminum cairan hina ini.'


Slatanis pun kembali melamun sambil terus menatap ke arah kontruksi Menara dan sambil pula membelakangi galian pori-pori Mana. Kemudian ketika sedang kembali mulai merasakan Mana dari pori-pori Mana yang berada di belakangnya, sehingga ia bisa merasakan sentuhan tersebut seperti tiupan angin meniup punggungnya, tiba-tiba Shade terbang dari kaki gunung menujunya.


"Apakah itu Shade-ku?" guman Slatanis melihat sang Shade mulai mendekat.


Namun, belum sempat Shade sampai di puncak, suara Brandon pun terdengar di kepalanya.


'Iya iya, bisakah kamu santai saja menyampaikannya?' balas Slatanis dengan metode yang sama kembali bertanya.


'Oh, maafkan saya, Wahai Dewi,' jawab Brandon.


'ada apa?' tanya Slatanis.


Kemudian Shade yang baru sampai di hadapannya pun tiba-tiba mulai berbicara hal yang sama dengan Brandon.


"Oke oke, satu satu," ucap Slatanis.


Dan Shade pun yang mulai menjelaskan, sementara sambungan Brandon langsung diputus oleh sistem otoritas Slatanis yang lebih tinggi.


Dengan singkat, Shade pun mulai menjelaskan tentang rencana Bellwyne untuk menunggu di sungai Daersolla, sambil menjelaskan ciri-ciri letak sungai tersebut.


"Sebentar, sepertinya tidak ada nama di sungai tersebut dari peta yang Roland kasih deh," ucap Slatanis sambil mengambil kembali peta dari dalam inventarisnya.


"Hmmm, sepertinya ini peta yang tidak lengkap atau ... edisi lama," tutur Shade memberikan pendapatnya sambil mengintip ke peta yang sedang Slatanis baca.

__ADS_1


"Huhhh~ ya sudahlah, tidak penting juga," ucap Slatanis seakan pasrah sambil kembali menaruh petanya ke dalam inventarisnya. "Jadi intinya mereka memintaku untuk mengirim pasukan bantuan untuk membantu mereka di seberang sungai dae ... daedoran? Ya itulah pokoknya. Apakah begitu?"


"Benar, Nyonyaku." Angguk Shade mengiyakan.


"Hmmm seandainya aku bisa memanggil kendaraan ..." ucap Slatanis pelan sambil kembali mencoba membuka inventarisnya, dan ternyata masih berbentuk bola hitam. "Ya sudah, nanti akan aku pikirkan kembali rencana mereka. Karena mungkin saja besok, setidaknya di wilayah ini, kuantitas Mana di udara sudah menambah."


"Baik, Nyonyaku," ucap Shade dan mulai kembali menuju kaki gunung.


'Hahh~ ini benar-benar merepotkan,' pikir Slatanis mendongak menatap langir biru. 'Aku tidak pernah mengira bahwa membuka sepuluh pori-pori Mana sama sekali tidak cukup untuk membuatku bisa membuka fitur dan sistem dari WoC.'


*************


Di Efesoria, sebelah selatan Alundris, di kastil Efesoria, sebuah kastil majestik yang amat megah dengan warna putihnya. Kastil ini memiliki tembok putih yang begitu rapih seakan keajaiban arsitektur modern sudah menjamah daerah ini dengan semennya. Namun nyatanya itu bukanlah terbuat dari semen, melainkan batu-batu granit putih dalam ukuran raksasa yang disusun begitu rapih, rapat dan konsisten.


Komplek kastil ini berdiri di tepi sebuah danau yang sangat luas bernama Kaetsaria, serta memiliki luas lebih dari 10 hektar dengan sebuah istana putih yang sangat besar berada di tengahnya, dan sebuah kuil agung di sebelah barat istana tersebut. Tembok kastil ini memkliki tinggi 40 meter dan tebal crenelation 2 meter, tebal battlement 5 meter dan dengan bentuk melingkar.


Tembok kastil ini juga memiliki beberapa menara yang melingkar dan menjulang tinggi. Menara-menara ini berjumlah 12, dengan masing-masing menara memiliki tinggi 70 meter dari alas sampai atap kerucut yang menutupinya.


Dari 12 menara ini, terdapat satu menara yang menghadap selatan dengan diameter yang berbeda dari menara lain. Yang dimana menara lain memiliki diameter sekitar 6 meter, menara ini memiliki dia meter 8 meter. Menara ini dibentuk sedemikian rupa karena terdapat gerbang berjeruji yang menancap ke bawah.


Selain kastil ini berada di tepi danau, kastil ini juga berada di dataran yang lebih tinggi dari sekitarnya. Yakni berada di ketinggian 15 meter lebih tinggi. Sehingga untuk masuk ke gerbang kastil ini, seseorang perlu menanjak jalanan yang berliku, yang mana di ujung jalan dekat gerbang kastil adalah sebuah lembah buatan yang memiliki jarak seberang 12 meter.


Dengan kata lain, jalanan menanjak dan belika liku ini memisahkan gerbang kastil dengan jalan sejauh 12 meter dengan jembatan angkat yang menjadi penghubungnya. Sementara jembatan angkat ini terbuat murni dari baja dengan rantai raksasa sebagai mekanisme pengangkatnya.


Kastil ini sangat besar, megah, majestik dan indah, sampai-sampai di sebuah legenda mengatakan bahwa Tuhan sendiri lah yang telah membangun kastil ini ribuan tahun yang lalu.


Sementara saat ini di dalam istana Efesoria, Elhanan Winston duduk sendiri di atas tahta putihnya, melihat ke bawah untuk memandang empat penyihir berjubah putih yang sedang berlutut di hadapannya.


"Jadi, Waldengrace sudah menyatakan perang secara sah dengan Bellwyne. Hmmm, sungguh disayangkan, padahal operasi 'bendera palsu' baru saja diinisiasikan. Baiklah kalau begitu, mari kita deklarasikan berdirinya Teokrasi Efrana lebih awal dari rencana sebelumnya," ucap Elhanan dengan ekspresi dinginnya.


"Lalu bagaimana dengan para bangsawan Royalis, wahai Tuanku?" tanya salah satu penyihir yang ada di depannya.


"Tawarkan mereka untuk mengukuhkanku sebagai raja mereka. Namun jika mereka menolak, tumpahkan darah mereka beserta keluarga-keluarga mereka," ucap Elhanan. "Sementara untuk kongregasi di Solem, mereka semua sudah bersumpah setia denganku dan segera mereka akan menjadi anggota dewan suciku. Yang mana itu berarti, Solem sebagai wilayah suci, akan masuk ke dalam wilayah Teokrasi Efrana."


"Baik, Tuanku," ucap keempat penyihir bersamaan.


*********


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2