Three In One Transmigration

Three In One Transmigration
#35 - Bertemu dengan Samuel dan Amy


__ADS_3

Keesokan paginya.


Slatanis pun terbangun dengan perasaan lapar.


“Euughhh, lapar,” keluh Slatanis sambil bangkit dari ranjangnya.


“Apakah anda membutuhkan kami untuk menyediakannya, wahai baginda?” Tanya Raphaela dari dalam Inventory.


“Jika kalian bisa menghapus ingatan target, maka aku akan memperbolehkan—" ucap Slatanis terpotong.


“Nyonya, aku bisa melakukan itu!” Potong Lilith tiba-tiba. “Aku bisa melakukannya dengan menyentuh kening mereka, setelah itu memasukkan energi Ki ke dalam pikiran mereka untuk mengaktifkan spell Ki [Reset Identity]. Dan juga jika secara kebetulan mendapati bahwa level sang target di bawah 50, maka aku kemungkinan juga bisa menghipnotis mereka untuk mengeluarkan sari patih putih mereka dengan spell Ki ku yang bernama [Mind Reflection].”


'Aku ingat bahwa Lilith pernah bilang bahwa dia punya kemampuan menghipnotis, tapi aku tidak mengira bahwa dia juga memiliki Spell Ki [Reset Identity],' pikir Slatanis. 'Hmmmm, Reset Identity ya? kalau tidak salah, apakah itu skill milik seorang Sage Brawler? Dan juga, seingat ku, Lilith tidak memiliki kelas Sage Brawler, hanya Hell Brawler.’


Kemudian, Slatanis pun mulai mengingat masa lalunya sebagai Putri ketika masih bermain WOC hanya dengan menggunakan karakter pertamanya yang bernama Kerasius.


Di ingatan itu, muncul lah seorang bernama Maul sebagai karakter WOC yang mana dirinya memiliki nama asli Robby, adalah seorang Clan Master (kepala klan) Hansip_Jaksel yang sekaligus juga adalah seorang mantan pacar Putri. Karakternya yang bernama Maul adalah seorang Devil dengan kelas Fighter. Di kelas Fighter nya itu, ia pernah mengatakan kepada Putri bahwa ia memiliki kelas Rare yang bernama Sage Brawler dan sebuah Spell Ki yang bernama [Reset Identity].


“Apakah Spell tersebut dari kelas Sage Brawler?” Tanya Slatanis kepada Lilith.


“Bukan, itu adalah spell Ki dari kelas Legendaris-ku yang bernama Demonic Cultivator,” jawab Lilith. "Sementara Kelas Brawler ku adalah Hell Brawler, dan disana tidak ada spell seperti itu."


“Apa? Apakah kamu berkata jujur?” Tanya Slatanis kembali merasa kurang yakin.


“Benar, nyonya,” jawab Lilith kembali.


Slatanis pun terdiam sambil terduduk kembali ke atas ranjangnya. Kemudian, di tengah tatapan kosongnya, ia pun teringat kembali akan masa lalunya.


Robby saat itu meminta Putri untuk memilih ras Elf dengan kelamin wanita karena ia ingin melakukan Role-play sebagai “pasangan terlarang dari dua spesies yang berbeda”, namun Putri tidak menginginkan hal itu sebab dirinya lebih suka melakukan Roleplay sebagai Kesatria kegelapan dengan Ras yang seram. Oleh karena itu Putri pun memilih ras Undead (skeleton) dengan kelas warrior, sementara Robby tetap memilih ras Devil dengan kelas Fighter.


Sejak saat itu, Robby yang awalnya ingin melakukan kencan ala-ala gamers pun akhirnya malah saling balapan untuk menaikkan level dan membuat karakter mereka menjadi yang terbaik. Di masa-masa itu, Robby sama sekali tidak memainkan peran karakternya dan malah bermain layaknya Hardcore Gamer. Siang dan malam ia pun terus mengasah kemampuan bermainnya dan meningkatkan kekuatan karakternya. Sampai akhirnya ia pun menjadi level 100 dan menamatkan main quest kurang dari empat bulan.


Sementara itu, Putri yang di saat-saat itu terus mengasah karakternya sambil bermain peran sebagai kesatria kegelapan, akhirnya memiliki banyak teman dari dalam game. Mereka pun akhirnya bermain bersama untuk sama-sama menaikkan level dan bermain peran, sementara saat itu Robby bermain sendirian. Kurang dari satu tahun kemudian, Putri pun berhasil menyelesaikan main quest dan menjadikan karakter Kerasius berlevel 80.


Robby yang saat itu mulai menyadari bahwa mereka jadi jarang bermain bersama pun mulai membantu Putri untuk memperkuat karakternya. Robby saat itu yang sudah membentuk Klan pun mengajak Putri untuk masuk ke dalamnya. Kemudian di dalam klan itu, putri pun mulai bergaul dengan para anggota klan, namun para anggota hanya tahu kalau Kerasius adalah karakter milik sepupu laki-laki Robby, sedangkan Putri saat itu masih merasa malu-malu untuk mengobrol melalui voice chat sehingga di dalam klan tidak ada yang tahu tentang identitas aslinya sebagai wanita kecuali Robby. Yang mana dengan kata lain, hal ini pula yang membuat dirinya selama ini melakukan Roleplay hanya dengan menggunakan chat tulisan dan emot berupa animasi gerakan.


Sejak Putri masuk ke dalam klan tersebut, yang awalnya klan tersebut masih bernama stargazer sebelum akhirnya berubah menjadi Hansip_Jaksel untuk lebih mengenalkan bahasa lokal ke dunia internasional, Robby dengan karakternya yang bernama Maul beserta anggota klan lainnya pun mulai membantu Putri dengan karakternya yang bernama Kerasius untuk memperkuat karakternya.


Tak sampai sebulan dan dengan saran dan bantuan para anggota klan, akhirnya Putri pun berhasil menjadikan Kerasius sebagai karakter berlevel 100 dengan stats terkuat di dalam top 100 karakter warrior terkuat dunia. Dan dimulai dari saja juga, ia menjadi lebih mendalami mekanik game dan lebih agak mengurangi kegiatan roleplay-nya yang ia sukai itu.


Kemudian di kala mereka sedang membantu Putri untuk meningkatkan karakternya, saat itu Putri pun sempat bertanya kepada Robby tentang kelas-kelasnya. Alasan Putri bertanya saat itu ialah karena, ia menyaksikan Robby dengan karakternya yang bernama Maul, sempat membuat Bos musuh menjadi budaknya selama 1 jam.


Setelah ditanya oleh Putri saat itu, Robby pun menjawab bahwa ia memiliki spell ki bernama [Reset Identity] dari kelas Legendaris nya yang bernama [Sage Brawler].


“Jadi … itu bukan dari Sage Brawler?” Tanya Slatanis kembali untuk memastikan.


“Bukan Nyonya,” Jawab Lilith kembali.


"Kalau begitu, apakah Spell tersebut juga ada di dalam kelas lain?" Tanya Slatanis kembali.


"Tidak ... setahuku tidak, Nyonya," balas Lilith.


‘Bahkan perihal kelas pada karakter saja ia berbohong, tsk dasar!’ Pikir Slatanis sambil agak menggigit ujung jempolnya.


Putri tetap berada di klan tersebut terlepas dari hubungan mereka berdua yang mulai menjadi canggung setelah putus. Setelah menjalin hubungan selama kurang lebih empat tahun setengah, mereka berdua putus karena Putri memergoki Robby sedang memasuki sebuah hotel bersama seorang wanita lain. Ia memergokinya melalui teman kampusnya yang memfoto Robby dari jarak yang tidak begitu jauh.


Setelah putus, Putri pun menjadi tambah lebih mengurung dirinya. Kemudian untuk mengurangi perasaan kesedihannya itu, ia justru malah terus memainkan WOC sampai-sampai membuat karakter kedua bernama Dronovampus untuk melampiaskan kekesalannya. Ia bahkan sampai bermain peran sebagai karakter yang teramat jahat dan sadis dengan membunuh para newbies.


“Kalau begitu, setelah kita mendapatkan kesempatan untuk mencari mangsa untuk asupan ku, maka tolong kalian lakukanlah untukku,” ucap Slatanis mulai bangkit dari pinggir ranjangnya. “Cari seorang pria saja yang belum memiliki pasangan atau yang belum berkeluarga untuk sumber asupan ku, mengerti?” lanjutnya menekankan.


“Baik, Mengerti,” ucap Lilith dan Raphaela bersamaan.


"Ah dan juga, jangan terlalu muda dan juga jangan terlalu dewasa ... hmmm, sekitar 18 sampai 30 tahun lah. Lalu selain itu pastikan juga bahwa ia memiliki paras yang lumayan," ucap Slatanis kembali.


******************


Slatanis pun beranjak dari ranjang nya dan langsung menuju pintu. Sesaat ia membuka pintu, tepat di sebelah kirinya seorang pria berambut putih sedang berjalan ke arahnya. Slatanis pun menoleh dan langsung berhenti seketika, begitu juga dengan pria itu.


“Oh … jadi anda adalah penyihir yang sedang dibicarakan itu? Sayang sekali, semalam saya tidak bisa menyambut anda,” ucap Pria itu sambil menatap Slatanis dengan dinginnya. “Tapi ngomong-ngomong, kenapa anda sendirian?”


“Hmmm, itu karena—”

__ADS_1


“Ternyata dugaanku benar … mereka benar-benar sungguh meremehkan bencana ini,” ucap pria itu dengan ekspresi yang entah kenapa tampak lesu.


‘Meskipun begitu, kayaknya dia boleh juga untuk digunakan sebagai sumber asupan ku hehehe,’ pikir Slatanis sambil menatap pria itu dengan agak tersenyum.


“Kalau begitu, perkenalkan, saya adalah Slatanis,” ucap Slatanis sambil mengulurkan tangannya.


“Oh, saya adalah Samuel,” ucap Pria itu yang bernama Samuel. “Saya adalah putra dari kepala desa.”


“Samuel sayang … kamu dimana— ah, kamu disitu toh,” ucap seorang wanita dari belakang Samuel.


Kemudian terdengar suara langkah kaki wanita itu mulai berlari kecil.


“Huff huff, aku pikir kamu ingin pergi ke peternakan langsung— ah siapa wanita ini?” Tanya wanita itu tiba-tiba saja sambil menatap sinis Slatanis sambil menyilang tangannya.


‘Siapa dia? Pacarnya kah? Ngeselin banget mukanya,’ pikir Slatanis sambil menatapnya kembali dengan tatapan judes.


“Oh perkenalkan, dia adalah istri saya, Amy,” ucap Samuel memperkenalkan Amy dengan wajah datarnya.


‘Istri? Fuhhh, hampir saja jadi pelakor,’ pikir Slatanis. ‘Terpaksa deh cari yang lain.’


Amy pun langsung memeluk lengan Samuel dengan manjanya namun sambil terus menatap sinis Slatanis. “Aku Amy … salam kenal,” ucapnya singkat sambil mengangkat dagunya dengan angkuh.


“Salam kenal,” balas Slatanis.


‘Perempuan ini … aku ingin sekali menjambaknya,’ pikir Slatanis sementara itu.


“Mari kita turun ke bawah untuk sarapan,” ucap samuel dengan dingin.


“Oke—” ucap Slatanis tertahan sementara Amy terus memicingkan matanya menatap dirinya sambil terus berjalan bersamaan dengan Samuel.


‘Sabar … Slatanis … sabar,’ pikir Slatanis.


‘Apakah anda ingin Pria ini, Baginda?’ Tanya Raphaela melalui telepati.


‘Ja-jangan … jangan, walaupun aku kesal dengan perilaku istrinya … jangan,’ balas Slatanis dengan metode yang sama. 'Aku hanya merasa ... sebagai wanita ... itu pasti akan sangat menyakitkan bagi Amy, walaupun ia tidak mengetahuinya ... karena aku sendiri pernah merasakannya,' lanjutnya dengan wajah yang agak murung sambil menunduk.



(Samuel)



*************


Di ruang makan, lebih tepatnya di tempat yang sama seperti semalam. Saat ini Slatanis duduk di sebelah kanan Aaron, sedang Amy berada di sebelah kanannya. Sedangkan Samuel berada di sebelah kanan Amy.


“Jadi … kenapa anda datang sendiri, Nona Slatanis?” Tanya Samuel sesaat baru saja ingin menyuap makanannya.


“Seperti yang sudah anda katakan sebelumnya, mereka meremehkan kejadian ini,” ucap Slatanis mengulangi tanggapan Samuel.


“Dan seorang wanita? Apakah mereka segila itu mengirim seorang wanita? Tch, pasti mereka tidak peduli dengan desa ini. Padahal peternakan dan ladang sangat menjanjikan disini,” ucap Amy tampak ikut campur dengan ekspresi angkuh dan masa bodo nya.


“Tapi tenang saja … saya ini kuat,” ucap Slatanis menanggapi dengan tenang.


“Hehh? Benarkah? Palingan melawan satu saja tidak bisa,” ucap Amy sambil tersenyum miring dan mengangkat dagunya.


Aaron yang juga sedang berada di aula yang sama tampak tidak bereaksi setelah mendengar sikap Amy yang seperti itu, bahkan Samuel tampak acuh tak acuh dengan sikap dinginnya.


“Mau bukti?” Tanya Slatanis.


“Heh! Bukti? Apa kau ingin membunuhku dengan sihirmu itu?” Ucap Amy dengan nada tinggi nan angkuhnya itu.


‘Keuk, aku ingin sekali menjambaknya lalu melemparnya jauh-jauh,’ pikir Slatanis sambil terus menjaga ekspresi tenang dan sikap anggunnya.


“Ah, maafkan saya, saya tidak tahu bahwa anda selemah itu,” ucap Slatanis kemudian menggigit rotinya dengan santainya tanpa menoleh.


“Keukkk, kau!” Ucap Amy merasa sangat kesal. “Apakah kau tidak tahu siapa ayah—”


“[Sleep]!” Ucap Slatanis dan Amy pun langsung ambruk.


Ketika ambruknya Amy, Aaron dan Samuel pun tampak tidak merespon sama sekali. Mereka hanya terdiam sesaat Amy terjatuh ke lantai sambil melihatnya. Bahkan Samuel yang berperan sebagai suaminya pun tampak menutupi mulutnya yang tersenyum itu.

__ADS_1


“A-a-apa yang baru saja anda lakukan?” Tanya Aaron gugup sambil melihat ke arah Amy yang terjengkang ke depan dengan posisi bokong lebih tinggi dari kepalanya.


“Dia hanya tertidur, itu tidak berbahaya,” ucap Slatanis. “Tunggu saja, mungkin sekitar 5 sampai 6 jam, dia akan terbangun.”


“Fuuhhh, syukurlah,” ucap Aaron merasa lega.


Slatanis pun menoleh ke arah Samuel, dan terlihat Samuel yang telah selesai tersenyum masih menyuapi makanannya.


“Samuel, Tolong bawa istrimu ini kembali ke kamarnya,” ucap Aaron.


“Baik ayah,” ucap Samuel yang langsung berdiri dan mengangkat Amy layaknya mengangkat sebuah karung.


‘Lah dari tadi kemana aja? Pas diberitahu baru gerak,’ pikir Slatanis dengan tatapan datar menatap Samuel.


“Jadi, untuk hari ini, bisakah anda ikut berpatroli dengan para milisi?” Tanya Aaron menoleh ke arah Slatanis.


“Tentu,” ucap Slatanis tersenyum.


*******************


Beberapa menit setelah sarapan, Slatanis pun berjalan keluar dengan Samuel yang hendak pergi ke peternakannya.


“Jadi, ternak apa saja yang kalian kembang biakkan disini?” Tanya Slatanis sembari berjalan di sebelahnya.


“Hmmm, sapi, domba, babi, ayam, angsa dan kuda,” ucap Samuel dengan wajah yang tampak lebih cerah dan ceria.


“Menarik … apakah kalian mengolahnya kembali menjadi produk lain? … Seperti ham atau … ham,” tanya Slatanis menoleh.


“Tidak, kami hanya menjual mereka hidup-hidup ke serikat dagang, kemudian merekalah yang akan mengolahnya kembali lalu menjualnya menjadi sebuah produk seperti ham dan sebagainya,” ucap Samuel.


“Lalu bagaimana dengan susu sapi dan domba? Apakah kalian tidak mengolahnya sendiri menjadi keju?” Tanya Slatanis.


“Tidak … itu sudah jadi bagian pekerjaan dari serikat dagang,” ucap Samuel sembari mereka berdua terus berjalan bersebelahan.


“Kenapa? Kenapa tidak buat sendiri?” Tanya Slatanis kembali bertambah penasaran.


“Ya … karena akan sulit nanti untuk menjualnya … para serikat dagang tidak akan ada yang mau membeli produk jadi, mereka hanya mau produk mentah. Khususnya barang-barang pangan,” jelas Samuel.


‘Entah mereka sengaja memonopoli pasar dengan cara ini, atau mereka memang pada dasarnya tidak memiliki kepercayaan atas produk yang diolah oleh pihak pertama. Ini sungguh merepotkan. Hmmm, mungkin jika aku sudah membangun kediamanku sendiri, mungkin aku juga akan bisa membangun bisnis dengan cara yang berbeda dari para serikat itu,’ pikir Slatanis sambil berjalan menunduk.


“Oke, mari kita berpisah disini,” ucap Slatanis sesaat melihat persimpangan, dan beberapa milisi yang sedang berkumpul dan mengobrol.


“Baik, sampai bertemu nanti,” ucap Samuel dan mereka berdua pun berpisah jalan.


‘Dan untuk sekarang adalah … keuk~ aku lapar,’ pikir Slatanis mulai berjalan ke arah yang berbeda.


Tak lama setelah Slatanis berjalan terpisah, ia pun mencari tempat yang sepi dan jauh dari pusat hiruk-pikuk desa. Tepatnya di antara dua bangunan yang menghimpit, ia pun meminta Lilith dan Raphaela keluar dari Inventory-nya untuk mulai berburu sumber asupannya.


"Ingat ... ini bukanlah penculikan, kita hanya meminjam mereka, lalu setelah selesai semua, kalian kembalikanlah mereka ... dan ingat, jangan sampai ketahuan," ucap Slatanis kepada keduanya. "Untuk komunikasi, aku akan memberikanmu masing-masing seorang Shade," lanjutnya sambil memanggil dua Shade.


Setelah kedua Shade memasuki bayangan Lilith dan Raphaela, mereka pun langsung terbang sementara Slatanis keluar dari tempat itu dan mulai berjalan menuju pos patroli.


Sementara itu, seraya menyaksikan keduanya lepas landas meninggalkan Slatanis. Shade yang berada di dalam bayangannya pun berbisik kepadanya.


"Nyonyaku, saya baru saja mendapatkan kabar dari Shade yang berada di Sasha," bisik sang Shade.


"Baik, aku mendengarkan," balas Slatanis.


"Tampaknya, mereka yang sempat menyerang anda sewaktu kabur dari istana bellwyne telah melaporkan hal tersebut kepada Cael. Sehingga ia pun memberikan dekrit kepada Willem untuk memberikan anda jika tidak mau dijadikan sebagai pengkhianat kerajaan," jelas Shade berbisik.


Slatanis yang mendengar itu pun langsung mengerutkan keningnya.


"Lalu, apakah mereka akan memberikanku kepada pihak kerajaan?" tanya Slantanis.


"Tidak, Nyonyaku, justru Willem dan Roland tampak mencari cara untuk melepaskan dekrit itu," jelas Shade kembali berbisik.


Slatanis pun berhenti sesaat di pinggir jalan, di bawah sebuah pohon dan duduk di sana.


"Baiklah kalau begitu, perintahkan kepada seluruh kaki tanganku untuk membantu Willem dan Roland. Suruh mereka untuk memikirkan caranya, agar aku tidak berada di bawah kendali si bre*ngsek itu!" Dengan tatapan yang menyorot namun kosong, Slatanis dengan kesal memerintahkan Shade dengan berbisik. "Kemudian, setelah mereka mendapatkan kesimpulannya, perintahkan mereka untuk menghubungimu kembali."


"Baik, nyonyaku," jawab Shade.

__ADS_1


*****************


Bersambung ….


__ADS_2