Three In One Transmigration

Three In One Transmigration
#44 - Bottleneck Operation : Initiated


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu sejak Slatanis bersama dengan gerombolannya tinggal di dalam hutan Gloria. Yang dimana selama seminggu belakangan ini, para Grim Reaper dan juga para Malaikat sedang membangun sebuah bangunan menara dengan lebar lebih dari dua hektar persegi.


Para grim reaper dan malaikat ini pun sudah ditambahkan oleh Slatanis setiap harinya, yang mana itu semua berkat pancaran Mana yang cukup banyak di daerah sekitar pegunungan sehingga membuat dirinya bisa memulihkan Mana jauh lebih cepat dari sebelumnya. Saat ini terdapat 1000 Powers, 500 Virtues, 100 Dominions, dan 1400 Grim Reaper yang masing-masing dari mereka sedang bekerja membangun sebuah menara.


Selain dari mereka, Slatanis juga telah menambahkan pasukan-nya berupa Death Knight sebanyak 8000 personil untuk menjaga teritorialnya dan membantu yang lain dalam mempercepat pembangunan Menara. Sementara itu, Death Knight adalah tipe undead yang dipanggil menggunakan spell [summon low tier undead] dan mereka memiliki level tertinggi di kelasnya, yakni 50.


Tak hanya itu, dari spell [summon army of the death] pula Slatanis telah memanggil 10000 undead lainnya yang terdiri dari 50 undead per pasukan. Yang mana di dalam pasukan ini terdapat masing-masing 25 Lich sang penyihir dan 25 Death Phalanx sang prajurit, dan mereka memiliki level 35 untuk lich dan 30 untuk Death Phalanx.


“Syukurlah di tempat ini ditemukan banyak galian Pori-pori Mana. Karena jika tidak … aku tidak akan bisa memanggil pasukan sebanyak ini untuk bersiap-siap di situasi terburuk jika perang sipil benar-benar pecah,” gumam Slatanis sambil mengerutkan keningnya, memandang ke arah para pasukannya yang sedang bekerja membangun sebuah Menara emas.


‘Karena ulah ceroboh ku di malam itu, yang mana asal terbang saja tanpa berpikir panjang, aku jadi harus ikut-ikutan mempertahankan Bellhaven deh, mau tidak mau, fuhhhh,’ pikir Slatanis di sela-sela itu.


Sementara itu, Slatanis bersama dengan Shadow Daemon dan Shade-nya sedang berada di atas pegunungan di belakang lahan yang digarap, berdiri mengawasi pembangunan sebuah menara yang nantinya akan menjadi sebuah keajaiban di Rhea. Di atas pegunungan yang ditengahnya terdapat lembah, tak hanya Slatanis dan dua bayangannya, namun Olivia juga berada di sana.


‘Meskipun kita telah menggali banyak pori-pori Mana, namun nyatanya ini masih kurang untuk membuatku bisa membuka fitur dari Farland. Yang dimana dari sana ditemukan pula bahwa uapan darah dari para monster tidak hanya memiliki kualitas yang tinggi tapi juga kuantitas yang besar. Oleh karena itu saat aku mengalahkan boss monster di Neverhive, aku sempat bisa menggunakan fitur Farland, meskipun hanya sebentar sampai akhirnya uap darah benar-benar menyatu dengan Mana yang ada di udara,’ pikir Slatanis memandang ke arah kaki gunung sambil menyilang tangannya.


Di dekat Slatanis berdiri adalah sebuah galian yang tidak sampai satu meter dalamnya dengan luas yang tidak lebih dari dua meter lebarnya. Di dalam lubang itu, terdapat kumpulan kristal Mana yang menyala terang. Sementara tak jauh dari lubang itu terdapat pula sebuah altar yang memancarkan elemen suci yang melimpah dan tak terbatas.


Di atas pegunungan ini pula, telah ditemukan oleh para malaikat 14 altar yang memancarkan elemen suci, sedang di setiap area di dekat di setiap altar terdapat satu sampai tiga lubang galian tempat kristal-kristal Mana itu ditemukan. Di sejauh mata memandang, di kedua sisi gunung yang dipisahkan oleh lembah, terdapat masing-masing tujuh buah altar yang ditemukan.


“Ini akan menjadi sebuah pertunjukkan kekuatan yang jauh dari jangkauan akal manusia, Nyonyaku,” ucap suara berat dari sisi kanan Slatanis. Ia adalah sang Shadow Daemon.


“Benar, mereka akan segera menyadari betapa rendahnya mereka, setelah mencoba meletakkan anda di bawah mereka,” ucap Shade sambil tersenyum lebar dan berada di sebelah kiri Slatanis.


“Apakah kakak benar-benar akan melawan dinasti waldengrace?” Tanya Olivia dengan suara lembutnya yang kini berada di dekatnya.


“Hmmm, kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu,” jawab Slatanis merangkul Olivia yang berada di dekatnya. Sedang Olivia langsung menaruh kepalanya di bahu kanan Slatanis.


‘Dan jika bukan karena Miasma yang jauh lebih banyak dibanding Mana itu sendiri di dunia ini, aku mungkin tidak akan berani memanggil Undead sebanyak ini. Namun terkadang aku suka berpikir, apakah nantinya miasma akan habis di dunia ini? Yang mana itu akan menyebabkan para undead menggila sehingga bisa membuat mereka membunuh siapapun demi menyerap miasma dari tubuh yang mati,’ pikir Slatanis menatap kosong ke arah Menara yang sudah setengah jadi.


Mereka pun untuk sesaat terpaku dan hanya menyaksikan proses pembangunan dari atas pegunungan tersebut.


‘Wahai Dewi,’ tiba-tiba suara Brandon terdengar dari dalam pikiran Slatanis.

__ADS_1


‘Ah, ini dia … hal yang aku benci terjadi lagi,’ pikir Slatanis sementara ia mulai mengingat-ingat seminggu belakangan ini, yang mana Brandon telah menghubunginya melalui telepati selama berkali-kali.


‘Ada apa? Jika bukan sesuatu hal yang penting, maka jangan hubungi aku!’ Ucap Slatanis melalui telepati dengan nada yang kesal.


‘Ah … mohon maafkan hamba,’ ucap Brandon. ‘Tetapi saya memiliki berita penting untuk anda ketahui, meskipun ini adalah berita buruk. Yakni … serangan lembut telah gagal dengan pihak kuil yang tiba-tiba menolak membangun kuil di wilayah Bellhaven, bahkan mereka … pihak kuil ikut menarik abdi dalam mereka, seakan mereka sedang menjauhi kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Bellhaven.’


‘Lalu bagaimana dengan Efrana? Apakah Winston bisa dibujuk?’ Tanya Slatanis kembali.


‘Undeil dan Dorian sudah sekuat tenaga membujuk Duke Elhanan, namun ia menolaknya dan memilih untuk netral,’ jawab Brandon. ‘Ia bahkan memerintahkan seluruh bangsawan bawahannya untuk tidak ikut campur dalam perang sipil yang mungkin akan terjadi antara Bellhaven dan Gracehamberd.’


‘Aku tidak mengira bahwa sang raja akan se-terobsesi ini untuk mendapatkan penyihir yang kuat.’ Slatanis kembali menanggapi sembari ia melepaskan rangkulan tangannya di Olivia.


“Kakak ada apa?” Tanya Olivia.


“Aku sedang berbicara dengan Brandon,” ucap Slatanis menatap teduh adiknya.


Olivia pun menanggapi kembali dengan hanya memiringkan kepalanya dengan ekspresi bertanya-tanya, sedang ia sama sekali tidak mendengar perkataan pun keluar dari mulut Slatanis. Ia bahkan sempat menoleh ke arah dua bayangan Slatanis yang terlihat hanya berdiri tegak dan terpaku di belakang Slatanis.


‘Hmmm sebelum itu, apakah sudah ada pergerakan dari pasukan Waldengrace?’ Tanya Slatanis.


‘Lalu seberapa banyak pasukan yang mereka punya?’ Tanya Slatanis.


‘400 … ahem, 400.000, wahai Dewi … kira-kira 400.000 prajurit yang kini sedang berkemah di perbatasan di utara Bellhaven,’ jawab Brandon gugup. ‘Dan itu pun dengan pengecualian kesatria dan pasukan elit.’


‘Darimana mereka mendapatkan— tidak-tidak, itu tidak penting,’ pikir Slatanis menggelengkan kepalanya.


‘Lalu, bagaimana dengan para warga sipil jika ada peperangan yang terjadi? Apakah mereka akan dilukai dan dibunuh?’ Tanya Slatanis.


‘Hmmm, tergantung dari tujuan sang penyerang. Jika tujuan mereka untuk memusnahkan suatu bangsa, ya tentu saja mereka akan membantai warga sipil juga. Tapi jika tujuan mereka untuk menduduki, maka saya rasa hal tersebut tidak akan terjadi. Karena mereka tetap memerlukan moral dan tingkat kepercayaan yang tinggi dari para warga sipil untuk tetap menjalankan roda kehidupan di wilayah yang akan mereka duduki nantinya,’ jawab Brandon.


‘Itupun jika Waldengrace bertujuan untuk menduduki,’ ucap Slatanis. ‘Bukankah tujuan mereka menyerang nantinya hanyalah untuk meletakkanku di bawah ordernya?’


‘Sepertinya itu akan menimbulkan sedikit korban penyiksaan, jadi menurut saya … lebih baik kita tidak perlu memikirkan para korban dari warga sipil,’ ucap Brandon tiba-tiba dengan nada datar dan dinginnya.

__ADS_1


‘Sebenarnya yang daemon aku atau dia sih?’ Pikir Slatanis sedang dirinya masih memikirkan nasib warga sipil yang mungkin akan berdampak pada peperangan.


‘Kalau begitu, pergilah bersama dengan rombongan bellwyne dan beberapa bangsawan yang masih setia dengannya ke tepi luar hutan Gloria,’ ucap Slatanis dengan gaya bicara Autoritatifnya. ‘Kemudian bangunlah kemah di sana dan bangunlah tembok pertahanan jika perlu dan cukup waktu, karena aku tidak mau memobilisasi pasukan ku ke daerah-daerah yang tidak tentu untuk membantu kalian.’


‘Apakah anda menyarankan kami untuk meninggalkan istana bellwyne dan beberapa wilayah, kastil, istana, kota dan desa-desa menuju tepi hutan gloria, kemudian bertahan di sana?’ Tanya Brandon menekankan.


‘Benar, aku ingin semuanya terpusat di barat Bellhaven, aku tidak mau pasukanku terpencar-pencar dalam berperang,’ ucap Slatanis. ‘Biarkan mereka yang menyerang kita ke satu titik agar aku bisa menghabisi mereka sekaligus.’


‘Ide yang bagus, wahai Dewi, anda benar-benar luar biasa!’ Puji Brandon dengan nada bersemangat.


‘Kalau begitu, laksanakan segera!’ Perintah Slatanis.


‘Siap, wahai Dewi!’ Jawab Brandon dan mengakhiri sesi telepati mereka berdua.


‘Yaps, rencana ini pun jika bukan karena Lilith dan Raphaela, aku tidak akan kepikiran sampai ke situ, hehehe,’ pikir Slatanis setelahnya.


Slatanis mengingat empat hari yang lalu dimana ia meminta masukan dari Raphaela dan Lilith tentang bagaimana caranya mengatasi pertempuran di medan dan lokasi yang terpencar-pencar. Mereka berdua pun menyarankan untuk memusatkan pasukan ke satu titik, agar musuh juga mengumpulkan pasukan mereka di satu titik yang sama. Maka dengan begitu, mereka akan menjadi lebih mudah dihabisi dibanding harus melakukan kampanye perang yang berlarut-larut hanya karena jarak medan dan lokasi perang.


Dan dengan begitu, operasi Bottleneck pun diinisiasi.


***************



(Lich - Mage)



(Death Phalanx)



(Death Knight)

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2