
(Slatanis versi Realistis)
(keadaan aula tamu / ruang dansa / ballroom saat ini di Istana Bellwyne)
Siang hari di kediaman duke Bellwyne, acara syukuran pun digelar. Para tamu yang satu hari sebelumnya telah singgah di sekitar Bellhive maupun di dalam komplek Istana Bellwyne pun hadir di dalamnya.
Setelah duke willem mengucapkan rasa terima kasihnya kepada para tamu dan kepada sang Raja atas rahmatnya dari atas anak tangga Istana yang luas, ia pun turun untuk menyalami mereka satu persatu. Dengan segelas wine di tangan para tamu, mereka pun juga mulai mengobrol seraya diiringi musik yang dimainkan oleh para musisi di pinggir pesta di lantai pertama.
Dari semua kerumunan yang berkumpul untuk menukar cerita mereka, Slatanis yang hanya berdiri di pinggir pun terlihat lebih banyak dikerubungi oleh para tamu. Khususnya para pria.
Bersama dengan Roland yang mengawalnya, dengan setengah hati Slatanis pun terus bersamanya demi menamengi dirinya dari pertanyaan-pertanyaan para bangsawan.
Tak lama, setelah para bangsawan yang mengerumuni dirinya puas akan semua pertanyaan, Roland pun menghadap Slatanis dan mulai memegang tangannya. Slatanis yang hanya berdiri melihat keramaian pesta pun spontan ikut menghadap ke arah Roland yang menarik tangannya.
“Tuan Roland?” Tanya Slatanis menatap bingung.
“Maafkan aku,” ucap Roland menunduk dengan ekspresi menyesal. “Maafkan atas perkataanku waktu itu.”
‘Hmmm, baru minta maaf sekarang,’ pikir Slatanis.
“Tentu,” balas Slatanis dengan senyuman manisnya, dan dibalas juga dengan Roland yang ikut tersenyum lega.
Terlihat Roland yang terus menatap Slatanis, seakan ingin mengatakan sesuatu, namun tertahan sementara ia tampak sedang menahan pandangannya dari dua aset milik Slatanis.
‘Aku ingin sekali mengajaknya dansa, tapi mataku entah kenapa … eughhh,’ pikir Roland merasa frustasi.
Kemudian keheningan untuk sesaat pun tercipta sambil mereka hanya menatap satu sama lain, sampai akhirnya Brandon bersama dengan kedua anaknya, istrinya dan Undeil serta Dorian pun menghampiri Slatanis dan Roland. Sementara Slatanis dengan ragu masih menatap Roland dan hendak mengatakan sesuatu.
"Jadi, yg mengutuk-" ucap Slatanis terhenti.
“Tuan Muda Roland,” ucap Brandon yang datang dari belakangnya.
Roland pun berbalik badan, “oh paman.”
‘Ah ini dia, speak of the devil,’ pikir Slatanis mengintip dari belakang lengan Roland.
Mereka berdua pun bersalaman.
“Perkenalkan … ini adalah pertama kalinya kalian bertemu,” ucap Brandon sambil menggiring Gisella ke hadapan Roland.
“Tuan Muda,” ucap Gisella menunduk sopan dengan gaya wanita bangsawan.
“Oh, Nona Gisella, selamat datang, saya adalah Roland, calon suami anda,” ucap Roland memberikan senyuman tulus.
__ADS_1
Gisella yang melihat itu pun langsung tersipu dan hendak memalingkan wajahnya, namun ia melihat Slatanis yang berdiri di belakang Roland dan justru langsung menatap Slatanis.
“Oh, kalau boleh saya tahu, siapakah nona ini, Tuan muda?” Tanya Gisella.
“Ah, maafkan saya atas ketidaksopanan saya,” ucap Slatanis dan mulai merendahkan bahunya. “Saya Slatanis, rekan kerja sekaligus investor Duke Willem.”
‘Well, aku memang diminta untuk memperkenalkan diriku seperti itu, terlepas siapapun yang bertanya. Meskipun pria gendut ini yang ada di depanku sudah tahu tentang diriku,’ pikir Slatanis agak melirik ke arah Brandon yang berdiri di paling depan.
“Dan ini adalah Marchioness Mirabella, istri dari marquis Brandon,” ucap Roland memperkenalkan Mirabella yang berdiri di sisi lain Brandon.
Keduanya, Slatanis dan Mirabella pun saling merendahkan bahu mereka dan berkenalan. Slatanis memberikan senyuman tulus, sementara Mirabella tampak sungkan tersenyum seakan iri dengan Slatanis. Tampak ia juga sering melirik ke arah dua aset milik Slatanis yang terbuka.
“Dan ini adalah Putra saya, Thomas,” ucap brandon bergantian memperkenalkan putranya, Thomas.
“Sa-salam kenal, Nona,” ucap Thomas menunduk memberikan salamnya dengan sopan.
‘Hmmm, aku merasakan Mana dari dua orang ini, siapa mereka?’ Pikir Slatanis bertanya-tanya sambil melirik ke arah belakang Brandon tepatnya ke arah Undeil dan Dorian berdiri, kemudian melirik ke arah Thomas yang menunduk di depannya. ‘Tunggu, bahkan putranya juga memiliki Mana meskipun sangatlah sedikit.’
“Salam kenal tuan muda,” ucap Slatanis memberikan senyumannya.
Thomas tampak tidak kuasa terus menatap Slatanis dengan pipinya yang terus memerah.
‘Hmmm, apakah ini karena pakaianku, atau karena [charm of succubae]-ku yang sedang aktif ya?’ Pikir Slatanis melihat Thomas yang tampak sedang menahan.
“Sedangkan pria tampan ini adalah adik ipar saya, Baron Undeil Andrelion,” ucap Brandon mulai menggiring Undeil ke hadapan Slatanis dengan ekspresi bangga.
“Oh, senang berkenalan dengan anda juga,” ucap Slatanis memberikan tangannya, dan Undeil pun mulai mencium bagian belakang telapak tangan Slatanis.
Slatanis pun tersenyum sambil menatap pria yang berada di hadapannya menunduk dengan begitu sopan sambil mencium tangannya.
‘Apakah aku setua itu?’ Pikir Slatanis yang masih menganggap bahwa mencium tangan di dunia ini sama dengan salam hormat kepada yang lebih tua.
“Ah sebelum itu, bolehkah saya permisi sebentar dan meminjam tuan muda Roland?” Tanya Brandon ke Slatanis.
“Oh, te-tentu,” ucap Slatanis gugup.
Brandon bersama dengan istri dan kedua anaknya pun membawa Roland ke tempat lain untuk membicarakan sesuatu, sementara itu Undeil dan seorang pria lainnya, Dorian, masih berdiri di dekat Slatanis. Selama beranjak, terlihat Mirabella menatap Slatanis dengan sinis sebelum akhirnya berjalan dengan menghadap ke depan.
“Nona, Bisakah kita berbicara sebentar,” ucap Undeil tiba-tiba.
“Ya tentu, bicaralah,” ucap Slatanis tidak menoleh sedikitpun sedang dirinya berfokus menatap para tamu undangan yang sedang berdansa sambil diiringi musik.
‘Aku sudah capek-capek berlatih dansa, tapi itu percuma karena tidak digunakan, fuuhh,’ pikir Slatanis termenung.
“Bisakah kita cari tempat lain?” Ucap Undeil.
“Yaps,” balas Slatanis singkat.
__ADS_1
Mereka pun mulai beranjak dari tempat itu, namun terhenti sesaat dua orang bangsawan berdiri di depannya dan sedang berjalan menuju tempat lain.
“Oh, Tuanku Elhanan,” ucap Undeil tiba-tiba dan langsung menunduk sopan.
“Oh ternyata itu dirimu, Tuan Undeil … ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa berada disini? Bukankah duke Willem tidak mengundang Baron selain dari bawahannya?” Tanya pria berjenggot dan berambut perak itu, Elhanan Winston.
“Saya bisa berada disini karena Marquis Brandon, kakak ipar saya, mengajak saya kemari,” ucap Undeil.
“Oh~ baiklah,” angguk Elhanan. “Lalu siapa Nona ini?” Lanjutnya bertanya sesaat melihat Slatanis berdiri di sebelah Undeil.
‘Aku bisa merasakan Mana yang cukup besar dari pria ini dan juga dari wanita ini yang bersamanya. Hmmm, apakah mereka kakak adik? karena rambutnya sama-sama berwarna perak, dan bahkan wajahnya sekilas tampak mirip,’ pikir Slatanis menatap balik Elhanan.
“Oh, maafkan atas ketidaksopanan saya. Saya adalah Slatanis, Rekan kerja sekaligus investor duke Willem,” ucap Slatanis memperkenalkan dirinya.
“Investor Huh?” Ucap Elhanan menatap ragu Slatanis.
“Beliau Adalah duke Elhanan Winston,” ucap Undeil mulai memperkenalkan Elhanan. “Dan beliau adalah Duchess Ashriel, istri dari Tuanku duke Elhanan.”
“Senang bisa berkenalan dengan kalian,” ucap Slatanis sekali lagi, namun sambil merendahkan bahunya lebih dalam.
‘Wow, mereka adalah suami istri? Apakah inbred diizinkan di dunia ini?’ Pikir Slatanis menatap Heran.
“Jika anda berpikir hal seperti rumor yang tersebar, jawabannya adalah bukan. Saya berasal dari keluarga Marquis Briton,” ucap Ashriel menatap Slatanis sambil tersenyum.
“Oh, saya tidak—”
"Tidak ... Tidak apa-apa," ucap Ashriel tersenyum anggun.
'Aku benar-benar bisa merasakan Mana dari mereka, dan ... Mana yang mereka miliki juga tidak main-main, ini jauh lebih banyak daripada Sasha. Aku bahkan sampai bisa memperkirakan level mereka yang berada di sekitaran level 25,' pikir Slatanis di sela-sela itu sambil tersenyum.
“Mohon maaf atas kelancangan saya kalau begitu, tapi mohon izinkan saya untuk permisi sebentar Tuanku,” ucap Undeil menunduk sopan.
“Oh tentu, silahkan,” ucap Elhanan dan memiringkan tubuhnya memberikan ketiganya, Slatanis, Undeil dan Dorian jalan.
Mereka bertiga pun beranjak dari perhentian singkat itu, kemudian menuju ke teras Istana.
******************
(Elhanan Winston - playground AI)
(Ashriel Winston (Briton) - Playground AI)
Bersambung ....
__ADS_1