
Sayap-sayap rinduku yang patah,
Yang tak mampu lagi untuk terbang,
Menemui sang pemilik rindu
Yang menghilang,
Dan ini ....
Sebuah rindu yang tak bersayap.
(Catatan: Bogor, 22 Mei 2017)
Saat mimpi itu terjadi....
Merangkai hari indah.
Hari senin, adalah hari yang paling sangat tidak disukai oleh murid nakal yang urakan serta tidak tahu aturan. Dia adalah Titan Wirasena Rajendra, dengan berjuta rumor buruk di sekolah SMA kejora ini. Ia selalu absen di hari senin. Tapi pagi ini, mau tidak mau, ia harus datang ke sekolah, karena mendapat panggilan pribadi dari sang kepala sekolah dan guru BK. Terhitung selama ia menjadi murid di SMA Kejora, hanya paling tidak sepuluh atau lima belas kali hari senin ia masuk sekolah dalam satu tahun. Bayangkan saja, betapa malasnya anak itu.
Latar belakang kehidupannya tidak terlalu buruk. Hanya saja, ia tidak punya wali murid untuk siap mendengarkan ceramah dari guru BK, pada saat ditelepon atau pun secara langsung. Kedua orangtuanya sudah meninggal sepuluh tahun silam, dan itu membuat karakternya berubah drastis. Namun semua itu tidak membuat Titan terjerumus ke hal-hal negatif. Ia hanya melampiaskan semuanya dengan sesuka hati, sampai membuat karakternya benar-benar berubah. Menjadi lebih cuek dan bertingkah semuanya. Terpenting baginya, ia bukan cowok yang berengsek dalam urusan cewek, meskipun memang diluaran sana, banyak yang menganggap selain Titan nakal, ia pun berengsek karena selalu menyebarkan virus-virus harapan palsu kepada sejumlah siswi di SMA Kejora ini.
Padahal tidak.
Titan tidak merasa kalau dirinya seorang pemberi harapan palsu. Ia bahkan tidak mengerti dengan julukan yang dinobatkan untuk dirinya. Atau mungkin banyak siswi di sekolah ini yang diam-diam menggilai sosok secuek Titan, itu sebabnya rumor tersebut menyebar dengan sendirinya. Titan tidak mempermasalahkan semuanya. Meskipun resikonya ia harus bolak-balik kantor BK hanya untuk mendengarkan nasehat guru BK yang memiliki kumis tebal bicara ala-ala hakim penuntut umum yang tahu segala jenis hukum. Kadang selucu itu hidupnya, ia hanya menjadi langganan kantor BK hanya karena dituduh sebagai penyebar harapan-harapan palsu, dan menganggu ketentraman kaum hawa di sekolah SMA Kejora ini.
Soal tawuran? Ia pun sering terlibat masalah tawuran, namun kasus itu tidak sebanyak kasus pemberi harapan palsu. Hanya terhitung sepuluh kali masuk ruang BK karena kasus tawuran antar pelajar, dan terhitung lima puluh kali bolak-balik ke kantor BK dengan kasus memberikan harapan palsu---dalam setahun, kasusnya itu membuat Titan merasa kalau dirinya terlalu tampan untuk masalah selucu ini.
Bahkan kini, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit, Titan masih asyik duduk ala big bos, di warung pojok yang berada di belakang sekolah, menikmati secangkir kopi hangat yang diseduh dalam akua gelas, dengan sebatang rokok yang terselip diantara jari telunjuk dan jari tengahnya. Ini sudah memasuki jam pelajaraan seharusnya, tapi Titan justru malah asyik nongkrong, bersama beberapa murid nakal yang kini sedang santai menyantap nasi uduk. Tapi Titan tidak memperdulikannya.
"Tan? Lo gak masuk?" Tanya temannya yang sedang asyik melahap nasi uduk.
Titan tersenyum miring, "Enggak. Males," ucapnya santai.
"Sarapan dong, Tan. Nasi uduk super lezat," tawar temannya. Namun Titan tidak menjawabnya, hanya tersenyum miring tanpa menoleh sedikit pun ke arah temannya.
"Yaelah, pake nawarin si Titan makan nasi uduk. Kalian enggak tau? Dia anak orang kaya, sarapannya ya sama roti, bukan sama nasi uduk yang bikin otak gak bisa mikir. Haha," ucap salah satu temannya lagi yang sama sekali tidak membuat perhatian Titan teralihkan. Ia hanya menikmati udara pagi, dengan kebebasan.
Lagipula, ini hari senin, sekolah pasti sedang melaksanakan upacara. Titan pasti akan datang ke sekolah, tapi ... Tidak saat ini, paling sekitar jam sembilan atau sepuluh. Sadis! Ini bukan sekolah nenek moyangnya, yang bisa ia datangi seenak udelnya. Bukan. Tapi, Titan memang sangat tidak peduli dengan peraturan sekolah.
"Nongkrong di warung kopi,
Mejeng sana dan sini,
Ngopi ABC Mocca asyik,
Bareng teman makin asyik," senandung beberapa teman yang sedang mengopi ria setelah sarapan uduk. Suara-suara gitar ukulele pun mulai menghiasi suasana.
Titan bahkan tidak peduli. Ia justru malah mengubah posisinya---beridiri menyandarkan punggungnya ke tihang besi yang terdapat di pinggir warung pojok tersebut, dengan sebelah kaki ditekuk ke belakang. Segelas kopi sudah ia teguk habis, lalu membuang gelas akua tersebut ke tong sampah yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Kini, hanya sebatang rokok yang mengerti perasaannya pagi ini. Titan memang terlihat seperti anak yang benar-benar nakal, terlihat dari caranya berpakaian, baju seragam yang dibiarkan keluar, dua kancing bagian teratas bajunya pun dibiarkan terbuka---menampakkan sebuah kalung hitam berliontin taring macan yang melingkar di lehernya.
Tiba-tiba saja, seorang cewek berjas putih keanggotaan PMR, melintas dari jauh. Cewek itu berjalan menuju apotik yang terdapat di seberang sana---jarak yang tak jauh dari sekolah maupun kantin pojok yang saat ini menjadi tempat tongkrongan Titan.
"Tania! Cuitwiw, cuitwiw," beberapa teman di sebelah Titan memanggil cewek berjas putih tersebut. Namun nampaknya, cewek tersebut tidak menggubris sedikit pun.
"Gila, ya, si Tania makin hari makin cantik, bro. Gak salah emang dia mau jadi ketua PMR. Gue bakal milih dia, secara dia kan bukan hanya anggota PMR, tapi juga jadi pengobat kegelisahaan hatikyu, eak!" Suara-suara renyah itu membuat perhatian Titan tertuju pada cewek di seberang sana. Tatapan Titan tampak serius.
Lalu, Titan menoleh ke arah teman-teman di sebelahnya.
"Emang dia siapa?" Tanya Titan, menanyakan sosok cewek berjas putih tersebut.
__ADS_1
"Aelah. Lo enggak tau? Dia Tania, bro," jawabnya.
"Tania?" Titan menaikkan alisnya sebelah.
"Iya, Tania. Lo kudet apa gimana, si Tan? Masa lo enggak tau Tania?"
"Oh, emang anak mana dia?" Tanya Titan.
"Kampret! Lo beneran enggak tau? Dia satu sekolahaan sama kita. Hello, lo kemana aja, Tan, selama ini? Lo udah tiga tahun sekolah di sini? Masa lo enggak tau?" Katanya tersenyum remeh.
"Gua masih kelas dua," singkat Titan.
Ya, perlu diketahui, bahwa Titan tidak naik kelas selama setahun. Seharusnya kini dia duduk di bangku kelas dua belas. Namun, kini, ia harus terpaksa mengulang kelas sebelas lagi. Bukan momok yang buruk bagi Titan, semuanya ia anggap biasa saja. Ia sangat cuek, bahkan tidak peduli terhadap apa yang menyangkut sekolah, yang ia tahu adalah hidup ini harus dijalani dengan karakter sesuai dengan apa yang kita punya. Baginya, menjadi diri sendiri seperti ini jauh lebih baik, dibanding harus menjadi orang lain yang terkadang menyiksa diri sendiri. Menjadi sosok sempurna tidak selamanya harus bermodal baik dengan berjuta rumor baik pula, tapi harus disertai dengan ketulusan dari dalam diri sendiri. Bukan hanya memasang topeng bak malaikat supaya tersohor baik nan sempurna, tapi harus benar-benar tulus dalam suatu kebaikan itu sendiri. Titan bukanlah cowok yang bermuka dua, ia hidup selayaknya yang Tuhan berikan untuknya. Hidup dalam kesendirian dan kesepian yang kerap kali menyapa dirinya.
Tapi ...
Titan tidak sendiri, ia memiliki adik perempuan yang duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah pertama (SMP). Walaupun Titan berkarakter cuek seperti itu, tapi ia sangat menyayangi Adiknya, dan menjadi sosok Abang yang tangguh, pengganti Ayah dan Ibu bagi Adiknya.
"Ada Pak Danny, woy! Pak Danny lagi ke sini! Otw, razia woy, razia anak bandel. Kabur!!!" suasana warung pun terlihat heboh, dan beberapa murid yang nongkrong pun terbirit-birit mencari tempat bersembunyi.
Titan langsung membuang rokoknya dan menginjak rokok tersebut dengan kaki yang terbungkus sepatu itu, lalu Titan pun bergegas untuk mencari tempat perlindungan. Setidaknya ia terhindar dari amukan Pak Danny.
"Titan!" Teriak Pak Danny menggelegar. Seakan semua pun terguncang hebat, saat Pak Danny berteriak nama Titan. Lihatlah kumis tebal Pak Danny pun menegang bagai terjebak di kamar pengantin.
Titan yang baru saja hendak melarikan diri untuk mencari tempat sembunyi, harus terhenti langkahnya saat suara menggelegar itu terdengar dari arah belakang Titan. Dengan wajah tidak berdosa Titan pun membalikan badannya menghadap guru BK tersebut.
"Iya, Pak? Bapak manggil saya?" Tanya Titan dengan santainya, membuat Pak Danny menggeram.
"Kamu!" Pak Danny menunjuk Titan dengan jari telunjuk yang menegang.
"Sungguh terlalu!" serunya, nyaris seperti nada suara Rhoma Irama. "Kamu kan saya suruh datang ke sekolah pagi-pagi! Kenapa enggak masuk ke sekolah? Kenapa malah di sini?! Kamu enggak tau aturan sekolah? Malah asyik ngumpul di sini. Mana teman-temanmu yang lain?!" Pak Danny meluap, namun Titan hanya berdiri dengan santainya, dan menatap malas ke arah Pak Danny.
"Titaaan!!" Pak Danny memasang wajah kesal.
Sementara teman-teman sekampret Titan yang kini sedang bersembunyi di balik tembok warung hanya tertawa cengengesan. "******, si Titan kena hukuman. Peak emang dia! si botak malah dilawan. Anjirlah tuh bocah, kelewat cerdas. Haha," ucapnya yang bersembunyi di balik tembok warung---menyaksikan Titan dari kejauhan.
Pak Danny menghampiri Titan dengan kedua tangan berkacak pinggang. Tokoh Pak Danny di sekolah SMA Kejora memang terkenal garang, namun juga tampangnya sama sekali tidak menunjukkan kegarangan, justru terlihat lucu dan aneh. Meluapkan emosi kemarahan pun seperti tidak totalitas, karena raut wajah yang nyaris seperti Cak Lontong itu hanya mengundang gelak tawa, saat emosi marah itu meluap.
"Kamu ikut Bapak ke kantor!" perintahnya.
Titan menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Saya bosen, Pak, ikut Bapak ke kantor mulu. Kali-kali Bapak ajak saya ke kantin kek, biar nanti saya kasih tau caranya naklukin cewek." Titan berujar dengan santainya, membuat Pak Danny lagi-lagi melotot sempurna.
"Kamu ngeledek saya? Karena sampai setua ini saya belum menikah?" Katanya.
"Fakta, Pak!"
Pak Danny menghela napas, "Oke! Kamu ikut saya dulu ke kantor!" serunya.
Titan pun hanya pasrah saja, mengikuti perintah guru BK berkepala pelontos itu. Teman-teman kampretnya yang berhasil menyelamatkan diri hanya tertawa puas melihat Titan, namun Titan tidak memperdulikan semua itu. Pak Danny memang menyebalkan, sudah tahu ada anak nakal juga yang bersembunyi di balik tembok warung, tapi ia hanya fokus pada Titan saja. Bagi Pak Danny mungkin Titan memang harus diberi pelajaraan, atau mungkin saja hari ini Titan memang lagi sial dan teman-temannya sedang beruntung. Entahlah.
Saat memasuki gerbang, menyusuri koridor sekolah dengan membututi Pak Danny, Titan yang memasang wajah malas itu hanya pasrah mengikuti kemana langkah Pak Danny akan terhenti. Titan berjalan amat sangat santai, kedua tangannya ia masukan ke saku celanannya, tas selempang tersoren di bahunya, membuatnya terlihat santai, cuek, apa adanya, dan penuh pesona.
"Tumben banget si Titan hari senin masuk," bisik beberapa murid saat melihat Titan melintas di depannya. Titan tetap stay biasa saja, tanpa memperdulikan.
"Raja PHP!" sindir murid lain.
"Eh, dia ganteng, ya," bisik yang lain.
"Iya. Titan emang ganteng."
__ADS_1
Titan tersadar ia menjadi pusat perhatian. Ada yang memakinya ada pula yang memujinya. Tapi semua itu basi, bahkan Titan sangat tidak menanggapi hal tersebut.
Tap! Pak Danny menghentikan langkahnya sejenak, saat salah satu siswi menghampirinya dan memberikan sekotak obat-obatan pada Pak Danny. Tentu, terlihat dengan jelas Pak Danny pun nampak ramah pada siswi tersebut. Titan hanya menautkan alisnya sebelah.
"Pak, kok kita berhenti? Katanya mau ke kantor?" Kata Titan.
"Sebentar! Kamu diam saja," ucap Pak Danny sedikit ketus pada Titan. Lalu Titan hanya menghela napas pelan.
"Pak, ini obat-obatan yang saya beli di apotik belakang sekolah yang deket jalan raya, saya rasa stok obat-obatan di ruang PMR udah enggak ada, jadi saya beli ini, tapi pake uang khas," katanya dengan suara sopan, Titan hanya menatap datar siswi beralmamater putih keanggotaan PMR tersebut.
"Makasih Tania. Bapak bangga sama kamu, selain kamu pintar, kamu rajin, kamu mengerti semua tugas-tugas yang kamu emban. Bapak senang dengan kerja kerasmu sebagai anggota PMR." Pak Danny tak kalah ramah membalas ucapan siswi beralmamater putih tersebut.
Kemudian, Titan melihat nametag yang terdapat di almamater siswi tersebut, lalu Titan mengangguk sangat pelan, "Oh, namanya Tania Alexandria. Kok gue baru lihat dia di sini, ya? Tapi si kampret Nando udah tau dia. Lagi pula, ini lagi Pak Botak, ngomong sama gua marah-marah pake nyentak, giliran ngomong sama Tania, pake ramah alay dan ngebosenin. Tapi ... Tania itu ... Cantik juga," batin Titan bermonolog.
"Yaudah, Pak, kalau gitu, saya permisi mau ke kelas," pamit Tania, Pak Danny hanya mengangguk disertai senyum ramah.
Titan terlihat aneh dengan sikap Tania yang seolah-olah tidak menganggap keberadaannya, saat Tania berpamitan dan berlalu melintasi Titan, Tania hanya melihat sedetik ke arah Titan lalu melanjutkan langkahnya. Tania tidak seperti kebanyakan siswi lain---yang kebaperan saat berpapasan dengan Titan.
"Gila tuh cewek, dia enggak tau apa ada orang ganteng di sini? Kenapa enggak kayak cewek lain?" Batin Titan bertanya-tanya, sambil menoleh ke arah Tania yang semakin berlalu.
"Titan!" seru Pak Danny, berhasil membuat Titan terkejut, dan langsung menoleh ke arah Pak Danny.
"Iya, Pak?"
"Kita lanjutkan!"
"Lanjutkan apanya?" Titan bertanya polos.
"Ke kantor!" Pak Danny pun tanpa basa-basi melanjutkan langkahnya menuju ke arah kantor BK. Titan menghela napas kasar.
Namun, pada saat Titan akan mengikuti langkah Pak Danny, pandangannya tertoleh pada murid aneh bernametag Jonathan---yang tak lain teman satu sekelasnya. Titan mengernyit heran, Jonathan yang bertingkah aneh, membuat Titan dengan santainya menghampiri Jonathan.
"Datanglah! Datanglah! Datanglah wahai hujan. Hujan, datanglah! Ayo datanglah," ucap Jonathan berharap hujan datang dari langit, padahal jelas hari ini terik matahari semakin mencekam.
Saat menghampiri Jonathan, Titan melihat ke arah langit yang menjadi kini objek Jonathan. Dan ... Titan pun kembali mengernyit melihat Jonathan. "Lo kurang waras, ya?"
Jonathan langsung melihat sinis pada Titan.
"Lo ngatain gue gila?"
"Lo budeg, ya? Gue bilang lo kurang waras? Bukan ngatain lo gila," jelas Titan.
"Emang apa bedanya?"
"Ya, bedalah!" Seru Titan, "Btw, lo lagi ngapain? Manggil-manggil hujan? Biar apa? Cuaca terik gini, mustahil banget hujan turun. Percuma juga lo manggil-manggil hujan, dia enggak sudi dipanggil sama lo," sambung Titan.
"Kampret! Gua lagi ngumpulin imajinasi nulis gue, biasanya inspirasi suka muncul kalau lagi hujan. Gua butuh banget hujan. Lo tau kan? Gue ini penulis," katanya, membela diri.
Titan berdecak, "Lo butuh inspirasi? Butuh hujan? Yaelah, katanya kids jaman now, masa manggil hujan aja harus repot-repot mohon-mohon sama langit, sampai kapan pun langit gak akan denger. Lo buka aja HP lo, lo buka youtube, lo dengerin suara hujan di sana! Gitu aja repot," santai Titan.
Jonathan hanya memasang wajah kesal.
Dan ...
"TIIIITTTANN!!!!!" Panggil seseorang dari arah utara. Suara yang menggelegar. Siapa lagi kalau bukan suara cetar membahananya Pak Danny.
"****** gue!" Batin Titan saat menoleh ke arah Pak Danny---yang memasang wajah dengan kepala yang seperti bertanduk.
***
__ADS_1