Titan'S

Titan'S
eps. 27


__ADS_3

Lelah kumenari,


Bersamamu mengudara dalam sepi.


Letih kumencari,


Untuk menggapaimu, yang hadir bagai mimpi.


Mungkin kau pernah terluka,


Karena caraku yang mencintaimu sangat berbeda.


Caraku mencintaimu memang tak biasa.


Aku mencintaimu dalam diam, bukan dalam bualan kata romantis yang senantiasa membuat anganmu melayang membayangkan sesuatu yang sangatlah indah.


Bukan. 


Aku adalah seseorang yang mencintaimu dengan cara yang tak biasa.


Satu cara yang kupunya adalah dengan terus mencintaimu sampai aku benar-benar memastikan kalau kamu bahagia atas cinta yang kuberikan. Jika tidak bahagia, biarkan perasaan yang tidak bisa aku deskripsikan ini terus bersemayam dalam hati, sampai aku berada di titik seluruh napas telah hilang dalam hidupku.


Udara lenyap tak lagi bisa kuhirup, aku akan tetap berusaha membuatmu bahagia meski terkadang caraku ini memang berbeda.


"Aku menunggumu di sini. Mencintai dan menyayangimu dengan segenap hati. Jadi tolong, jangan pergi." ---KANGEN


***


Satu bulan telah berlalu, Tania tidak mengerti dengan semua yang terjadi. Titan tidak ada kabar sama sekali, bahkan Titan akhir-akhir ini sangat sulit untuk ditemui. Acara pertunjukan drama tinggal mengitung hari, persiapan masih belum matang. Titan di mana? Ini membuat Tania merasa kalau Titan sedang mempermainkan hatinya---setelah Titan mendapatkan hati Tania seutuhnya.


"Tania? Kamu tau di mana Titan? Kenapa ya, akhir-akhir ini gue sulit banget ketemu sama Titan. Lo tau nggak di mana dia?" Tanya seseorang yang tiba-tiba menghampiri Tania, dan duduk di samping Tania---yang sedang membaca buku di ruang perpustakaan.


Tania menutup bukunya, dan menoleh ke arah seseorang yang bertanya kepadanya itu, dengan pelan Tania menggelengkan kepala, "gue enggak tau," ucapnya pelan.


"Lah, bukannya selama ini lo sama Titan deket?"


Tania menghela napas pelan, "gue bahkan nggak ngerti dengan semua ini, Jon. Lo bisa kan nggak nanyain soal Titan ke gue? Sebulan ini gue cukup sabar dengan pertanyaan-pertanyaan itu, karena gue bener-bener nggak tau di mana Titan sekarang," ucap Tania pada seseorang yang ia sebut Jon. Ya, orang yang bertanya pada Tania itu adalah Jonathan.


"Gue minta maaf, Tan. Karena kan gue cuma pengen mastiin aja. Soalnya kan acara drama udah tinggal menghitung hari. Gue takut aja kalau misalkan dia itu nggak bisa hadir, secara kan dia punya peran juga di dalam drama. Gue cuma mastiin," ucap Jonathan. Tania sama sekali tidak menggubris perkataan Jonathan, Tania malah fokus membereskan beberapa tumpuk buku, lalu membawa buku tersebut dan ia beralalu dari tempat ini tanpa memperdulikan Jonathan.


Menyadari kalau Tania tampak tidak suka dengan ocehan Jonathan, lantas Jonathan langsung meminta maaf, "Tan, gue minta maaf," teriak Jonathan. Tania tidak memperdulikan, ia berlalu begitu saja.


Beberapa murid yang terdapat di perpustakaan ini menatap sinis ke arah Jonathan, karena sudah berteriak---mengganggu aktifitas membaca para murid-murid yang sedang khusyuk membaca buku. Jonathan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, setelah beberapa murid menatapnya sinis, dan Jonathan pun berlalu dari tempat ini.


Saat Jonathan baru saja keluar dari perpustakaan, Udin memanggil Jonathan dari arah timur, dan langsung menghampiri Jonathan dengan wajah yang terpasang serius.


"Jon!"


Jonathan menoleh, "iya?"


"Gue ada urusan sama lo. Ada hal yang pengin gue bicarain sama lo. Dan ini serius. Sengaja gue pindah sekolah ke sini, karena ada hal yang harus gue kerjain di sini. Tapi, lo juga harus tau, gue sekolah di sini cuma beberapa bulan doang, setelah itu gue bakal pindah lagi ke sekolah gue yang dulu." Udin berujar dengan amat serius, Jonathan menautkan sebelah alisnya dan menatap Udin dengan tatapan aneh.


"Seumur-umur, gue belum pernah lihat muka lo seserius ini. Gak pantes ah."


"Ish, gue nggak ada waktu buat bercanda."


"Aelah. Emang kenapa, sih?"


"Gue sekolah di sini cuma beberapa bulan doang."


"Lah, terus?"


"Ya lo harus tau itu."


"Kenapa harus tau? Lagian ya, lo kenapa cuma beberapa bulan doang sekolah di sini? Emang lo kira sekolah itu permainan, pindah-pindah sesuka hati lo. Jangan mentang-mentang kedua orangtua lo lagi di luar negeri ya. Kasihan Kak Roshi kalau lo nya kayak yang nggak serius sekolah kayak gini," oceh Jonathan. Udin hanya menghela napas pelan.


"Udah ceramahnya? Lagian, Kak Roshi udah tau soal ini, dan dia ngedukung banget sama apa yang gue lakuin. Gue punya tugas yang cukup berat di sekolah ini." Udin berujar memperjelas.


"Tugas? Di sekolah ini? Tugas apa? Tentang hantu? Seriusan lo?" Pertanyaan berlapis itu terlontar dari mulut Jonathan.


"Ya. Ada tugas yang cukup berat buat gue. Mungkin ada hubungannya juga dengan hantu, tapi ini nggak serem. Sebagai orang yang punya anugerah bisa melihat makhluk ghaib, gue cuma bisa menjalankan tugas gue doang, ada seseorang yang minta bantuan ke gue untuk menyelesaikan masalah ini," ucap Udin.


Jonathan menggaruk-garuk kepalanya---menunjukan wajah polos penuh dengan ketidakmengertiaan atas apa yang dibicarakan Udin.


"Lo ngomong apaan, sih?"


"Hh ... Ngomong sama lo nggak pernah bisa nyambung, Jon. Percuma aja gue udah panjang lebar ngejelasin. Yang paling penting dan harus lo tau adalah ... Ini menyangkut tentang Titan." Udin berujar dan memberikan kata kunci dengan menyebutkan nama Titan dalam kalimatnya, itu jelas membuat Jonathan semakin tidak mengerti.


"Si badung Titan? Lah, kenapa nyambung ke Titan?"


"Lo lihat aja nanti."


"Titan udah sebulan loh enggak masuk sekolah."


"Ya lo lihat aja nanti. Bawel!" Lantas Udin pun langsung berlalu meninggalkan Jonathan dan beralih menuju kantin, dengan segera Jonathan pun mengekori Udin. Hati Jonathan terselimuti rasa kepo yang memuncak.


***


"Gimana perasaan lo?"


"Gue? Baik-baik aja, Tan. Terkadang emang ya, penyesalan itu rasanya enggak enak. Gue bener-bener nyesel banget udah ngecewain seseorang sampai dia udah enggak mau lagi lihat muka gue."


"Soal Rayn?"


"Sekarang gue cukup tersadar, bahwa perasaan gue sebenarnya untuk siapa. Tapi, gue cuma bisa pasrah."


"Ratu. Gue yakin, lo adalah cewek yang kuat. Lo bisa ngehadapin semuanya dengan sikap lo yang tegar ini. Gue sebagai sahabat, dan sebagai pendengar yang baik, cuma bisa berdoa semoga suatu saat nanti lo bisa menemukan kebahagiaan yang bener-bener kebahagiaan buat lo."


Ratu tersenyum manis pada Tania. "Lo emang sahabat gue yang terbaik, Tan. Maaf ya selama ini gue memutuskan untuk menyendiri dan lebih memilih menyimpan segenap rasa sesal ini dengan sendirian. Seharusnya gue berbagi sama lo, bukan hanya berbagi kisah suka, tapi juga duka."

__ADS_1


"Syukur deh. Hehe. Inget, ya, gue bakal selalu ada buat lo. Sedepresi apa pun seseorang dan merasa kalau di dunia ini enggak ada yang bisa ngertiin perasaan kita, kita harus bisa memahami bahwa ada orang yang bisa kita ajak jadi teman bicara walaupun pada akhirnya otak kecil kita selalu berpikir; tidak akan ada yang bisa mengerti kita. Tapi setidaknya kita harus tau, bahwa kita punya teman bicara, teman curhat. Yaa paling tidak, itu akan membuat hati kita sedikit lebih tenang dari sebelumnya." Tania berujar disertai senyuman. Ratu tersenyum.


"Lalu, gimana dengan Titan?"


Pertanyaan itu membuat senyum Tania meluntur. Tania terdiam dengan wajah terpasang datar, ada raut kesedihan dalam wajahnya.


"Gue enggak tau," ucap Tania pelan. "Gue nggak tau pasti di mana dia sekarang. Mungkin emang bener, saat ini Titan sedang mempermainkan perasaan gue. Dia jadiin gue pacarnya, saat dia udah dapetin gue, dia tinggalin gue gitu aja," sambung Tania, nada bicaranya kali ini terdengar menyakitkan.


"Semalem gue lihat Titan," jelas Ratu.


"Di mana?" Tania tampak semangat saat Ratu mengatakan kalimat bahwa ia bertemu dengan Titan semalam.


"Dia lagi nongkrong. Dia udah berubah Tania. Dia semakin buruk, bahkan jauh lebih buruk dari apa yang semua orang tau."


"Maksud lo?" Suara Tania berubah getir, jantungnya berdegub tak biasa.


"Gue rasa ... Titan bakalan enggak sekolah di sini lagi."


"Apa?!" Raut wajah Tania teramat sangat memilukan, sepasang matanya mulai terlihat berkaca-kaca.


"Iya. Gue sendiri nggak sengaja denger obrolan Titan sama temen-temen tongkrongannya, kalau dia enggak bakalan lagi sekolah. Gue enggak tau pasti dia bakalan pindah kemana, tapi dia bilang kayak gitu ke temen-temennya." Ratu menjelaskan panjang lebar, namun suara Ratu terdengar sangat berhati-hati, karena Ratu takut jika Tania terkejut atas pernyataan yang ia jelaskan. Namun tak dapat dipungkiri pun, Tania memang sangat terkejut dengan pernyataan tersebut.


"Tapi kenapa?" Tanya Tania dengan sangat haus akan penjelasan mengapa Titan berubah tanpa memberikannya sedikit penjelasan, bukankah Tania berhak mengetahui apa pun yang menjadi alasan Titan berubah, karena status Tania adalah kekasih Titan.


"Gue enggak tau pasti."


"Semalem lo ketemu Titan di mana?"


"Di persimpangan jalan komplek mawar asri."


"Gue bakal temuin Titan. Gue pengin tau apa alasan dia berubah kayak gini. Karena gue berhak tau. Gue khawatir sama dia, walaupun gue tau, akhir-akhir ini gue ngerasa gue udah disakitin sama Titan dengan sikapnya yang tiba-tiba seolah menghindar dari gue. Apa pun alasannya nanti, gue bakal berusaha untuk mengerti, walaupun mungkin akan membuat hati gue sakit." Tania berujar, air matanya menetes, namun dengan segera Tania menghapus air matanya.


"Lo sosok pemberi semangat bagi orang yang ada di sekitar lo. Tapi lo sendiri juga rapuh. Apa pun yang terjadi, lo sangat berhak bahagia. Kalaupun kisah sedih lagi menyapa hidup lo, suatu saat nanti kisah bahagia juga akan menyapa hidup lo. Kita sama, Tan. Dan gue percaya, apa pun yang terjadi, sesakit apa pun perasaan yang terluka, suatu saat akan berganti dengan perasaan bahagia dan akan membuat hidup kita menjadi pribadi yang sangat dewasa. Kita harus semangat!" Ratu memberikan semangat untuk dirinya dan juga Tania---yang secara tidak sengaja, takdir memberikan kisah cinta yang cukup rumit dalam hidup keduanya. Walau begitu, Ratu dan Tania berusaha bijak dalam menyikapi semuanya. Kini, Tania dan Ratu menikmati waktu istirahat dengan duduk-duduk di kantin, sembari memesan makanan dan minuman untuk mengganjal perut yang sedari tadi mungkin sudah keroncongan.


Suasana kantin ini tampak tidak seriuh seperti bisanya. Jonathan, Deo, dan Udin tampak tidak membuat kegaduhan, mereka hanya menikmati sepiring siomay, sambil ngobrol hal-hal yang paling tidak penting, di meja paling ujung kantin ini. Deo bahkan sama, tidak mengetahui apa alasan Titan berubah. Deo hanya menjaga amanat dari Titan; bahwa tidak boleh memberitahukan pada semuanya, kalau Titan sedang berusaha membahagiakan seseorang dalam hidupnya, Deo tahu akan hal tersebut, namun ia bungkam, sekalipun Tania yang menanyakan hal tersebut.


"Yo? Lo bener nggak tau Titan di mana?" Tanya Jonathan.


"Dia ada lah di rumahnya."


"Serius ih PA! Gue nanya!"


"Dua rius gue."


"Terus kenapa udah hampir sebulan dia enggak masuk sekolah?"


"Dia lagi hibernasi."


"Apa? Emangnya nasi bisa hiber?"


"PEAK!"


"Hiber itu bahasa sundanya terbang kan?" Jonathan memasang wajah super polos, membuat Deo berdecak.


"Sialan lo kampret!" Umpat Jonathan pada Udin.


Deo menghela napas sejenak, lalu memasang wajah serius dan menoleh ke arah Udin dan Jonathan secara bergantian. "Gue mau ngomong sama lu berdua. Meskipun kita berteman ini terbilang sangat singkat, dan kadang di antara kita sering banget nggak akurnya. Ada hal yang mungkin gue pengin omongin ke kalian." Deo berujar serius.


"Ngomongin apa?"


"Soal Titan," jelas Deo.


"Titan lagi?" Jonathan tidak mengerti.


"Tepat." Udin menimpal obrolan Deo. "Mungkin ini saat yang tepat untuk memulai tanggal mainnya. Untung si Deo bahas ini, jadi gue enggak lupa," sambung Udin.


"Tunggu-tunggu. Kok lo seolah-oleh tau semuanya?" Deo mengernyit heran pada Udin. Seharusnya Deo yang memimpin obrolan ini, karena Deo lah yang memulai pembahasan.


"Gue enggak tau banyak. Hanya tau sedikit."


"Tau apa?" Tanya Deo intens.


"Soal Titan."


"Emang apa yang lo tau soal Titan?"


Lalu, Udin pun membisikan sesuatu pada Deo dan Jonathan, entah apa yang dibisikkan Udin pada Deo dan Jonathan, namun tampaknya ini bukanlah hal mudah. Rencana apa yang akan dilakukan Udin? Saat mendengar penjelasan Udin, Jonathan dan Deo pun langsung memasang wajah datar dicampur raut yang seperti menyedihkan. Percaya atau tidak, raut wajah Deo dan Jonathan seperti tidak percaya dengan hal apa yang Udin bicarakan.


"Gue nggak percaya," ucap Deo.


"Sama. Gue juga nggak percaya," timpal Jonathan.


"Tapi ini kenyataan. Walaupun pada akhirnya akan ada hati yang terluka," jelas Udin.


"Terus, apa yang akan kita lakuin?" Tanya Deo. "Karena terus terang aja, gue enggak begitu percaya dengan semua ini. Kalau emang ini bener, gue enggak tau gimana rasanya jadi Titan." Deo berujar lagi, rautnya berubah sedih, seolah berusaha merasakan berada di posisi Titan.


"Gue ada rencana."


"Rencana apa, Din?" Deo dan Jonathan bertanya serentak.


***


Saat bel pulang sekolah berbunyi, Tania pun bergegas untuk pulang. Kali ini ia sangat bersemangat untuk pulang sekolah. Karena, ada hal yang harus ia lakukan. Ya, hari ini ia harus bertemu dengan Titan, bagimana pun caranya, meskipun Tania tidak tahu di mana Titan berada, tapi setidaknya Ratu memberitahukan pada Tania bahwa biasanya Titan selalu nongkrong di persimpangan jalan dekat komplek mawar asri. Tania harus menemui Titan di sana.


"Rat, gue duluan ya!" Tania berlari terburu-buru.


"Yah, bareng dong!"


"Gue ada urusan."

__ADS_1


Tania berlalu sangat terburu-buru, Ratu hanya menghela napas pelan.


Tania berjalan menyusuri koridor sekolah dengan langkah yang terburu-buru, beberapa buku yang dia bawa pun tampak seringkali hendak terjatuh. Dan, ya, beberapa buku yang dia bawa tersebut terjatuh tepat di depan pintu ruang BK. Dengan segera Tania mengambil bukunya yang sempat terjatuh tersebut. Dan ... Ada suara yang sangat misterius di dalam ruang BK, yang pintunya terbuka sedikit, dengan rasa penasaran Tania melihat ke dalam ruang BK tersebut.


"Dia sempat berubah, menjadi lebih baik, tapi saya enggak tau apa alasannya dia berubah menjadi lebih baik, dan rajin masuk hari senin. Tapi, itu hanya bertahan beberapa bulan saja, sekarang anak itu kembali berulah, bahkan sangat parah. Sudah sebulan penuh dia enggak masuk sekolah. Dengan sangat terpaksa, saya akan mengeluarkan dia dari sekolah."


"Maaf, Pak. Saya tidak bisa memberitahukan kenapa alasan keponakan saya tidak masuk sekolah selama sebulan ini. Saya sudah memperingatkan ini berulang-ulang kali ke Titan. Tapi dia benar-benar tidak bisa melanjutkan sekolahnya di sini."


"Itu berarti, saya sudah putuskan, Titan akan dikeluarkan dari sekolah, karena sekali lagi saya minta maaf, sekolah ini sudah terlalu banyak memberikan toleransi pada murid atas nama Titan. Dan ini titik terakhir yang diberikan sekolah untuk Titan. Titan akan dikeluarkan dari sekolah setelah acara HUT sekolah Kejora dilaksanakan."


DEG! Tania yang mendengarkan percakapan antara wanita dewasa---yang mengaku tante dari Titan, dengan guru BK tersebut, membuat Tania tercengang, saat guru BK tersebut menyelipkan kalimat bahwa ia akan mengeluarkan Titan dari sekolah setelah acara HUT sekolah selesai. Ini tentu membuat Tania semakin bertanya-tanya, mengapa Titan seperti ini? Apakah ia sama sekali tidak menghargai perasaan Tania.


Air mata Tania menetes, ia merasa posisinya kini tidak dihargai. Titan menganggap Tania apa? Bahkan Tania saat ini merasa bahwa dirinya adalah kekasih yang tak dianggap.


Tania berlari, ia menangis.


***


Saat malam tiba, semilir angin berhembus begitu menyejukkan. Berjalan tertatih menyusuri jalanan kota yang kian sepi. Titan merasakan kehampaan yang menyelimuti hatinya. Ia sangat terluka terbalut luka yang menebal dalam hatinya. Ada pilihan yang membuatnya kacau, ada perasaan yang membuatnya harus tetap bertahan, tapi sulit untuk ia lakukan. Bukan karena ia tidak mampu untuk bertahan, tapi keadaan yang terus memaksa dirinya agar melewati semuanya dengan beribu-ribu kesakitan dan pilihan yang sangat sulit.


"Maaf,"


Kata itu terlontar lirih dari mulut Titan. Tangan kanannya memegang dada sebelah kiri---yang terdengar detak-detak menyakitkan di sana.


Titan menghentikan langkahnya, ia menatap langit. Jika perasaan cintanya itu memang setinggi bintang, kalau pun cintanya itu terjatuh, pasti awan akan menangkapnya, ia percaya akan hal itu.


Titan memejamkan matanya sejenak, menikmati semilir angin yang berhasil berhembus menerbangkan rambutnya yang sedikit gondrong. Ia meminta angin agar menerbangkan luka-luka yang terdapat dalam hatinya. Setidaknya ini membuat perasaannya jauh lebih tenang dari sebelumnya.


"Titan,"


Panggil seseorang dari arah belakang Titan. Titan membuka matanya secara perlahan, ia mengenali suara tersebut. Dengan perhalan, Titan membalikan badannya, untuk menghadap ke arah seseorang tersebut.


DEG!


"Tania?"


Wajah Titan terpasang serius, saat ia tahu, kini Tania berada tepat beberapa meter di hadapannya. Tania menatap cukup dalam ke arah Titan. Titan hanya menatap Tania dengan tatapan yang tak biasa.


Tania berjalan beberapa langkah menghampiri Titan, hanya menyisakan mungkin setengah meter saja jarak antara Titan dan Tania.


"Kemana kamu selama ini? Apa yang sedang kamu lakukan saat ini? Apa kamu sedang berusaha menghancurkan sekeping hati yang baru saja kamu dapatkan?" Tania berujar sangat pelan, suaranya itu membuat degub jantung Titan berdetak cepat.


Bukan, bukan karena perkataan Tania yang membuat jantung Titan berdegub kencang, tapi, sorot mata Tania yang sudah lama tidak ia tatap itu membuat Titan seakan-akan takut akan melukai gadis yang amat sangat ia cintai. Titan juga takut, jika Tania tidak memahami caranya dalam mencintai.


Titan terdiam beberapa waktu, ia tidak mampu untuk menjawab pertanyaan Tania. Karena apapun jawaban Titan, itu pasti akan tetap melukai Tania.


Detik kemudian, Tania meneteskan air mata. "Aku takut." Tania berujar dan memberanikan diri menatap Titan dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku takut, jika kamu benar-benar tidak mencintaiku, lalu menghindar dariku tanpa sebuah kejelasan. Aku bahkan tidak takut kehilangan perhatian dari kamu, tapi yang aku takutkan adalah; aku takut jika kamu tidak mencintaiku."


Lalu Titan mendekati Tania, menatapnya dalam. Titan memegang pipi Tania yang basah, dan Titan dengan lembut mengusap dan menghapus air mata Tania. Titan tersenyum tipis, sorot mata yang bersinar, membuat Tania begitu teduh memandangi sepasang mata milik Titan tersebut.


"Mungkin engkau tersiksa, namun mengertilah, caraku memang tak biasa." Titan bersenandung kecil nan lirih, matanya berkaca-kaca, ia sangat tidak menyukai hal ini. Baginya melihat Tania menangis adalah kesakitan yang sangat besar untuk hidup Titan. Ia lemah, sangat lemah jika harus melihat Tania menangis. Ia tidak ingin melihat Tania bersedih atau menangis karena dirinya.


"Kamu nggak usah takut. Aku akan tetap mencintaimu. Saat ini aku hanya mencoba menjadi yang terbaik untuk kamu." Titan berujar pelan, suaranya nyaris seperti bisikan.


"Apa alasannya?"


"Aku mencintaimu tanpa alasan. Tanpa kata tanya; mengapa dan kenapa." Tangan Titan masih mengelus pipi Tania dan tatap mata yang tidak bisa berpaling untuk terus menatap mata Tania dengan tatapan yang teduh.


"Bukan itu. Tapi, kenapa kamu kayak gini? Kamu menghindar dari semuanya. Kamu tau, aku bahkan sangat siap merasakan apa yang sedang kamu rasakan." Tania berujar, membuat Titan tersenyum walau tipis.


Dengan sigap, Titan menenggelamkan Tania dalam pelukannya. Titan tersenyum, ini adalah kebahagiaannya yang sederhana.


"Buang semua rasa takut yang menyerang hati dan pikiranmu. Aku akan tetap baik-baik saja, selama kamu masih mencintaiku. Walau semisalnya nanti aku pergi, aku tidak akan pernah benar-benar pergi dalam kehidupanmu." Titan berujar sambil mengelus rambut Tania. Tania nampak nyaman berada dalam dekapan Titan, meski air matanya tak henti untuk terjun bebas. Mengapa kisahnya seolah dibuat rumit?


Kamu tau? Saat ini aku menemukan hal yang paling terindah dalam hidupku. Hal yang mungkin membuat orang lain iri, karena aku memiliki kamu. Hadirmu yang seperti bidadari cantik, yang mampu menguras semua perhatianku. Khayalan ini memang seindah dongeng, tapi kenyataan tidaklah seindah itu. Aku tidak akan memberikanmu kisah yang sama seperti dongeng. Karena apa? Dongeng tidak nyata, dan tidak akan pernah menjadi nyata.


Dan kamu tau? Hal yang paling membuatku teramat sangat menyedihkan dan menyakitkan adalah ... Ketika melihat kamu menangis. Bahkan kelemahan terbesarku adalah ketika melihat kamu menangis.


Aku merasa bahwa kamu adalah gadis yang harus aku jaga hatinya, gadis satu-satunya yang berhak untuk selalu diistimewakan olehku. Karena kamu lah alasan kenapa aku harus tersenyum sepanjang hari dan untuk apa aku hidup di dunia ini. Mencintaimu adalah satu hal yang membuatku mengerti, bahwa bahagia itu tidak terlalu rumit, cukup melihat kamu tersenyum itu membuatku sangat bahagia.


Apa kamu juga tau? Aku iri. Sangat iri pada sang rembulan dan bintang di langit malam, yang senantiasa setia mendampingimu setiap malam. Dan aku juga iri pada matahari dan embun pagi, yang senantiasa menyapamu di kala pagi saat kamu terbangun dari mimpi indahmu semalam.


Katakan pada mereka, bahwa aku sangat iri. Aku bahkan ingin menjadi bagian yang paling terpenting dalam hidupmu.


Karena aku mencintaimu. Batin Titan.


Tania melepaskan pelukan Titan, lalu menatap Titan dengan tatapan cukup dalam, "aku nggak meminta apa pun dari kamu. Tapi aku mohon, kamu harus kembali sekolah lagi. Karena kalau enggak, pihak sekolah akan mengeluar---" Ucapan Tania terputus.


"Aku akan keluar dari sekolah."


"Apa?!" Tania terkejut, saat Titan berhasil memotong kalimatnya dan melontarkan kalimat yang sama sekali tidak ingin didengar oleh Tania.


"Aku akan keluar." Titan mengulang kalimatnya.


"Tapi kenapa?"


Titan terdiam.


"Tapi kenapa?!" Tania mengulang pertanyaannya seraya menangis, "kenapa kamu kayak gini?! Seolah-olah kamu sedang menghindar dari semuanya! Please, jangan membuat aku sulit untuk memahami semua ini. Aku cuma mau kamu sekolah lagi." Terdengar suara tangis Tania yang menyakitkan. Sedu sedan yang sangat memilukan.


"Tania." Tangan Titan mengangat dagu Tania, membuat wajah Tania yang tadinya menunduk, kini kembali saling melemparkan tatap mata. "Aku tidak begitu penting. Bagiku, kebahagiaanmu adalah yang paling terpenting," kata Titan lembut.


Tania menepis tangan Titan yang memegang dagunya. "Kamu bilang kebahagiaan aku yang paling penting? Kamu tau? ini bukan kebahagiaan yang aku dapatkan. Kamu bilang ini kebahagiaan? Berpisah itu bahagia? Melihat kamu yang kayak gini itu bahagia? Enggak! Aku justru tersiksa dengan semua ini." Tania berujar sembari berjalan mundur dan menjauh dari Titan, tatap mata Tania penuh dengan rasa kekecewaan. "AKU KECEWA SAMA KAMU!" Tania membalikan badannya dan berlari kecil, berlalu meninggalkan Titan dengan menangis tak tertahan.


Titan terdiam, menjatuhan lututnya ke jalanan aspal. Ada penyesalan dalam dirinya. Wajahnya sangat memilukan, kembali tangan kanannya memegang dada sebelah kiri. Ini terlalu sakit. Detak jantung yang berbunyi nada-nada penuh luka.


"Argh! Gue terlalu bodoh!" Titan menjerit.


Sesalku selalu bila tak sengaja, aku buat kau menangis.

__ADS_1


Bersambung


...


__ADS_2