Titan'S

Titan'S
eps. 28


__ADS_3

Pilihan tersulit. Adalah, ketika harus memilih antara bertahan untuk tetap tinggal atau pergi meninggalkan kisah yang baru saja dimulai. Mempertahankan yang memang sepatutnya untuk dipertahankan, meninggalkan sesuatu yang memang sepatutnya harus ditinggalkan. Bertahan atau pergi? Dua kata yang teramat sulit untuk masuk ke dalam sebuah pilihan.


"Merelakan kepergiaan seseorang bukanlah hal yang mudah, dan tetap mempertahankan semuanya pun bukan sesuatu yang mudah. Aku tidak jauh, tidak juga pergi. Aku tetap masih singgah di hati." ---Titan Wirasena.


***


"Din!"


Panggil seseorang berlari menghampiri Udin yang baru saja masuk ke gerbang sekolah. Ya, pagi ini tidak seperti pagi-pagi sebelumnya, cuaca sedikit mendung dan matahari tampak malu-malu menyapa dan bersembunyi di balik awan. Tapi, aktifitas sekolah masih tetap berjalan seperti biasanya.


"Ada apa?" Udin menyaut seseorang yang memanggilnya tersebut.


"Gimana soal rencana kita?" Tanyanya.


"Rencana kita itu ma---"


"Woy!"


Belum sempat Udin melanjutkan kalimatnya, seseorang berhasil memotong kalimat Udin dan menghampiri Udin dengan napas yang terdengar tergesa-gesa.


"Eh, Yo! Bisa nggak sih lo nggak kayak jelangkung?" Sinisnya.


"Mangap. Gue cuma semangat aja hari ini. Oh, iya, gimana Din sama rencana kita itu?" Tanya Deo. Sementara Jonathan berdecak.


"Ya emang itu yang sekarang lagi gue tanyain ke si Udin, eh tiba-tiba elo dateng terus motong kalimat si Udin. Lain kali nanti mah kalau mau dateng bilang-bilang permisi kek." Jonathan berujar dengan wajah yang menahan kesal, namun Deo hanya terlihat cengengesan.


"Ya, gue minta maaf."


Udin menghela nepas pelan, "gue masih nggak yakin sih mau nyeret kalian berdua dalam kasus ini. Karena kalian berdua pasti masih belum mengerti tentang hal-hal yang kalian sendiri enggak tau. Tadinya gue mau bawa dua temen gue yang lain dalam kasus ini, cuma yaaa mereka punya tugasnya masing-masing."Udin berujar membuat Jonathan dan Deo mengernyit.


"Terus?"


"Ya terus gimana? Kita pasti mencoba untuk mengerti, kok," timpal Jonathan.


"Aelah, bahasa lo, Jon, mencoba mengerti apaan dah? Kayak penulis aja bahasa lo," ledek Deo.


"Ya emang gue penulis kali. Baru nyaho lo?"


"Oh." Deo hanya ber-oh ria. "Eh tapi, beneran lo Din sama rencana yang lo bilang kemarin? Bahkan semalem gue enggak bisa tidur mikirin ini masalah. Gue nggak tau bakal kuat atau nggak menyaksikan semuanya. Karena jujur, gue gak tau lagi gimana rasanya ketika gue berada di posisi Titan." sambung Deo.


"Sebenernya, gue nggak mau sok tau dulu. Permasalahan ini cukup rumit. Gue sendiri bukan siapa-siapa Titan. Kalian tentu tau kan? Gue ini bahkan nggak kenal sama Titan, begitu pun sebaliknya. Gue cuma sepupunya Jonathan, kebetulan. Dan Jonathan adalah temen Titan. Ada sebagian orang di luar sana menganggap kalau gue itu gila, gue nyaris seperti paranormal, semua itu karena gue punya kelebihan yang enggak banyak orang tau. Soal Titan, gue tau tentang dia dari seseorang, seseorang yang saat ini sangat mengkhawatirkan keadaan Titan," Udin menjelaskan semuanya se-detail mungkin. Jonathan dan Deo hanya mengangguk-ngangguk.


"Kenapa lo ngangguk-ngangguk?" Tanya Deo pada Jonathan. "Emangnya lo ngerti?" Tanyanya lagi.


Jonathan nyengir kuda, "enggak. Hehe."


"PA!" umpat Deo.


"Biasa aja kali ngomong PA-nya!"


"Udah dong. Kok kalian jadi ribut gini, sih? Gue tau kalian lagi ngeributin kegantengan gue, tapi nggak usah ribut depan gue juga kali." Udin mencairkan suasana, membuat Deo dan Jonathan langsung memasang wajah seperti ingin muntah.


"Ganteng? Yakin kalau lo ganteng?" Deo berujar seperti meledek Udin.


"Haha. Dia itu terobsesi pengin ganteng, Yo. Yaudahlah, iyain aja," kata Jonathan sambil menahan tawa.


"Ye, jangan salah. Gue ini paling ganteng di rumah gue. Nyokap selalu ngomong kayak gitu ke gue." Udin membela diri, wajahnya terpasang seperti sewot.


"Ya ya ya, nyokap lo emang bener. Lo emang paling ganteng di rumah. Yaiyalah, orang lo anak laki satu-satunya di rumah. Haha." Jonathan menertawakan Udin. Secara, Jonathan tahu semua anggota keluarga Udin. Udin anak bungsu, ia memiliki Kakak perempuan bernama Kak Roshi, atau yang sering ia panggil 'teteh' atau 'teh Ochi'.


"Ya pada intinya gue paling ganteng di rumah." Udin masih membela dirinya.


"Iyain, deh."


"Eh kita ngehabas apa, sih?" Deo menggaruk-garukkepalanya.


"Gue juga nggak tau." Jonathan tampak polos.


"Yaelah. Udah lah daripada kita ngomongin yang nggak jelas kayak gini, mending kita ke kelas sekarang." Deo melangkahkan kakinya dan berjalan mendahului Jonathan dan Udin. Tanpa kata lagi, Jonathan dan Udin membuntuti langkah Deo.


Sebenarnya apa yang sedang Udin ketahui mengenai Titan, mengapa seakan semuanya akan berakhir sangat menyedihkan. Atau ... Mungkin karena memang akan ada kisah yang paling menyedihkan yang Udin ketahui tentang Titan. Bahkan siapa Udin sebenarnya dalam kehidupan Titan? Saudara pun bukan, dan memang bukan siapa-siapa.


Fatir. Ya, Fatir. Sosok anak kecil yang tempo lalu pernah bertemu dengan Titan dan Tania pada saat keduanya terjebak diborgol. Fatir yang mengadu pada Udin tentang apa yang ia lihat dari sorot mata Titan. Sorot mata yang tak biasa, dan Fatir menemukan hal lain dari sepasang mata Titan. Fatir adalah seorang anak kecil biasa, yang entah bagaimana cara Tuhan menganugerahkan sebuah kelebihan yang sangat jarang orang lain punya.


Bagaimana cara Fatir bisa mengenal Udin?


"Hari itu gue secara nggak sengaja ketemu sama Fatir, anak kecil yang punya anugerah sama seperti apa yang gue miliki. Dia mengajak gue untuk bicara, bicara tentang seseorang yang dia khawatirkan. Seseorang yang memiliki hati begitu tulus untuk mencintai, menyayangi dan memberikan seluruh hidupnya untuk orang yang sangat dia cintai. Gue nggak tau, bagaimana Fatir bisa membuat hati gue seolah ikut tenggelam ke dalam kisah yang dia ceritakan tentang seseorang yang katanya memiliki hubungan dengan gadis yang sudah Fatir anggap sebagai Kakak perempuannya. Titan ... Seseorang itu adalah Titan. Seketika gue langsung terkejut saat mendengar nama itu. Nama yang udah pasti ketika semua orang dengar, akan berpikiran tentang sosok anak nakal yang sering absen di hari senin, serta julukan sang pemberi harapan palsu yang melekat pada dirinya. Ini adalah hal yang biasa bagi gue, tapi gue ngerasa ada yang nggak biasa dari apa yang gue tangkap dari cara Fatir menceritakan dan mengatakan kalau akan ada sesuatu yang terjadi pada Titan---entah baik atau buruk, gue enggak tau pasti. Jika memang benar, kekhawatiran itu akan terus membuat Fatir benar-benar harus ikut terseret dalam cerita yang gue sendiri enggak tau bakal berujung seperti apa nantinya. Bahagia atau sedih? Atau ... Hambar?" Nalar Udin berbicara.


Kebetulan. Kenyataan. Dan perjalanan cerita yang tidak pernah disangka-sangka. Udin tidak pernah tahu, bahwa ia akan bertemu dengan Fatir---si anak tukang duplikat kunci, yang juga memiliki anugerah yang sama seperti Udin. Jadi, Udin merasa kalau bukan cuma dirinyalah yang sering dicap 'gila' karena selalu kepergok bicara sendirian---padahal, ada teman---yang tak terlihat, yang mengajaknya untuk bicara.


Lalu ... Apa hubungannya dengan Titan?


*


Seorang cowok berpakaian seragam putih abu-abu itu, memutuskan untuk membeli sekuntum bunga mawar merah yang tak jauh dari sekolah SMA Kejora, sebelum pada akhirnya ia memutuskan untuk melangkahkan kakinya ke sekolah. Ada hal yang harus ia lakukan pagi ini. Setidaknya itu membuat perasaan yang berkecamuk dalam hatinya mereda dan jauh lebih tenang.


"Mas Titan, tumben pagi-pagi beli bunga mawar merah. Buat siapa?" Si tukang bunga itu malah melemparkan kalimat tanya, yang membuat Titan berhasil tersenyum tipis.


"Buat seseorang yang istimewa dalam hidup saya, Pak." Titan berujar ramah.


"Siapa? Mas Titan sudah punya pacar?"


"Sudah."


"Lah, piye toh? Ternyata Mas Titan sudah punya pacar. Tak kira dirimu masih jomblo, Mas. Nyaris tak jodohin sampean sama anakku yang di kampung." Tukang bunga itu berujar dengan nada berlogat jawa yang begitu sangat kental. Titan hanya tersenyum.


"Hati saya udah dicuri sama orang lain, Pak. Hehe."


"Pantas aja. Biasanya dirimu pagi-pagi beli rokok di warung sana, tapi pagi ini malah beli bunga. Tak kira dirimu lagi kesambet."


"Ya kali, Pak, masa saya beli rokok buat dikasihkan ke pacar saya, nanti yang ada saya malah diomelin sama dia."


"Iyo. Yowes. Gimana udah ada yang cocok bunganya?"


"Kayaknya ini lebih cantik. Saya beli yang ini aja, Pak." Titan mengambil sekuntum mawar merah yang menurutnya paling merekah dan harum, lalu Titan memberikan uang kepada si tukang bunga tersebut.


"Oke. Matur suwun, yo. Jangan lupa, pas dirimu ngasih bunga, kamu harus nyanyi lagu Via Vallen yang judulnya sayang. Tak jamin, pacar sampean pasti langsung klepek-klepek."


Titan kali ini terkekeh. "Pacar saya nggak suka lagu dangdut."


"Sukanya sama apa?"


"Sukanya cuma sama saya doang." Titan berujar dengan bibir yang menahan tawa.


"Lah, over percaya diri ternyata sampean."


"Hehe. Yaudah, Pak. Saya pamit dulu. Takut kesiangan sekolahnya. Kembaliannya ambil aja buat Bapak." Lantas Titan langsung berlalu dari tempat ini.


"Makasih, Mas. Sering-sering beli bunga ya!" 


Titan hanya mengangkat jempolnya pada lelaki paruh baya penjaga toko bunga tersebut.


Ini adalah hari pertama Titan masuk sekolah setelah kurang lebih sebulan ia tidak masuk sekolah. Kali ini, ia harus meminta maaf pada Tania---karena semalam Titan sudah membuat Tania menangis. Seandainya, jika Titan bisa menuliskan takdirnya sendiri dengan sepasang tangan yang ia miliki, mungkin ia akan menuliskan kisah yang sangat bahagia bersama orang-orang yang ia cintainya. Namun ... Titan harus bisa menerima sepahit apa pun takdir yang sudah ditetapkan Tuhan pada dirinya.


Bunga mawar merah.


Ia menaruh harapan kecil pada sekuntum bunga mawar merah yang saat ini ia pegang. Padahal, sebelumnya Titan sama sekali belum pernah memberikan sekuntum bunga untuk wanita. Ini kali pertama untuknya.


Berselang beberapa waktu, saat Titan sudah sampai di dalam gerbang sekolah, Titan memutuskan untuk menunggu seseorang di balik tembok gerbang sekolah. Ini masih jam setengah tujuh, Tania pasti sebentar lagi datang.


Titan melirik jam yang melingkar di tangannya, "masih jam setengah tujuh. Sebelumnya gue nggak pernah datang ke sekolah sepagi ini, kalau pun pernah, ya palingan gue nongkrong dulu di warung pojok. Tania udah berhasil bikin gue takluk. Hati gue bener-bener luluh. Tapi gue nggak yakin kalau semua ini akan berakhir bahagia." Titan berucap sangat pelan sambil menatap kelopak bunga mawar yang tangkainya ia pegang.


Dengan posisi menyandarkan punggung ke tembok, dan sebelah kaki ditekuk ke belakang, Titan tampak santai. Lalu, Titan memalingkan wajahnya sejenak, dan ia melihat Tania yang baru saja datang, Titan langsung menghampiri Tania dengan senyum yang terpasang indah di wajahnya.

__ADS_1


"Hai,"


Titan menyapa Tania, dan berdiri tepat di hadapan Tania, itu sedikit membuat Tania terkejut.


"Terkejut, ya?" Titan menautkan alisnya sebelah, dan sedikit memajukan kepalanya mendekat ke wajah Tania, membuat Tania memundur satu langkah.


"Ka-kamu?"


"Nih, buat kamu." Tanpa basa-basi, Titan memberikan setangkai mawar merah pada Tania. Namun Tania masih diam seribu bahasa di sana. "Aku ngasih ini ke kamu tulus, sebagai tanda permintaan maaf aku ke kamu." Titan berujar, lagi.


"Minta maaf?"


"Iya."


Tania terdiam.


Lalu, raut wajah Titan berubah serius, senyumnya masih terpasang, namun terlihat samar. "Aku bukan cowok romantis. Aku nggak bisa jadi cowok romantis. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, aku ngasih bunga ke cewek," kata Titan.


"Aku bener-bener minta maaf sama kamu." Titan mengulangi kata maaf dalam kalimatnya. Tania menatap sepasang mata Titan yang begitu dalam.


"Atas apa?" Tanya membuka suara dengan nada begitu pelan.


"Atas nama cinta aku minta maaf dan atas segala rasa aku minta maaf. Aku udah bikin kamu nangis. Dan kamu tau? Aku menjadi sangat terluka ketika melihat kamu menangis." Titan berujar dengan raut wajah yang sangat serius.


DEG!


Tania melihat ketulusan yang terpancar dari sorot mata Titan. Hatinya luluh, sampai tidak tahu lagi harus bicara apa. Rasa ini, perasaan ini sudah melekat abadi dalam hati keduanya, perasaan cinta yang semakin takut menghadapi kata 'pisah' dan 'kehilangan'. Seandainya, mereka hidup dalam sebuah dongeng, mungkin akan jauh lebih indah, meskipun berakhir sangat menyedihkan. Setidaknya, ini membuat kekuatan cinta mereka semakin diuji, semakin kukuh, walaupun badai berusaha menggoyahkan.


"Aku terima bunga ini." Tania menerima bunga tersebut, "dan aku memaafkan kamu, tapi dengan satu syarat," sambung Tania.


Wajah Titan kembali berseri, "apa syaratnya?"


"Istirahat nanti aku pengin kamu bantuin aku buat ngumpulin buku-buku di perpustakaan."


"Apa?"


Titan terkejut saat Tania menyelipkan kata 'perpustakaan'. Semua murid di SMA Kejora tentu tahu, bahwa anak itu sangat anti masuk ke perpustakaan.


"Kenapa?"


Titan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dengan mata yang masih tertuju lurus pada Tania, "Em, ke perpustakaan, ya?"


"Iya. Kenapa? Nggak mau bantuin, ya? Yaudah kalau nggak mau bantuin, aku nggak mau maafin kamu." Tania lantas bergegas berlalu, namun Titan menahan tangan Tania.


"I-iya. Aku, em, aku mau bantuin kamu ngumpulin buku di perpustakaan," ucap Titan. Tentu itu membuat Tania tersenyum.


"Beneran?"


"Iya."


"Serius?"


"Aku sangat serius Tania."


"Aku nggak percaya."


Dalam hati Tania terkekeh, karena berhasil membuat Titan mau menerima persyaratan minta maaf tersebut, padahal tidak perlu menggunakan syarat, Tania sudah memaafkan Titan. Tania hanya sedang menjahili Titan.


"Yaudah kalau nggak percaya, kamu ikut aku sekarang." Titan berujar sambil menarik pelan tangan Tania.


"Eh, mau ke mana?" Tania menahan Titan---agar tidak membawanya pergi.


"Ke KUA. Supaya kamu percaya, kalau aku serius." Titan berujar, membuat Tania terdiam dalam beberapa detik.


"A-apa?"


Lalu, Titan terkekeh, melihat ekspresi Tania yang terdiam dengan pipi memerah.


"Aku bercanda." Titan terkekeh.


Titan tersenyum, menggelengkan kepala sambil menatap punggung Tania yang semakin berlalu.


"Cuma kamu yang bisa bikin aku tertawa dan tersenyum selepas ini."


Detik kemudian, Titan pun berlalu menuju kelasnya.


*


Kini, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Jam pelajaran pertama telah berakhir. Namun terdengar suara dari arah lapangan sekolah, suara yang sangat tidak asing lagi di telinga para warga sekolah SMA Kejora ini. Ya, suara Pak Danny yang cetar membahana, menyuruh semua murid untuk berkumpul di lapangan.


"Ada apa, sih?"


"Kenapa dikumpulin di lapangan, sih?"


"Pak Danny enggak banget, deh. Malesin."


"Ada apa, ya, kenapa Pak Danny nyuruh semua kumpul di lapangan?"


Kalimat-kalimat tanya itu terlontar dari beberapa murid yang kini berhamburan menuju lapangan sekolah.


"Perhatian. Saya kumpulin semua di lapangan, karena akan ada pembahasan mengenai acara HUT sekolah yang akan dilaksanakan beberapa minggu ke depan. Acara yang semakin dekat. Acara yang sangat penting bagi sekolah ini, saya harap semuanya kumpul di lapangan, jangan sampai ada yang nggak kumpul. Kepada anak osis, saya harap atur barisan murid-murid," ucap Pak Danny memberikan perintah, suara cetar yang tersaring melalui mikrofon dan terpantulkan di toak, membuat beberapa murid sangat malas mendengar suara tersebut.


Terlihat Tania dan Ratu yang sudah berada di barisan pertama. Ratu tampak tidak semangat.


"Kenapa, Rat?"


"Hah? Kenapa apanya, Tan?"


"Mukanya kok nggak semangat?"


"Hehe. Nggak."


"Pasti ada sesuatu yang lagi dipikirin, ya?"


Ratu tersenyum tipis, "Iya, Tan. Ternyata bener ya kata Dilan; kalau rindu itu berat."


"Em, korban baper. Kayaknya lo kena virus kebaperan novel Dilan," ledek Tania.


"Ye, gue udah nonton filmnya dong. Di situ gue jadi langsung keinget Jevin. Gue kangen sama dia."


"Nonton Dilan? Kapan? Kok nggak ngajak gue? Lo nontonnya sama Jevin?" Tania melontarkan kalimat tanya yang berlapis.


"Nggak. Gue nontonnya sendiri."


"Lo kangen sama Jevin?" Tania menyentuh bahu Ratu, Ratu menoleh ke arah Tania dan mengangguk pelan. "Jadi, perasaan lo ke Rayn itu cuma ambisi aja?"


"Iya, Tan. Ternyata gue keliru. Gue lebih nyaman sama Jevin. Gue bahkan terlalu bodoh mengartikan perasaan gue. Giliran Jevin udah pergi dalam hidup gue, seribu penyelasan pun datang bertubi-tubi ke dalam hati gue. Dan benar kata Dilan; rindu itu berat." Ratu berujar dengan nada pelan.


Tania menghela napas pelan sembali mengelus bahu Ratu, "lo yang sabar, Rat. Jika Jevin memang seseorang yang tepat buat lo, Tuhan pasti akan membuat lo sama Jevin deket lagi. Lo harus percaya, bahwa tangan Tuhan pasti akan mempersatukan lo dan Jevin dalam lembaran kisah cinta yang membuat kalian berdua bisa saling memahami satu sama lain," ucap Tania.


"Iya, Tan. Gue percaya akan hal itu."


Tidak ada lagi obrolan di antara Tania dan Ratu. Setelah beberapa menit kemudian, Pak Danny yang berdiri kokoh di depan sana, kembali memberikan aba-aba pada semua murid yang kini sudah tampak berbaris rapi memenuhi lapangan.


"Pertama-tama yang paling utama, saya ucapkan Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh." Pak Danny mulai membuka suaranya yang terdengar sangat formal---saat semua murid sudah terbaris rapi di lapangan.


"Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh." Serentak para murid.


"Oke baik. Terima kasih kepada anak-anakku sekalian yang sudah tertib berbaris. Ini bukan upacara dadakan tentunya. Akan tetapi, saya selaku wakil kepala sekolah sekaligus guru BK, akan memberitahukan kepada semua murid SMA Kejora, bahwa acara HUT SMA Kejora akan dilaksanakan dua minggu yang akan datang, maka dari itu ... Segala persiapan harus kita lakukan dari jauh-jauh hari. Dan ... Soal drama pertunjukan yang akan ditampilkan oleh beberapa murid pilihan, akan dibatalkan .... "


Namun, pada saat Pak Danny memberikan pidatonya, ada sebagian murid yang memasang wajah girang serta mengucapkan kata 'yes' sangat pelan.


".... Pertunjukan drama dibatalkan karena kurangnya persiapan dan juga hal lain yang sangat tidak mendukung. Itu sebabnya dibatalkan. Akan tetapi, acara HUT akan tetap dilaksanakan. Sebagai pengganti drama, kalian harus tetap memakai kostum tokoh yang ada di dalam drama, bagi mereka yang terseret ke dalam peserta drama. Dan bagi kalian yang tidak terseret ke dalam peserta drama, diharapkan juga memakai kostum bebas," sambung Pak Danny.

__ADS_1


Terdengar decakan pelan para murid.


"Yaelah, pake kostum, lagi."


"Ih Pak Danny mah aya-aya wae sia ih."


"Ih naon boa make kostum."


"Kenapa harus pake kostum sih?"


"Oke, baiklah. Saya rasa hanya segitu saja pengumuman yang harus saya sampaikan ke kalian semuanya. Untuk hari ini, bagi anggota osis diharapkan meeting di ruang osis, dan bagi murid-murid yang lain kembali ke kelas masing-masing. Satu lagi, kegiatan belajar dan mengajar hari ini agak sedikit terganggu, mungkin bakalan banyak jam kosong tanpa guru di hari ini. Tapi saya harap kalian harus tertib sampai jam pulang nanti." Pak Danny menutup pidatonya. Semua murid pun tampak kembali memasang wajah ceria, karena kegiatan belajar dan mengajar hari ini tidak begitu stabil---tentu akan banyak jam kosong sampai pulang nanti.


Semua murid pun perlahan, satu persatu mulai meninggalkan lapangan. Namun di sana terlihat Jonathan yang menggerutu memasang wajah kecewa.


"Yaelah. Kenapa dramanya digagalin coba? Gue tuh udah mati-matian bikin naskah cerita, eh malah digagalin." Jonathan mengomel sendiri.


"Sabar." Deo menepuk bahu Jonathan pelan.


"Ternyata gini ya rasanya nggak dihargain." Jonathan benar-benar memasang wajah kesal.


"Aelah, lebay loh ah."


"Ini tuh bukan lebay, Yo! Ini tuh rasa kecewa yang sangat berat berat berat dan berat."


"Udah ah, jangan kecewa gitu, nanti depresi, takut gua mah."


"Takut apa?"


"Takut lo bunuh diri."


"****. Gue tuh kalau mau bunuh diri harus mikir tujuh puluh tujuh kali. Soalnya gue belum kawin. Lagian, gue orangnya sangat takut sama mati." Jonathan berujar membuat Deo terkekeh menahan tawa.


"Eh, tadi lo bilang apa? Rasa kecewa lo berat?" Tanya Udin.


"Iya. Kenapa emangnya?"


"Lo salah."


"Salah apanya sih Sarudin?"


"Yang berat itu rindu. Kata si Dilan." Udin terkekeh. Sementara Jonathan menautkan alisnya sebelah.


"Nggak lucu, euy."


"Kalian ngomong berat-beratan? Yang berat itu bukan kecewa atau pun rindu, tapi ... Bawa beras dua karung sambil lihat si mantan jalan sama gebetan barunya. Nyeri, cuy." Deo menimpal, sambil terkekeh.


"Haha." Trio dadakan ini hanyut dalam lelucon receh Deo---yang sama sekali tidak terlalu lucu untuk ditertawakan, hanya saja ekpresi Deo yang sangat mengundang gelak tawa.


Namun, ketika Udin memalingkan wajahnya sejenak, ia tak sengaja melihat anak kecil yang sudah berdiri di dekat gerbang sana. Lantas, wajah Udin berubah serius. Udin pun langsung menghampiri anak kecil tersebut sambil memberi aba-aba pada Jonathan dan Deo agar ikut juga menghampiri anak tersebut.


Udin menghampiri anak tersebut, anak laki-laki yang duduk di bangku sekolah dasar itu tampak memasang wajah yang serius saat menatap Udin.


"Ngapain kamu di sini?" Tanya Udin sangat pelan, mengubah posisinya berdiri hanya dengan lutut---menyamai tinggi anak tersebut.


"Aku mau ketemu sama Kak Titan dan Kak Tania."


"Fatir, saat ini belum saatnya untuk kamu ketemu sama Kak Titan dan Kak Tania, soalnya belum bubar sekolah," kata Udin pada anak yang ia panggil dengan nama Fatir. Ya, Fatir.


Ada apa Fatir sampai harus ke sini?


"Kak Rega nggak tau, bagaimana rasanya menyimpan rasa khawatir yang besar untuk Kak Tania yang juga menyeret aku untuk ikut mengkhawatirkan Kak Titan," ucap Fatir. Anak itu tampak mengerti segala hal, namun kepolosannya yang membuat siapa saja iba melihatnya.


"Iya. Kak Rega paham. Kak Rega ngerti. Nanti, kalau sekolah udah bubar, Kak Rega pasti akan ngasih tau ke Kak Tania kalau Fatir mau ketemu, atau nanti Kak Rega nyuruh Kak Tania sama Kak Titan buat main ke rumah Fatir." Udin berujar dengan sangat berhati-hati. Fatir memanggil Udin dengan sebutan 'Kak Rega' karena memang itulah nama asli Udin---Rega Darudin Prasetya.


"Baiklah. Aku akan menunggu di taman komplek." Tanpa basa-basi, Fatir berlari ke arah Timur, membuat Udin segera mengubah posisinya berdiri sambil melihat punggung Fatir yang semakin berlalu.


Sementara Deo dan Jonathan hanya melohok saja sedari tadi.


"Gua nggak nyangka." Jonathan menggelengkan kepala dengan mulut mangap seraya melihat ke wajah Udin.


"Yang tadi gua lihat itu beneran lo, Din?" Deo menimpal.


"Kenapa?" Udin Justru melemparkan kata tanya.


"Bah, sumpah. Seumur-umur, gua nggak pernah lihat lo kayak tadi, Din. Lo kayak bukan Udin yang gue kenal. Udin yang barusan ngomong sama anak kecil tadi itu adalah sisi malaikat dari seorang Udin yang berwajah pas-pasan." Jonathan berujar, membuat Udin berdecak.


"Muji atau ngehina?"


"Nggak tau gue juga. Hehe."


"****. Gua gibeng juga lo."


"Ye, biasa weh atuh."


"Yang tadi siapa, Din? Anak lo?" Tanya Deo.


"Ya kali anak gue, kapan gue bikinnya coba?"


"Ya kali aja gitu. Emang dia siapa, sih? Kayaknya serius gitu?"


"Dia Fatir."


"Fatir?" Deo dan Jonathan serentak.


"Iya. Ada hubungannya juga sama Titan dan Tania."


"Terus?"


"Kita susun rencana. Sebelum semuanya terlambat." Udin pun berlari ke arah kelasnya, disusul oleh Deo dan Jonathan.


Apa yang akan dilakukan Udin?


Bersambung ...


A/n :


Hai semuanya. Kali ini saya mau nyapa lagi, nih. Nggak tau deh harus dari mana nyapanya, tapi yang pasti saya banyak terima kasih ke kalian semua yang udah berkenanan membaca karya saya sampai sejauh ini. Beberapa chapter lagi bakal tamat. Maaf ya kalau semisalnya ini ceritanya SANGAT GAK JELAS. Saya tau pasti, ini cerita nggak sebagus cerita author lain yang banyak sesuatu yang 'nggak bisa ditebak'. Cerita ini cuma cerita yang gampang ditebak, dan super nggak jelas.


KANGEN bakal tamat. Yey!! Ada yang penasaran dengan ending? [Pasti nggak ada, hehe]


Dan setelah ini tamat, saya udah nyiapin penggantinya, yang pastinya lebih seru *mungkin*


Dan, cerita KANGEN ini juga bakal ada book 2 nya. Karena emang ceritanya masih panjang banget deh. Hehe.


Pokoknya saya ngucapin banyak terimakasih ke kalian semua yang udah ngikutin. Maaf kalau misalkan karya saya ini terlalu banyak kurang-kurangnya daripada lebih-lebihnya *saya paham*


Pembuatan cerita KANGEN ini juga terlalu banyak hambatannya. Kalau boleh jujur, saya nulis kangen ini dari tanggal 22 mei 2017, yang saya rencanakan akan tamat di bulan oktober, tapi sampai sekarang belum tamat, udah berapa bulan tuh? Lama kan? Kemaren ada hal yang bikin mood nulis saya sangat-sangat hancur.


Saya terpukul hebat, dan merasa kalau hidup saya itu terlalu sulit. Ayah saya meninggal, 3 bulan lalu, karena sakit. Dan itu rasanya sangat-sangat sakit buat hati saya. Ketika orang yang selalu ada buat kita, selalu memberikan kasih sayang yang tiada batas ke kita, pergi meninggalkan kita tanpa sebuah kata lagi, selain kata "jaga dirimu baik-baik."


Saya menangis. Sesekali sangat membenarkan kata si Dilan, kalau rindu itu berat. Dan lebih berat lagi kalau kita merindukan seseorang yang nggak bakal bisa kita temuin lagi. Bahkan menyentuh tangannya pun sudah nggak bisa.


Di umur 19 tahun ini, bukan hal yang mudah ditinggal Ayah untuk selama-lamanya. Cita-cita saya cuma satu dari dulu; pengin membuat Ayah bangga karena anaknya jadi penulis dan sudah menerbitkan buku.


Tapi ...


Ayah sudah pergi meninggalkan saya sebelum menyaksikan saya menjadi penulis.


Ayah belum lihat saya berhasil jadi penulis (di kemudian hari). Saya memang sudah sempat bilang ke beliau kalau saya mau jadi penulis, tapi saya masih belum bisa membuktikan yaa paling tidak 1 buku terbitan karya saya. Belum. Saya belum bisa membuktikan itu. Saya blm punya buku yang sudah terbit.


Sampai detik ini saya masih berproses untuk menjadi penulis *syukur2 bisa nerbitin buku* dan membuat Ayah saya bangga di alam sana. [Semoga]


Daripada banyak bacot kayak gini---karena udah pasti nggak bakal ada yang koment ataupun nyimak juga, malah terkesan lebay kayak gini. Saya ucapkan banyak2 terimakasih aja deh hehehehe.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnyaaaaaa :*[padahal nggak ada yang nungguin, hahahaha.]


Ciao ^_^


__ADS_2