Titan'S

Titan'S
eps. 26


__ADS_3

Di dunia ini tidak ada orang benar-benar sedih. Tidak juga ada orang yang benar-benar bahagia. Dunia ini terus berputar. Setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Terkadang, menyendiri sejenak itu perlu kita lakukan, hanya untuk sekedar membuat kita mengerti tentang semua yang telah terjadi. Ini bukti pendewasaan diri.


"Perpisahan memang bukan akhir dari segalanya. Tapi terjebak dalam rasa perpisahan itu akan sama seperti kita terpeleset ke dalam jurang yang tiada dasar. Bertahan dan berpisah adalah sesuatu yang sulit untuk kita hadapi." -Lendiary.


***


Saat tiba di bandara. Ratu berlari, dengan menyudutkan pandangannya ke segala arah. Ratu mencari sosok cowok dengan penampilan santai, sosok yang saat ini membuatnya sadar, betapa pentingnya saling menghargai sebuah perasaan. Ratu sudah mengecewakan sebentuk hati yang setia dan siap memberikannya banyak waktu hanya untuk sekedar membuat Ratu bahagia.


"Ratu ...." Tania memanggil Ratu yang sudah lebih dulu berlari sampai ia tidak mempedulikan tatapan aneh para calon penumpang lain di bandara ini.


Tania mengejar Ratu. Deru napasnya mulai tak karuan. Sebagai sahabat, Tania merasa kuatir terhadap Ratu. Ratu yang tampak menyesal atas apa yang telah menjadi keputusannya.


Saat Tania berhasil menghampiri Ratu. Di sana Ratu tengah terisak, menangis tertahan, air matanya terjun bebas, namun ia berusaha menahan tangis itu. Sorot matanya tak dapat berbohong, Ratu sangat menyesal. Bahkan penyesalan yang sangat besar ia rasakan.


Jadwal penerbangan pesawat Bandung-Bali, satu jam yang lalu.


Kakinya terasa gemetar. Ratu tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Lalu, Ratu menjatuhkan lututnya ke lantai, sorot matanya kosong, namun butiran bening itu semakin deras keluar dari sepasang mata indahnya.


"Semuanya terlambat." Ratu berujar dengan suara getir.


Tania menatap iba Ratu, dan menghampiri Ratu. Berusaha menguatkan hati dan pikiran Ratu---yang mungkin sedang kacau.


"Rat ...." Panggil Tania dengan nada berhati-hati. Ratu menoleh ke arah Tania. Ratu pun terisak.


"Semuanya sudah terlambat," ucap Ratu lirih melihat ke arah Tania. Kali ini isakannya tidak bisa ia tahan lagi. Ratu memeluk Tania dengan erat, menumpahkan seluruh tangisnya dalam peluk Tania.


"Gue kehilangan seseorang udah sangat tulus mencintai gue. Gue nyesel. Gue gak pernah lihat ketulusan dan pengorbanan yang dia lakukan ke gue. Jevin udah memutuskan untuk pergi dalam kehidupan gue. Selamanya mungkin gue akan dihantui rasa sesal dalam hati gue. Bahkan gue belum sempet minta maaf ke dia ...." Ucap Ratu dalam isak tangisnya, Tania mengelus punggung Ratu pelan.


"Terkadang melepaskan seseorang yang paling kita sayangi adalah hal yang paling susah untuk kita lakukan. Rasa kehilangan ini akan membuat lo ngerti, sebenernya siapa orang yang ada di hati lo saat ini, karena cinta itu ada di hati, bukan sebuah ambisi dalam diri," ucap Tania pelan.


Ratu melepaskan pelukannya. Lalu melihat wajah Tania dengan sorot mata yang tak biasa.


"Untuk saat ini gue butuh waktu buat sendiri!" Ratu menekankan kalimatnya pada Tania. Membuat Tania mengernyit heran.


"Rat?"


Ratu pun bangkit berdiri---diikuti oleh Tania, Ratu hendak berlari, namun Tania berhasil menahan tangan Ratu. "Lo mau ke mana?"


"Gue butuh waktu buat sendiri."


"Tapi ... Perasaan lo lagi kacau. Gue kuatir sam---" ucapan Tania terputus.


"Gak ada yang mau ngerti perasaan gue, Tan. Ini saatnya buat gue keluar dari karakter dalam diri gue sendiri. Karena apa? Perasaan ini tuh sakit. Bahkan terlalu sakit. Gue menyesal atas apa yang udah menjadi keputusan gue."


"Ya tapi kan, keluar dari karakter yang ada dalam diri lo itu bukan satu-satunya cara untuk membuat semuanya baik-baik saja." Tania berujar dan berusaha membuat Ratu yakin betapa pentingnya membagi suka dan duka dalam sebuah pertemanan.


"Maaf, Tan. Gue rasa, gue perlu waktu buat sendiri." Ratu berujar pelan, dan ia pun berlari tanpa sepatah kata lagi. Tania terdiam. Menyaksikan Ratu yang tampak memilukan. Ada rasa iba dalam hati Tania, namun Ratu memilih untuk menyendiri dan enggan membagi lukanya---yang menurutnya orang lain tidak akan pernah mengerti isi hatinya saat ini.


Tania masih berdiri, melihat punggung Ratu yang semakin berlalu dalam pandangannya. Tania berusaha memanggil Ratu, namun Ratu sama sekali tidak menggubrisnya. Ratu membutuhkan waktu untuk menyendiri. Menyendiri atas apa yang membuatnya merasa sangat menyesali semua yang telah terjadi.

__ADS_1


"Rat!" Panggil Tania lagi, dan Ratu tidak menggubrisnya. Ratu semakin kencang berlari.


"Maafin gue, Tan. Gue enggak mau menggantungkan hidup gue sama orang, atau berharap lebih sama orang, saat ini gue cuma mau nenangin diri untuk beberapa saat," batin Ratu saat berlari menghindar dari Tania.


Tania membalikan badannya, hatinya sedikit tersentuh dengan apa yang terjadi pada Ratu. Tania mencoba membayangkan bagaimana ia ada di posisi Ratu, mungkin Tania juga akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Ratu. Namun, semua ini membuat Tania sadar, bahwa sesungguhnya cinta itu akan hadir dengan seiring berjalannya waktu meskipun kerap sekali kita tidak menyadari rasa yang telah tumbuh dalam hati.


Dan, Tania berlalu meninggalkan tempat ini.


***


"Bertahan dalam posisi yang sangat sulit untuk terus dijalani itu bukan sesuatu yang mudah. Gue enggak tau, kenapa semuanya menjadi sesakit ini." Titan berucap dalam hati, saat ia berdiri di depan sebuah rumah mewah berdesign modern klasik, yang semuanya bernuansa putih susu dengan sedikit sentuhan warna abu-abu..


Titan menghela napas pelan, lalu mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah tersebut.


Namun, pada saat Titan ingin mengetuk pintu rumah itu, Titan mendengar kegaduhan yang terjadi di belakang rumah. Dengan sigap, Titan langsung menuju ke sumber suara gaduh tersebut. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?


"Rayn! Tolong hentikan!" Titan menyentak, saat ia menemukan Rayn yang sedang menghantam sebuah hiasan cermin besar yang terdapat di belakang rumah. Ada sosok lelaki paruh baya juga di sana yang berusaha mencegah Rayn untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.


Rayn menoleh ke arah Titan dengan tatapan penuh kemarahan.


"Semua ini terjadi karena lo!!!" Seru Rayn penuh dengan penekanan-penekanan dalam kalimatnya. Titan terdiam melihat Rayn dengan tatapan datar, Titan merasa seolah-olah semua menuduhnya menjadi seseorang yang paling bersalah dalam kasus ini. Padahal tidak.


"Sudah, Nak. Ini semua salah Ayah," ucap lelaki paruh baya itu sambil menangis.


"Enggak! Semuanya salah dia!" Rayn menunjuk Titan dengan sangat tidak mengenakan. Titan menundukan wajahnya sejenak, lalu kembali melihat ke arah Rayn.


"Kenapa lo berpikir kalau cuma lo doang yang terluka? Kenapa gue harus mengerti, tapi lo gak pernah mau untuk mengerti? Kita bersaudara, meskipun kita beda Nyokap. Gue selalu berusaha nerima lo sebagai saudara dalam hidup gue. Lo selalu berpikir, kalau gue adalah orang yang bersalah atas semua masalah ini. Meskipun berusaha sekeras mungkin gue bilang; kalau perasaan gue juga terluka, tapi semua itu percuma, karena pikiran lo selalu menuduh gue adalah orang yang paling bersalah." Titan berujar dengan suara penuh menghayatan, membuat Rayn terdiam sejenak.


Titan terdiam seribu bahasa. Ini sangat sulit untuk ia lalui. Hubungan buruknya pada Rayn, itu membuat semuanya mengundang perih. Kalau harus memilih, Titan ingin menghilang dari dunia ini, ia merasa rapuh jika harus terjebak dalam situasi sulit yang seperti ini. Dunia tidak mau mengerti tentang perasaan Titan, akan tetapi Titan selalu dipaksa menjadi orang yang selalu mengerti dunia. Mengerti tanpa dimengerti itu adalah sesuatu yang paling menyakitkan. Satu kenyataan yang perlu dunia tahu, Titan dan Rayn adalah bersaudara, meskipun berbeda Ibu.


"Rayn. Lo boleh membenci gue semau lo. Tapi, gue gak mau denger kalau lo benci sama nyokap gue. Sekarang, pertanyaan gue yang terakhir; lo mau apa dari gue? Supaya lo enggak terus-terusan nuduh gue sebagai penyebab kisah kelam lo?!" Titan berujar dengan serius.


"Gue mau lo menyerahkan semua yang lo punya ke gue." Rayn berujar tak kalah serius. "Termasuk Tania," sambung Rayn dengan sorot mata yang tajam.


DEG!


Titan mengepalkan tangannya, ia beusaha menahan emosi. Sudah terlalu lama, Titan menyimpan rasa emosi dan ketidakadilan ini, namun Rayn masih saja tidak mau untuk mengerti. Namun lagi-lagi, waktu memaksa Titan untuk menjadi seseorang yang selalu mengerti orang lain.


"Kenapa lo diam?!" Sentak Rayn.


Titan menyorotkan matanya pada Rayn, dengan sorotan datar namun tak biasa. "Ini soal hati. Lo bisa ambil semuanya dari gue. Harta? Semua aset bokap? Silahkan lo ambil. Tapi enggak harus Tania, dia milik gue, dan gue enggak akan mungkin bisa ngelepasin dia." Titan berujar dengan serius.


"Oke. Kalau gitu! Lo bakal nyesel!" Rayn berujar dengan nada tinggi sambil menunjuk ke arah Titan. Sang Ayah hanya berusaha menahan dada Rayn agar tidak meluapkan emosi atau main tangan terhadap Titan. Titan hanya menyaksikan semua ini dengan pilu. Tatapannya tidak bisa berbohong, bahwa ia juga sebenarnya merasakan sakit di ulu hatinya.


"Sudah, nak," lerai sang Ayah, menahan Rayn untuk tidak meluapkan emosi.


"Rayn benci sama Titan, Yah! Dia udah ngerebut semua kebahagiaan Rayn! Rayn benci sama Titan!!" Rayn semakin terbakar emosi.


"Aw," rintih sang Ayah---merasakan nyeri di dada sebelah kiri. Lelaki paruh baya yang terlihat sangat lemah itu, merintih kesakitan.

__ADS_1


"Ayah," panggil Titan dan Rayn berbarengan, Titan segera menghampiri Ayahnya.


Namun pada saat Titan ingin berusaha membantu sang Ayah berjalan ke dalam rumah, Rayn menepis tangan Titan.


"Gue gak akan rela kalau tangan busuk lo nyentuh Ayah! Gue mau sekarang lo pergi dari sini, dan gue ngelarang lo buat ketemu sama bokap sebelum lo nyerahin Tania ke gue!" Ucap Rayn penuh tekanan, lalu Rayn mendorong bahu Titan, dan Rayn menuntun sang Ayah untuk masuk ke dalam rumah.


Titan terdiam. Pandangannya tersudut ke bawah. Ia menangis namun tertahan. Titan mencoba memaknai kalimat terakhir Rayn, yang menyuruh Titan untuk memilih dua pilihan tersulit. Tangan kanan Titan memegang dada sebelah kiri, mencoba merasakan detak kesakitan yang menimpa dirinya. Ini terlalu sulit. Titan sangat memilukan. Matanya berkaca-kaca, namun dengan segera ia menghapus air matanya yang hendak terjatuh itu.


Tanpa pikir panjang, Titan berlalu dari tempat ini sembari membawa luka yang ia pikul dalam bahunya, membuatnya semakin pilu dan rapuh. Mengapa hidupnya sesakit ini?


Apa Titan akan merelakan Tania untuk Rayn? Rayn yang berstatus adik Titan. Ya, posisi Rayn adalah adik Titan. Meskipun Titan lebih tua dari Rayn, namun keberadaan Rayn adalah anak dari istri pertama Ayahnya Titan. Mengapa dulu Ayahnya Titan memilih untuk menikah lagi, karena istri pertamanya sulit mengandung, sulit memiliki anak. Namun pada saat dua tahun menikah dengan Ibunya Titan, dan kala itu Titan sudah menginjak umur satu tahun setengah, istri pertama sang Ayah dikabarkan sedang mengandung. Itu adalah akar permasalahan.


Pilihan tersulit. Harus merelakan orang dicintai untuk sang Adik? Atau justru tidak akan bisa bertemu dengan sang Ayah? Walau sang Ayah sudah menorehkan lagu kekecewaan pada Titan, namun Titan tetap menghargai, mencintai, menghormati, dan menyayangi sang Ayah.


Detik terus menikam,


Membuatku semakin merasakan gelap yang mencekam.


Tiada rasa kuasa untuk menyayangi,


Tiada rasa kuasa untuk mencintai.


Waktu yang terus menertawakanku,


Elegi yang bersenandung dalam jiwaku.


Lirih, sunyi, gelap, dan sepi.


Tiada sandaran untuk senjenak menghilangkan letih.


Seluruh iblis dari dalam hati terus meronta, memintaku agar hilang dalam dunia.


Namun, kutetap bersikukuh melawan dunia.


Dunia kejam dan menyeramkan.


Bertahan atau berpisah?


Bertahan tidak akan membuatku bahagia.


Tapi berpisah, Akan tetap menyisakan luka.


Setidaknya aku akan tetap bertahan,


Pada posisi yang paling tersakit sekalipun.


Karena pergi, tidak akan menyelesaikan semuanya.


Bersambung ...

__ADS_1


A/n: bentar lagi tamat, broo. Hehe. Sejauh ini makasih udah mau ngikutin cerita gaje nan absurd ini. Gue cukup paham. Ini cerita sangat-sangat gaje dan jelek. :')


Yuhu, mendekati ending deg-degan gak? Komen dong?! Hehehe.


__ADS_2