
Enam belas :

"Si kancil memang cerdik. Tapi, kamu jauh lebih cerdik daripada kancil. Karena kamu berhasil mencuri hatiku tanpa izin." --- Titan Wirasena.
"Cinta memang tak berwujud, ia tak terlihat, tak juga bisa disentuh, tapi hadirnya mampu membuat hati siapa saja luluh." --- Tania Alexandra.
"Aku tidak punya sepasang telinga yang panjang seperti kelinci. Aku hanya memiliki sepasang mata yang siap memperhatikanmu setiap detik yang kupunya." --- Titan Wirasena.
"Ketika hati telah terpikat oleh setitik cahaya terang dalam gelapnya hati, seketika itu kehidupan yang tadinya gelap gulita pun akan menjadi terang-menderang." --- Titan Wirasena
"Jangan pernah berani untuk singgah dalam hati seseorang, jika kamu sendiri tak pernah bisa untuk sungguh." --- Tania Alexandra

Kangen
Jam istirahat pun tiba, seperti biasa Titan memutuskan untuk pergi ke kantin. Namun lain hal dengan Jonathan dan serombongan genk-nya yang ia beri nama jurig WC, yang senantiasa menyempatkan nongkrong di WC, sebelum pada akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantin. Jonathan memang murid terabsurd yang ada di sekolah ini, ia membuat sekumpulan genk yang menjadikan WC bukan hanya tempat saat melampiaskan rasa bosan ketika belajar di kelas, tapi juga sebagai markas besarnya. Entahlah.
"Tit? Mau ikut gua gak?" Ajak Jonathan.
"Ogah! Mending gua ke kantin."
"Yaelah, WC dulu lah."
"Ke WC kok berjamaah. Mau ngapain? Ngintip anak cewek ganti baju, Iya?" Sindir Titan, kemudian tanpa memperdulikan lagi, Titan berjalan santai menuju kantin, sementara Jonathan hanya merutuk kesal.
"Haha. Seharusnya lo ngajak sholat berjamaah, bukan malah ngajak ke WC berjamaah." Ledek Deo, Jonathan pun semakin memasang wajah kesal.
"Diem lo anak baru!" Seru Jonathan.
"Yeeh, kok situ sewot."
"Situ yang mulai duluan!"
"Yeh, muka lo harus dikondisikan tuh, Jon. Lama-lama lo sama persis kayak emak-emak lagi darah tinggi kalau masang wajah begitu." Deo semakin meledeki Jonathan.
"Sialan!"
Sebelum mendapatkan amarah yang besar dari Jonathan, Deo pun langsung berlari terbirit-birit menyusul Titan ke kantin. Nampak Jonathan yang menggerutu kesal, karena murid baru yang bernama Deo itu sudah sangat lancang meledeknya, Jonathan seperti tidak terima dengan hal itu, sehingga ia hanya mampu mengekspresikannya lewat raut wajah yang kini sudah mengundang gelak tawa dari beberapa murid yang melihat Jonathan.
"Murid baru yang laknat! Awas aja entar dia." Jonathan menunjuk-nunjuk ke arah Deo.
"Udahlah. Sama-sama kampret mah jangan saling kesel-kesalan gitu. Daripada lo keselan gini, nanti sehabis pulang sekolah gue mau ngajak lo nonton dangdut," ucap Rian, salah satu teman Jonathan yang terobsesi ingin menjadi biduan dangdut hajatan.
Di sekolah ini siapa yang tidak mengenal Rian Asep Siregar, anak blasteran Sunda-Batak itu, yang benar-benar terobsesi dengan musik dangdut, juga menyebut dirinya sebagai kembaran Rayn Mahardika, karena nama huruf depan mereka sama-sama R, padahal sama sekali tidak ada ikatan darah, mirip pun tidak, hanya sama nama huruf depannya saja. Dan seperti yang diketahui banyak warga di sekolah ini, Rian jika kesal atau marah, logat Bataknya seringkali spontan keluar, tapi jika ia sedang baik hati dan berbunga-bunga, maka logat Sundanya sudah pasti keluar. Jonathan dan Rian memang sudah seperti sandal jepit, ke mana-mana selalu berdua.
"Dangdutan di mana?" Tanya Jonathan.
"Di hajatan deket rumah gue."
"Yaelah. Seriusan? Tapi, di rumah gue ada si Udin ontohod lagi nginep, gue kayaknya gak bisa nonton, gue harus pulang cepet." Jonathan berujar lesu.
"Si Udin, Sepupu lo itu? Ngapain dia ada di rumah lo?"
"Dia lagi kabur dari rumahnya."
"Eh buset. Kabur?"
"Hm."
"Yaudah kalau gitu nanti pas pulang sekolah lo sms-in si Udin suruh nunggu di halte yang gak jauh dari sekolah ini. Kita ketemuan di sana. Ada Udin pasti lebih seru." Rian berujar sumringah, seketika itu Jonathan langsung memasang wajah penuh semangat.
"Boleh juga tuh, bro. Oke, nanti gue sms-in si Udin. Ide lo emang cemerlang banget."
"Ya iyalah. Nih ya, asal lo tau, otak gue itu tercipta sangat-sangat sempurna, selain beratnya 2,5 kg, otak gue itu bisa disebut titisannya Alexander Graham Bell. Maka dari itu banyak ide-ide cemerlang yang ada dalam otak gue. Mario Teguh aja kalah sama gue." Rian berujar songong.
"Lo itu ngomong apa, sih?" Jonathan menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
__ADS_1
Jonathan pun lantas langsung berlalu, beralih menuju kantin. Iya, kantin. Entah mengapa pikirannya menuntun langkah kakinya untuk menuju kantin, mungkin karena cacing-cacing yang ada dalam perutnya sudah melakukan aksi demo besar-besaran, dan demo itu akan berhenti jika bakso hangat nan pedas dilahapnya. Iya, Jonathan harus segera mengisi perutnya yang sudah mulai terdengar keroncongan, sebelum para cacing-cacing yang kelaparan itu membuat konser dangdut di dalam perutnya.
Kangen
Terlihat kini Tania yang sudah berada di kantin bersama Ratu. Wajah Tania nampak berseri. Tania tidak memesan makanan apa pun, ia hanya memesan jus jeruk yang menjadi minuman favoritnya. Sedangkan Ratu, selain memesan es cokelat, Ratu juga memesan tahu bulat dadakan. Suasana kantin memang terlihat ramai di jam istirahat ini, ditambah lagi jikalau ada Jonathan dan kawan-kawan, sudah pasti ini kantin akan diadakan konser dangdut dadakan.
"Lo gak mesen makanan?" Tanya Ratu pada Tania. Terlihat mulut Ratu yang sedang mengunyah makanan.
"Enggak. Gue belum laper." Tania berujar disertai senyum tipis.
"Oh gitu." Ratu pun menyempatkan untuk menelan sisa-sisa makanan dalam mulutnya, lantas kembali melanjutkan obrolannya. "Oh iya, Tan. Gue makasih banget lo buat semalem, karena lo udah ngizinin gue buat nginep di rumah lo. Kapan-kapan lo dong yang nginep di rumah gue," sambung Ratu, Tania tersenyum.
"Ya kalau ada waktu luang, gue pasti nyempetin kok buat nginep di rumah lo." Tania berujar santai.
"Beneran, ya."
"Beneran dong. Hehe."
"Oh iya, Tan, gue akhir-akhir ini sering banget lihat lo sama Titan barengan. Tadi pagi lo dari gerbang sampai masuk ke sekolah bareng sama Titan, apa lo enggak takut bakalan jadi korban PHP-nya dia? Tapi yang gue lihat sih, Titan gak mungkin berani PHP-in elo. Secara kan lo itu cewek baik-baik. Tapi kok gue khawatir, ya, sebagai temen gue takut aja gitu si Titan macem-macem sama lo, apalagi kalau sampai menyangkut soal ngebaperin lo." Ratu berujar panjang lebar, Tania berpikir dan diam untuk beberapa saat.
"Hm. Justru yang gue khawatirin itu bukan itu, Rat. Kalau soal baper, cewek mana coba yang enggak baper sama Titan. Karena sampai detik ini pun, jujur gue masih bingung sama perasaan gue. Bisa jadi mungkin pada akhirnya gue juga akan baper sama Titan," ucap Tania.
"Emang yang lo khawatirin itu apaan, Tan?"
"Gue takut Rayn berbuat sesuatu sama Titan."
"Rayn?" Ratu mengernyit, lalu menghela napas sejenak. "Lo tenang aja, Rayn enggak bakal berbuat sesuatu sama si Titan. Kalau pun si Rayn bakalan berbuat sesuatu yang buruk ke si Titan, gue yakin Titan enggak bakal kenapa-napa. Secara kan si Titan itu udah kayak monster," sambung Ratu.
"Apa lo masih ada rasa sama Rayn?" Tanya Tania sangat berhati-hati.
Ratu tersenyum, menghentikan aktifitas makannya senejak, "Gue emang masih ada rasa sama Rayn. Tapi gue mencoba untuk membawakan perasaan gue ini lebih santai aja. Gue gak bisa memaksakan seseorang buat punya rasa juga sama gue. Bahkan gue gak punya rasa kuasa untuk menyayangi Rayn. Rayn lebih tertarik sama lo, Tania. Tapi itu gak menjadikan gue berpikiran macem-macem sama lo. Lo sahabat gue, temen yang selalu mau ada disaat gue butuh. Seiring berjalannya waktu, mungkin Rayn akan mengerti semua ini." Ratu berujar pelan, lalu Tania pun tersenyum. Betapa beruntungnya Tania memiliki sahabat seperti Ratu, yang senantiasa mengerti posisi Tania saat ini.
"Gue beruntung punya sahabat kayak lo. Dan gue yakin, ketulusan yang ada dalam hati lo itu akan membuat hidup lo jauh lebih berarti." Tania berujar disusul dengan seulas senyum yang tersungging manis. Ratu pun membalasnya dengan senyuman.
"Jadi, inti pembicaraan kita ini adalah; lo harus hati-hati sama Titan, gue takut dia memberikan pengaruh buruk untuk kehidupan lo nantinya," ucap Ratu serius, namun Tania hanya tersenyum.
"Iya. Dia bahkan sangat-sangat buruk, Tania. Lo kayak yang enggak tau Titan aja."
"Kalau misalkan gue jatuh cinta sama Titan gimana?" Tania bertanya pelan, seketika itu Ratu langsung tersedak makanan yang ia kunyah.
"Apa?! Enggak deh, jangan."
"Loh kenapa?"
"Hm. Ya, gue khawatir aja kalau lo sampai di PHP-in sama Titan."
Tania tersenyum, "Gue seneng, lo peduli sama perasaan gue. Tapi kan gak menutup kemungkinan bahwa suatu saat gue bisa aja jatuh cinta, yaa sama siapa aja, termasuk sama Titan. Iya, kan?"
"Tapi jangan sama Titan lah, dia hidupnya itu terlalu buruk," jelas Ratu.
"Hidup itu bukan tentang siapa yang baik, siapa yang buruk. Bukan juga tentang siapa yang hebat dan siapa yang lemah. Tapi tentang siapa yang berani untuk jatuh cinta." Tania berujar pelan, disertai senyuman. Ratu pun mengangguk-ngangguk saja. Tapi dalam hati, Ratu tidak akan pernah tinggal dia kalau Titan sampai menyakiti hati Tania.
"Ah." Ratu pun seperti menahan sakit diperutnya.
"Lo kenapa?"
"Perut gue, nih, mendadak minta diajak ke WC." Lantas Ratu pun langsung segera beralih berlari kecil menuju WC sekolah, sementara Tania hanya menggeleng-gelengkan kepala pelan, sambil menyeruput segelas jus jeruknya menggunakan sedotan.
Tania tidak menyadari, bahwa saat ini Titan berada tepat di belakang Tania---dengan posisi duduk membelakangi Tania. Ya, keduanya duduk ke arah mata angin berbeda---saling membelakangi. Namun, Titan tentu mendengar obrolan kecil Tania dan Ratu. Mendengar kalimat per kalimat yang terlontar dari mulut Tania pada Ratu itu membuat Titan semakin mengaggumi sosok Tania dari caranya bertutur, bahkan Tania sama sekali tidak mengkhawatirkanperasaanya sendiri, ia justru khawatir jika Rayn berbuat macam-macam pada Titan. Tentu, Titan sangat senang mendengar kalimat tersebut, yang menandakan bahwa ada kata peduli dibalik kalimat tersebut.
"Hei, Titan, gue cariin lo ke mana-mana, taunya ada di sini." Deo menghampiri Titan.
"Eh elo, Yo," ucap Titan santai.
Kemudian, Tania pun sedikit terkejut mendengar suara tersebut di belakangnya. Dan Tania pun menoleh sedikit ke belakang. Dan, ya, ada Titan di sana. Seketika itu Tania berpikir; apa Titan sudah lama duduk di belakangnya? Tania pun lantas menunduk, pipinya memerah, ia sedikit malu jika Titan mendengar semua ucapannya. Tanpa pikir panjang, dan tanpa menunggu Ratu kembali dari Wc, Tania pun berlalu dari tempat ini dengan menundukkan wajahnya karena malu.
Titan pun merasa, kalau Tania kini pasti sedang malu. Namun Titan tersenyum, saat menyaksikan punggung Tania yang semakin berlalu dari pandangannya.
Kalau misalkan gue jatuh cinta sama Titan gimana? Ucapan Tania itu seketika terngingang dalam otak Titan, dan membuat Titan tersenyum diiringi berlalunya Tania dalam pandangannya.
__ADS_1
"Dia pasti malu," ucap Titan sangat pelan.
"Hah? Lo ngomong apa?" Tanya Deo.
"Enggak. Udah lo makan aja." Titan berujar santai, dan langsung memesan makanan pada pelayan kantin.
Kangen
Saat pulang sekolah, tepatnya di sebuah halte bus, kini terdapat Jonathan dan Rian yang sedang asyik menunggu seseorang datang. Keduanya tampak heboh, karena bersemangat sekali untuk nonton dangdut hajatan. Namun, terlihat pula Titan yang sedang berdiri dengan posisi menyandar ke tihang yang terdapat di halte bus ini, nampanya Titan juga sedang menunggu seseorang.
"Lo udah sms Udin?" Tanya Rian.
"Udah. Lagi otw dia," ucap Jonathan.
"Oke."
Lalu, mata Jonathan pun tertoleh ke arah Titan, "Eh, Tan, lo lagi nunggu siapa?" Tanya Jonathan.
"Bukan siapa-siapa," jawabnya santai.
"Yaelah, daripada nunggu yang enggak jelas, mending lo ikut sama kita, nonton dangdut hajatan." Rian berujar dengan ekspresi wajah yang sok santai. Titan hanya tersenyum remeh sambil menggelengkan kepala pelan.
Namun berselang beberapa menit, akhirnya yang ditunggu-tunggu oleh Jonathan dan Rian pun datang dengan penampilan yang teramat sangat heboh. Ya, setelan pakaian yang menyerupai penyanyi legendaris Arafiq---potongan celana cutbray yang khas.
"Massya Allah. Heboh bener lu, Din?" Ucap Jonathan.
Sementara terlihat Titan di sana hanya melihat sedetik, tanpa memperdulikan.
"Kalau urusan dangdutan mah serahin ke gue." Udin berujar dengan berlagak sok dialah yang tahu dan mahir tentang apa pun yang menyangkut dengan dangdut.
"Iye dah."
"Yaudah. Ayok berangkat," ajak Udin sumringah. Jonathan dan Rian pun tak kalah bersemangat.
Lalu, terlihat Tania yang berjalan mendekati halte, mungkin ia akan menunggu angkutan umum di halte bus ini. Dengan segera Titan pun langsung menghampiri Tania.
"Hei, Tan," sapa Titan pada Tania yang kini sudah berdiri di halte bus untuk menunggu angkutan umum.
Tania menoleh ke arah Titan---yang kini berdiri di samping kirinya. Titan melemparkan senyum, namun Tania seperti mengingat kejadian di kantin tadi. Hati Tania semakin bertanya-tanya, apakah Titan mendengar semua ucapannya ketika di kantin tadi? Entahlah.
"Disapa kok diem, sih?" Kata Titan.
"Hah? Itu ... Eeuh, hm." Tania nampak gugup, sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Eh buat kalian berdua, daripada berdiri di sini, mending ikut kita dangdutan. Lumayan makan gratis di sana, ditemenin para biduan. Oke?" Ucap Udin tanpa basa-basi menghampiri Tania dan Titan. Tania hanya terdiam sedikit terkejut saat melihat penampilan Udin.
Hei, Udin justru malah mengikatkan tangan kiri Tania dan tangan kanan Titan dengan sebuah borgol.
"Heh, kok diborgol?" Tanya Titan heran.
"Lo siapa? Kenapa borgol kita?" Tanya Tania pada Udin.
Udin tersenyum remeh, "Udah lo berdua ikut aja kalau emang mau dapet kunci borgol itu. Yuk, dangdutan. Beraaangkaat!" Udin tertawa renyah, dia memang sangat jahil. Terlebih Jonathan dan Rian pun ikut terkekeh geli. Lalu, ketiga sekawan itu berjalan ke arah timur. Sementara Titan dan Tania masih diam berdiri di halte tersebut. Lihatlah tangan mereka diborgol.
"Hah?" Kaget Tania melihat ke arah tiga sekawanan super heboh berlalu dari pandangannya. "Da-dangdutan?" Tania terkejut polos, entah apa yang ada di pikiran makhluk yang bernama Udin itu, mengapa seolah menjebak Tania dan Titan untuk ikut ke acara hajatan.
"Ya mau gak mau kita harus ikut mereka." Titan berujar santai.
"Tapi ...."
"Kalau emang kamu mau tetap tangan kita diborgol kayak gini, ya aku gapapa." Titan berujar diakhiri dengan senyum tipisnya yang memesona.
"Ya-ya udah deh, i-iya." Terpaksa Tania pun harus mengikuti kemauan tiga sekawanan itu. Lalu Tania dan Titan mengikuti Udin dan kawan-kawan. Tangan yang terborgol, membuat Titan dan Tania tidak bisa terpisah, tangan keduanya saling mengikat. Tentu ada perasaan senang dalam hati Titan. Sang waktu selalu punya cara untuk menjebak mereka untuk selalu bersama.

TBC!
Jangan lupa vote komen yaaa ^^
__ADS_1