
Tersentak bukan main. Titan merasa ini semua gila. Bahkan sangat gila. Sosok yang kini berdiri di hadapannya mengaku kalau dia adalah Ayahnya---yang selama ini semua orang tahu, bahwa Ayahnya Titan sudah meninggal pada saat kecelakaan tunggal sepuluh tahun silam. Lantas, siapa lelaki paruh baya yang berwajah mirip dengan wajah Ayahnya Titan yang sudah lama meninggal? Tapi ... Lelaki paruh baya itu benar-benar mengaku Ayahnya Titan.
"Ini gak mungkin." Titan berusaha untuk mengelak, seketika matanya berkaca-kaca. Kenyataan macam apa ini?
Lelaki paruh baya yang mengaku Ayahnya Titan hanya berusaha meyakinkan Titan, dengan wajah yang terpasang haru penuh kesakitan serta seribu penyesalan yang tergambar jelas di raut wajahnya, dan sudah ada air mata yang membasahi pipi lelaki paruh baya itu. Titan bahkan kehilangan seribu bahasanya, ia terdiam dengan semua kenyataan yang membuatnya terpukul sangat hebat.
"Ini Ayah, nak," ucapnya lagi dengan suara getir penuh penyesalan.
Titan menatap lelaki paruh baya itu dengan sorot mata yang penuh dengan tanda tanya besar, "Di mana Ibu?" Titan langsung menanyakan Ibunya, berharap takdir memang sedramatis ini, "Ayah datang bersama Ibu, kan?" Tanya Titan, lagi.
Lelaki paruh baya itu tidak menjawab pertanyaan Titan, hanya menggelengkan kepala pelan disertai raut wajah yang sangat penuh dengan penyesalan. "Ibumu sudah tidak ada di dunia ini. Dan Ayah menyesal, selama ini sudah---" ucapnya terputus.
"Ini pasti mimpi!" Titan berseru dengan nada penuh kesakitan, ia merasa dipermainkan oleh takdirnya sendiri, air matanya terjatuh menyaksikan semua kenyataan yang tampak pedih. Selama ini ia salah menduga, Ayahnya ternyata masih hidup. "Kalau Ayah masih hidup, kenapa Ibu enggak? Tolong jelaskan! Apa yang sebenarnya terjadi?!" Sambung Titan.
Air mata Titan meluncur hebat, hanya saja ia tidak terisak, hanya terdengar deru napas yang tak karuan dengan sorot mata yang benar-benar tidak mengerti takdir apa yang menimpa dirinya saat ini. Ada satu hal yang menancap dalam pikiran Titan, apa maksud dari kedatangan Ayahnya kini? Mengapa seolah dengan mudahnya mempermainkan takdir---menghilang bertahun-tahun dengan kabar sudah meninggal, tapi kembali dengan begitu mudahnya mengatakan 'kalau Ayah sudah kembali, hanya saja Ibumu yang benar-benar sudah pergi.'
Memori di otak Titan memutar semua kejadian sepuluh tahun silam, yang melihat sang Ayah dan Ibunya terenggut tak terselamatkan dengan wajah yang tak lagi terbentuk sempurna---karena berlumuran darah. Lalu, jika bukan Ayahnya, siapa lelaki yang bersama Ibu pada saat kecelakaan sepuluh tahun silam?
Titan menjatuhkan lututnya ke lantai, ia terlihat sangat rapuh menerima kenyataan ini. Tangan kanannya memegang dada sebelah kiri---tepat di mana letak jantung berdetak, ada detak kesakitan yang ia rasakan di sana.
"Maafkan Ayah, nak," seribu penyesalan mulai terlontar dari mulut Ayahnya. Ayahnya menyentuh bahu Titan dengan sangat lembut, "Ayah yang bersalah," ucapnya lagi dengan suara berat.
Lalu Titan menatap mata Ayahnya dengan sorot mata yang tak biasa, "tolong jelaskan semuanya! Apa yang terjadi?" Tanya Titan dengan sangat datar namun penuh dengan penekanan.
"Kamu belum cukup untuk memahami semuanya, Nak. Ayah belum siap untuk menceritakan semuanya padamu." Ayahnya berujar dengan nada lembut diiringi tangisan memilukan.
Titan melepaskan pegangan tangan Ayah---yang menyentuh bahunya lembut. "Kalau Ayah belum siap untuk semuanya, kenapa Ayah kembali hanya sekedar membawa luka lama? Jika menurut Ayah aku belum cukup untuk mengerti semuanya, kenapa Ayah memberikan luka seberat ini? Sepuluh tahun lamanya, membuatku mengerti kalau hidup tanpa kedua orangtua itu sangat sulit! Tapi Ayah, masih menganggapku belum cukup untuk memahami semuanya?!" Ucap Titan dengan suara pelan, namun penuh dengan penekanan-penekanan di setiap kata yang menurutnya harus ditekankan, agar Ayahnya mengerti perasaannya sangatlah rapuh.
Ayahnya hanya menangis pilu. Tak mampu menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Titan.
"Lalu, untuk apa Ayah kembali? Di saat aku benar-benar ngerasa kalau Ayah udah enggak ada di dunia ini?" Titan langsung mengubah posisinya---berdiri.
Perasaannya berkecamuk, Titan tidak tahu harus berbuat apa, selain ia merasakan sakit yang luar biasa menghantam seluruh perasaan yang ada dalam hatinya. Ia hanya bisa pasrah dengan keadaan yang teramat pahit ini. Satu hal yang ada dalam pikiran Titan, hidupnya terlalu dramatis, hal yang tidak mungkin terjadi, justru malah mungkin terjadi dalam kehidupannya. Atau mungkin ... Ia memang sudah tidak berhak bahagia? Ada raut kekecewaan yang terpancar jelas di wajah Titan pada saat menatap Ayahnya---yang datang membawa luka lama. Ini bahkan bukan cerita yang dikemas dalam bentuk novel yang isinya dipenuhi dengan kisah-kisah dramatis yang mendatangkan sebuah isak-isak tangis. Ini sebuah kenyataan, yang memang kenyataan yang harus dijalani dengan semestinya, walaupun terasa pahit menghantam segenap hati.
Dan ... Titan tidak tahu, harus dengan cara apa ia menjelaskan semuanya pada Ajeng---Adik semata wayangnya.
__ADS_1
"Ayah datang hanya ingin memberitahukan sebuah pengakuan padamu. Bukan karena Ayah tidak peduli, selama sepuluh tahun Ayah menghilang. Lelaki yang bersama Ibumu pada saat kecelaaan bukanlah Ayah, tapi dia adalah lelaki yang Ayah curigai memiliki hubungan istimewa dengan Ibumu. Selama sepuluh tahun ini, Ayah tinggal ... di penjara." Sebuah pernyataan yang lagi-lagi membuat Titan tersentak.
"Apa?! Di penjara?" Sontak Titan sangat terkejut. Pernyataan seperti apa ini?
"Iya, Nak. Sebenarnya Ayah ... Ayah ... Ayah ...," ucapnya terbata-bata, seakan tidak sanggup memberitahukan semuanya pada Titan.
"Sebenarnya kenapa? Jawab Titan, Yah! Jawab!!" Titan menyentak, emosinya sudah tak terkendali lagi. Perasaan Titan sudah tersakiti teramat dalam. Matanya yang berkaca-kaca itu terlihat jelas bahwa ia sangatlah rapuh.
"Sebenarnya ... Ayahlah yang menyebabkan mobil yang ditumpangi Ibumu mengalami kecelakaan," ucapnya dengan suara getir penuh sesal yang tebal, membuat bulir bening semakin terjun bebas dari mata Titan. Ternyata, penyebab kecelakaan tunggal yang dialami oleh Ibunya adalah ulah Ayahnya sendiri---dengan alasan terbakar api cemburu.
"Jadi ... Ayah penyebab semuanya?" Titan bertanya dengan sangat pelan. Seakan tidak percaya dengan kenyataan ini.
"I-iya, Nak. Maafkan Ayah," ujarnya disertai isak tangis. "Kamu anak Ayah, jagoan Ayah yang Ayah punya. Maafkan semua kecerobohan Ayah, Ayah sangat menyesali semuanya."
"Rasa sesal enggak bisa membuat semuanya kembali seperti semula---seakan-akan luka itu akan termaafkan dengan sebuah sesal. Enggak bisa! Sesal hanya akan membuat semuanya semakin pedih." Titan berujar serius, ia pun menyempatkan untuk menghapus air matanya sendiri, "dan ... Rasa sesal enggak bisa membuat nyawa seseorang hidup kembali!" Seru Titan, kembali menjatuhkan air mata.
"Maafkan Ayah, nak." Berulang kali kata maaf terlontar dari mulut lelaki paruh baya itu. Titan hanya mampu meratapi semua kenyataan pahit yang sangat membuatnya terpukul hebat.
"Kata maaf enggak bisa bikin Ibu kembali hidup, Yah," rintihnya memilukan. Titan benar-benar terlihat sangat rapuh. Ia tidak bisa membendung lagi isak tangisnya.
"Ayah tidak meminta apa pun dari kamu, Nak. Ayah hanya minta maaf, Ayah menyesali semuanya. Ayah sangat menyesal. Kamu jagoan Ayah, kamu anak laki-laki kebanggaan Ayah, maafkan Ayah sudah menjadi Ayah yang gagal untuk kamu dan Adikmu. Maafkan Ayah telah menghancurkan kebahagiaan dalam keluarga kita. Ayah menyesali perbuatan Ayah," jelasnya panjang lebar, lelaki paruh baya itu pun membenarkan syalnya sejenak, "dan, rahasiakan keberadaan Ayah pada Adikmu. Ayah takut jika Ajeng kecewa atau terluka dengan semua ini," sambungnya dengan lembut.
"Jaga dirimu baik-baik, Nak. Ayah akan memantaumu dari kejauhan saja. Doa Ayah akan tetap menyertaimu. Ayah sayang sama kamu, melebihi diri Ayah sendiri. Ayah hanya berharap, setelah kamu tau semua ini, kamu enggak membenci Ayah. Atau kalau kamu masih menganggap Ayah sudah tidak lagi di dunia ini, Ayah enggak apa-apa. Ayah tetap akan menyayangimu, sampai waktu Ayah habis di dunia ini," jelasnya kembali menepuk pelan bahu Titan. Titan hanya diam, menunduk, karena tidak kuasa melihat sorot mata Ayahnya yang sangat menyentuh.
"Ayah titip Ajeng padamu. Jaga dia baik-baik," ucapnya, lalu tanpa sepatah kata lagi, ia membalikan badannya dan berlalu meninggalkan Titan.
Kenyataan terlalu pahit.
Saat beberapa langkah berjalan menjauhi Titan, lelaki paruh baya itu menghentikan langkahnya sejenak, dan menoleh ke arah Titan, namun Titan justru malah berpura-pura menunduk---seolah tidak memperdulikannya. Padahal jelas, dalam hati Titan ingin sekali menumpahkan semua rindu yang menggunung tinggi di langit hatinya, pada sang Ayah. Namun, rasa kecewa itu justru menciptakan sebuah gengsi yang tak kalah tinggi di hati Titan. Sepuluh tahun ia menyimpan rindu itu, namun saat ketidakmungkinan ini hadir, Titan justru tidak bisa menumpahruahkan seluruh perasaan rindunya. Ini justru malah membuat Titan semakin tersakiti. Ini bukan halusinasi, bukan pula ilusi, ini nyata!
Ini kenyataan yang sudah seperti mimpi buruk.
Perasaan cemburu bisa saja membuat semuanya hancur dalam sekejap. Jangan bermain api, nanti kebakar. Begitu mungkin, jika bermain dengan api cemburu, semua kebahagiaan pun akan terbakar, lenyap tak bersisa. Seperti hal yang dialami oleh Ayahnya Titan, semua kebahagiaan tampak sirna tak bersisa, hanya seribu penyesalan yang mendatangkan beribu-ribu rasa kekecewaan. Titan semakin mengerti terkadang hidup harus lebih dipahami, dimengerti dan saling percaya satu sama lain.
Tapi bagaimanapun juga, Titan tidak benar-benar bisa membenci Ayahnya.
__ADS_1
Titan menutup pintu utama rumahnya dengan pelan. Semua perasaannya berubah semakin kelam. Aroma kesakitan semakin mengharum di lubuk hatinya yang terdalam. Ia berpikir; semudah itukah takdir mempermainkan hidupnya? Jika memang harus seperti ini, Titan akan berusaha menelan kepahitan ini---walau harus terpaksa.
Titan bersandar sejenak di balik pintu utama rumah yang sudah tertutup rapat. Ia memejamkan matanya sejenak, merasakan kepedihan yang semakin mendalam. Lalu detik kemudian, Titan beralih ke kamarnya lagi. Tak ada lagi senyum yang mengembang di bibirnya, hanya jutaan kupu-kupu bersayap penuh luka yang terpancar dari sorot mata Titan.
Prang! Saat di kamar, Titan menghantam cermin yang terdapat di dalam kamarnya ini. Ini sangat menyedihkan dari hal yang paling menyedihkan di dunia ini.
"Kenapa semua ini terjadi sama gua?!" Serunya penuh dengan penekanan, meskipun nada suaranya sangat rendah terdengar.
Titan menatap pilu dirinya di cermin yang sudah retak tersebut.
"Kalau emang sebuah kebahagiaan enggak berhak ada dalam hidup gua, kenapa gua ada di dunia ini?!" sepasang matanya memerah dan berkaca-kaca, "sepuluh tahun gua mencoba untuk memahami semuanya, sampai gua bener-bener lupa tentang memori kelam yang sangat buruk, tapi kenapa di saat gua udah mulai memilih untuk bahagia, semua kepedihan itu datang membawa luka lama," ucapnya lirih.
Titan menjambak rambutnya sendiri.
"Gua gak bisa terus-terusan kayak gini!" sentaknya.
"Gua enggak bisa benci sama Bokap gua sendiri! Gua gak bisa!" Lagi-lagi Titan menyentak dirinya sendiri. Sebuah kenyataan yang tanpa diduga, tanpa direncanakan. Ini sangat memilukan.
***
Tania kini sedang mengemas semua buku-bukun miliknya yang terdapat di atas meja---tempatnya duduk. Ini sudah jam dua belas, ia akan cepat-cepat pulang. Ralat, ia harus cepat-cepat menemui Titan. Bagaimana pun, Tania harus tahu keadaan Titan. Terlebih saat ini, Titan adalah kekasih Tania, sudah sepatutnya Tania memberikan perhatian-perhatian yang lebih terhadap Titan.
"Lo mau ke mana?"
pada saat Tania hendak keluar kelas, ada Rayn berdiri di ambang pintu---terlihat seperti menghalangi jalan Tania. Tania menatap Rayn datar.
"Mau gue kemana pun, bukan urusan lo." Tania berujar datar.
Rayn tersenyum remeh, "Jelas itu menjadi urusan gue!" seru Rayn.
Tania menghela napas pelan, Tania tidak suka dengan Rayn yang terus memaksanya menuruti semua kemauan-kemauan Rayn yang sangat menyebalkan. "Please. Lo gak ada hak buat ikut campur semua urusan gue," ujar Tania pelan, namun tegas.
"Lo lupa? Abang lo udah nyerahin lo ke gue." Rayn mengingatkan Tania akan keberengsekkan Abangnya---yang menghalalkan cara hanya untuk mendapatkan uang.
"Gak ada orang yang berhak atas hidup gue. Sekalipun itu Abang gue sendiri. Selama orangtua gue masih ada, gue masih tetap jadi tanggungjawab kedua orangtua gue. Paham?" Tania berujar tegas, dan berusaha menerobos Rayn.
__ADS_1
Namun, ketika Tania hendak menerobos Rayn, Rayn justru menahan tangan Tania---sehingga posisi mereka pun saling menyamping. Wajah Rayn tertoleh pada Tania, senyum remeh mengembang di wajah Rayn, "Nyawa Titan ada di tangan gua!" seru Rayn, seperti mengancam.
Tania langsung menoleh ke arah Rayn, "Apa?!"