
Lima belas :

"Aku belajar dari mentari pagi, ia senantiasa terus kembali di pagi hari, berharap seluruh bintang malam menyambutnya. Namun, apa daya, bintang malam hanya mampu hadir ketika mentari itu pergi. Tapi, sang mentari selalu mau datang kembali di pagi hari, meski berulangkali merasa kecewa, karena para bintang masih tidak bisa menyambutnya di pagi hari." --- Titan Wirasena.
"Walau kuberusaha menutup wajahku dari pancaran sinar mentari pagi, namun tetap pancaran sinar itu pada akhirnya akan membuatku mengerti bahwa setitik cahaya sinar itu sangatlah berarti. Kepada rasa yang telah lama menepi, dalam hati yang terselimuti sepi. Mencoba untuk menepis, semua kenangan pedih yang pernah menumpahkan tangis. Berharap, aku menjadi tegarnya sang mentari, yang mampu menerangi seluruh alam jagat raya ini." --- Tania Alexandra.
"Sejatuh-jatuhnya orang jatuh cinta, pada awal cerita, ia tidak akan pernah ngerasain sakit. Hanya virus cinta yang membuatnya senyum-senyum sendiri dan nyaris membuatnya seperti orang gila. Namun dalam sebuah perjalanan cinta, ada orang yang memilih bahagia, ada pula yang terpaksa pergi untuk mencoba belajar dari masa lalu." --- Ratu Mahestri.
"Sebenarnya, cinta itu indah, karena bisa menarik perhatian, ibarat leging biduan yang menggoyahkan iman." --- Jonathan.

Kangen
Tania berdiam diri untuk beberapa waktu, lalu tanpa pikir panjang lagi, Titan menghampiri Tania dan mengajak Tania untuk masuk bersama ke dalam gerbang sekolah. Titan tidak peduli dengan tatapan dan ocehan para murid lain. Padahal, Tania mungkin saat ini sedang berusaha menghindar dari Titan. Bukan, bukan karena ia tidak menyukai Titan atau tidak ingin berteman dengan Titan. Akan tetapi, Tania hanya takut, jika Rayn merencanakan hal buruk pada Titan.
"Kenapa diem? Yuk, masuk," ajak Titan, suaranya terdengar pelan, namun terdengar pula sangat khas suaranya yang serak-serak bariton, membuat Tania hanya mengernyitkan dahi.
"Udah jangan takut. Sama aku, kamu pasti aman." Titan berujar dengan nada meyakinkan, namun sadar atau tidak, tangannya menggandeng pelan tangan Tania, seketika itu membuat Tania semakin tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan ia terdiam dengan seribu bahasa.
"Titan," panggil Tania pelan, dan menghentikan langkahnya. Titan pun langsung menoleh ke arah Tania.
"Kenapa?"
"Kamu duluan aja ke kelas, a-aku mau ke perpustakaan." Tania berujar dengan nada sedikit canggung, dan mulai melepaskan pegangan tangan Titan dari pergelangan tangannya.
"Perpustakaan?" Tanya Titan, Tania hanya mengangguk pasti. Titan pun langsung menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Titan tersenyum remeh, seperti meremehkan dirinya sendiri. Semua orang tahu betul dengan Titan yang sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki ke perpustakaan, bahkan semua warga sekolah menganggap bahwa Titan adalah satu-satunya murid yang anti perpustakaan. Jika saat ini Tania ingin ke perpustakaan, maka Titan tidak bisa beralasan lagi untuk mengantar Tania, karena jika ia menawarkan diri untuk mengantarkan Tania ke perpustakaan---yang otomatis Titan pun akan masuk ke dalam perpustakaan, Titan pasti akan menanggung malu pada dirinya sendiri. Karena hampir semua pelajaran sekolah---yang mengharuskan semua murid untuk mencari bahan dari tugas yang diberikan guru di perpustakaan, Titan tidak pernah masuk, atau bolos dari pelajaraan tersebut, dan memilih untuk berkumpul ria bersama kelas dua belas, di warung kopi belakang sekolah. Entah, seperti apa pikiran anak itu, mengapa sangat tidak menyukai perpustakaan, ataukah menurutnya perpustakaan itu membosankan?
"Yaudah. Kalau kamu mau ke perpus, ke perpus aja," kata Titan lembut. Tania mengangguk, lalu tanpa sepatah kata lagi, Tania membalikan badannya dan berjalan menuju perpustakaan. Titan menghela napas pelan dan tersenyum menatap punggung Tania yang semakin berlalu dalam pandangannya.
Detik kemudian, Titan kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kelas. Memang patut dihargai, beberapa hari belakangan ini, Titan justru lebih membaik, dibanding sebelum-sebelumnya. Titan menjadi seperti ini, semenjak kenal dekat dengan Tania. Dulu, Titan adalah murid yang benar-benar susah diatur, dan bahkan Titan sangat tidak menyukai peraturan sekolah, ditambah lagi semua siswi di sekolah ini menuduhnya dan mendaulat bahwa Titan adalah cowok PHP, cowok mesum, dan semua karakter buruk ada pada diri Titan. Padahal, Titan hanya sedang menjadi dirinya sendiri, atau bahkan ia hanya sedang melampiaskan semua ego yang terkurung dalam hatinya. Pernah tidak naik satu tahun, tidak membuat Titan merasa malu, ia masih tetap merasa berada di bagian teratas, karena popularitasnya yang penuh dengan rumor buruk di sekolah ini, namun tak ada seorangpun yang tahu mengapa Titan memiliki karakter yang seperti itu.
Kini, Titan pun masuk ke dalam kelasnya yang terlihat sudah ramai seperti pasar dadakan yang menjajakan sembako murah. Titan hanya tersenyum pahit saat melihat teman-teman kampretnya membuat kegaduhan di kelas.
Titan duduk di bangkunya, terlihat Deo yang juga duduk di sebelah Titan dengan posisi tak terganggu sama sekali, karena asyik memainkan ponsel.
"Sibuk banget. Lagi sms-an sama pacar lo, ya," sindir Titan, namun wajahnya sama sekali tidak mengarah pada Deo. Perhatian Titan juga terfokus pada ponsel yang dipegangnya.
"Hm. Gue lagi chat-an sama Jevin."
"What? Pacar lo namanya Jevin? Cowok?" Heran Titan dan langsung menoleh ke arah Deo. Seketika itu Deo langsung menghentikan jemarinya yang menari di atas layar sentuh ponsel miliknya.
"Bukan. Jevin itu temen gue waktu gue tinggal di Bali."
__ADS_1
"Lo pernah tinggal di Bali?"
"Iya. Gue asli orang sana. Biasalah, ya, anak pantai, nih." Deo berujar dengan nada agak songong, membuat Titan memalingkan wajahnya.
"Anak pantai, berarti emak sama bapak lo pantai, dong?" Ketus Titan pelan.
"Yaelah, enggak gitu juga kali. Oh, iya, gue mau minta tolong, nih, sama lo, Tan. Weekend nanti si Jevin mau ke Bandung, dan dia mau ngasih kejutan ke si Ratu, soalnya si Ratu weekend nanti kebetulan dia ulang tahun. Gue berharap sih, lo mau bantuin, Tan, soalnya ada Tania juga di sana yang bakal bantuin," jelas Deo panjang lebar. Titan sama sekali tidak tertarik awalnya, namun setelah mendengar Deo menyelipkan nama Tania dalam kalimatnya, Titan pun mengangguk pasti.
"Oke. Gue pasti bantu." Titan berujar dengan tegas.
"Sip." Deo tersenyum, lalu detik kemudian, Deo kembali fokus pada layar ponselnya, begitu pun dengan Titan.
Titan terlihat dengan wajah yang datar, namun terlihat santai dan masih tetap tampan walau bagaimana pun situasinya. Titan fokus pada layar ponselnya, ia pun dengan iseng, membuka akun instagramnya. Sudah lama, bahkan sangat jarang untuk Titan membuka akun instagramnya, ia hanya sedang bosan di kelas, maka ia pun membuka akun instagram-nya untuk sekedar melihat-melihat foto dan video yang telah di-upload-nya. Namun, saat itu Titan sedikit tercengang, karena akun Bu Dila, menge-tag-nya, dalam postingan tentang siapa yang terpilih dalam drama pertunjukan yang akan digelar nanti. Bukan, bukan itu yang membuat Titan sedikit terkejut, tapi ia menemukan akun bernama Tania juga di sana. Titan mengira bahwa gadis seperti Tania, tidak memiliki akun sosmed, jika ia tahu kalau Tania memiliki akun sosmed, sudah pasti kemarin-kemarin ia akan mencari tahu tentang Tania---yang seringkali membuatnya merasa penasaran.
Lalu, Titan mengklik akun Tania, melihat beberapa postingan di sana. Sadar atau tidak, Titan tersenyum, walau terlihat tipis, saat melihat beberapa postingan foto Tania, yang menurutnya sangat manis.
"Dia bener-bener manis." Kalimat itu keluar secara tidak sadar dari mulut Titan. Lalu, Titan pun menyimpan beberapa foto Tania yang menurutnya harus disimpan dalam galery ponselnya, dan setelah itu, Titan mengklik bagian kata 'ikuti' dalam akun Tania. Ya, mungkin satu-satunya akun yang diikuti oleh Titan adalah Tania.
"Siapa yang manis?" Deo langsung menyaut kalimat dari Titan, sambil mengernyit aneh.
"Ah, enggak. A-anu itu, hm....," Titan terlihat sangat gugup, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dan mengubah posisi duduknya sedikit tegak.
"Kok gugup? Emangnya yang lo sebut manis itu siapa?" Tanya Deo heran, lalu Titan dengan segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, dan kembali bersandar santai, seolah bersikap tenang.
"Bukan siapa-siapa." Titan berujar datar, dengan posisi duduk yang terlihat begitu santai.
"Enggak ada yang perlu diceritain." Titan berujar singkat.
"Yaelah."
Titan pun terlihat sama sekali tidak memperdulikan ocehan Deo. Titan menutup matanya, dengan posisi duduk yang santai, menyandar bak big bos, dengan kedua tangan dilipat di bawah dada bidangnya. Kemudian Deo kembali asyik dengan ponselnya. Ini bahkan sudah lewat jam tujuh, mengapa belum ada guru yang datang untuk mengajar di kelas ini, membuat keadaan kelas ini semakin tak terkendali, murid-muridnya mulai bebas menguasai kelas.
Terlihat di pojokan sana, yang paling pojok, sangat pojok, terdapat tiga orang murid bernametag Justin, Dani, dan Wisnu, yang sedang asyik bermain ponsel sambil tertawa-tawa renyah, entah apa yang mereka lihat dalam ponsel Justin, yang pasti mereka bertiga nampak asyik tertawa renyah.
"*****. Hot!" Dani berseru, membuat yang lainnya menatap Dani dengan tatapan tidak suka.
"Bukan lagi, ini sih panas," timpal Justin.
"Bahaya-bahaya, semakin panas, maka akan semakin mendekati---" omongan Wisnu terputus, karena dengan malas Jonathan pun ikut nimbrung.
"Woy! Mesum lo bertiga, lagi lihatin apa? Sini ponsel lo. Gua bilangin guru loh!" Jonathan berseru, layaknya seseorang pembasmi anti hal-hal buruk. Kemudian, Dani mengernyitkan dahi.
"Maksud lo apa?" Tanya Dani heran.
"Lo bertiga lagi lihat video itu kan?" Tuduh Jonathan tanpa menanyakan dulu apa yang sedang ditonton oleh ketiga murid tersebut.
"*****. Lu kira kita bertiga nonton begituan? Sori, coy. Kita gak level nonton begituan," ucap Dani dengan santainya.
__ADS_1
"Lah terus? Hot-hot? Panas-panas itu apaan kalau bukan nonton yang tanda kutip menyimpang." Jonathan menuduh tanpa ada bukti.
"Yaelah. Ini ponsel gue mau lobet, panas, mendekati mati," jelas Dani.
"O-oh." Jonathan menunduk karena tuduhannya salah besar. "Lagian kalian bertiga itu omongannya ngelantur ke mana-mana," sambung Jonathan.
"Ke mana-mana gimana? Bukannya elo yang punya pikiran ke mana-mana tentang kita?" Ucap Dani remeh.
"Lagian, ya, kita itu gak level nonton begituan. Levelnya kita itu nonton langsung. Eak!" Sorak Justin dengan diiringi tawa renyah.
"****."
"Iya, bener, Jus. Kayak si Titan, yang sering nonton langsung," timpal Dani tertawa renyah.
Kemudian, merasa namanya disebut-sebut, Titan pun yang tadinya duduk santai menyandarkan punggungnya ke ujung kursi sambil mengadahkan kepalanya ke atas dan menutup matanya karena ada sisa-sisa ngantuk itu, seketika langsung mengubah posisinya---menegakan badannya, dan langsung menoleh ke belakang, ke arah Dani dan kawan-kawan duduk berceloteh.
"Wey? Kenapa nama gue dibawa-bawa?" Ketus Titan dengan wajah datar dan sorot mata yang sama datarnya.
Namun Dani, Wisnu dan Justin malah saling dorong-dorong dengan tangannya. Ketiganya seperti tidak berani jika harus berhadapan dengan Titan.
Jonathan pun menghela napas pelan, "Udah, kita semua tau kok kalau si Titan itu kayak gimana," ucap pelan Jonathan pada ketiga murid dengan tampan polos dan lugu-lugu tak berdosa.
"Maksud lo apa, Jon?" Tanya Titan yang memang mendengar bisik suara Jonathan. Jonathan pun menoleh gugup ke arah Titan.
"E-eng-enggak. A-anu, itu ...." Jonathan nampak sekali gugup.
"Itu, Tan, kata Jonathan katanya kita semua udah pada tau kalau elo pernah ngintipin cewek mandi." Dani mengadu, membuat Jonathan berkomat-kamit ala mbah Dukun baca mantra, agar Dani tidak mengatakan apa-apa pada Titan.
"****. Lo pernah ngintip cewek mandi, Tan?" Tanya Deo.
Ck! Titan menghela napas pelan, "Eh Jon, kalau gue ngintipin cewek mandi kenapa? Itu tandanya gue normal, kan." Titan berujar dengan penuh karisma, tersenyum miring dengan tatapan tidak suka yang terlempar untuk Jonathan. Seketika itu Jonathan merasa sangat bersalah. Jonathan terkadang merasa kalau mulutnya benar-benar sudah seperti Ibu-Ibu penyebar gosip.
"****. Lo laki banget, bro." Deo menepuk bahu Titan. Titan hanya tersenyum samar.
"Justru elo yang lebih laki. Karena lo pernah ngintip emak-emak keriput lagi mandi." Titan meledek Deo. Seketika itu wajah Deo berubah datar, seperti mengingat kejadian saat di mana dia pernah tidak sengaja melihat nenek-nenek yang sedang mandi, dan parahnya dulu ia pernah disiram air segayung oleh nenek tersebut.
"Yaelah, lu masih inget aja! Kalau boleh milih sih gue ogah ngintipin nenek-nenek mandi, susunya udah kadarluarsa, coy." Deo berujar sambil bergidik.
Titan hanya terkekeh santai. Tak lama kemudian, seorang guru dengan gaya rambut disanggul pun datang memasuki kelas ini. Semua murid pun seketika itu menghentikan aktifitas tidak pentingnya, untuk memperhatikan guru tersebut mengajar. Titan dan Deo pun nampak fokus memperhatikan guru tersebut saat menerangkan. Ini pelajaraan Biologi, pelajaran yang terbilang sangat disukai Titan.

Deo dan Titan
***

__ADS_1